Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Mampir ke Pasar Malam


"Ibu baru belanja ya?" tanya Rani sambil melihat tas belanjaan si ibu.


"Oh, tidak Nak. Saya Penjual kuliner online, kebetulan hari ini menu pesanan seafood goreng. Tapi tiba-tiba dicancel, nomor pemesan diblokir. Padahal mentahnya ini belum saya bayar, rencananya saya bayar kalau sudah dapat uang dari pemesan. Malah jadi begini, sampai-sampai sepeda motor saya kehabisan bensin." keluh si ibu itu.


Rani memandang si ibu dengan Iba. Ingin membantu, tapi Rani tidak punya uang banyak.


Dari kejauhan Rani melihat Sersan Saga sudah mendekat dengan menaiki sepeda motor milik si Ibu itu, dan berhenti tepat dihadapan si Ibu dan Rani.


"Terima kasih tuan, berapa saya harus mengganti uang bensinnya?" tanya si ibu yang menatap Sersan Saga.


"Tidak usah Bu, saya ikhlas kok!" jawab Sersan Saga.


Rani melangkahkan kaki menghampiri Sersan Saga, dan kemudian dia berbisik padanya.


"Kak Saga, Rani pinjam uang boleh?"


Sersan Saga memandang Rani penuh tanda tanya.


"Buat apa?" tanya Sersan Saga yang penasaran.


"Ibu itu jualan online, korban cancel pembeli, Rani ingin membeli dagangan ibu itu." lanjut Rani seraya menunjuk ke arah kantong plastik yang dibawa si ibu itu.


Sersan Saga memperhatikan apa yang Rani maksudkan, kemudian dia melangkahkan kakinya mendekati si ibu.


"Ibu ternyata jualan ya? saya kira ibu habis belanja. Boleh tahu apa yang ibu jual?" tanya Sersan Saga.


"Saya jualan online kuliner Tuan. Hari ini saya kurang beruntung, yang pesan mengcancel sepihak tuan. Sedangkan pesanan sudah saya buatkan." jawab si ibu sambil menunjukan dagangannya.


"Boleh tahu ini apa ya?" tanya Sersan Saga sambil membuka tiap kotak makanan dagangan si ibu.


"Cumi dan udang crispy tuan" jawab si ibu.


Sersan Saga mencoba mencicip makanan satu per satu, untuk merasakan cocok di lidahnya atau tidak.


"Ini enak Bu, saya borong semuanya. Berapa semuanya?" tanya Sersan Saga.


"Seratus enam puluh lima tuan." jawab si ibu.


Sersan Saga mengambil dompetnya di saku belakangnya dan mengeluarkan uang dua lembar seratus ribuan, dan memberikannya pada si ibu itu.


"Kembaliannya tolong belikan susu buat dedek kecil ya Bu" kata Sersan Saga seraya mengelus kepala anak si ibu yang tertidur pulas di gendongan ibunya.


"Oh, terima kasih tuan, semoga Tuhan membalas kebaikan tuan" kata si ibu dengan berkaca-kaca.


"Aamiin, silahkan ibu pulang. Kasihan si dedeknya kedinginan." kata Sersan Saga sembari mengulas senyumnya.


"Iya! Saya pulang ya tuan dan nona, terima kasih banyak!" pamit si ibu yang kemudian menyalami Sersan Saga dan Rani secara bergantian.


"Iya bu sama-sama, hati-hati di jalan Bu." balas Rani, si ibu itu mengulas senyumnya dan menganggukkan kepalanya. Kemudian si ibu itu menyalakan sepedanya dan berlalu meninggalkan Rani dan Sersan Saga.


"Kak nanti Rani ganti uangnya ya!" seru Rani sambil mengambil tas makanan yang dari ibu tadi dari tangan Sersan Saga.


"Apa sih ganti-ganti segala? ini buat oleh-oleh ke lereng gunung besok!" kata Sersan Saga sambil mencubit hidung Rani.


"Auw..sakit!" jerit Rani manja, membuat Sersan Saga semakin gemas jadinya.


"O..iya, Kakek pasti senang. Kan kakek jarang makan-makanan kayak begini. Kak Saga baik deh, pengertian, hm....dan suka menolong" kata Rani dengan hati senang, menatap Sersan Saga dan memasang senyumnya untuk sang Sersan.


"Apa sih...!" Sersan Saga salah tingkah dibuatnya.


"Ayo jalan lagi!" lanjut Sersan Saga seraya memberikan helm pada Rani.


"Iya kak...!" jawab Rani sambil tersenyum menerima helm dari Sersan Saga.


Kemudian mereka kembali menyusuri jalan raya. Sersan Saga menghentikan laju motornya di sebuah pasar malam.


"Pasar malam kak?" tanya Rani yang menebarkan pandangannya ke sekitarnya.


Dia ingat saat terakhir kali Rani ke pasar malam bersama kedua orang tuanya.


Kenangan masa kecil teringat kembali, ayahnya yang mengajaknya naik di setiap wahana.


Keduanya turun dari sepeda motor setelah Sersan Saga meyalakan kembali sepeda motornya sampai ke tempat parkir dan sersan Saga menghentikan laju sepeda motornya.


Setelah melepaskan helm mereka masing-masing, Sersan Saga menggandeng tangan Rani. Dia mengajak Rani naik mulai Komedi putar, kora-kora, gelombang air dan lainnya.


Ada tangis haru yang dirasakan oleh Rani manakala Sersan Saga membelikan Arum manis warna merah muda dalam plastik besar untuknya.


"Hei kenapa nangis?" tanya Sersan Saga ada Rani sambil menghapus air mata Rani saat mereka duduk di kursi yang disediakan oleh panitia.


"Rani jadi ingat ayah dan bunda kak. Rani ingat sekali di ajak mereka. Kemudian Ayah bunda tiada, dan Kakek setiap kali aku merengek minta di ajak ke pasar malam, selalu bilang tunggu sampai ilmu kamu tinggi bisa mengalahkan musuh delapan orang sekali pukul." cerita Rani masih tenggelam dalam tangisannya.


"Sudah, Jagan ada tangis lagi ya! Setara kak Saga minta Arum manisnya dong?" pinta Sersan Saga yang menatap wajah Rani.


Lalu Rani menyodorkan Arum manisnya.


"Aku mau kamu menyuapin," pinta Sersan Saga.


"Idih kayak anak kecil saja!" seru Rani, yang kemudian menyuapi kekasihnya itu.


"Pacarku kan masih kecil. Buktinya tuh suka cengeng....!" kata Sersan sambil menghapus air mata di pipi Rani.


Rani mengulas senyumnya dan kemudian memegang tangan Sersan Saga yang mengusap pipinya dan mencium punggung tangan tersebut.


"Makasih kak!" kata Rani sambil tersenyum.


"Nah gitu dong, kalau senyum kan cantik" rayu Sersan Saga.


Kemudian mereka menghabiskan Arum manis dengan saling menyuapi.


"Pulang yuk...! sudah malam. Nanti kena marah om dan Tante juga kakak mudaku. He...he....he….!" kata Sersan Saga sambil terkekeh.


"Kakak muda? Oh kak Radit ya?" kata Rani yang mencoba menebak, dan pada akhirnya ikut tertawa.


Kemudian mereka melangkahkan kaki menuju tempat dimana sepeda Sersan Saga terparkir, setelah memakai helm dan naik ke atas sepeda tersebut, mereka bergegas meninggalkan keramaian pasar malam.


Sepeda motor yang ditumpangi dua sejoli beda usia itu melaju menyusuri jalan raya yang mengara menuju ke kediaman tuan Wibowo.


Dinginnya malam menerpa dua sejoli yang sedang dalam perjalanan pulang itu, dan untuk mengurangi rasa dingin yang menusuk ke tulang itu, Rani mempererat pegangannya serta menenggelamkan diri di balik punggung Sersan Saga, supaya wajahnya tak terkena hembusan angin malam.


Sersan Saga menghentikan laju sepeda motornya, mana kala dia melihat gerobak penjual wedang ronde.


"Apa kamu mau wedang ronde, Ran?" tanya Sersan Saga yang menoleh ke belakang.


"Mau kak!" jawab Rani yang merasakan dinginnya malam semakin menusuk ke tulang.


Kemudian mereka turun dari sepeda motor dan setelah melepas helm, keduanya berjalan menuju ke gerobak penjual wedang ronde.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...