Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Cerita Satpam Gym


"Tokk...! Tokk...! Tokkk....!!"


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.


Raditya pun membuka pintu, dan ternyata pak Jarwo yang mengetuk pintunya.


"Ada apa Pak?" tanya Raditya saat melihat Pak Jarwo.


"Dibawah ada seseorang yang mencari Inspektur saga dari dealer sepeda motor." kata Pak Jarwo.


"Oh baik, saya akan turun" kata Inspektur Saga yang kemudian keluar dari ruangan menuju ke lantai bawah.


"Sebentar pak Jarwo, ada yang ingin saya tanyakan kepada bapak." kata Rani pada satpam Gym itu.


"Saya nona?" tanya Satpam itu yang kemudian masuk dan memandang sekelilingnya.


"Iya..! kata papa pak Jarwo mantan tangan kanan Baskoro. Apa benar begitu?" tanya Rani


"Iya, saya dan istri saya memang Mantang geng Kobra. Kami berusaha lari dari geng itu. Saat pelarian kami, istri saya tertangkap." cerita pak Jarwo.


"Bolehkah saya tahu, kenapa anda lari dari geng kobra?" tanya Raditya.


Pak Jarwo terdiam sejenak. menghirup udara dan menghembuskannya.


"Saya dan istri saya tanpa sengaja mengetahui kenapa Ibu Dina istri pertama Baskoro meninggal, dan kenapa mereka selalu membedakan salah satu anak kembarnya." jawab Pak Jarwo lirih namun masih bisa di dengar oleh yang lainnya.


"Maksudnya anak kembar satunya itu Dito?" tanya Rani semakin penasaran.


"Iya...!" jawab pak Jarwo.


"Jadi Bibi Dina meninggal itu maksudnya tidak wajar begitu?" tanya Inspektur Saga yang ternyata sudah masuk ke ruangan mereka.


"Iya, Ibu Dina jadi kelinci percobaannya Annet..!" jawab Pak Jarwo.


"Ahh...! jadi benar yang aku pikirkan selama ini...!!" gerutu Inspektur Saga dengan memukul tembok di sampingnya.


"Dhuug...!!"


Sedikit sakit namun tetap di tahannya,


"Lantas kenapa dengan Dito? kenapa dibedakan?" tanya Mama Lani yang selesai membereskan sisa nasi tumpeng tadi,yang rupanya juga mendengarkan cerita pak Jarwo.


"Malam itu, Amel melihat Dito memandang langit dengan berkaca-kaca, Amel bekerja jadi pengasuh anak kembar Baskoro, jadi dia tahu mana Dio dan mana Dito." kata Pak Jarwo sambil menghela nafasnya.


"Dito bercerita pada Amel, kalau dia tahu tiap malam Annet selalu memberi mamanya minuman, dan setiap meminumnya, mamanya bercerita kalau pandangan matanya mendadak kabur...! Amel pun bercerita padaku, dan kami menyelikinya. Suatu ketika, Annet tahu kalau Dito mengetahui rahasianya. Dia mengancam anak itu dan memasukkannya ke sel tahanan bawah tanah bersama orang-orang dewasa yang jadi tahanan berat geng kobra." kata Pak Jarwo.


"Oiya.. kemudian Dito bisa keluar dari sel itu karena Sania membujuk ibunya. Dan akhirnya dia bisa bebas dengan syarat tak memiliki fasilitas seperti kembarannya Dio." kata Rani.


"Jadi Dito sudah keluar? ah.. syukurlah..!! Dulu karena Amel dan aku ingin membebaskan Dito, karena ketahuan, kami pun lari...! Dan akhirnya istriku tertangkap dan aku di selamatkan Tuan Wibowo. Dan sekarang Tuan Wibowo ditangkap mereka...!" seru pak Jarwo yang geram.


"Satu lagi rahasia kenapa aku dan Jarot selalu bertengkar...!" lanjut pak Jarwo yang meneteskan air matanya.


"Suatu hari, aku menemukan kalung berliontin Jam..!!" kata Pak Jarwo.


Mendengar hal itu, Si Kity keluar dari liontin kalung pusaka Rani.


"Kalung hipnotis..!"kata Rani dengan suara pelan namun masih bisa di dengar semua orang uang berada di dekatnya.


"Iya.. anda rupanya tahu nona..!!" seru Pak Jarwo.


"iya, pernah dengar, he..he..!" balas Rani sambil tersenyum dan menatap Inspektur Saga. Karena hanya dia dan Inspektur saga lah yang dapat melihat si Kity.


"Jarot tahu aku mempunyai kalung hipnotis itu, waktu aku dan istriku Amel hendak mempelajari kegunaan kalung hipnotis itu. Tanpa sepengetahuan kami, Jarot mencurinya dari kami. Dan dia menemukan mustika hitam, dan kalung itu bisa di kuasainya." cerita pak Jarwo.


"Pantas saja ada energi jahat di kalung hipnotis, nyawanya pakai mustika hitam. Jalan satu-satunya, kalung itu harus di hancurkan...!!"


seru Kity.


"Kalau begitu, ada kemungkinan tuan Wibowo dan yang lainnya masih hidup. Mereka dibuat hilang ingatan dan di pindah ke lain kota." kata Inspektur Saga.


"Aku sependapat dengan anda Tuan..!" seru pak Jarwo.


"Apa tujuan mereka membuat mereka lupa ingatan?" tanya Raditya.


"Kita harus selidiki, Mama ingin papa dan yang lainya selamat..!" kata Mama Lani.


"Mama, serahkan pada Rani dan kak Saga. Mama dan kak Radit fokus sama Gym, sebagai sumber keuangan kita saat ini. Dan Pak Jarwo, tolong bantu Mama dan kakakku ya..!!" usulan Rani.


"Apa tidak bahaya, kalau kamu sendirian?" tanya Mama Lani.


"Mama jangan khawatirkan Rani, nanti Rani akan minta bantuan Om Jordy dan kepolisian..!" kata Rani.


"Baiklah Kak Radit dan Mama setuju, kalau butuh bantuan. Hubungi kami ya, walaupun nanti kita jarang ketemu, sering-sering beri kabar ya...!!" kata Raditya.


"Iya Rani, sering beri kabar ya..!" kata Mama Lani.


"Makasih mama,Kak Radit, Pak Jarwo dan Kak Saga setuju tidak?" tanya Rani sambil menatap wajah tunangannya.


Inspektur saga sedikit ragu.


"Baiklah asal kamu bisa jaga diri..!" jawab Inspektur Saga dengan berat hati.


"Makasih ya kak..!!" seru Rani sambil memeluk Inspektur Saga dari samping.


"Tante Lani dan Raditya, saya sore ini berangkat, Kalau ada salah kata, saya minta maaf dan saya titip Rani selama saya tinggal." kata Inspektur Saga yang kemudian bersama Rani undur diri.


...~¥~...


Sebentar lagi Rani dan Inspektur Saga menjalani hubungan dengan jarak jauh...LDR.


Pastinya ada rasa kangen dan kecemburuan...


Yuk ikuti terus dan jangan lupa dukungannya untuk novel Gadis Tiga Karakter ya...


Terima Kasih


...Bersambung...