
"Kurang lebih satu jam lamanya, dan pada akhirnya dia terlelap dalam tidurnya karena rasa kantuk dan capek yang tak tertahankan itu.
Kesokan harinya, matahari masih malu menunjukkan wajah dan sinarnya.
Setelah bangun tidur Rani melangkahkan kakinya menuju ke dapur, untuk membantu kedua bibi dan mamanya dalam menyiapkan sarapan dan makanan buat bekal pergi ke Turnamen Bela diri nanti.
"Selamat pagi mama, dan dua bibi-ku yang cantik-cantik dan rajin-rajin!" sapa Rani pada saat menghampiri ketiga wanita itu.
"Oh, selamat pagi juga Rani putriku yang akhirnya mendapat restu dari kakekny!" balas yang menggoda Rani.
"Eh, mama! Apa'an sih!" seru Rani yang tersipu malu.
"Oh, selamat ya non Rani! Akhirnya, kalian memang pasangan yang serasi!" seru Bi Inah yang ikut menyahut.
"Terima kasih Bi!" jawab Rani sembari mengulas senyumnya.
"Apa yang bisa Rani bantu?" lanjut tanya Rani yang menawarkan diri untuk membantu.
"Oh, bawa makanan yang sudah siap ini ke ruang makan. Hati-hati masih panas ya!" perintah nyonya Lani.
"Baik ma!" balas Rani yang kemudian mengangkat dan memindahkan satu persatu makanan yang sudah dimasak ketiga wanita yang ada di dapur tadi.
"Selamat pagi tunangan-ku yang cantik sekali pagi in!" goda Sersan Saga pada Rani saat menghampiri meja makan dan mempersiapkan jamuan sarapan di meja makan.
"Pagi juga tunangan ku, kamu juga ganteng pagi ini!" balas Rani pada Sersan Saga, seraya mengulas senyumnya.
Kedua pasangan itu saling lempar senyum bahagia mereka dan Sersan Saga membantu Rani dalam menghidangkan sarapan mereka.
Kemudian mereka menyiapkan sarapan nasi bungkus dan air mineral buat teman-teman Seperguruan mereka yang berada di halaman perguruan.
Tibalah acara sarapan bersama, semua berkumpul di halaman dan masing-masing menerima nasi bungkus dan satu botol kecil air mineral.
"Kita tak tahu apa yang terjadi nanti, Semoga ini bukan sarapan terakhir kita..!" kata Kakek saat semua sudah berkumpul untuk sarapan.
"Aamiin. Apapun yang terjadi, kita harus tetap bersama! saling membantu, karena kita adalah saudara!" seru Paman Sidiq.
"Iya, kita adalah saudara!" seru semua murid perguruan Darma putih tanpa terkecuali.
"Mari kita makan bersama, berdoa sesuai agama dan kepercayaan masing-masing!" seru Inspektur Saga. Dan semuanya menundukkan kepala, kemudian menyantap makanan yang sudah ada dihadapan masing-masing.
Setelah sarapan, mereka yang akan mengikuti turnamen Bela diri, mulai berpamitan dan semuanya saling mendo'akan.
Raditya, paman Sidiq dan Arya masuk ke dalam mobil milik Tuan Wibowo dan Raditya yang mengemudikan mobil tersebut.
Sementara itu Sersan Saga dan Rani berangkat dengan naik sepeda motor milik Sersan Saga.
Setelah semuanya meninggalkan perguruan Darma Putih, Kakek Darma memerintahkan semua muridnya kembali membuat senjata dan jebakan untuk membentengi diri.
Sedangkan nyonya Lani, bibi Dewi dan bi Inah mempersiapkan makanan untuk bekal mereka nanti di persembunyian.
Kembali pada Sersan Saga dan Rani yang berangkat menuju ke arah stadion yang digunakan untuk Turnamen, keduanya saling berbincang- bincang pada saat sepeda motor yang mereka kendarai itu melaju dengan kecepatan sedang.
"Rani!" panggil Sersan Saga.
"Iya, ada apa kak Saga?" tanya Rani yang mendekatkan telinganya ke bahu Sersan Saga.
"Akhirnya kita direstui oleh kakek juga ya sayang!" seru Sersan Saga sambil menarik salah satu tangan Rani agar posisi Rani memeluk dirinya dari belakang.
"Iya kak...! Rani juga tak menyangka." jawab Rani yang menikmati aroma wangi tubuh tunangannya itu.
"Apakah mungkin. Jika guru hanya ingin memberi semangat pada kita, agar kita semangat dalam berjuang di turnamen Bela diri nanti?" tanya Sersan Saga yang mencoba untuk menebak.
"Kak Saga, sejak kapan memesan cincin tunangan ini?" lanjut tanya Rani sambil melihat jadi manisnya yang mana telah melingkar sebuah cincin tunangan.
"Sejak Rani ungkapkan cinta Rani pada kak Saga!" jawab Sersan Saga sambil mencium punggung tangan kanan tunangannya.
"Ohw begitu ya!" kata Rani yang kembali mencium aroma wangi punggung tunangannya.
"Kalau nanti kakak bertugas ke pulau Sebrang, apakah kamu akan merindukan aku?" tanya Sersan Saga yang pandangannya tetap fokus ke depan, mengikuti mobil yang dikemudikan Raditya.
"Besok mungkin aku akan rindu saat-saat naik sepeda motor bersama seperti ini, kak Saga!" kata Rani yang apa adanya.
"Kakak juga pasti akan rindu saat-saat kita berdua seperti ini. Rindu saat rani marah, saat Rani tersenyum bahkan saat Rani menangis. Karena bagi kakak, Rani itu menggemaskan!" kata Sersan Saga yang menarik napasnya panjang dan mengeluarkannya secara pelan-pelan.
"Ahh...! kak Saga bisa saja, Rani jadi malu!" kata Rani yang memang wajahnya memerah karena malu di puji tunangannya itu.
"Itu benar sayangku!" seru Sersan Saga.
"Iya, Rani percaya akan ucapan kak Saga. Semoga saja tiga tahun cepat berlalu ya, kak Saga!" seru Rani.
"Iya! Semoga lekas berlalu!" jawab Sersan Saga yang sangat sekali.
Setelah melewati beberapa persimpangan lampu lalu lintas, akhirnya mereka sampai juga di Arena Turnamen Bela diri antar perguruan, yang terletak di Stadion terkemuka di wilayah tersebut.
Mobil yang dikendarai Raditya memasuki pintu gerbang dan kemudian menghentikan laju kendaraannya tepat di area parkir halaman depan stadion arena turnamen Bela diri tersebut.
Tak berapa lama Sepeda motor yang dikendarai Sersan Saga dan juga Rani, mengikuti dengan masuk melewati pintu gerbang dan mencari tempat parkir khusus roda dua.
Sehabis turun dari sepeda motor, Rani dan Sersanj Saga melihat ke sekitarnya.
"Hm,.Aneh! tak ada geng Kobra, tak ada aura .membunuh!" gumam Rani yang penasan.
"Iya dimana pada saat ini dalam keadaan seperti tenang-tenang saja, Ran!" seru Sersan Saga yang menimpali.
"Apa yang kalian lihat?" tanya Raditya pada saat menghampiri Rani.
"Aneh ya kak Radit!" seru Rani yang penasaran.
"Aneh kenapa?" tanya Raditya yang ikut penasaran.
"Bukankah kemarin kak Radit bilang, geng Kobra datang dalam jumlah besar, kenapa tak ada satu pun di sekitar sini ya?" tanya Rani yang menatap Kakaknya dengan penuh tanda tanya..
"Benar! Jangan-jangan sasaran mereka bukan turnamen? tapi perguruan!" sahut Paman Sidiq yang mencoba menebak-nebak.
"Rani harap semuanya aman-aman saja!" seru Rani, yang khawatir dengan nasib perguruan jika tiba-tiba geng Kobra menyerang Perguruan Darma putih.
"Sebaiknya kita konsentrasi pada turnamen saja! Karena urusan perguruan sudah ada Kakek dan papa!" seru Raditya yang mencoba menenangkan Rani dan yang lainnya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...