Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Situasi di Perguruan Darma Putih


"Sial...! Dia hanya terluka! Padahal aku ingin membuat jarinya putus, dan cincin itu tak dapat dia gunakan!" seru Rani yang sangat kecewa.


"Kembali...!" lanjut seru Rani, dan Belati yang menancap di pohon itu pun kembali ke tangan Rani, dan berubah kembali menjadi kalung pusaka berliontin bambu.


"Sial...! si pengecut itu kabur....!" gerutu Rani dengan kesalnya.


"Cepat tolong kakekmu Nona...!" seru si Kity yang mengingatkan Rani akan kondisi kakek Darma.


"Eh iya...!" jawab Rani, dan bergegas menghampiri kakeknya.


"Kakeeeek...!" panggil Rani saat sudah berada disamping kakek Darma dan mendapati laki-laki tua itu sudah siuman.


"Ka...kau siapa?" tanya Kakek Darma yang penasaran dengan sesosok gadis bertopeng yang ada disampingnya dan memakai topeng itu.


"Saya Rani kek! Cucu Kakek!" sahut Rani.


Rani melepas topeng dan menyimpannya di saku belakang celananya.


"Ra...Rani?" ucap Kakek Darma yang penasaran dengan kehadiran Rani, yang semestinya cucu perempuannya itu saat ini ada di stadion guna mengikuti turnamen Bela diri.


"Bagaimana kamu bisa kemari?" tanya kakek Darma secara lirih.


"Nanti Rani jelaskan! Yang terpenting kakek harus Rani obati terlebih dahulu, Kakek harus sembuh! Karena Rani harus balik lagi ke stadion tempat acara Turnamen bela diri berlangsung!" jawab Rani yang bergegas menuntun kakeknya ke teras rumah dan membaringkannya di balai bambu yang ada di teras rumah.


Kemudian Rani masuk ke dapur untuk mengambil segelas air putih dan melangkahkan kaki kembali menghampiri kakeknya.


Gadis itu mengambil pil langit yang ada di dalam liontin kalung pusakanya, dan kemudian meminumkan pil langit itu pada kakeknya.


"Apa yang kau berikan padaku tadi?" tanya si kakek Darma setelah menelan pil langit itu yang penasaran.


"Oh itu hanya permen pelega tenggorokan yang sama seperti saya berikan pada kak Saga, pada waktu kak Saga terluka akibat ulah kakek!" jawab Rani yang mengingatkan pada saat Sersan Saga terluka parah, yang waktu itu di hajar oleh kakek Darma.


"Ohw waktu itu. Kakek minta maaf. Hukk.. Hukk... Hukk!" kata kakek Darma terbatuk-batuk.


"Iya, tidak apa-apa kek! yang terpenting sekarang keadaan kak Saga sudah mendingan. He...he...he....!" ucap Rani sambil tersenyum.


"Syukurlah!" kata Kakek Darma seraya menghela napasnya.


"Yang lain kemana kek?" tanya Rani pada saat melihat rumah dalam keadaan sepi.


"Oya, Mama kamu, Dewi dan Desi ada di ruang semedi kakek. Untuk yang lainnya kakek tidak tahu." jawab kakek Darma.


"Rani cari mereka ya kek!" seru Rani yang berdori dan bergegas masuk ke kamar kakeknya. Sementara Kakek Darma hanya bisa memandangnya saja, karena gerakan Rani yang begitu cepat.


Gadis itu menggeser lemari pakaian sang kakek, dan terdapat sebuah pintu kecil dibelakang lemari pakaian tersebut.


Kemudian Rani membuka pintunya dan dia masuk dengan menuruni tangga dari batu bata yang telah tersusun rapi.


"Nyala.....!" seru Rani seraya memegang liontin pusakanya. Seketika itu juga liontin kalung pusakanya itu mengeluarkan cahaya.


Rani melangkahkan kaki menuruni tangga yang mengarah ke bawah tanah. Secara lamat-lamat terdengar suara tangisan Desi.


"Huaaa.....Hua ...Hua....!"


"Desi... ! Bibi Dewi...! Mama...! ini Rani...!" panggil Rani yang kemudian mendekat ke arah suara tangisan Desi.


"Rani...! syukurlah... kami takut nak!" jawab nyonya Lani yang lega sekali pada saat melihat sesosok gadis yang dikenalnya membawa sesuatu yang bercahaya.


Bibi Dewi lupa tidak menyalakan obor untuk penerangan ruang bawah tanah, karena tadi dia panik dan terburu-buru untuk masuk ke persembunyian.


"Kalian hanya bertiga?" tanya Rani yang melihat satu persatu orang yang ada dihadapannya itu.


"Ceritanya panjang Ma, sekarang Rani mau cari yang lainnya dulu. Oya, sebaiknya jangan keluar sebelum ada perintah dari kakek, ya Ma!" seru Rani yang menatap mama tirinya itu.


Karena Rani yakin bila sampai mama Lani keluar rumah dengan melihat banyak darah murid para perguruan Darma putih dan para anggota geng Kobra yang tercecer di mana-mana, Rani khawatir jika Mamanya mungkin akan pingsan.


"Sebentar ya, bibi nyalakan obornya dulu. Agar Desi nggak rewel!" kata bibi Dewi yang mengambil korek api dari dalam sakunya dan kemudian melangkahkan kaki menuju ke tiap obor.


Iya Bi..!" balas Rani kemudian.


"Cari papamu Nak, Mama khawatir terjadi sesuatu pada papa kamu!" pinta nyonya Lani yang tampak khawatir.


"Baiklah Ma, Rani pamit ya..!" pamit Rani sambil mencium punggung tangan kedua wanita yang jadi pengganti ibu baginnya.


Tak lupa Rani mencium Desi dengan gemas sepupu kecilnya itu, yang sedang merengek minta digendong sama Rani.


"Desi sayang akak pergi dulu ya..! mainnya lain kali ya..! muach.... muach..!" kata Rani sambil menciumi Desi.


Desi yang geli tertawa riang.


"Daaa Eci... daaa.. semua muach.. muach..!" pamit Rani yang sambil berjalan dan memberikan kode kiss bye pada Desi dan bocah itu pun menirukannya dengan senangnya.


Rani kemudian melangkahkan kakinya keluar dengan kembali kejalan semula dan menutupnya dengan rapi.


Gadis itu melangkahkan kakinya kembali menuju ke pintu keluar kamar kakeknya dan menuju ke luar rumah.


Di teras, kakek Darma sedang istirahat memulihkan tenaganya.


Kemudian Rani melangkah ke halaman dan selanjutnya ke tempat latihan.


Yang di setiap langkah kakinya banyak orang yang terkapar, entah pingsan atau sudah tewas, yang begitu banyak darah di mana-mana.


Di tempat latihan pun tak jauh beda dengan yang di halaman.


"Apakah masih ada yang selamat.!" seru Rani saat melangkah menyusuri tempat latihan sampai ke kamar-kamar untuk murid-murid yang menginap.


"Raani...!" panggil seseorang yang sangat lemah, saat Bu terduduk di dinding yang sepertinya baru sadar dari pingsannya pada saat melawan geng Kobra.


"Hari...! apakah kamu tak apa-apa? yang lain kemana?" tanya Rani yang kemudian melangkahkan kakinya menghampiri pemuda yang habis tak sadarkan diri itu.


"Sebagian lari ke air terjun, dan sebagian hilang. Hukk...!" jawab Hari yang terbatuk-batuk.


"Hilaang? maksudmu hilang yang bagaimana?" tanya Rani yang belum paham.


"Pimpinan mereka menggunakan sesuatu di jarinya, kemudian orang yang di hadapannya pun menghilang. Tuan Wibowo, Bima dan Bi Inah juga ikut menghilang!" jelas Hari.


"Baskoro menggunakan cincin langit untuk menghilangkan mangsanya!" seru si Kity dari dalam liontin bambu yang menjadi benda pusaka itu.


"Cincin langit?" tanya Rani yang sangat terkejut sekaligus penasaran.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...