
Bola matanya bahkan semakin bulat.
"Oh, sir, tidak tahukah Anda" Ia sudah meninggal. Mendadak sekali. Selasa malam yang lalu."
Gadis itu ragu-ragu antara tidak mempercayai seorang asing dan merasa senang untuk membicarakan penyakit dan kematian, seperti yang biasa dilakukan orangorang dari kalangannya.
"Anda mengagetkan saya," Komisaris Saga berbohong.
"Saya ada janji dengan Nona Barrowby hari ini. Mungkin saya bisa bertemu dengan wanita lainnya yang tinggal di sini?" Pelayan itu kelihatan ragu-ragu
. "Nyonya" Well, Anda mungkin dapat bertemu Nyonya, tapi saya tidak tahu apakah Nyonya bersedia menemui tamu."
"Ia akan menemui saya," ujar Komisaris Saga seraya menyerahkan kartu namanya.
Nada bicara Komisaris Saga yang tegas cukup berpengaruh. Pelayan berpipi merah jambu itu mengalah lalu mengantarkan Komisaris Saga masuk ke ruang duduk di sebelah kanan ruang besar. Kemudian, dengan kartu nama di tangannya, ia berlalu untuk memanggil majikannya. Komisaris Saga mengamati sekelilingnya.
Ruangan itu betul-betul kamar tamu yang konvensional - dindingnya berlapis kertas warna putih gandum dengan dekorasi melintang di bagian atasnya, dilengkapi draperi dari kain, bantalan dan tirai berwarna merah mawar, sejumlah hiasan kecil serta ornamen dari keramik berkualitas tinggi.
Tidak ada yang menonjol dalam kamar tamu itu, yang menunjukkan kepribadian tersendiri. Tiba-tiba Komisaris Saga, yang sangat peka, merasakan sepasang mata tengah mengawasinya.
Dia memutar tubuh. Seorang gadis berdiri di pintu yang bentuknya seperti jendela besar - berbadan kecil, pucat, berambut hitam pekat, dan matanya penuh kecurigaan. Gadis itu melangkah masuk. Ketika Komisaris Saga membungkuk sedikit ia tergesa-gesa melontarkan pertanyaan
, "Untuk apa Anda datang kemari?" Komisaris Saga tidak menjawab, cuma menaikkan alisnya.
"Anda bukan pengacara, kan?" Bahasa Inggrisnya bagus, tapi jelas dia bukan orang Inggris.
"Mengapa saya harus jadi pengacara, Mademoiselle?" Yang ditanya menatap cemberut.
"Saya kira Anda pengacara. Saya kira Anda kemari, mungkin, untuk menasihatinya bahwa ia tidak mengerti apa yang dilakukannya. Halhal seperti ini sudah saya dengar - bukan karena dipengaruhi; begitulah mereka mengatakannya. Benar"
Akan tetapi itu keliru. Ia menginginkan saya mewarisi uangnya dan saya akan mendapatkannya. Kalau perlu saya akan menyewa pengacara saya sendiri. Uang itu kepunyaan saya. Itu yang ditulisnya dalam surat wasiatnya, maka begitulah jadinya nanti."
Gadis ini tampak jelek sekali, dagunya maju ke depan dan matanya bercahaya. Pintu terbuka. Seorang perempuan yang tinggi masuk lalu menegur,
"Katrina." Gadis itu mundur.
Wajahnya memerah, menggumamkan sesuatu, lalu keluar melalui jendela besar itu. Komisaris Saga memutar tubuhnya agar berhadapan dengan perempuan yang baru saja masuk itu, yang dengan sangat berpengaruh mengendalikan situasi dengan hanya mengucapkan satu patah kata saja. Ada nada memerintah dalam suaranya, merendahkan, dan samar-samar ironi yang sopan. Segera Komisaris Saga sadar ia tengah berhadapan dengan pemilik rumah, Mary Delafontaine.
"Komisaris Saga" Saya sudah menulis surat kepada Anda. Pasti Anda sudah menerimanya."
"Astaga! Saya keluar kota baru-baru ini."
"Oh, saya maklum. Kalau begitu saya harus memperkenalkan diri. Saya Mary Delafontaine. Ini suami saya; sedangkan Nona Barrowby adalah bibi saya."
Delafontaine masuk dengan amat diam-diam, sehingga kehadirannya tidak disadari Komisaris Saga. Orangnya tinggi, beruban, sikapnya penuh keraguan. Ketegangannya tercermin dari sikap tangannya yang meraba-raba dagunya. Acap kali ia melihat ke arah istrinya. Jelas ia mengharapkan sang istri memimpin pembicaraan.
"Saya minta maaf karena datang di tengah-tengah kesedihan Anda," kata Komisaris Saga. "Saya tahu ini bukan kesalahan Anda," Nyonya Delafontaine menyahut.
"Bibi meninggal Selasa petang yang lalu. Kematiannya tidak terduga."
"Mendadak sekali," Delafontaine menimpali.
"Pukulan yang menyakitkan bagi kami." Kedua matanya mengawasi jendela besar, tempat gadis tadi menghilang.
"Maafkan saya," kata Komisaris Saga lagi. "Kalau begitu, saya minta diri." Komisaris Saga melangkah menuju pintu.
"Tunggu sebentar," Delafontaine menahan langkahnya.
"Anda - eh - ada janji dengan Bibi Amelia, benar begitu?"
"Persis."
"Mungkin Anda bersedia menjelaskan persoalannya kepada kami," istrinya menyambung.
"Persoalannya bersifat pribadi," Komisaris Saga menjelaskan.
"Saya detektif," katanya menambahkan. Delafontaine menjatuhkan patung keramik kecil yang dibawanya. Istrinya kelihatan bingung.
"Detektif" Dan Anda ada janji dengan Bibi" Betapa anehnya!" Perempuan itu menatap Komisaris Saga lekat-lekat.
"Tidak dapatkah Anda menceritakan sedikit lebih banyak kepada kami, M. Komisaris Saga" Kedengarannya - kedengarannya fantastis." Komisaris Saga diam sejenak. Dengan hati-hati ia memilih kata-kata.
"Madame, sulit bagi saya untuk mengetahui apa yang harus saya lakukan."
"Begini," ujar Delafontaine.
"Bibi tidak menyebut-nyebut orang-orang Rusia, ya kan?"
"Orang-orang Rusia?"
"Ya, Anda tahu - orang-orang Bolshevik, Pengawal Merah, yang begini-begitu."
"Jangan mengada-ada, Henry," tegur istrinya. Delafontaine menjadi kecut.
"Maaf - maaf - saya cuma menduga-duga." Mary Delafontaine memandang Komisaris Saga dengan pandangan bersahabat. Bola matanya sangat biru - warna bunga forget-me-not.
"Kalau Anda dapat menjelaskan apa saja kepada kami, M Komisaris Saga, saya sangat berterima kasih. Anda harus yakin bahwa saya punya - alasan untuk bertanya." Delafontaine nampak terkejut.
"Hati-hati - engkau kan tahu mungkin tidak ada apaapa." Lagi-lagi istrinya menghentikannya dengan satu kerlingan.
"Bagaimana, M. Komisaris Saga?" Dengan pelan dan muram Komisaris Saga menggeleng. Menolak dengan rasa sesal yang kentara sekali, tapi toh dia menggeleng.
"Saat ini, Madame, saya khawatir saya terpaksa tidak bisa berkata apa-apa." Komisaris Saga membungkukkan badan, mengambil topinya, dan menuju pintu.
Mary Delafontaine mengikutinya. Di pintu Komisaris Saga berhenti dan memandang nyonya rumah.
"Saya kira Anda menyukai kebun Anda, Madame?"
"Saya" Memang. Saya luangkan banyak waktu untuk berkebun."
"Je vous fait mes compliments - terimalah pujian saya." Sekali lagi Komisaris Saga membungkukkan badan, lalu melangkah ke pintu pagar. Sewaktu melewati pintu dan membelok ke kanan, Komisaris Saga melirik ke belakang. Dilihatnya dua orang - seorang berwajah pucat mengawasinya dari jendela lantai pertama dan seorang laki-laki yang tegap lagi jantan mondar-mandir di sisi seberang jalan. Komisaris Saga mengangguk kepada dirinya sendiri.
"Jelas sudah," gumamnya.
"Ada tikus dalam lubang ini! Apa yang harus diperbuat kucing sekarang?" Keputusan yang diambilnya membawanya ke kantor polisi terdekat. Di sini ia menelepon beberapa kali. Nampaknya berhasil. Diayunkannya langkahnya ke markas polisi Charman's Green dan minta bertemu dengan Inspektur Sims. Inspektur Sims bertubuh besar dan tegap serta sikapnya serius.
"Komisaris Saga?" sapanya.
"Saya sependapat. Baru saja saya ditelepon oleh kepala pengawal yang berbicara tentang Anda. Katanya Anda singgah di sini. Silakan masuk." Pintu ditutup.
Inspektur mempersilakan Komisaris Saga duduk sebelum ia sendiri duduk lalu menghunjamkan tatapan menyelidik kepada tamunya.
"Anda gesit sekali, M. Komisaris Saga. Datang ke sini untuk membicarakan kasus Rosebank ini sebelum kami menyadari bahwa ini sebuah kasus. Apa yang menyebabkan Anda melibatkan diri?" Komisaris Saga mengeluarkan surat yang diterimanya dari Nona Barrowby lalu mengangsurkannya kepada Inspektur, yang membacanya dengan penuh minat.
"Menarik," komentar Inspektur. "Masalahnya adalah isi surat ini bisa mengandung banyak arti. Sayang, ia tidak bisa menggambarkan persoalannya secara lebih jelas, sehingga dapat membantu kita sekarang ini."
"Atau, mungkin tidak diperlukan pertolongan lagi."
"Maksud Anda?"
"Mungkin ia masih hidup."
"Anda berpikir sejauh itu" Hhmm... mungkin saja Anda benar."