
"Hm, ada kemungkinan begitu!" gumam Sersan Saga.
Setelah beberapa kilometer mereka beriringan, akhirnya rombongan truk itu berbelok ke arah yang berlainan arah dengan keluarga Wibowo dan juga Sersan Saga serta Rani.
Matahari perlahan-lahan bergerak ke arah ufuk barat, seperti hendak keperaduannya. Dan akhirnya mobil keluarga Wibowo dan sepeda motor Sersan Saga sampai ditempat yang menjadi tujuan mereka, yaitu padepokan Darma putih.
Setelah perjalanan yang begitu melelahkan itu mereka lewati, rasa gerah dan capek melanda rombongan itu. Tentu saja mereka berkeinginan untuk cepat-cepat masuk dan beristirahat.
"Wah, akhirnya! aku bisa menghirup sejuknya udara lereng gunung lagi!" seru Rani saat turun dari sepeda motor sambil menghirup dalam-dalam udara di lereng gunung yang begitu sejuk dan bersih dari polusi.
Sersan Saga dan yang lainnya pun demikian, mereka menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara pelan-pelan.
Tuan Wibowo dan si bibi asisten rumah tangga keluarga Wibowo, menurunkan barang bawaan mereka dan di bantu oleh Raditya serta Sersan Saga.
"Rani...!" panggilan dua orang pemuda dengan memanggul aneka sayuran dipunggung mereka yang kemudian keduanya menghampiri Rani.
Perguruan Darma putih milik kakek Rani dan Raditya ini, memang sejak dulu tidak memungut biaya dalam mendidik murid-muridnya. Oleh karena itu, murid-murid perguruan Darma putih punya kesadaran sendiri datang lebih awal dari jadwal latihan, waktu yang digunakan untuk membantu mengelola perkebunan di perguruan Darma putih.
"Arya...Bima....!" seru Rani yang membalas panggilan kedua pemuda itu.
Arya teman seperguruan Rani dan Bima adalah anak angkat dari paman Sidiq. Kalau di sekolah umum mereka adik kelas Rani.
"Rupanya kita kedatangan banyak tamu Bim!" seru Arya pada Bima pada saat melihat orang-orang yang bersama Rani.
"Iya, tamu dari kota!" balas Bima yang memandang Rani dan yang lainnya satu persatu.
"Kakek dan Paman Sidiq ada di mana?" tanya Rani pada saat berhadapan dengan kedua pemuda itu.
"Ayah masih di perkebunan dan Kakek tadi waktu kami tinggal masih istirahat. Kemarin sakit kakek kambuh lagi." jawab Bima.
"Kakek...!" seru Rani yang kemudian berlari menuju ke teras rumah kakek Darma.
Kemudian disusul yang lainnya dengan berjalan beriringan di halaman rumah dan menuju ke teras lanjut sampai didepan pintu rumah kakek Darma.
"Bibi Dewi ada?" tanya Rani yang menatap Arya dan Bima.
"Ada, jam segini biasanya masak kalau tidak memandikan Desi" jawab Bima.
"Oh begitu ya." sahut Rani yang melangkahkan kaki masuk ke ruang, setelah Arya membukakan pintu rumah tersebut.
Disusul oleh yang lainnya, yang pada saat ini mereka berkumpul di ruang tamu.
"Maaf kami duluan mau antar sayuran ini ke dapur, permisi!" pamit Arya dan Bima yang melangkahkan kaki menuju ke dapur.
"Rani dan kamu Saga..!" panggil Tuan Wibowo setengah berbisik.
"Ya ada apa Om..!" jawab Sersan saga yang sebelumnya menebarkan pandangannya ke sekitar ruangan dan sedari tadi diam.
"Kalian sebaiknya sembunyikan status kalian. Mengingat kesehatan paman Darma danjuga mengingat kenangan orang tuamu Rani. Mereka dulu pernah tidak mendapat restu oleh Paman Darma. Karena mereka pacaran saat masih sekolah. Jadi disini kalian sebagai adik dan kakak seperguruan saja. Apa kalian mengerti?" jelas sekaligus tanya Tuan Wibowo.
Rani dan Sersan Saga saling pandang dan mengganggukkan kepala mereka secara pelan-pelan.
"Padahal niat kita mau 'quality time' dan minta restu Guru sebelum aku berangkat ke kota sebrang, kenapa harus disembunyikan?" bisik Sersan Saga pada Rani.
"Trus sekarang bagaimana kak?" tanya Rani yang memasang ekspresi kecewa.
"Kita ikuti dan lihat saja dulu apa yang akan terjadi nantinya." jawab Sersan saga yang menghela napasnya.
"Hukk....hukk...hukk...! Ada apa diluar? Kok ramai sekali ya!" suara lemah dari dalam kamar yang biasa ditempati oleh Kakek Darma.
"Kakeeeeek...!" panggil Rani yang bergegas melangkahkan kakinya menuju ke kamar untuk melihat keadaan kakek Darma dan langsung saja Rani memeluk laki-laki tua yang terbaring lemah diatas tempat tidurnya itu.
"Ho...ho...! cucuku baru berapa bulan tidak ketemu, tambah cantik sekarang, persis ibunya!" seru kakek Darma pada saat Rani melepaskan pelukannya.
"Ah Kakek....! Rani kangen kakek...!' seru Rani yang membiarkan keningnya di cium kakeknya.
"Radit sini....!" panggil Kakek Raditya yang bangkit dari posisi berbaring ya dan kemudian memeluk Raditya.
"Apa kabar paman!" sapa Tuan Wibowo pada saat menghampiri kakek Darma.
"Bowo....! sering sakit-sakitan! Ha...ha...ha...!" balas Kakek Darma yang tertawa riang, seakan sudah lupa akan rasa sakit yang dia derita.
"Paman harus jaga kondisi paman, perguruan Darma putih jangan sampai kehilangan sosok guru yang jadi panutan mereka!" seru tuan Wibowo.
"Kau ini, jodoh mati dan rejeki itu sudah ada yang mengatur, tinggal kita yang bisa pasrah dan ikhlas dalam menerima semua yang akan terjadi." jelas kakek Darma.
"Iya sih paman!" balas Tuan Wibowo seraya menganggukkan kepalanya.
"Wibowo!" panggil kakek Darma.
"Iya paman?" sahut Tuan Wibowo yang memandang kakek Darma dengan penuh perhatian.
"Apa kau tak lihat,munculnya sosok Satya dan Rianti hadir kembali disini?" tanya kakek Darma pada ayah angkat Rani dan Raditya.
"Iya paman, Rani dan Raditya bukankah mereka ini memang anak-anak mereka?" sahut Tuan Wibowo dan semuanya pun tersenyum.
"Ha...ha...ha...! Kau benar!" seru kakek Darma.
"Lantas siapa dia?" lanjut tanya Kakek Darma yang melihat ke arah Sersan Saga.
"Guru! saya Saga murid guru sepuluh tahun yang lalu!" seru Sersan Saga sambil mencium punggung tangan kanan kakek Darma.
"Saga!" seru kakek Darma berusaha mengingat- ingat.
"Kak Saga ini murid kakek yang menang dalam turnamen kategori remaja kek!" jelas Rani yang berusaha membantu ingatan kakeknya.
"Dasar bocah tengil! sudah sukses lupa sama gurumu ini ya!" seru kakek Darma sambil memeluk mantan muridnya itu.
"Hm..bocah tengil? tambah lagi julukanmu kak Saga. He...he....he....!" kata dalam hati Rani sambil tersenyum memandang Sersan Saga yang dipeluk kakeknya itu.
"Saya sekarang sudah menjadi polisi Guru. Maaf bila lama tak berkunjung di perguruan." kata Sersan Saga saat kakek Darma melepaskan pelukannya.
"Sudahlah nggak apa-apa. Aku bangga padamu. Berarti usaha gurumu ini ada hasilnya. Ha...ha....ha....!'' celetuk kakek Darma yang nampak sumringah dengan kedatangan semua anggota keluarganya itu.
Setelah itu semuanya saling bercerita tentang kehidupan masing-masing setelah mereka berpindah dari kamar Kakek Darma menuju ke ruang tamu.
Bibi Dewi dan bibi Asisiten rumah tangga Keluarga Wibowo sibuk menghidangkan makanan dan minuman untuk mereka yang ada di ruang tamu.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...