Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Kematian Wu Ling


"'Misalnya - sopir taksi. Dari dia kita mendapat keterangan bahwa ia mengantar kedua laki-laki ke sarang opium. Ini kan memberi ide. Masalahnya - betulkah tempat itu yang dituju" Andaikan kedua laki-laki itu meninggalkan taksi di sana, masuk ke tempat itu, lalu keluar lewat pintu lainnya untuk pergi ke tempat lain"


Mendengar perkataanku Pearson tersentak.


'Mengapa Anda tidak berbuat apa-apa kecuali duduk dan berpikir" Apakah kita tidak bisa berbuat sesuatu"'


"Orangnya sangat tidak sabaran, engkau tahu ini. "'Monsieur,' kata Rani dengan tenang dan serius, 'berlari ke sana kemari di sepanjang jalan-jalan Limehouse yang penuh kejahatan, seperti anjing cilik yang tidak diketahui asal-usulnya, bukanlah pekerjaan komisaris Saga. Tenanglah. Agen-agen saya tetap bekerja.'


"Hari berikutnya ada yang harus kusampaikan kepadanya. Kedua laki-laki itu memang melewati tempat yang bersangkutan, tapi tujuan mereka yang sebenarnya adalah sebuah restoran kecil di dekat sungai. Orang-orang melihat keduanya masuk ke sana dan Lester keluar seorang diri.


"Lalu - bayangkan kalau peristiwa ini terjadi padamu, Hastings. Satu gagasan tibatiba menguasai Pearson! Dia tidak puas kalau kami sendiri belum pergi ke restoran itu untuk menyelidiki. Aku memprotes, tapi dia tidak peduli. Dia berbicara tentang penyamaran, bahkan disarankannya aku sebaiknya - aku jadi raguragu untuk memberitahumu - sebaiknya aku mencukur habis kumisku! Ya, rien que ?a! Kukatakan bahwa idenya itu menggelikan dan tidak masuk akal. Keindahan tidak boleh dirusak hanya untuk main-main. Selain itu, apa bedanya orang berkumis atau tidak, kalau dia ingin mengisap opium"


"Nah, dia menyerah meskipun masih bersikeras dengan idenya itu. Sorenya dia muncul - Mon Dieu, bukan main penampilannya! Dia memakai jas pendek dari kain kasar yang biasa dipakai para pelaut, dagunya kotor dan tidak bercukur; bau syalnya busuk sekali, menyengat hidung. Dan, bayangkan, Hastings, dia menyukai penampilannya yang demikian itu. Sungguh, orang-orang Inggris gila! Diubahnya penampilanku. Kubiarkan dia melakukannya. Bisakah orang mendebat seorang maniak"


Akhirnya kami berangkat - bagaimanapun juga, bisakah aku membiarkannya pergi sendirian, dalam kostum samaran kekanak-kanakan itu?"


"Tentu saja tidak," aku mengiyakan.


"Selanjutnya - kami sampai di sana. Pearson berbicara dengan bahasa Inggris yang aneh. Dia memperkenalkan diri sebagai pelaut serta berbicara tentang soal-soal laut dan kapal yang tidak kumengerti. Ruangan itu kecil, atapnya rendah, dan banyak orang Cina di sana. Kami makan hidangan yang rasanya aneh. Ah, Dieu, mon estomac!" Poirot menepuk-nepuk perutnya sebelum bercerita lagi. "Kemudian, pemilik rumah makan menghampiri kami. Seorang laki-laki Cina dengan wajah yang dihiasi senyuman jahat.


"'Anda, Tuan-tuan, tidak suka makanan di sini,' katanya. 'Tuan-tuan datang tentunya untuk menikmati apa yang lebih Tuan-tuan senangi. Pipa isap, eh"'


Pearson menendang kaki Rani keras-keras. padahal Dia memakai sepatu pelaut .


'Aku tidak keberatan, John. Antarkan kami.'


"Tuan rumah tersenyum lalu membawa kami ke gudang bawah tanah, melewati pintu jebakan, turun beberapa langkah, naik lagi ke dalam ruangan yang penuh dipan dengan bantalan tidur yang nyaman sekali. Kami berbaring, seorang anak laki-laki berkebangsaan Cina melepas sepatu kami. Saat itu merupakan saat yang paling laris di sore itu.


Mereka menghidangkan pipa-pipa opium lengkap dengan pil-pil opium yang masak. Kami pura-pura mengisap, lalu tertidur dan bermimpi. Tapi sewaktu kami tinggal berdua, Pearson memanggilku lirih.


Segera ia mulai merangkak sepanjang lantai. Kami berhenti di belakang tirai dan memasang telinga. Orang-orang itu tengah membicarakan Wu Ling. Kami masuk ke kamar lainnya, tempat orang-orang sedang tidur-tiduran dan semacamnya, sampai kemudian terdengar percakapan dua orang.


"'Ah! Tapi dia tertangkap basah,' kata yang pertama lagi. "'Dia bebas. Polisi tidak yakin dia berbuat itu.'


"Pembicaraan itu berlanjut. Kemudian, rupanya kedua orang itu menuju ke tempat persembunyian kami. Tergesa-gesa kami kembali ke tempat tidur. "'Sebaiknya kita keluar dari tempat ini,' ajak Pearson setelah beberapa menit berlalu. 'Tempat ini tidak sehat.' "'Anda benar, Monsieur,' aku mengiyakan. 'Kita sudah cukup lama bersandiwara.' Kami berhasil meloloskan diri setelah membayar mahal untuk opium. Begitu keluar dari Limehouse, Pearson menarik napas panjang.


"'Saya senang sudah keluar dari tempat itu,' katanya.


'Tapi kita telah mendapatkan sesuatu yang dapat kita percaya.' "'Betul sekali,' kataku setuju. 'Saya kira kita tidak akan menemui banyak kesulitan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan - setelah penyamaran malam ini.'


"Memang sama sekali tidak ada kesulitan," Poirot tiba-tiba mengakhiri ceritanya. Akhir cerita yang mendadak ini kedengaran luar biasa, sehingga aku menatapnya heran.


"Tapi - tapi, di mana dokumen-dokumen itu?"


"Di sakunya - tout simplement." "Di saku siapa?"


"Pearson, parbleu!" Melihat kebingunganku, Poirot melanjutkan ceritanya dengan lembut.


"Engkau belum juga mengerti. Pearson terjerat hutang, sama dengan Charles Lester. Seperti Charles Lester, dia juga sedang berjudi. Dan ia menyusun rencana untuk mencuri dokumen-dokumen Wu Ling. Dijumpainya Wu Ling di Southampton, diajaknya ke London dan dibawanya langsung ke Limehouse. Hari berkabut, sehingga Wu Ling tidak jelas ke mana ia diajak pergi. Kukira cukup sering Pearson mengisap opium di tempat itu. Akibatnya ia mempunyai beberapa teman yang eksentrik. Aku kira dia tidak bermaksud membunuh Wu Ling.


Gagasannya adalah salah seorang Cina harus menyamar sebagai Wu Ling dan menerima uang dari penjualan dokumen-dokumen itu. Sampai di sini, rencananya mulus! Tapi, bagi kaki tangan Pearson yang orang Timur, masalahnya jauh lebih sederhana dengan membunuh Wu Ling, lalu melemparkan mayatnya ke sungai.


Tanpa berkonsultasi dengan atasannya, mereka bertindak menurut cara mereka sendiri. Bayangkan, betapa ketakutannya Pearson.


Mungkin saja ada orang yang melihatnya bersama Wu Ling di kereta. Pembunuhan jelas jauh berbeda dari penculikan biasa.


Keselamatannya terletak di tangan orang Cina yang menyamar sebagai Wu Ling di Hotel Russell Square. Kalau saja mayat Wu Ling tidak ditemukan secepat itu! Mungkin korban sudah memberi tahu tentang janjinya dengan Charles Lester, itulah sebabnya Lester menjemput Wu Ling di hotel.


Pearson melihat hal ini sebagai cara yang sangat tepat untuk mengalihkan kecurigaan dari dirinya. Charles Lester akan menjadi orang terakhir yang terlihat bersama-sama Wu Ling. Orang yang menyamar itu diperintahkannya untuk memperkenalkan diri sebagai pelayan Wu Ling, kemudian membawa Lester secepat mungkin ke Limehouse.


Di sana, mungkin sekali, Lester ditawari minuman, yang mestinya sudah diberi obat bius. Sejam kemudian, sewaktu keluar dari tempat itu, Lester tidak ingat jelas apa yang telah terjadi. Sebegitu kaburnya, sehingga begitu mengetahui kematian Wu Ling, Lester hilang nyalinya serta menyangkal bahwa ia pernah sampai ke Limehouse.