
"Maukah Anda menemui saya malam ini untuk mengabarkan hasilnya?"
"Tentu, kalau saya sudah kembali."
"Inspektur yang baik itu percaya pada persoalan-persoalan yang bergerak," bisik Komisaris Saga sewaktu Japp berangkat.
"Dia mengadakan perjalanan, mengukur jejak-jejak, mengumpulkan debu dan sigaret! Sibuk sekali! Dia bekerja di balik kata-katanya! Kalau kusebut psikologi di hadapannya, engkau tahu apa yang akan dilakukannya, Sobat" Dia akan tersenyum! Dia akan berkata kepada dirinya sendiri,
'Kasihan, Komisaris Saga! Dia sudah tua, sudah semakin pikun!' Japp adalah 'generasi muda yang penuh upaya'. Dan ma foi! Mereka sibuk sekali berupaya sampai-sampai tidak melihat bahwa hasilnya sudah kelihatan!"
"Apa yang akan kaulakukan?"
"Karena kita punya carte blanche, akan kukeluarkan uang tiga penny untuk menelepon Ritz, tempat pangeran itu tinggal. Setelah itu, karena kedua kakiku agak lembab dan Rani sudah dua kali bersin, Rani akan kembali ke kamar serta membiarkan diriku beristirahat."
***
Tidak kulihat lagi Komisaris Saga sampai keesokan harinya ketika kudapatkan ia tengah menyelesaikan sarapannya dengan tenang.
"Apa yang terjadi?" Rani mencari tahu dengan penuh semangat.
"Tidak ada apa-apa."
"Japp?"
"Rani belum melihatnya."
"Pangeran itu?"
"Ia meninggalkan Ritz kemarin dulu."
"Pada hari pembunuhan itu terjadi?" "Ya."
"Kalau begitu, selesai sudah. Jelas, Rupert Carrington!"
"Karena Pangeran de la Rochefour sudah pergi meninggalkan Ritz" Engkau terlalu cepat menyimpulkan, Sobat."
"Bagaimanapun juga ia harus dibayang-bayangi, ditahan! Tapi, apa motifnya?"
"Permata senilai seratus ribu pound adalah motif yang sangat menarik siapa pun juga. Pertanyaan yang menghantui pikiranku sekarang adalah mengapa membunuh Flossie" Mengapa tidak sekadar mencuri permata-permata itu" Toh Flossie tidak akan menuntut?"
"Mengapa tidak?"
"Karena dia wanita, Sobat. Dia pernah mencintai laki-laki ini. Itulah sebabnya dia akan menerima kehilangan permatanya tanpa membuka suara. Dan si Pangeran adalah psikolog yang luar biasa dalam soal wanita - karena itu ia sukses - pasti tahu benar tentang hal ini! Di pihak lain, kalau Rupert Carrington pembunuhnya, mengapa ia mengambil permata-permata yang akan memberatkannya?"
"Untuk membingungkan."
"Mungkin engkau benar, Sobatku. Ah, ini dia Japp! Rani kenal betul ketukan sepatunya." Inspektur Japp masuk dengan wajah berseri-seri.
"Pagi, Komisaris Saga. Baru saja kembali. Saya sudah bekerja dengan baik. Anda sendiri bagaimana?"
"Saya sudah menyusun gagasan-gagasan saya," sahut Komisaris Saga tenang. Japp tertawa terbahak-bahak. "Orang tua selalu demikian," Japp berkata kepada Rani di sela-sela tarikan napasnya
. "Prinsip itu tidak berlaku bagi kami orang-orang muda," katanya keras-keras.
"Quel dommage?" Komisaris Saga mencari tahu.
"Anda ingin mendengar apa yang sudah saya lakukan?"
"Bolehkah saya menebak" Anda sudah menemukan pisau yang dipakai untuk membunuh, di tepi rel kereta antara Weston dan Taunton, dan Anda sudah mewawancarai bocah penjaja koran yang berbicara kepada Nyonya Carrington di Weston!" Rahang Japp terkatup.
"Saya gembira sekali karena Anda mengakui sel-sel otakku hebat! Apakah Flossie memberi penjaja koran itu uang satu shilling?"
"Bahkan dua belas setengah penny!" Japp telah menemukan kembali perangainya dan menyeringai.
"Dermawan sekali, orang-orang Amerika yang kaya ini!"
"Akibatnya, anak itu tidak akan lupa?"
"Persis. Tidak setiap hari ia menerima dua belas setengah penny. Flossie memanggilnya dan membeli dua majalah. Yang satu berkulit muka seorang gadis dalam pakaian biru. 'Itu cocok denganku,' seru Flossie. Oh, anak itu mengingatnya dengan sempurna. Well, ini cukup buat saya. Menurut kesaksian dokter, pembunuhan pasti dilakukan sebelum memasuki Taunton. Saya kira pembunuh membuang pisau seketika itu juga. Saya berjalan di sepanjang rel untuk mencarinya. Benar, pisau itu ada di sana. Di Taunton saya mencari tahu tentang orang yang kita cari itu, tapi stasiun Taunton luas sekali sehingga tidak mungkin orang-orang melihatnya. Mungkin saja pembunuh kembali ke London dengan kereta berikutnya." Komisaris Saga mengiyakan.
"Mungkin sekali."
"Sewaktu pulang, saya mendapat berita lain. Pembunuh telah menyalurkan permata yang didapatnya. Jamrud yang besar digadaikan semalam - oleh salah seorang dari komplotan itu. Menurut Anda siapa orang itu?"
"Saya tidak tahu - kecuali orang itu pendek." Japp terpana.
"Well, dalam hal ini Anda benar. Dia cukup pendek. Namanya Red Narky."
"Sapa dia?" tanya Rani.
"Pencuri permata yang luar biasa cerdiknya. Tapi, dia bukan orang yang biasa membunuh. Biasanya dia bekerja sama dengan seorang wanita, Gracie Kidd; namun kali ini kelihatannya Gracie tidak terlibat - kecuali dia sudah berangkat ke Belanda dengan sisa barang curian."
"Anda sudah menahan Narky?"
"Tentu. Tapi, sebenarnya laki-laki lainlah yang kami inginkan - laki-laki yang pergi bersama Nyonya Carrington di kereta api. Jelas, dialah yang merencanakan pembunuhan itu. Sayangnya, Narky tidak mau mengkhianati kawannya." Kulihat mata Komisaris Saga menjadi sedemikian hijaunya.
"Saya kira," katanya lembut,
"saya dapat menemukan kawan Narky itu untuk Anda."
"Salah satu gagasan kecil Anda, eh?" Japp memandang Komisaris Saga tajam-tajam.
"Kadang-kadang luar biasa juga bagaimana Anda berhasil melakukan apa yang Anda inginkan, mengingat usia Anda dan lain-lain. Keberuntungan orang lain-lain, tentu saja."
"Mungkin, mungkin," bisik Komisaris Saga.
"Rani, topiku. Dan sikat sepatu karetku, kalau masih hujan! Kita tidak mungkin mengacaukan pekerjaan tisane itu. Sampai jumpa, Japp."
"Semoga berhasil, Komisaris Saga." Komisaris Saga memanggil taksi pertama yang kami temukan dan meminta sopir menuju Park Lane.
Ketika taksi berhenti di luar rumah Halliday, dengan gesit Komisaris Saga meloncat ke luar, membayar taksi, dan membunyikan bel. Kepada penerima tamu yang membukakan pintu, ia mengajukan permintaan dalam suara rendah, dan segera kami dibawa ke lantai atas.
Kami menuju ke lantai paling atas, lalu diantar masuk ke kamar tidur yang kecil dan rapi. Pandangan Komisaris Saga menjelajah sekeliling kamar, berhenti pada kopor kecil berwarna hitam. Ia berlutut di depan kopor itu, meneliti labelnya dengan cermat, lalu mengeluarkan gulungan kecil kabel dari sakunya.
"Tanyailah Tuan Halliday kalau-kalau ia mau menemani saya di sini," katanya kepada penerima tamu.
Penerima tamu itu meninggalkan kamar. Dengan hati-hati Komisaris Saga mengutak-atik kunci kopor dengan tangannya yang terlatih. Dalam waktu beberapa menit kopor itu terbuka. Dinaikkannya tutup kopor. Cepat ia menggeledah dan mengempaskan pakaian-pakaian di dalam kopor itu ke lantai.
Terdengar suara langkah-langkah berat di tangga dan Halliday masuk.
"Apa gerangan yang Anda lakukan di sini?" tuntutnya sambil menatap tajam.
"Monsieur, saya sedang mencari ini." Komisaris Saga menarik mantel dan rok bawah bergaris biru terang serta topi kecil tanpa pinggiran dan bulu serigala putih.
"Apa yang Anda lakukan dengan kopor saya?" Rani menoleh dan kulihat Jane Mason, si pelayan, sudah berada di kamar.