Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Usaha Sersan Saga Mencari Rani


"Terima kasih paman!" seru Sersan Saga dan kemudia dia dan Paman Sidiq segera berpamitan dan keduanya melangkahkan kaki menuju ke tanah lapang.


Sementara itu keadaan Arya dan Bima, setelah di tinggalkan teman-temanya mereka saling diam tanpa suara.


Hingga Arya membuka suara.


"Bima kenapa videonya kamu sebar? kamu tahu hatiku sudah hancur karena di tolak Rani, tapi kamu semakin membuatku terpuruk! kamu temanku, tapi mengapa malah kamu menghancurkan ku! " seru Arya yang menunjukan rasa kesal dan kekecewaannya.


"Maaf kan aku, aku kira tadi kamu di terima. Jadi terlanjur aku bagikan. Mohon maaf Arya!" seru Bima yang memohon.


Kalau tidak mengingat kamu anak guru Sidiq! entah apa yang akan aku lakukan padamu!" seru Arya dengan geram.


"Ma'af Arya, maafkan aku!" seru Bima yang berlutut memohon pada Arya.


"Apa salahku Tuhan...! aku hanya ingin mencintai dan punya kekasih, aku hari ini kehilangan dua orang! kekasih dan sahabat...!" racau Arya yang merasa sangat kecewa sekali.


"Arya...!" panggil Bima, namun Arya tak menggubrisnya.


"Aku benci kalian semuaaanyaaaa....!" teriak Arya yang tidak bisa mengendalikan emosinya melancarkan serangannya ke tanah kosong.


"Dum....Dum....Dum....!"


"Arya... maaf kan aku...! hanya kamulah teman aku...! Arya jangan seperti itu...! Arya...!" teriak Bima yang berusaha menyadarkan sahabatnya itu.


Arya tetap dalam posisinya yang tak menggubris teriakan Bima. Pemuda itu hampir menguras tenaga dalamnya.


Serangannya ke tanah lapang membuat ledakan-ledakan pada sasarannya. Emosinya sudah tak terbendung lagi.


"Dum...Dum....Dum......!"


"Hop hiaaaat....!"


Arya terus melesat menjauh dari Bima sahabatnya. Pemuda itu masih sadar walaupun dia merasa disakiti oleh sahabatnya, tapi dia tak mau sahabatnya luka karena serangannya.


"Arya..Arya...!" panggil Bima yang berusaha mengejar Arya.


"Bimaa...! jangan di kejar...!" seru seseorang dari balik kegelapan dengan sorot lampu senter.


"Ayah. ...!" panggil Bima setelah tahu yang datang adalah paman Sidiq dan Sersan Saga.


"Arya sedang emosi, jadi dia menjauh karena tak ingin melukaimu!" seru paman Sidiq..


"Hm...! Anak itu walaupun dalam keadaan emosi, masih sempat memikirkan keselamatan temannya." gumam Sersan Saga dalam hati.


"Kalian berdua membuat kesalahan dan melanggar aturan Guru besar. Pulanglah dan nanti kamu terima apa-pun hukuman yang diberikan oleh Guru besar kalian." kata paman Sidiq.


"Paman sebaiknya anda bawa Bima pulang. Biar Arya saya tangani!" seru Sersan Saga yang menatap ayah dan anak itu satu persatu.


"Baiklah, jangan lupa kamu cari Rani juga!" balas seru paman Sidiq.


"Pasti paman!" sahut Sersan Saga dan berjalan mengejar Arya menembus gelapnya malam.


Sedangkan Paman Sidiq dan Bima melangkahkan kakinya kembali ke perguruan.


Sementara itu Sersan Saga yang berlari mencari keberadaan Arya, nekat menembus gelapnya malam yang mencekam itu.


"Jika mengamuk terus seperti itu, bahaya buat lingkungan sekitarnya" kata dalam hati Sersan Saga saat melihat Arya yang terus mengeluarkan jurus-jurusnya melawan gelapnya malam.


"Arya....! apa yang kamu lakukan hanya akan menguras energimu saja. Semua itu percuma, kamu sendiri yang akan menerima efeknya!" seru Sersan Saga pada saat menghampiri Arya.


"Aku tak perduli.!pergi kau dari sini..! kalau tak ingin terluka!" seru Arya yang menatap Arya dengan tajam.


"Kalau kau tak peduli akan dirimu, aku juga demikian!" balas Sersan Saga yang mencoba perlahan-lahan mendekat ke posisi Arya.


"Untuk apa aku hidup..! Aku tak punyacinta tak punya sahabat! aku benci hidupku!" teriak Arya yang masih terasa akan emosinya.


"Silahkan kamu tak perduli siapapun! tapi apa kamu tak pedulikan Rani?" tanya Sersan Saga


"Rani menghilang!" seru Sersan Saga.


"Apa kamu bilang? kamu nggak bohong kan? Rani tadi kan sudah pulang?" tanya Arya yang beruntun dan kemudian menghentikan serangannya.


"Tadi Guru Darma hanya menemukan setangkai mawar putih di depan pintu rumah. Sedangkan Rani tidak ada di semua sudut Perguruan. Apa kamu tahu, kira-kira Rani dimana?" tanya Sersan Saga dengan pasangan tajamnya..


Arya kemudian berpikir dan menduga-duga.


"Jika di perguruan dan perkebunan tidak ada, kemungkinan Rani ada di antara dua tempat ini..!" seru Arya.


"Dua tempat? dimana itu?" tanya Sersan Saga yang penasaran.


"Kalau tidak ke rumah sahabatnya waktu sekolah, ya ke air terjun di atas sana. Tapi malam-malam begini apa mungkin dia berani ke sana ya? menurut cerita, di air terjun itu kalau malam hari sering terdengar suara-suara ganjil yang menyeramkan." kata Arya yang menatap ke arah air terjun yang dia maksudkan.


"Kalau alamat teman sekolah Rani aku tidak tahu.Aku akan mencari Rani ke air terjun." kata Sersan Saga


"Baiklah, aku yang akan ke teman sekolah Rani. Jika nanti dapat atau tidak nya informasi tentang Rani, kita bertemu di perguruan. Dan Setelah Rani ketemu, aku siap dengan segala hukuman Guru Darma." tegas Arya yang sadar akan posisinya saat ini.


"Okey setuju..! ayo berangkat...!" seru Sersan Saga. Mereka pun berangkat sesuai tujuan mereka masing-masing menembus gelapnya malam dengan sedikit cahaya rembulan.


Arya menuju ke alamat yeman-teman Rani, dan Sersan Saga menuju ke puncak pegunungan, mencari lokasi adanya air terjun yang dimaksudkan oleh Arya.


...****...


Sementara itu Rani yang mendengar permintaan nenek Lasmi setelah menjatuhkan setangkai mawar putih, berlari menembus gelapnya malam.


"Apa sih maunya nenek peyot itu? permintaan yang membuat kakek di situasi dilema. Sungguh menyebalkaaaaan.....!" gerutu Rani dalam hati dan terus berlari.


"Andai aku bisa mengalahkannya...andai bisa.... andai bisaaaa.....!" teriak Rani saat sampai di depan air terjun.


"Aaaa.........gh!" teriak Rani seolah ingin terbebas dari bebannya, gadis itu berteriak dengan sekuat tenaganya.


"Aaauww...!"


Tiba-tiba terdengar suara teriakan yang berbeda.


"Eh..itu gema suaraku atau bukan?" tanya Rani dalam hati.


"Aaagh....!" Rani kembali berteriak.


"Aaauw...!" kembali suara itu yang bergema.


"Bukan, itu bukan gema suaraku! pasti ada sesuatu di sekitar tempat ini!" seru Rani yang pandangan matanya terus menebar ke sekitar air terjun itu.


"Aaagh....!" Rani kembali berteriak.


"Aaauw...!" kembali suara itu yang bergema.


"Apakah suaranya ada di balik air terjun itu?" dugaan Rani yang sangat penasaran.


Perlahan dan dengan hati-hati Rani melangkahkan kaki mendekati air terjun itu dan dengan penerangan yang hanya cahaya dari sinar rembulan.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...