
Kemudian Rani melemparkan tasnya dan posisi siap mempertahankan bola basketnya.
Rani memantulkan bola, Dio posisi siap menangkap bola. Mereka saling berebutan dan mempertahankan bolanya.
"Dugh....dugh...dugh....!"
Suara bola basket yang berkali-kali dipantulkan oleh Rani.
Kebanyakan teman sekolah Rani menyorak dan mendukung Dio. Tentu saja karena Dio anak orang terpandang juga perawakan Dio yang gagah dan ganteng. Tapi terdengar sayup-sayup terdengar yang memberi semangat Rani.
"Ayo Rani...Rani...Rani....!'"
Ternyata Dito yang menyoraki Rani, setelah menitipkan sepedanya pada Bu kantin sekolah.
"Wuuuu...! cupu dukung cupu! Ha.... ha... ha..!"
Begitulah sorakan dari para siswa ituapi Dito tak menghiraukannya, dan tetap menyemangati Rani.
Rani berusaha mengakhiri tantangan ini, dengan segera dia mengarah ke keranjang basket.
Dan saat ada kesempatan, Rani meloncat dan memasukkan bola dalam keranjang. Sontak saja Dio dan penonton yang mendukungnya pun berdecak jantungnya.
Akhirnya Rani bisa membawa bola masuk ke dalam keranjang.
"Yes, Rani...! Rani...!"
Dito bersorak dan melompat dengan girangnya.
"Lihatlah kamu sudah kalah! jadi lepaskan baju kamu sampai bel masuk sekolah....!" teriak Rani dengan senyum menyeringai.
"Eh, kapan lagi lihat badan Dio yang atletis dan gagahnya!"
"Benar juga!"
Begitulah sorak para murid perempuan yang ternyata berharap sekali melihat badan atletis Dio.
"Baik...baiklah! Aku mengaku kalah!" seru Dio dengan perasaan dongkol, pemuda itu melepaskan bajunya.
Sorot matanya tak lepas pada Rani. Antara dendam dan malu atas kekalahannya.
"Hei! ini jadi pelajaran buat kamu.makanya jadi anak jangan sombong. Apa yang kamu banggakan hah! harta? itu harta orang tuamu, bukan kamu yang bekerja. Jadi kamu itu belum bisa ngapa-ngapain, ingat itu...!" seru Rani sambil jalan memutari Dio yang membuka bajunya.
Dio sudah melepas bajunya,anak laki-laki itu hanya pakai kaos dalam dan celana yang dipakainya.
Rani tak melewatkan melihat leher dan dada bidang Dio.
"Hah, tidak ada? Kalung itu tidak ada pada Dio?" gerutu Rani dalam hati yang bingung dan penasaran.
Mengetahui hasilnya tak sesuai pemikirannya, Rani segera meninggalkan Dio yang sedang di kerubungi oleh para gadis itu dan Rani mengambil tasnya.
Setelah menyerempangkan tas dan memakai kacamatanya, Rani bergegas menghampiri Dito.
"Dito, ayo masuk ke kelas!" ajak Rani.
"Ayo!" jawab Dito dengan mengulas senyum bangganya melihat keberhasilan Rani.
"Aku tidak menyangka kalau kamu begitu hebat, Rani!" lanjut seru Dito dengan penuh ke kaguman pada Rani.
"Ah, kebetulan saja sejak kecil aku suka main bola basket. Jadi jangan berpikiran kalau aku seperti super hero begitu!" balas seru Rani seraya mengulas senyumnya.
"Kamu itu, suka merendah saja." kata Dito yang mengulas senyumnya saat mengiringi langkah Rani.
Sementara itu Dio akhirnya jadi obyek Selfi hampir semua murid-murid perempuan. Pandangannya tak lepas pada Rani dan Dito. Dio tersenyum sinis dan kesal terhias di bibirnya.
"Teeeet.....teeettt......teeeeettt...!"
Bunyi bel masuk sekolah pun segera masuk kelas masing-masing.Dio, segera memakai bajunya kembali dan melangkahkan kakinya menuju ke kelas.
Pada saat dia masuk ke kelas, langsung saja dia menghampiri Rani dan Dito.
"Eh, tadi kamu itu benar-benar hebat lho Rani." pujian Dito tak henti-hentinya.
"Sudahlah itu faktor keberuntungan saja." kata Rani yang mulai mengeluarkan buku dan alat tulisnya pada saat duduk di kursi mereka.
"Hei gadis Cupu! Aku belum menyerah, aku masih menantangmu!" seru Dio saat menaruh tasnya di kursinya. Rani pun hanya tersenyum simpul menanggapinya.
"Selamat pagi semuanya!" sapa Bu guru Mariana yang datang.
"Selamat pagi Bu...!" balas semua murid secara kompak dan pelajaran sekolah pun dimulai.
Dua jam berlalu, dan kembali terdengar bunyi bel, dan kali ini bel yang menandakan waktunya untuk istirahat.
"Teeet.....teeeet.....!"
Ketika bel istirahat, murid-murid pun berhamburan keluar kelas dan demikian dengan Bu Guru Mariana yang melangkahkan kakinya keluar dari ruang kelas itu.
"Brukk....!"
"Eh...!"
Akibatnya Rani kembali terduduk di kursinya dan menatap Bella dengan tajam.
"Kurang ajar ya kau! ngapain juga kamu harus menang segala!" seru Bella dengan geram.
"Hei ngapain hukumannya pakai buka baju? dasar mesum...!" lanjut Bella yang membentak.
Tangan Bella diposisi hendak menampar Rani, dengan sigap Dito menangkap tangan Bella.
"Hei..kalah ya kalah.yang sportif dong!" bentak Dito.
"Eh, Nggak nyangka, Dito bisa membentak juga!" batin Rani yang terkejut.
"Cupu..ngapain kau pegang tangan kekasihku? Dasar kalian pasangan Cupu! aku buat perhitungan sama kalian!" seru Dio sambil mengarahkan telunjuknya ke kening Dito dan Rani.
"Ayo sayang,kita ke kantin keburu habis jamnya" ajak Dio pada Bella. Dan mereka pun keluar kelas.
"Cih..dasar pencundang, yang terima kekalahan. Masih mengancam segala..!" gerutu Rani.
Kemudian Rani dan Dito keluar kelas dan menuju kantin yang berbeda dengan Dio. Ya mereka sengaja menjauhi Bella dan Dio,agar mereka tetap berselera untuk makan siang.
Bel masuk kelas pun berbunyi, murid-murid pun segera masuk kelas. Demikian juga Rani dan Dito. Setelah mwreka menerima dua mata pelajaran, akhirnya waktunya pulang.
Semuanya berhamburan keluar dari ruang kelas, demikian pula dengan Rani dan Dito.
"Tunggu aku ya, aku mau ambil sepeda." kata Dito.
"Iya jangan lama-lama." jawab Rani.
Kemudian Rani menelpon kakaknya, Raditya setelah Dito meninggalkannya.
"Hallo Kak Radit, Rani sudah pulang.mohon di jemput" kata Rani saat menelfon Raditya.
"Dah ya Kak, Rani tunggu dipinggir jalan depan sekolah." lanjut Rani. ketika melihat Dito.
"Dito tunggu....!" seru Rani sambil melambaikan tangannya. Mereka berdua pun jalan kaki dan Dito sambil menuntun sepedanya, menuju pintu gerbang sekolah.
Namun baru beberapa langkah, tiba-tiba ada sebuah mobil menghentikan mereka. Benar saja mobil Tuan muda Dio. Keluarlah dua orang pengawal Dio.
Melihat gelagat yang tidak mengenakan, Rani mundur beberapa langkah.
Tiba-tiba Dito menghalangi kedua pengawal itu dengan sepedanya.
"Rani cepat lari....!" seru Dito. Rani pun berlari menghindari mereka.
"Seandainya aku tidak menjadi Rani yang cupu,aku habisi mereka" gerutu Rani dalam hati sambil terus berlari menuju pintu gerbang sekolah.
Rani melihat kakaknya sudah menunggunya berdiri disamping mobilnya.
"Kak Radit...!" panggil Rani sambil terengah-engah.
"Rani....!" kata Radit heran, kenapa adiknya berlari.
Tak selang berapa lama, Radit kaget ternyata adiknya dikejar oleh dua orang pengawal Dio
"Mungkin kalau tidak sedang menyamar, mungkin Rani sudah menghabisinya. Secara bela diri Rani sudah diatasku" batin Raditya.
"Stop, mau apa tuan terhadap saudaraku." tegur Raditya pada dua pengawal Dio.
"Kami diperintahkan untuk menangkap gadis itu!" seru salah seorang pengawal Dio.
"Apa masalahnya?" tanya Raditya yang dalam posisi membelakangi Rani, berusaha untuk melindungi adiknya.
"Dia menghina Tuan muda kami" jawab pengawal itu geram.
"Kak, Dio tadi kalah dalam permainan bola basket melawan aku. Taruhannya kalau aku yang kalah jadi pembantunya selama sebulan, dan kalau Dio yang kalah dia harus buka baju sampai bel masuk." bisik Rani pada Raditya.
"Apa...!" Raditya yang menggelengkan kepalanya mendengarkan bisikan adiknya. Tak disangka adiknya bertaruhan dalam hal mesum seperti itu.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...