
Baskoro mengarahkan senjatanya ke arah Rani,
"Dorr...…!!"
"Aghhh...!!"
Sebuah peluru bersarang di dada ......Dito.
Pemuda itu menjadikan dirinya sebagai tameng untuk Rani.
"Ditooooo....!" pekik Rani saat sebuah peluru bersarang di dada Dito dan yang membuat Dito terdorong menubruk tubuh Rani yang sedikit lemah karena lengan kirinya tadi juga terkena tembak.
Rani pun jatuh terduduk dengan memangku kepala Dito.
Gadis itu kemudian menelan dua pil langit dan juga menyuapi Dito dengan dua pil langit.
Sementara itu, Jonathan dan Tuan Wibowo berserta Komisaris berjaga di sekitar Rani..
Anton yang tahu kalau dia salah sasaran tak bisa menyalahkan dirinya sendiri.
"Tuan Dito, maafkan saya..!" gumam Anton dalam hati.
Anton menyarungkan kembali pistolnya dan melawan Jonathan dengan tangan kosong.
Inspektur Saga yang mengetahui Rani dan Dito tertembak, dia semakin menggencarkan serangannya.
"Blumm...!!"
"Aghh...!!
"Blumm...!!"
"Aghh...!!"
Dua bola nanas dilemparnya ke arah anak buah geng kobra yang tersisa.
Dan Akhirnya, Inspektur Saga berhadapan langsung dengan Baskoro.
"Tamatlah riwayatmu...!! Baskoro..!!" seru Inspektur Saga dengan mengarahkan senapannya ke arah Baskoro.
"Dasar bocah tengik...!! mau macam-macam ya denganku...!!" seru Baskoro yang kemudian memutar cincinnya berharap dia bisa membuka jalan untuk melarikan diri.
"Ha..ha..!! kau rupanya sudah pikun...! aku punya cincin penangkalnya. Kau tak akan bisa kabur lagi..!" jelas Inspektur Saga yang Semakin maju.
"Letakkan senjatamu Sagaa....!!" seru seseorang yang telah menodongkan pistolnya ke kepala bagian belakang tuan Wibowo yang tak lain adalah Anton.
"Ha..! Sial..!!" gerutu Inspektur Saga yang kemudian menurunkan senapannya.
Rani yang masih terduduk ditanah, meraba di sekitarnya untuk mencari kerikil.
"Ketemu..!!" batin Rani yang kemudian melempar ke arah tangan yang menodongkan pistol ke arah Tuan Wibowo.
"Takkk...!!"
"Auhh...!!"
pistol itu terlepas dari empunya.
Kesempatan itu digunakan komisaris Anggara menyerang orang itu.
Sedangkan Baskoro memanfaatkan untuk menembak Rani.
"Dorr...!!"
Namun belum sempat mengarahkan tembakannya pada Rani, sebuah peluru telah bersarang di dada laki-laki setengah baya itu.
"Dorr..!!"
"Dor..!!"
"Aghh...!!"
Dua peluru bersarang di dada dan satu peluru bersarang d dahi Baskoro.
"Aaaagh...!!"
"Brukk...!!"
Baskoro pun menemui ajalnya. Namun sebelum tewas, Baskoro melihat ke Arah Inspektur Saga.
"Ka..kau...!" seru Baskoro dan dia menhembuskan nafas terakhirnya.
"Brugh...!!"
Saat mereka menikmati pemandangan detik-detik Baskoro tewas, tiba-tiba sebuah peluru bersarang di punggung kiri Rani.
"Aaaghhh...!!!"
"Raniiiii...!!" Pekik Inspektur Saga yang setengah berlari hendak menuju ke keberdaan Rani.
"Tunggu...!! Ambil cincin Baskoro dulu, Cepatlah...! Sebelum di temukan orang lain..!!" seru Kity yang tiba-tiba keluar dari liontin pusaka Langit.
Mendengar apa yang di katakan Kity, Inspektur Saga berbalik ke arah tubuh Baskoro yang sudah tak bernyawa itu.
Di ambilnya cincin bermustika merah itu dari jari manis sebelah kiri Baskoro.
Kemudian di masukkannya cincin bermustika merah itu ke dalam cincin bermata biru.
"Dorr...!!"
"Dorr...!!"
"Dorr...!!"
Semua menjatuhkan diri dari tembakan yang terus membombardir.
Dito yang sudah tersadar, segera memeluk Rani dan membiarkan punggungnya sekali lagi sebagai tameng peluru pistol yang mengarah ke Rani.
"Hupp....!!:"
"Dorr...!!"
"Aughhh....!!"
"Tuan Dito....!!!" seru orang yang menembak itu yang ternyata Anton salah sasaran lagi, pelurunya bersarang ke punggung Dito yang memeluk Rani.
"Ra..rani... A..ku mencintaimu, maafkan papa dan mama tiriku ya,.dan juga saudara kembarmu dan saudara tiriku Sa..Sania. A...aku men...mencintaimu...!! Aahh...!!" kata Dito lirih dan saat dia menghembuskan nafas terakhirnya.
"Dito...!!" panggil Rani yang kemudian dia tak sadarkan diri karena begitu banyak darah yang keluar dari dua luka tembaknya..
"Dorr...!!"
"Dorr...!!"
"Aghhh...!!"
Dua peluru bersarang ke kaki bagian belakang dan punggung Anton.
"Astaga....! aku terlambat...!!" seru Inspektur Alex.
Setelah keadaan aman, satu persatu dengan wajah yang letih penuh luka semua berkumpul mengelilingi Rani yang tak sadarkan diri dan Dito yang tewas memeluk Rani.
Inspektur Saga yang selesai mengambil Cincin Baskoro, segera berlari menghampiiri tunangannya yang tak berdaya.
"Tuan cepat suapi nona dengan pil langit, untuk ketahanan tubuhnya. Karena banyak darah yang keluar...!!" seru Kity yang juga khawatir akan keadaan Rani.
"Dito, terima kasih telah melindungi Rani...! aku tak kan melupakanmu..!!" kata Inspektur Saga saat berusaha melepaskan pelukan Dito pada Rani.
Walaupun sedikit ada rasa cemburu, namun di tepiannya. Mengingat Dito rela mengorbankan nyawanya demi Rani.
Setelah pelukan Dito terlepas, Inspektur Saga segera mencari liontin kalung pusaka Rani.
"Ra...Rani...! Ini kakak..!! bangun sayang...ayo telan pilnya...!!" seru Inspektur Saga dengan suara parau.
"Ka..kak Sa...saga....!!" suara Rani lemah saat membuka matanya perlahan.
"Telan pilnya sayang...!!" pinta Inspektur Saga yang menyuapi Rani dengan pil langit dari dalam liontin pusaka langit.
"Saga...! cepat bawa Rani ke rumah Sakit...!!" seru Komisaris Anggara yang juga khawatir akan keadaan calon menantunya itu.
"Baik Pa..!!" sahut Inspektur saga yang sejurus kemudian membopong Rani dan melangkahkan kakinya keluar dari halaman samping markas geng kobra.
"Cepat urus semua mayat-mayat ini..!!"
...~¥~...
Yuk dukung novel "Gadis Tiga Karakter", dengan memberi like/ komen/fav/rate 5/gift dan juga Votenya.
Oya, dukung karya Author lainnya ya...
*CINTA UNTUK YULIA
*SI OYEN PACARKU BUKAN MANUSIA
*HITAM BUKAN HITAM HIDUPNYA.
*JADIKAN AKU YANG KEDUA
Terima kasih.
...Bersambung...