
Beberapa menit berikutnya Jane Mason masuk. Seorang wanita terhormat yang berwajah keras, tanpa emosi menghadapi tragedi ini, sebagaimana layaknya seorang pelayan.
"Saya boleh mengajukan sedikit pertanyaan" Apakah majikan Anda biasa-biasa saja sebelum mengadakan perjalanan kemarin" Tidak gugup atau bingung?"
"Oh, tidak, Sir!"
"Tapi, di Bristol ia lain sama sekali?"
"Benar, Sir, dia menjadi resah - tegang sekali, sehingga kelihatannya Nyonya tidak mengerti apa yang diucapkannya."
"Apa yang sebenarnya ia katakan?"
"Sejauh yang dapat saya ingat, Nyonya mengatakan, 'Mason, aku terpaksa mengubah rencanaku. Telah terjadi sesuatu - maksudku, aku tidak jadi turun di sini. Aku harus terus. Turunkanlah bagasi dan letakkan di tempat penyimpanan. Setelah itu engkau boleh minum teh dan tunggulah aku di stasiun.'"
"'Menunggu di sini, Ma'am"' saya bertanya."
"'Ya, ya. Jangan meninggalkan stasiun. Aku akan kembali dengan kereta berikutnya. Aku tak tahu waktunya. Tapi tidak akan terlalu larut.'"
"'Baik, Ma'am,' kata saya. Tidak pada tempatnya saya bertanya, meskipun saya merasa aneh sekali."
"Tidak seperti biasanya, eh?"
"Lain sekali, Sir."
"Bagaimana pendapat Anda?"
"Well, Sir, menurut saya keputusan Nyonya ada hubungannya dengan laki-laki di dalam kamar itu. Nyonya tidak berbicara kepadanya, tapi sesekali menoleh kepadanya, seakan-akan bertanya apakah yang dikatakan Nyonya benar."
"Anda tidak melihat wajah laki-laki itu?"
"Tidak. Selama itu dia berdiri membelakangi saya."
"Bisakah Anda menggambarkannya?"
"Dia memakai mantel kulit anak rusa yang berwarna terang dan peci. Badannya tinggi, ramping, sehat, dan bagian belakang kepalanya berwarna gelap."
"Anda tidak kenal dia?"
"Tidak, saya kira tidak, Sir."
"Bukan pula majikan Anda, Tuan Carrington?" Mason nampak agak tersentak.
"Oh, saya kira bukan, Sir!"
"Tapi, Anda tidak yakin?"
"Postur tubuhnya mirip Tuan - tapi selama ini saya tidak pernah berpikir bahwa laki-laki itu adalah Tuan. Kami jarang melihat Tuan.... Saya tidak dapat memastikan bahwa ia bukan Tuan!" komisaris Saga memungut peniti dari karpet dan mengerutkan keningnya melihat benda itu. Lalu ia berkata lagi,
"Mungkinkah laki-laki itu sudah naik kereta sebelum Bristol, sebelum Anda sampai ke kamar majikan Anda?" Mason berpikir.
"Saya kira mungkin, Sir. Kamar saya penuh sesak, sehingga saya butuh waktu beberapa menit sebelum berhasil keluar - lalu ada kerumunan orang di peron. Ini agak menahan saya juga. Tetapi, berarti dia cuma punya waktu satu atau dua menit untuk berbicara kepada Nyonya. Saya kira dia lewat koridor."
"Itu lebih memungkinkan, tentu saja." komisaris Saga berhenti sebentar, masih dengan kening berkerut.
"Anda tahu bagaimana Nyonya berpakaian, Sir?"
"Koran-koran menjelaskan sedikit, tapi saya ingin Anda memastikannya."
"Hmm, agak mencolok."
"Memang," ujar Halliday. "Inspektur Alex berharap pakaian yang mencolok ini membantu kita menunjukkan tempat pembunuhan terjadi. Siapa saja yang melihat bajunya, pasti ingat."
"Persis! Terima kasih, Mademoiselle." Pelayan itu meninggalkan ruangan.
"Well," kata komisaris Saga buru-buru berdiri.
"Hanya ini yang dapat saya lakukan di sini - kecuali, Monsieur, saya mohon Anda menceritakan segala sesuatunya kepada saya. Semuanya."
"Sudah saya ceritakan semua." "Anda yakin?"
"Benar-benar yakin."
"Kalau begitu, tidak ada yang harus dibicarakan lagi. Saya menolak menangani kasus ini."
"Mengapa?"
"Karena Anda belum berterus terang."
"Saya yakinkan Anda - "
"Tidak, ada yang Anda sembunyikan." Hening sebentar.
Kemudian Halliday mengeluarkan kertas dari sakunya dan menyerahkannya kepada sahabatku.
"Saya kira ini yang Anda cari, Monsieur komisaris Saga - walaupun cara Anda mengetahuinya membuat saya kesal!" komisaris Saga tersenyum, membuka lipatan kertas itu.
Sebuah surat yang ditulis dengan tulisan tangan yang tipis dan miring-miring. komisaris Saga membacanya keras-keras. Ch?re Madame, Saya amat gembira karena akan bertemu lagi dengan Anda. Setelah menerima jawaban surat Anda yang amat ramah, saya hampir tidak dapat bersabar lagi. Hari-hari di Paris itu tidak pernah lepas dari ingatan saya. Sayang sekali, Anda harus meninggalkan London besok. Bagaimanapun juga, tidak lama lagi, dan mungkin lebih cepat dan yang Anda duga, saya akan dapat memandang wanita yang bayang-bayangnya telah bertahta di hati saya. Percayalah, ch?re madame, akan rasa sayang saya yang terdalam dan perasaan saya yang tidak berubah - Armand de la Rochefour Sambil membungkuk komisaris Saga mengembalikan surat itu kepada Halliday. "Monsieur, saya kira Anda tidak tahu bahwa putri Anda ingin memperbaiki hubungannya dengan Count de la Rochefour?"
"Kabar ini seperti halilintar bagi saya! Saya temukan surat ini dalam tas tangan Flossie. Mungkin Anda tahu, Monsieur komisaris Saga, orang yang dipanggil Count ini adalah petualang paling brengsek." komisaris Saga mengiyakan.
"Tapi, saya ingin tahu bagaimana Anda mengetahui adanya surat ini?" komisaris Saga tersenyum. "Monsieur, sebenarnya saya tidak tahu. Tapi, mengikuti jejak dan mengenali debu sigaret saja tidaklah cukup bagi seorang detektif. Ia juga harus seorang psikolog yang baik. Saya tahu Anda tidak menyukai dan tidak mempercayai menantu Anda. Dia mendapat keuntungan dengan kematian putri Anda; penggambaran si pelayan tentang laki-laki misterius itu menunjukkan kemiripan yang cukup kuat dengannya. Walaupun demikian, Anda tidak tertarik untuk mengikuti jejaknya! Mengapa? Pasti karena kecurigaan Anda terarah kepada orang lain. Itulah sebabnya saya menduga Anda menyembunyikan sesuatu."
"Anda benar, Monsieur komisaris Saga. Sebelum menemukan surat ini, saya yakin Rupert yang bersalah. Surat ini membuat saya resah sekali."
"Benar. Count itu mengatakan, 'Tak lama lagi, dan mungkin lebih cepat dari yang Anda duga.' Jelas dia tidak ingin Anda mencium kehadirannya kembali. Diakah yang meninggalkan London dengan kereta pukul 12.14 dan melewati koridor ke kompartemen tidur putri Anda" Seingat saya Count de la Rochefour juga tinggi dan berkulit gelap?" Milyuner itu mengangguk.
"Well, Monsieur, selamat siang. Saya kira Scotland Yard mempunyai daftar permata-permata itu?"
"Ya. Inspektur Alex ada di sini. Anda ingin menemuinya?"
***
Alex adalah kawan lama kami. Disapanya komisaris Saga dengan godaan yang akrab.
"Apa kabar, Monsieur" Tak ada perasaan tidak enak di antara kita, biarpun cara pandang kita berbeda. Bagaimana 'sel-sel kecil otak' itu" Semakin hebat saja?" komisaris Saga tersenyum riang kepada Alex.
"Sel-sel itu masih berfungsi, Alex yang baik. Masih berfungsi."
"Kalau begitu, baik. Pikirkanlah pembunuhnya. Yang Mulia Rupert atau seorang bajingan" Kami awasi semua tempat, sehingga kami akan mengetahui seandainya permata-permata itu dijual. Pasti, siapa pun pembunuhnya, ia tidak akan menyimpan perhiasan itu untuk mengagumi kemilaunya. Mustahil! Saya sedang berusaha mencari tahu di mana Rupert Carrington kemarin. Kelihatannya ada sedikit misteri. Saya sudah menyuruh orang mengawasinya."
"Langkah-langkah pencegahan yang luar biasa. Sayang, mungkin sudah terlalu aa,aaterlambat," komisaris Saga mengemukakan pendapatnya dengan lembut.
"Selalu saja Anda senang bergurau, Monsieur komisaris Sagaris Saga. Ah, saya akan pergi ke Paddington. Bristol, Weston, Taunton, itulah rute perjalanan saya. Sampai jumpa lagi."