Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Arya Membuka Sandiwara Rani


"Rani....Rani...!" panggil Sersan Saga, yang sangat ke ingungan dan khawatir, kemudian Sersan Saga membaringkan Rani di atas rumput.


"Aku harus membawanya ke Perguruan!" gumam dalam hati Sersan Saga yang bergegas memakai kembali alas kaki dan mengambil lampu senternya.


Setelah itu dia membopong tubuh Rani, kemudian berjalan menembus gelapnya malam ke arah perguruan.


"Nona Rani sepertinya sedang mengerjai laki-laki itu. Jelas-jelas nona Rani tidak pingsan. Sepertinya mereka punya hubungan yang sangat dekat" gumam si Kity dari balik semak-semak.


Kemudian berubahlah si Kity menjadi gumpalan asap putih yang kemudian masuk ke dalam liontin kalung pusaka Rani.


Saat dalam perjalanan menuju ke perguruan, sesekali Rani membuka matanya untuk sekedar melihat wajah khawatir kekasihnya.


Dan menutup matanya kembali mana kala sang Sersan Saga melihat wajahnya. Dalam hati tersenyum puas, karena berhasil menjahili kekasihnya.


"He...he...he...! Ma'af ya kak Saga yang jutek, nyebelin dan tengil! Rani menjahili kak Saga! Jangan marah ya!" gumam dalam hati Rani seraya tersenyum yang dia sembunyikan.


Tak berapa lama, mereka pun sampai di halaman perguruan.


"Kakak seperguruan...!" panggil seeorang dari arah berlawanan di mana Sersan Saga dan rani.


"Arya...!" sahut Sersan Saga yang kemudian menuju sebuah balai bambu yang biasa buat beristirahat murid-murid perguruan sehabis dari perkebunan, yang letaknya di samping pintu gapura perguruan.


"Rani kenapa?" tanya Arya yang berjalan setengah berlari saat melihat Sersan Saga menidurkan Rani yang pura-pura pingsan tadi.


Kemudian Sersan saga. menceritakan saat dia menemukan Rani. Dan sampai bertemu dengan Arya.


"Oh jadi tercebur di kolam air terjun ya?" kata Arya yang kemudian mendekati Rani.


"Rani bangun, aku tahu kamu hanya pura-pura!' seru Arya sambil menjentikkan jarinya di dahi Rani yang masih pura-pura pingsan dan terbaring di balai bambu,


"Aaauw...! Arya kamu ganggu misiku saja!"' seru Rani 'sambil memegang dahinya yang sakit karena jentikan jari Arya.


"Lihat kan? dia hanya mengerjaimu kakak seperguruan!' kata Arya sambil tersenyum pada Sersan Saga.


"Apa...!" seru Sersan Saga yang terkejut dan mukanya memerah karena marah.


"Ma...maaf kak Saga. Jangan marah ya...ya!" pinta Rani sambil menyatukan telapak tangannya tanda memohon.


"Kamu ini sudah membuat semua khawatir, tahu tidak betapa reportnya mencari kamu di waktu malam begini? sampai-sampai bajuku basah semua. Kamu harus mengganti kerugian kakak!" seru Sersan Saga yang sebenarnya gemas akan polah tingkah Rani.


"Hitungan amat sih sama adiknya!" gerutu Rani sambil pasang muka cemberut, yang membuat Sersan Saga semakin gemas.


"Biarin! kamu harus beri kakak ci..." kata Sersan Saga yang belum selesai bicara sudah di dahului Rani.


Karena Rani tahu pasti kekasihnya itu akan berkata ciuman.


"Pijitan ya maksud kak Saga. Baik sini Rani pijit, sebelah mana yang pegal-pegal? kasihan pegal-pegal ya menggendong Rani tadi?" celoteh Rani sambil mendekatkan diri pada Sersan Saga yang kemudian memijit-mijit lengan Sersan Saga.


"Ha.....ha......! apa kalian seperti ini juga di kota sana?" tanya Arya dengan nada sedikit cemburu dengan kemesraan Rani pada kakak seperguruannya itu.


"Jarang juga sih, tapi aku maunya pijatan plus-plus! Ha....ha....ha....!" jawab Sersan Saga sambil tertawa dan merasakan pijatan Rani.


"Dasar mesuuuum....!" seru Rani sambil mencubit lengan Sersan Saga.


"Auh.....! Lama-lama lenganku gosong kamu cubitan terus!" seru Sersan Saga sambil mengusap lengannya yang memerah karena cubitan Rani.


"Arya! kamu kok tahu kalau Rani pura-pura pingsan?" tanya Sersan Saga yang penasaran..


"Perlu kakak ketahui, Rani itu ratunya jahil di perguruan. Dia itu selalu juara di setiap cabang olah raga, apalagi renang dan menyelam. Jadi tadi saya yakin dia itu pura-pura pingsan, hanya untuk mengerjaimu" jelas Arya.


"Dasar ya...!" seru Sersan Saga sambil menarik telinga Rani.


"Auw.....! sakit kak....! yang dahi belum sembuh ditambah telinga!" seru Rani yang meringis kesakitan sambil memegang telinganya yang memerah karena di tarik Sersan Saga.


"Arya! untung saja bertemu kamu di sini. Kalau sampai masuk ke perguruan, mau ditaruh mana muka aku di hadapan semuanya!" kata Sersan Saga yang masih geram dengan tingkah Rani.


"Tahukan sekarang kalau kejahilan kamu itu akan merugikan banyak orang!" seru Arya yang menatap ke arah Rani.


"Sudahlah aku mau masuk duluan, memberi laporan kalau Rani sudah di ketemukan dan selanjutnya bersiap menerima hukuman dari guru Darma." kata Arya yang kemudian melangkah kan kakinya ke arah pintu pagar perguruan.


Setelah melihat Arya yang hilang dari pandangan mata, Sersan Saga kemudian duduk dibalai bambu berdekatan dengan Rani.


"Sebetulnya, apa yang membuatmu sampai ke air terjun malam-malam begini. Coba ceritakan pada kakak!" seru Sersan Saga yang mulai bisa mengendalikan emosinya.


"Rani pergi karena Rani mendengar permintaan nenek Lasmi pada kekek Darma kak!" kata Rani perlahan.


"Memangnya apa permintaannya?" tanya Sersan Saga yang penasaran.


"Nenek Lasmi meminta menjodohkan kak Saga dengan kak Yuki!" jawab Rani.


"Oh kalau itu kan aku bisa menentangnya?" kata Sersan Saga yang dengan tenangnya.


"Masalahnya kalau kak Yuki tidak jadi sama kak Saga, nenek Lasmi yang minta kakek menikahinya." kata Rani dengan geram.


"Wah sebetulnya bagus lho! kalau kakek menikah dengan nenek Lasmi, masa tua kakek Darma nanti akan ada yang mengurusi. Tidak kesepian terus, he...he....he....!" kata Sersan Saga seraya terkekeh.


"Rani nggak mau punya nenek seperti nenek peyot dan genit seperti bebek Lasmi!" seru Rani dengan meruncingkan mulutnya.


"Jangan bicara seperti itu pada orang tua. Peyot, kamu kelak kalau sudah tua juga akan jadi peyot. Kalau genit, kamu kan juga genit sama kakak!" seru Sersan sambil mencubit hidung Rani.


"Ah kak saga!" seru Rani dengan kesalnya.


"Ayo kita masuk ke perguruan, anginnya dingin sekali. Dan baju kita sampai kering karena kena angin dan suhu badan kita. Kak Saga nggak mau nanti kita sakit dan tak bisa mewakili perguruan dalam turnamen nanti." kata Sersan Saga yang menatap Rani seraya mengulurkan tangannya, untuk membantu Rani berdiri.


"Iya kak, ayo kita lekas masuk ke perguruan!" kata Rani yang menerima uluran tangan Sersan Saga dan kemudian gadis itu segera berdiri.


Namun Sersan Saga menarik lengan Rani, mengakibatkan gadis itu jatuh ke pelukannya dan Sersan Saga mematikan Lampu senter yang sedari tadi menyala. Rupanya Sersan Saga sudah tak bisa mengendalikan nafsunya. Dia mencium kening dan turun ke pipi gadis pujaannya itu.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...