Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
SARANG LEBAH


"Sayalah pengasuhnya semenjak ia masih kanak-kanak. Oh, kasihanilah saya!"


 "Akan saya lakukan semampu saya. Tapi Anda tahu saya tidak bisa membiarkan orang yang tidak bersalah digantung - biarpun dia laki-laki tidak bermoral yang tidak menyenangkan."


Nona Clegg berdiri lalu berbicara dengan suara rendah,


 "Mungkin pada akhirnya saya juga tidak bisa. Lakukanlah apa yang harus Anda lakukan."


Kemudian ia bergegas keluar ruangan.


 "Ia yang menembak?" tanyRani penuh kebingungan.


Komisaris Saga tersenyum menggeleng.


"Almarhum menembak dirinya sendiri. Engkau ingat ia membawa saputangan di lengan bajunya sebelah kanan"


Kenyataan ini menunjukkan pada Rani bahwa almarhum kidal. Karena khawatir akan terbongkar, setelah pertengkaran sengitnya dengan Parker, almarhum menembak diri sendiri. Pagi harinya, seperti biasa Nona Clegg datang untuk membangunkannya dan mendapatkan tuannya terbujur tak bernyawa.


Seperti yang baru saja dikatakan wanita itu kepada kita, ia mengenal almarhum dari anakanak hingga dewasa, sehingga ia sangat marah kepada pasangan Parker ini, yang telah menyebabkan kematian secara memalukan ini. Pasangan ini dianggapnya pembunuh, lalu mendadak ia melihat kesempatan untuk membuat pasangan Parker menderita karena perbuatan yang mereka lakukan.


Hanya Nona Clegg yang tahu bahwa almarhum kidal. Dipindahkannya pistol ke tangan kanan, jendela ditutup dan dipalangnya, lalu dijatuhkannya pecahan kancing manset yang dipungutnya di salah satu kamar lantai bawah. Setelah itu Nona Clegg keluar, mengunci pintu serta memindahkan anak kunci."


 "Komisaris Saga," seruku dalam ledakan antusiasme,


"engkau hebat! Petunjuknya hanya berasal dari saputangan itu."


 "Dan asap rokok. Seandainya jendela ditutup dan semua rokok diisap, seharusnya kamar itu sesak dengan bau pengap tembakau. Tapi, udara kamar betul-betul segar. Karena itu Rani langsung menyimpulkan jendela kamar pasti dibuka semalaman dan baru ditutup pagi harinya. Kesimpulan ini memberiku arah pemikiran yang amat menarik. Tidak mungkin pembunuh yang menutup daun jendela. Jendela yang terbuka menguntungkannya. Ia bisa berpura-pura melarikan diri dari situ, kalau teori bunuh diri tidak diterima. Tentu saja kesaksian gelandangan itu - begitu Rani mendengarnya - meneguhkan kecurigaanku. Ia tidak akan pernah mencuri dengar pertengkaran dua laki-laki itu kalau jendela tidak terbuka."


"Bagus sekali," pujiku sungguh-sungguh.


"Sekarang, bagaimana kalau kita minum teh?"


"Engkau berbicara seperti pria Inggris sejati," kata Komisaris Saga seraya menghela napas.


"Kukira di sini Rani tidak mungkin mendapatkan segelas sirop." dari dalam rumah keluarlah John Harrison, lalu berdiri sejenak di teras dan memandang ke luar, ke seluruh kebun.


Badannya besar, sedangkan wajahnya kurus dan pucat-pasi. Biasanya roman mukanya sedikit muram. Tapi, saat ini - wajah yang keriput itu melembut dalam senyuman sehingga nampak sesuatu yang amat menarik dalam dirinya. John Harrison mencintai kebunnya yang nampak sangat indah pada senja-senja musim panas bulan Agustus yang tenang.


Bunga mawar yang cantik merambat; sedang bau kacang polong yang sedap semerbak memenuhi udara. Suara keriat-keriut yang sangat dikenalnya membuatnya langsung memalingkan kepalanya. Siapa yang telah melewati pintu kebun" Menit berikutnya, ekspresi penuh keheranan nampak di wajahnya karena sosok perlente yang muncul di jalan setapak itu adalah orang yang sangat tidak ia harapkan untuk ditemuinya.


"Menyenangkan sekali," seru Harrison,


 "Monsieur Komisaris Saga!" Sosok itu memang Hercule Komisaris Saga, yang kemasyhurannya sebagai detektif telah menyebar ke segenap penjuru dunia.


 "Benar," sahut Komisaris Saga.


"Anda pernah mengatakan kepada saya 'Kalau kebetulan berada di daerah sini, datanglah menemuiku.' Saya menanggapi perkataan Anda dengan serius. Sekarang saya ada di sini."


"Dan saya sangat berterima kasih," Harrison menanggapi dengan sungguh-sungguh.


"Silakan duduk dan mari minum." Dengan ramah tuan rumah menunjuk ke sebuah meja yang penuh dengan botol minuman di beranda. "Terima kasih," kata Komisaris Saga seraya menenggelamkan tubuhnya ke kursi rotan bundar.


"Anda punya sirop" Tidak, saya kira. Sedikit air soda saja kalau begitu tanpa wiski." Ketika tuan rumah meletakkan gelas di sisinya Komisaris Saga berkata lagi dengan penuh perasaan,


"Sialan, kumis saya jadi lemas. Hawa panas inilah penyebabnya!"


"Untuk apa Anda datang di tempat yang tenang ini?" Harrison bertanya sambil menjatuhkan tubuhnya ke kursi lainnya.


"Mau senang-senang?"


"Bukan, Sobat. Bisnis."


"Bisnis" Di tempat terpencil seperti ini?" Dengan roman sedih Komisaris Saga mengiyakan.


"Benar, Kawan. Semua kejahatan tidak dilakukan di tempat yang penuh orang, kan?" Harrison tertawa. "Saya kira ucapan saya tadi agak tolol. Kejahatan apa yang sedang Anda selidiki di sini" Ataukah seharusnya hal ini tidak boleh saya tanyakan?"


 "Anda boleh bertanya," sahut sang detektif.


"Sungguh, saya lebih suka Anda bertanya." Harrison menatap Komisaris Saga dengan pandangan bertanya-tanya. Ia merasakan sesuatu yang agak aneh dalam sikap tamunya.


"Anda sedang menyelidiki suatu kejahatan, begitu kata Anda?" ia melanjutkan dengan sedikit ragu-ragu.


"Kejahatan yang serius?"


"Sangat serius."


"Maksud Anda?"


"Pembunuhan." Begitu muramnya wajah Hercule Komisaris Saga ketika mengucapkan kata ini sehingga Harrison kaget sekali. Detektif itu memandang tuan rumah lurus-lurus. Lagi-lagi ada sesuatu yang sangat aneh dalam pandangan sekilas detektif itu. Harrison tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Akhirnya, ia bersuara,


"Tapi saya tidak mendengar adanya pembunuhan."


"Memang tidak," sahut Komisaris Saga.


"Anda belum mendengarnya."


"Siapa yang dibunuh?"


"Apa?""


"Itulah sebabnya saya katakan bahwa Anda belum mendengarnya. Saya sedang menyelidiki kejahatan yang belum terjadi."


"Ah, omong kosong."


"Sama sekali tidak. Kalau orang dapat menyelidiki suatu pembunuhan sebelum peristiwa itu terjadi, pasti lebih baik daripada sesudah terjadi. Bahkan orang itu mungkin - gagasan kecil saja - bisa mencegahnya." Harrison menatap Komisaris Saga.


"Anda cuma main-main, Monsieur Komisaris Saga."


"Tidak, saya sungguh-sungguh."


"Anda betul-betul yakin akan ada pembunuhan" Oh, ini tidak masuk akal." Hercule Komisaris Saga menanggapi kalimat pertama tanpa menaruh perhatian pada perkataan lanjutannya.


 "Kecuali kita berhasil mencegahnya. Betul, Sobat, itulah yang saya maksudkan."


 "Kita?""


 "Saya katakan kita. Saya perlu kerja sama Anda."


"Jadi, ini alasan Anda datang kemari?" Komisaris Saga menatap tuan rumah dan, lagi-lagi, sesuatu yang tidak dapat dirumuskan membuat Harrison gelisah.


 "Monsieur Harrison, saya kemari karena - well - saya menyukai Anda." Kemudian Komisaris Saga melanjutkan kata-katanya dengan suara yang amat berbeda.


"Saya tahu, Monsieur Harrison, Anda punya sarang lebah. Seharusnya Anda musnahkan sarang lebah itu." Perubahan pokok pembicaraan ini menjadikan Harrison mengerutkan dahi kebingungan. Diikutinya arah pandangan Komisaris Saga lalu berkata dengan suara penuh kebingungan,


"Sebenarnya saya memang akan memusnahkannya. Atau, lebih tepat Langton yang akan menghancurkannya. Anda masih ingat Claude Langton" Dia hadir juga dalam jamuan makan malam ketika dulu kita bertemu. Malam ini dia akan datang untuk mengambil sarang itu. Ia menyukai pekerjaan ini."


 "Oh," Komisaris Saga bersuara,


"bagaimana ia akan mengambil sarang itu?"


 "Dengan bensin dan alat semprot kebun. Dia akan membawa alat semprotnya sendiri. Ukurannya lebih pas daripada kepunyaan saya."


 "Ada cara lain, kan?" kata Komisaris Saga. "Dengan kalium sianida." Kelihatannya Harrison sedikit terperanjat.


"Ya, tapi bahan itu agak berbahaya. Ada risikonya menggunakan kalium sianida di sekitar sini." Komisaris Saga mengangguk sedih.


"Memang, zat itu termasuk racun yang mematikan." Ia berhenti sejenak, lalu mengulangi kata-katanya dengan nada sendu, "Racun yang mematikan."


"Berguna kalau Anda ingin membunuh ibu mertua Anda, eh?" kata Harrison sambil tertawa. Tapi Hercule Komisaris Saga tetap saja bersedih. "Anda sungguh-sungguh yakin, Monsieur Harrison, bahwa Claude Langton akan menghancurkan sarang lebah Anda dengan bensin?"


"Ya, mengapa?"


 "Saya bertanya-tanya sendiri. Siang tadi saya mampir ke toko bahan kimia di Barchester. Untuk salah satu pembelian, saya harus menandatangani buku daftar zat beracun yang dibeli. Saya membaca daftar terakhir pada buku itu. Di situ tertulis zat kalium sianida, yang ditandatangani oleh Claude Langton." Harrison terbelalak.


"Aneh," komentarnya. "Belum lama ini Langton mengatakan kepada saya ia tidak akan memakai zat itu, bahkan ia berpendapat seharusnya kalium sianida tidak boleh dijual untuk maksud itu." Komisaris Saga memandang ke luar, ke seluruh kebun.


Suaranya amat tenang ketika menanyakan pertanyaan ini, "Anda menyukai Langton?" Yang ditanya terkejut. Dia nampaknya tidak siap akan pertanyaan semacam ini.


 "Saya - saya - well, maksud saya - , tentu saja saya menyukai dia. Mengapa tidak?"


"Saya cuma bertanya-tanya," sahut Komisaris Saga tenang, "apakah Anda menyukainya." Karena tuan rumah tidak menjawab, Komisaris Saga melanjutkan perkataannya,


"Saya juga bertanya-tanya apakah ia menyukai Anda?" "Apa maksud Anda, Monsieur Komisaris Saga" Ada sesuatu dalam pikiran Anda yang tidak saya mengerti."


"Saya akan berterus-terang. Anda bertunangan, Monsieur Harrison. Saya kenal Molly Deane. Gadis yang sangat mempesona dan ayu. Sebelum bertunangan dengan Anda, dia bertunangan dengan Claude Langton. Dicampakkannya Langton demi Anda." Harrison mengangguk.


"Saya tidak akan menanyakan alasannya. Mungkin bisa dibenarkan. Tapi saya beritahu Anda bahwa rasanya Langton belum dapat melupakan atau memaafkan hal itu."


"Anda keliru, Monsieur Komisaris Saga. Saya berani bersumpah Anda keliru. Selama ini Langton adalah seorang yang sangat sportif. Dia menerima apa yang terjadi sebagai laki-laki sejati. Sampai saat ini - secara mengherankan - dia baik sekali kepada saya, terlihat dari sikapnya yang ramah."


 "Apakah Anda tidak menganggap hal ini sebagai sesuatu yang luar biasa" Anda memakai kata 'secara mengherankan', tapi Anda sendiri tidak kelihatan heran."


"Apa maksud Anda, Monsieur Komisaris Saga?"


 "Yang saya maksudkan," jawab Komisaris Saga - nada suaranya berubah, "orang mungkin menyembunyikan kebenciannya hingga waktu yang tepat tiba."


 "Kebencian?" Harrison menggeleng seraya tertawa. "Orang-orang Inggris tolol sekali," ujar Komisaris Saga.


 "Mereka mengira bisa menipu orang lain, tapi orang lain tidak dapat menipu mereka. Mereka tidak akan pernah melihat segi jahat dalam diri orang yang sportif - pemuda yang baik. Karena mereka pemberani tapi tolol, kadang-kadang mereka mati padahal sebenarnya mereka tidak perlu mati."


 "Anda memperingatkan saya," kata Harrison dengan suara rendah.


"Sekarang saya mengerti - apa yang sejak tadi membingungkan saya. Anda memperingatkan saya terhadap Claude Langton. Anda datang untuk memperingatkan saya." Komisaris Saga mengangguk. Mendadak Harrison berdiri.


"Tapi, Anda gila, Monsieur Komisaris Saga. Ini Inggris. Di sini tidak ada hal-hal seperti itu. Pelamar yang kecewa karena lamarannya tidak diterima tidak berusaha menikam punggung dan meracun orang. Dan Anda keliru mengenai Langton. Lalat pun tidak akan dilukainya."


"Nyawa lalat bukan urusan saya," Komisaris Saga berkata dengan tenangnya.


"Walaupun Anda mengatakan Monsieur Langton tidak akan membunuh seekor lalat, Anda lupa bahwa sekarang ini ia sedang bersiap-siap untuk membunuh ribuan ekor tawon."


Harrison tidak segera menjawab. Giliran detektif berbadan kecil itu berdiri. Didekatinya tuan rumah dan diletakkannya satu tangan di bahu kawannya itu. Begitu resahnya ia sehingga hampir-hampir diguncangnya tubuh Harrison yang besar sambil berbisik di telinganya,


"Sadarlah, Kawan. Sadarlah. Lihatlah ke mana saya menunjuk. Di sana, di tepi sungai dekat akar pohon itu. Anda lihat lebah-lebah itu pulang ke sarangnya karena hari sudah sore"