Kamar 126

Kamar 126
Menginap di markas mafia


Alexyang menyadari kalau Chan memukul mukul kepalanya sendiri pun akhirnya bertanya,,,,,


"Chan, lo kenapa? Pusing?" Suara Alex yang membuat Chan tersadar kalau dirinya tidak sedang sendirian di sana.


"Gue nggak apa-apa! Udah lo lanjutin aja tugas lo!" Perintah Chan pada Alex yang kini sedang duduk menghadap ke laptop.


"Dasar aneh!" Ujar Alex perlahan dengan rasa heran akan sikap Chan.


Chan yang merasa bingung lalu menemukan jalan keluar, yaitu menelpon Gisella dengan alasan menanyakan tentang ritual memagari kamar 126 yang dia tempati dengan Wendy.


Gisella yang saat itu sedang berada di markas besar milik Leon, menerima telepon dari Chan.


"Chan? Ada apa dia menghubungiku?" Tanya Gisella di dalam batinnya.


"Aku mau ngangkat telepon dulu ya bentar!" Ujar Gisella yang berdiri dari duduknya.


"Dari siapa?" Tanya Nathan.


"Ini dari Chan" jawab Gisella yang membuat Byun bertanya-tanya tentang siapa itu Chan.


"Siapa Chan?" Tanya Byun di dalam hatinya.


Nadia yang melihat raut wajah Byun yang berubah ketika melihat Gisella pergi mengangkat telepon , akhirnya berkata,,,,


"Chan itu teman kita juga!" Ujar Nadia yang membuat Byun menoleh ke arahnya.


Nadia lalu menceritakan tentang Chan. Dari Chan kecelakaan dan di tolong oleh Gisella sampai kemudian Chan mengingat semuanya dan meninggalkan Gisella.


Di sisi Gisella,,,,,,


Gisella pun mencari tempat yang sedikit lebih sepi untuk mengangkat telepon dari Chan.


Awal percakapan mereka di telepon sangat canggung seperti orang yang baru saling mengenal. Beruntungnya Chan berhasil mengalihkan pembicaraannya. Chan membahas mengenai memagari kamar 126.


"Kamu tenang saja, aku sudah menyiapkan semuanya dan akan ke sana besok!" Ujar Gisella dengan sedikit senyum paksa meski di telepon.


"Bagaimana caraku mengatakan padamu, Sel? Kalau aku sangat merindukan kamu!!" Ujar Chan di dalam hatinya.


"Kalau saja kamu tahu, Chan! Ini semua aku lakukan demi kamu Chan! Aku akan melindungi kamu sebisa aku Chan! Aku tidak ingin kejadian seperti Jimin terjadi lagi, aku tidak sanggup kalau harus kehilangan orang yang aku sayangi lagi!!" Ujar Gisella di dalam hatinya.


Telepon mereka masih terhubung satu sama lain dan karena mereka saling diam, akhirnya mereka secara bersamaan memanggil nama satu sama lain.


"Kau duluan saja" ujar Gisella.


"Kau saja dulu!" Suruh Chan.


Gisella bertanya tentang di mana Chan berada sekarang, dan Chan mengatakan kalau dirinya sedang berada di perusahaan. Sedangkan Chan bertanya kepada Gisella dimanakah dia sekarang berada. Gisella sempat hendak keceplosan dengan mengatakan kalau dirinya ada di markas. Namun beruntungnya Gisella berhasil mengelak dan mengatakan pada Chan kalau dirinya sedang berada di mansion Byun.


"Aku sedang berada di mar-" ucap Gisella yang hendak berkata bahwa dirinya ada di markas besar mafia nomor 1.


"Mar apa, Sel?" Tanya Chan penasaran.


"Haish, ini mulut kenapa sih pakai keceplosan segala!!!" Gerutu Gisella di dalam hatinya.


"Ah,,,anu itu,, tadi aku mau bilang kalau aku sedang berada di mansion Byun!" Ujar Gisella yang berusaha mengelak.


"Dia temanku!" Jawab Gisella.


"Kalian hanya berdua?" Tanya Chan.


Gisella mengatakan kalau dia bersama dengan sahabat-sahabatnya yang lain, dan juga mengatakan kalau dia baru saja mendapatkan teman baru, yaitu Leon dan juga Jeni.


"Wow, sepertinya menyenangkan bisa bersama-sama di sana!" Ujar Chan.


"Nggak juga kok, nggak ada kamu sepi, Chan!" Jawab Gisella spontan. "Eh?"


"Haish, kenapa bisa keceplosan segala sih!!" Gerutu Gisella.


Di balik ponselnya Chan tersenyum mendengar ucapan Gisella seperti tadi.


"Kalau begitu boleh dong kapan-kapan kalau ngumpul aku ngajak Wendy?" Tanya Chan.


Deg,,,,,,,


Hati Gisella merasa sakit mendengar itu. Mood Gisella juga tiba-tiba saja hilang karena pertanyaan dari Chan itu hingga Gisella hanya bisa terdiam.


"Entahlah, apa aku sanggup melihatmu bersama dengan kekasihmu nanti Chan, rasanya sakit kalau mengingatnya?!" Kata Gisella di dalam hatinya dengan tatapan lesu.


"Gisella? Kenapa kau diam?" Ujar Chan di balik teleponnya.


"Nggak apa-apa kok, oh iya kalau gitu sampai ketemu besok di hotel Chan!" Pamit Gisella dengan buru-buru karena moodnya yang tiba-tiba hilang.


"Sampai jumpa besok!" Jawab Chan lalu mematikan teleponnya.


Setelah telepon mati, Gisella segera kembali ke meja makan bersama dengan yang lainnya. Kemudian Gisella meminta Laon untuk menyiapkan satu ruang dengan peralatan khusus yang di butuhkan oleh Gisella.


Setelah acara perjamuan selesai, Gisella akan membuat sebuah ramuan dari bunga anggrek hitam yang dia dapat tadi. Gisella berniat untuk menjadikan bunga anggrek hitam tadi menjadi sebuah ramuan yang nantinya akan berwujud seperti air suci dan bahkan Gisella akan membuat beberapa kalung berisikan air anggrek hitam untuk sahabat-sahabatnya juga.


Untuk membuat ramuan itu, Gisella ternyata tadi juga mengambil air yang ada di telaga merah. Pembuatan ramuan itu di bantu oleh Nadia, Lisa dan juga Jeni. Sedangkan para pria kini ikut dengan Kai ke ruang senjata untuk melihat-lihat seluruh senjata yang ada di markas besar itu.


Gisella membuatkan banyak kalung yang di dalamnya terdapat air yang dia buat dari bunga anggrek hitam dan juga menaruhnya di dalam botol untuk dia gunakan besok.


"Bagaimana? Kalian suka kan dengan desain kalungnya?" Tanya Gisella pada sahabat-sahabatnya yang tengah memakai kalung itu di lehernya masing-masing.


"Iya, aku sangat suka dengan desain kalungnya!" Ucap Nadia sembari melihat lagi kalung yang lainnya.


"Aku juga suka, warnanya cantik" kata Lisa.


"Ini sangat indah apalagi desainnya kamu buat seperti ini, cocok untuk pria dan wanita, kalau di jual bisa dapat pesanan banyak nih!" Ujar Jeni.


"Haish sudahlah, uang aja nggak tau mau di kemanakan! Ya sudah aku akan pulang dan beristirahat di mansion ku!" Kata Gisella sembari memasukkan kalung itu ke dalam sebuah peti kecil.


"Hey, kenapa harus pulang? Kalian semua bisa beristirahat di sini! Ada banyak kamar di sini dan kalian bisa memilih sesuka kalian!" Ujar Jeni memberi tahu supaya mereka tidak kembali dan menginap di markas.


"Hah? Ini sebenarnya markas mafia apa hotel bintang 5 sih, Jen?" Tanya Lisa yang heran akan apa yang dikatakan oleh Jeni.


"Aku memang sengaja menyuruh Leon untuk mendesain markas ini supaya seperti istana bagiku! Jadi aku lebih nyaman di sini dari pada di mansion ku sendiri!" Ucap Jeni.


Setelah itu mereka memutuskan untuk menginap di markas itu. Namun sebelum mereka ke kamarnya masing-masing Nadia dan juga Jeni membahas tentang acara pernikahan. Nadia yang awalnya menyinggung tentang pernikahan yang akan di lakukan oleh Jeni akhirnya meneruskan pembicaraan dan memutuskan untuk menikah bersama.