
Waktu berlalu dan kesucian wanita itu ternyata benar. Saya percaya Hugo menebus kesalahannya dengan berdoa di biara hingga akhir hayatnya. Tapi, yang mencurigakan, sampai sekarang tidak ada putra pertama yang mendapat warisan. Warisan jatuh ke tangan saudara lakilakinya, keponakan laki-laki, atau putra kedua - tidak pernah ke tangan putra sulung.
Ayah Vincent adalah putra kedua dari lima laki-laki bersaudara. Yang sulung meninggal sewaktu masih bayi. Tentu saja selama ini Vincent yakin bahwa dirinyalah yang akan terkena kutukan berikutnya. Anehnya, kedua adik lakilakinya sudah mati terbunuh, sedangkan dia sendiri masih terhindar."
"Sejarah keluarga yang menarik," komentar komisaris Saga serius.
"Sekarang ayahnya menyongsong maut dan dia, sebagai putra sulung, tetap tidak apa-apa."
"Tepat. Kutukan itu sudah usang. Tidak mempan lagi di zaman modern." komisaris Saga menggeleng, seakan-akan mencela nada olok-olok itu. Roger Lemesurier melihat arlojinya dan mengatakan ia harus pergi sekarang juga.
Kisah itu berlanjut keesokan harinya, ketika kami mendengar tentang kematian tragis Vincent Lemesurier. Ia mengadakan perjalanan ke utara dengan kereta api pos Skotlandia. Malam itu pasti ia membuka pintu kamar tidur kereta lalu melompat ke luar.
Rasa terpukul atas kecelakaan ayahnya, yang berkembang menjadi perasaan kacau sementara ini diperkirakan menjadi penyebabnya. Segi takhayul keluarga Lemesurier yang mencurigakan itu disebut-sebut, dalam hubungannya dengan ahli waris yang baru, yaitu saudara laki-laki ayah Vincent - Ronald Lemesurier - yang putra tunggalnya gugur di Somme. Kukira, pertemuan kami terjadi secara kebetulan dengan almarhum Kapten Vincent Lemesurier membuat kami tertarik dengan segala sesuatu yang ada hubungannya dengan keluarga Lemesurier.
Dua tahun kemudian kami mencatat kematian Ronald Lemesurier, yang pada waktu menjadi pewaris pusaka keluarga telah cacat seumur hidup. Adiknya, John, mewarisi haknya. John ini seorang yang sehat, segar, dan mempunyai seorang putra di Eton. Jelas nasib buruk melingkupi keluarga Lemesurier. Pada liburan sekolah berikutnya anak laki-laki John bunuh diri dengan menembak dirinya sendiri.
John sendiri mati mendadak setelah disengat lebah, sehingga tanah milik keluarga Lemesurier jatuh ke tangan si bungsu dari lima laki-laki bersaudara - Hugo, yang bertemu dengan kami di Carlton pada malam naas itu. Selama ini kami hanya mengomentari serangkaian musibah aneh yang menimpa keluarga Lemesurier, karena tidak ada kepentingan pribadi kami dengan persoalan ini. Tapi, kini tiba saatnya kami harus menangani kasus ini.
***
Suatu pagi, kami diberi tahu akan kedatangan "Nyonya. Lemesurier". Orangnya tinggi, aktif, berumur sekitar tiga puluh tahun. Sikapnya menunjukkan ketegasan dan akal sehatnya yang kuat. Sedikit aksen transatlantik mewarnai bicaranya. "M. komisaris Saga" Saya senang bertemu Anda. Beberapa tahun yang lalu suami saya, Hugo Lemesurier, bertemu Anda. Mungkin Anda sudah lupa."
"Saya ingat sekali, Madame. Pertemuan itu terjadi di Carlton." "Anda hebat, M. komisaris Saga. Saya khawatir sekali."
"Tentang apa, Madame."
"Putra pertama saya - putra saya ada dua, Ronald delapan tahun dan Gerald enam tahun."
"Teruskan, Madame. Mengapa Anda khawatir akan si kecil Ronald?"
"M. komisaris Saga, enam bulan terakhir ini Ronald sudah tiga kali lolos dari maut. Suatu kali dia hampir tenggelam - waktu kami di Cornwall musim panas ini; kali lainnya dia jatuh dari jendela ruang anak-anak; dan kali lainnya lagi dia keracunan zat lemas." Rupanya wajah komisaris Saga terlalu jelas mencerminkan apa yang ada di benaknya karena Nyonya Lemesurier buru-buru melanjutkan perkataannya.
"Ya, saya tahu Anda menganggap ini ketololan wanita saja, membesar-besarkan persoalan kecil."
"Sama sekali tidak, Madame. Ibu mana pun bisa dimaafkan kalau gelisah akan kejadian-kejadian seperti itu. Tapi, saya mungkin tidak bisa menolong Anda. Saya bukan le bon Dieu yang dapat mengendalikan gelombang laut. Dan jendela ruang anak-anak, sebaiknya dipasangi teralis besi; kemudian tentang makanan - apa yang dapat menandingi perawatan seorang ibu?"
"Kesempatan, Madame - le hasard!"
"Anda berpendapat begitu?" "Bagaimana pendapat Anda, Madame - Anda dan suami Anda?" Mendung melintas di wajah Nyonya Lemesurier.
"Tidak ada gunanya mengadu kepada Hugo - dia tidak akan percaya. Mungkin Anda sudah mendengar kutukan keluarga Lemesurier - tidak seorang putra sulung pun yang akan mendapat warisan. Hugo percaya pada kutukan ini. Ia terbenam dalam sejarah keluarga dan percaya sekali pada takhayul. Setiap kali saya ceritakan kekhawatiran saya, dia cuma berkomentar bahwa itu kutukan dan kami tidak dapat melepaskan diri dari kutukan itu. Namun, saya berasal dari Amerika Serikat, M. komisaris Saga. Di sana orang tidak terlalu percaya pada kutukan. Kami menganggap kutukan sebagai milik keluarga-keluarga elit kuno - dan sikap ini memberikan semacam cachet. Apakah Anda tidak tahu" Pada waktu bertemu Hugo, saya cuma seorang aktris komedi musikal - dan saat itu saya menganggap kutukan keluarga Lemesurier terlalu manis untuk dirumuskan dengan kata-kata, yang cocok dibicarakan pada senja musim dingin Sambil mengelilingi perapian. Tapi, kalau kutukan itu menimpa anak sendiri - saya sangat sayang kepada anak-anak saya, M. komisaris Saga. Akan saya lRanikan apa saja untuk mereka."
"Jadi Anda tidak percaya pada legenda keluarga itu?"
"Bisakah legenda melihat melalui batang tanaman merambat?"
"Apa maksud Anda, Madame?" komisaris Saga berseru dengan penuh keheranan. "Saya katakan, dapatkah legenda - atau hantu, kalau Anda lebih senang menyebutnya demikian - melihat melalui batang tanaman merambat" Saya tidak membicarakan kecelakaan di Cornwall. Setiap anak laki-laki mungkin saja berenang terlalu jauh ke tengah dan mendapat kesulitan - biarpun Ronald sudah bisa berenang sejak umur empat tahun. Tanaman merambat ini soal lain. Kedua anak saya memang nakal sekali. Mereka mengetahui bahwa mereka dapat naik dan turun melalui tanaman itu. Dan keduanya naik dan turun berulang kali. Suatu hari - waktu itu Gerald sedang pergi - Ronald memanjat berkali-kali. Tanaman menjalar itu akhirnya tidak kuat dan Ronald jatuh. Untung ia tidak cedera. Saya keluar untuk memeriksa tanaman itu. Ternyata tanaman itu dipotong, M. komisaris Saga - sengaja dipotong." "Yang Anda ceritakan ini serius sekali, Madame. Anda mengatakan waktu itu adiknya tidak di rumah?"
"Benar."
"Pada waktu keracunan zat lemas itu, apakah adiknya tidak di rumah juga?"
"Keduanya ada."
"Mencurigakan," gumam komisaris Saga.
"Madame, siapa saja yang tinggal di rumah Anda?"
"Nona Saunders, guru pribadi anak-anak dan John Gardiner, sekretaris suami saya - " Sejenak Nyonya Lemesurier berhenti, seakan-akan ia agak malu.
"Siapa lagi, Madame?"
"Mayor Roger Lemesurier, yang juga Anda temui malam itu, lama tinggal bersama kami."
"Ah, ya, dia saudara sepupu, kan?"
"Sepupu jauh. Dia tidak termasuk anggota keluarga kami. Meskipun begitu, kini dia menjadi famili terdekat suami saya. Pemuda itu cepat sekali akrab dan kami semua menyukainya. Anak-anak senang sekali kepadanya."
.