Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Menantang Dio


Setelah menyelesaikan hukumannya,mereka segera ke kamar masing-masing. Dan mereka pun terlelap tidur di pulau kapuk yang sudah tersedia di dalam kamar itu.


...****...


Pagi hari setelah sarapan, Radit dan Ran berpamitan sama mama angkat mereka, yaitu mama Lani.


"Ma, Radit dan Rani berangkat ya!" pamit Radit sambil mencium punggung tangan nyonya Lani. Dan demikian pula dengan Rani, yang mencium punggung tangan mama angkatnya.


"Iya, Radit hati-hati bawa mobilnya. Dan kamu Rani, belajar yang rajin ya!" pesan nyonya Lani.


"Iya Ma." jawab Raditya dan Rani secara kompak. Dan mereka segera melangkahkan kaki menuju ke mobil yang kemarin dibawa oleh Raditya dari Gym Wibowo.


"Kacamata kamu Ran!" kata Raditya yang mengingatkan Rani, karena gadis itu tak terlihat memakai kacamata.


"Oh iya,ada dalam tas, kak!" seru Rani sambil mengambil kacamatanya yang ada di dalam tas.


"Eh iya, kak Radit! tadi tumben mengingatkan kacamata, biasanya cuek saja!..he..he..!" lata Rani sambil terkekeh.


"Kakak harus mengingat, takutnya kamu lupa akan aksesoris samaran kamu!" jawab Raditya sambil mengemudikan mobilnya.


"Oh iya sih!" kata Rani membenarkan.


Saat mobil melaju di tiba-tiba jalanan macet, mobil berjalan lambat bahkan sempat terhenti juga.


"Wah..sikomo lewat!" gerutu Raditya dengan sebal.


"Kak Radit! Kenapa banyak polisi?' tanya Rani saat menengok keluar jendela mobil dan melihat lumayan banyak polisi di tepi jalan.


"Mungkin saja, polisi patroli." ja2wb Raditya yqng tak bergeming, tetap menatap ke arah depannya.


"Bukan patroli kayaknya kak! kayaknya disini habis ada perkelahian semalam." kata Rani yang mencoba menelaah apa yang dilihatnya.


"Eh, apa iya?" tanya Raditya yang menjadi penasaran, dan akhirnya dia menyempatkan untuk melihat ke arah sekelilingnya.


"Air mineral, tisu, permen....!" tiba-tiba ada pedagang asongan yang lewat disekitar tempat itu.


"Bang-bang beli air mineral botol satu ya!"panggil Radit pada pedagang asongan.


"Iya sebentar!" jawab pedagang asongan yang kemudian berjalan menghampiri mobil dimana Raditya dan Rani berada, setelah itu dia memberikan dua botol tanggung air mineralnya pada Raditya.


Setelah menerima air mineral itu, Raditya segera membayarnya dan tak lupa cari informasi apa yang telah terjadi pada pedagang tersebut.


"Memangnya ada apa ya bang, kok banyak polisi?" tanya Radit.


"Oh semalam ada tawuran antar geng tuan. Geng Kobra dan geng Serigala." jawab pedagang asongan dan segera berlalu saat di panggil pengemudi lainnya.


Raditya melihat ke arah Rani, dan Rani mengulas senyumnya.


"Dasar provokator! ini kan tujuan kamu!" bisik Raditya sambil mencubit hidung adiknya dengan gemas.


"Auw sakit kak! andai semalam kita melihatnya, kira-kira siapa yang menang ya, ha...ha...!" seru Rani tak merasa bersalah.


Setelah merayap beberapa menit, akhirnya mereka terbebas dari kemacetan.


"Ah, akhirnya!" seru Raditya lega.


"Kalau berkelahinya di jalanan begini, yang dirugikan masyarakat. Kok nggak di markas mereka saja ya." pikir Rani.


"He...he...! kamu kok lucu banget sih Ran? Itu kan terserah mereka!" seru Raditya yang terkekeh sambil tetap memperhatikan jalan didepannya.


Rani pun tersenyum kecut. Selang berapa lama, akhirnya mereka sampai pintu gerbang sekolah Rani.


"Kak sampai disini saja, Rani jalan kaki saja nggak apa-apa kok." kata Rani. .


"Benar nggak apa-apa Ran? Bukannya lumayan masih jauh jaraknya?' tanya Raditya.


"Iya, Benar nggak apa-apa, kak! Jangan khawatir kak, Rani sudah terbiasa naik-turun gunung. Jadi jalan dari pintu gerbang ke kelas, bagi Rani tak jadi masalah." jawab Rani sembari mengulas senyumnya.


Gadis itu turun dari mobil setelah melepas sabuk pengamannya.


"Ya baiklah terserah kamu saja! Hati-hati dan semangat belajarny ya!" pesan Raditya.


Rani melangkahkan kaki, menjauhi mobil Raditya. Setelah melambaikan tangan pada Kakaknya yang melanjutkan perjalanannya ke arah Gymnya. Sedangkan Rani mulai melangkah masuk ke dalam pintu gerbang sekolah


"Sepi sekali, hanya aku yang jalan kaki. Iya ini kan sekolah favorit. Jadi semua naik mobilnya mereka." gumam Rani dalam hati.


"Rani....!" panggil seseorang dibelakang Rani. Dan gadis itupun menghentikan langkahnya lalu menoleh ke sumber suara.


"Dito...! eh kamu...naik sepeda kayuh?" Rani pura-pura nggak tahu kalau Dito menaiki sepeda kayuh.


"Eh iya, sepeda kayuh ini memang kendaraan pribadi saya! He...he...he...!" jawab Dito sambil tersenyum.


"Ayo, naik...!" ajak Dito.


"Memang kuat ngayuhnya jika aku membonceng?" tanya Rani sambil tersenyum.


"Coba saja dulu lah! he...he...!" jawab Dito yang terkekeh.


"Sepeda ini, nggak ada boncengan belakangnya. Jadi aku duduk didepan? ah, seperti film-film jaman dahulu saja!" kata Rani dalam hati.


"Hm, maaf nggak deh." jawab Rani.


"Hai! pasangan cupu, dua-duaan niyee...!" suara ejekan dari teman-teman Rani pada saat mobil mereka melewati Rani dan Dito.


Melihat hal itu, Dito pamit sama Rani untuk mendahuluinya.


 Ya udah, aku duluan ya!" seru Dito sambil mengayuh sepedanya.


"Ya...!" jawab Rani yang berseru, seraya mempercepat langkah kakinya.


Tak berapa lama, Rani sudah masuk ke lorong sekolah. Rani melihat di halaman sekolah banyak anak-anak yang sedang berkumpul.


"Ohw ternyata mereka melihat anak-anak sedang main basket." gumam Rani yang tetap melanjutkan langkah kakinya menuju ke kelasnya.


Tapi baru saja dia melangkah, tiba-tiba bola basket menggelinding tepat didepannya. Dan diambilnya bola basket tersebut.


"Hai cupu, kembalikan bolaku...!" tiba-tiba ada teriakan seseorang yang ditujukan pada Rani.


"Dio..." batin Rani pada saat melihat ke sumber suara. Gadis itu jadi ingat tujuannya, yaitu mencari anak Baskoro yang membawa kunci kalung dari paman Sidiq.


Gadis itu mempunyai gagasan yaitu bermaksud menantang Dio.


"Oh..Tuan Muda. Ambil saja kalau bisa!" tantang Rani.


"Hai...! Beraninya kau, mau menantang aku ya? hah, si Cupu menantang Dio, Cihh!" seru Dio dengan keras.


"Iya, aku memang mau menantang kamu!" seru Rani dengan sikap aslinya.


"Baik kalau aku bisa ambil bola dari kamu, kamu harus jadi pembantuku selama sebulan, bagaimana? ha....ha...!" kata Dio yang sudah merasa kalau dia yang menang.


"Baik, tapi kalau aku bisa masukkan bola dalam keranjang, kamu harus buka baju sampai bel masuk sekolah, bagaimana? Apa kamu setuju!" seru Rani dengan mengulas senyumnya.


"Wuuu Cupu mesum...!" sorak pembela Dio.


"Iya, ya nggak menyangka kalau Cupu yang culun ini tukang mesum! He...he...he...!" seru para siswa yang kebetulan menonton pertandingan itu.


"Ok deal..! Dasar Cupu... Bersiaplah jadi pembantuku sebulan, ha...ha...!" seru Dio sekali lagi yang yakin kalau dirinya keluar sebagai pemenangnya.


Kemudian Rani melemparkan tasnya dan posisi siap mempertahankan bola basketnya.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...