Kamar 126

Kamar 126
Ssttttt


"Mama jangan bertele-tele ma, katakan yang sebenarnya!" Ucap Alfin dengan segala rasa penasarannya.


Gisella yang mendengarnya langsung menatap ke arah Alfin berada, lalu kembali menoleh ke arah nisan tanpa nama itu lagi.


"Dia adalah kakak tertua kamu Alfin!"


Deg,,,,


Semua anak-anak bingung sekaligus membelalakkan matanya seakan tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Gisella pada mereka.


"Dia memang tidak memiliki nama karena memang dia belum sempat terlahirkan ke dunia ini!" Ucap Gisella sambil tersenyum kecut ke arah nisan tanpa nama itu. Gisella menarik nafasnya untuk melanjutkan ucapannya lagi, "Belasan tahun mama menyembunyikan ini dari kalian, karena mama tidak ingin kalian tahu apa penyebab kakak kalian tiada! Mama tidak kalau sampai kalian nanti malah mencari tahu tentang ini!" Ucap Gisella.


"Dia meninggal karena kesalahan mama!" Lanjut Gisella lagi dan mulai menitihkan air matanya lagi.


"Gisella!" Chan yang melihatnya langsung mendekat ke arah Gisella berada, "Tidak perlu kamu lanjutkan kalau memang itu membuat kamu terluka!" Lanjut Chan.


"Tidak Chan, biarkan mereka semua tahu tentang kebenaran ini! Anak kita juga perlu pengakuan kalau dirinya itu ada!!" Gisella menyeka air matanya lalu menghembuskan nafas dan menariknya lagi.


"Dulu mama menjadi orang yang memiliki penglihatan spesial, mama bisa melihat mereka yang tak kasat mata dan tidak semua orang melihatnya dengan mata telanjang!! Mereka yang biasa orang sebut dengan hantu!! Dulu mama sering membantu makhluk tak kasat mata untuk menyelesaikan urusan dunia yang belum sempat terselesaikan!! Dan saat mama hamil anak pertama mama, mama di hadapkan dengan dilema yang besar, mama harus menolong ayah Nathan dan papi Alex untuk keluar dari astral projection!! Mama kira kalau mama dan janin mama akan baik-baik saja, tapi ternyata mama salah! Iblis jahanam yang mama hadapi itu ternyata mengalihkan perhatian mama, meski mama berhasil menyelamatkan Papi Alex dan Ayah Nathan, namun ternyata janin mama yang menjadi korbannya!!" Jelas Gisella panjang lebar, membuat semuanya menitihkan air mata kembali setelah mendengar kisah kelam dari masalalu Gisella.


Gisella perlahan berdiri dan menaburkan bunga di nisan tanpa nama itu sendiri. Lalu menoleh ke arah anak-anak berada.


"Kalian boleh marah atau bahkan membenci mama karena sudah menyembunyikan kebenaran ini dari kalian semua nak!" Gisella menatap sendu wajah anak-anaknya yang tampak tertutup dengan kacamata hitam yang mereka kenakan.


Namun ternyata, perlahan Alfian anak bungsu dari Gisella. Dirinya mendekat ke arah Gisella berada.


"Ma, meskipun mama sudah menutupi ini dari kita semua selama ini kita tidak akan pernah membenci mama!! Justru kita semua bangga pada mama yang sudah berjuang di masalalu untuk membantu mereka!! Kita semua sayang sama mama!!" Ucap Alfian mewakili semua para anak-anak yang lain.


Mendengar hal itu semua para orang tua tampak tersenyum ke arah Alfian dengan bangga. Alfian langsung memeluk mamanya, diikuti oleh Alfin, Dila dan juga anak-anak yang lain. Suasana haru itu terjadi diantara makam Dira dan juga kakak tertua mereka.


Di sisi lain, Dira dan anak pertama dari Gisella dan Chan pun melihatnya dengan senyum yang terukir sangat manis menatap keharuan yang terjadi. Meski mereka tidak bisa di lihat oleh siapapun.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sesaat kemudian mereka meninggalkan makam dan pulang ke mansion besar. Sesampainya mereka semua di mansion, mereka masih saja di bayangi adanya Dira di sekitar mereka.


Gisella sendiri sebenarnya tahu kalau Dira masih ada di sekitar mereka. Namun Dira tidak bisa menampakkan dirinya begitu saja di sana, karena Dira sudah ada di alam yang lebih baik lagi dan hanya bisa menatap keluarganya dari alam itu saja.


Mereka juga sudah masuk ke kamar mereka masing-masing.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pov Dila


Di dalam kamarnya Dila tampak termenung dengan wajah sembabnya. Dirinya duduk di tepian ranjang sambil memeluk guling yang ada di dekatnya.


Ceklek,,,


Suara pintu yang tiba-tiba di buka tak membuat Dila bergeming dan masih terus melamun sambil menangisi kepergian saudara kembarnya, Dira.


Acel yang masuk ke dalam kamar Dila pun langsung duduk dan memeluk Dila dengan hangat, Axel menaruh kepala pada dada bidangnya, mengusap lembut rambut Dila untuk menenangkannya.


Seolah tak peduli akan siapa yang memeluknya saat itu. Dila masih terus larut dalam kesedihannya dan memilih tidak terlalu peduli akan siapa yang datang padanya.


"Bukan lo aja yang kehilangan ,Dil!!! Kita semua juga merasa kehilangan Dira, termasuk Gue! Bahkan rasanya separuh nyawa gue di bawa pergi sama Dira" Ucap Axel sambil mengusap lembut rambut Dila di dalam pelukannya.


"Axel!" Dila mulai membuka suara tanpa mengubah posisinya yang masih ada di dalam pelukan Dila, "Kenapa ini terjadi pada Dira? Kenapa bukan orang lain saja?" Lanjut Dila.


"Ini sudah menjadi takdir Dira, Dil! Kita harus ikhlas meskipun itu sangat berat!!" Ucap Axel menenangkan Dila.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pov Alfin


"Dira maafkan kakak yang nggak bisa jagain kamu! Maaf karena kakak nggak ada di saat kamu membutuhkan perlindungan dari kakak, sampai akhirnya kamu berakhir seperti ini, maafkan kakak Dira!" Alfin yang mencoba tegar pun akhirnya menitihkan air matanya di dalam kamar seorang diri ,sembari mengingat saat-saat dirinya menjaga adik kembarnya di kala mereka masih kecil.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pov Gisella dan Chan


Mereka berdua yang hanya terdiam dan duduk di atas ranjang sambil bersandar pada dipan ranjang.


"Chan!" Ucap Gisella memulai pembicaraan diantara mereka.


"Iya Gisella?" Jawab Chan.


"Apa ini akan terus terjadi pada keluarga kita? Dan kenapa harus anak-anak kita yang jadi korbannya??" Tanya Gisella sambil menatap ke arah Chan.


"Ini sudah menjadi garis takdir untuk anak-anak kita, Gisella!! Kita harus bisa mengikhlaskan mereka pergi dengan damai!" Jawab Chan tanpa menoleh ke arah Gisella berada.


"Chan, tatap aku!" Pinta Gisella yang membuat Chan perlahan menoleh ke sisi Gisella. Chan terlihat menatap lekat mata istrinya yang sembab karena sudah lama menangis.


"Aku tahu kamu menutupi kesedihan kamu selama ini!! Kamu menjadi tegar demi diriku!! Aku tahu kalau kau menyembunyikannya selama ini dariku Chan!" Kata Gisella dengan ketulusan hatinya menatap mata Chan.


"Sayang ka-" ucap Chan terpotong.


"Syutttt!!" Gisella mengarahkan jari telunjuk nya pada Chan mengarahkannya untuk diam, "Sudah bertahun-tahun lamanya Chan! Jangan sembunyikan ini lagi!! Menangis lah jika kamu ingin menangis, jangan kamu pendam Chan!! Kamu juga manusia Chan, kamu juga boleh meneteskan air mata! Menangis dan luapkan semuanya sayang!" Lanjut Gisella panjang lebar.