Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Meminta Ijin


"Boleh, kakak juga rindu kakek Darma. Sekalian kakak mau minta restu beliau." kata Sersan Saga. Dan mereka pun saling tersenyum.


"Ayo kita ke rumah sakit, sekalian minta ijin mama dan papa untuk pulang ke lereng gunung." pinta Rani.


"Iya.. ayo. Terima kasih sayang kakak sudah lega sekarang." kata Sersan Saga


Rani mengangguk dan tersenyum. Dan Sersan Saga pun menggandeng Rani, dan keduanya berjalan menuju sepeda motor yang diparkir dekat tempat mereka duduk.


Sersan Saga mengambil helm untuk Rani, dan kemudian keduanya memakai helm masing-masing. Setelah itu naik ke atas sepeda motor dan Sersan Saga menyalakan sepeda motornya.


Beberapa detik kemudian sepeda motor itu melaju membawa dua orang penumpangnya menyusuri jalan raya yang menuju ke rumah sakit.


Setelah sampai di Rumah sakit, keduanya turun dari sepeda motor yang sudah diparkir pada tempatnya, kemudian mereka melangkahkan kaki menuju ke teras depan rumah sakit dan terus melangkahkan kaki menyusuri lorong-lorong rumah sakit.


Tak berapa lama keduanya tiba didepan ruang rawat dimana Tuan Wibowo dan Nyonya Lani masih berada di mana ruangan Radit yang sedang dirawat.


"Mama, papa, kak Radit, maaf Rani baru sempat menjenguk." kata Rani saat masuk dan menghampiri keluarganya. Kemudian gadis itu memeluk mama dan papa angkatnya.


"Eh, Rani dan Nak Saga. Tidak apa-apa, lagi pula sore ini Radit sudah boleh pulang." kata Tuan Wibowo seraya mengulas senyumnya.


"Kak Radit, kak Radit sudah sembuh?" tanya Rani yang tampak senang sekali mendengar kabar itu, sambil melangkahkan kaki mendekati kakaknya.


"Masih sakit sih Ran, tapi kakak sudah bosan makanan rumah sakit. Kangen masakan Bibi. He...he...he...!" jawab Raditya yang terkekeh.


"Oh, syukurlah kalau memang. Sudah mendapatkan ijin untuk bisa pulang." kata Sersan Saga seraya menyalami tuan dan nyonya Wibowo dan Raditya.


"Nak Saga apa tadi menjemput Rani?" tanya Nyonya Lani yang penasaran.


"Iya, tadi Rani pulang seperti biasa pakai sepeda kayuh, sampai dirumah Rani bingung mau jenguk Kak Raditya, mana Rani tidak tahu alamat rumah sakit dimana kak Radit dirawat. Karena itulah setelah makan siang tadi Rani sempat tidur." jelas Rani.


"Oh jadi begitu." kata nyonya Lenibyang sudah paham dengan maksud Rani.


"Tuan dan Nyonya Wibowo dan juga kamu Raditya, saya bermaksud minta ijin mau mengajak Rani pulang ke lereng gunung. Kebetulan Rani libur sekolah selama seminggu." kata Srrsan Saga pada keluarga Rani untuk berpamitan.


"Lereng gunung? kita lama nggak kesana ya pa? sekalian refresing yuk pa!" ajak nyonya Lani.


"Boleh juga, kita kesana aja Dit? sambil merayakan kesembuhan kamu!" seru tuan Wibowo yang menyetujui ajakan istrinya.


"Iya Pa..Mama.Radit juga kangen sama Kakek. Tapi sayangnya Sania sudah keluar kota. Jadi Radit nggak ada temannya?" kata Raditya.


"Waduh pinginnya cuma berdua saja, kok jadi rombongan ya?" kata Sersan Saga dalam hati yang agak kecewa .


"Ajak bibi saja, katanya kemarin Bibi kepingin ke lereng gunung. Nanti saya naik sepeda motor sama kak Saga, bolehkan ma...pa..?'' kata Rani sekaligus bertanya.


'Hm, maunya tuh! nempel teruuuus..!" seru Raditya yang menggoda adoknya.


"Kak Radit! Rani kan ingin quality time selama seminggu sama kak Saga. Setelah itu kan kita akan lama ketemuannya!" kata Rani sambil memeluk tangan Sersan Saga.


"Apa maksud kamu? Kalian akan berpisah? Bukannya kalian baru saja dekat?" tanya nyonya Lani yang penasaran.


"Iya, saya di promosikan naik pangkat, tapi harus menyelesaikan tugas-tugas di kota Sebrang selama tiga tahun. Setelah pengangkatan, saya berniat menikah dengan Rani." jelas Sersan Saga.


"Wah benar juga, tiga tahun lagi Rani lulus sekolah!" seru nyonya Lani yangmemandang Rani dan mengulas senyumnya.


"Kalau begitu niat kalian, Papa hanya bisa berdoa. Semoga semuanya lancar sampai ke pelaminan." kata Tuan Wibowo.


"Aamiin...." jawab semuanya.


"Saya ijin mau ajak Rani jalan-jalan sebentar, apakah boleh Tuan?" tanya Sersan Saga.


"Panggil saja Om dan Tante saja" kata tuan Wibowo.


"Boleh saja Rani kamu ajak jalan-jalan, asal jangan keblabasan. Ingat batasannya, kalian belum menikah! walaupun sudah dapat restu dari kami. Kami percaya kepadamu Saga!" kata tuan Wibowo sambil menepuk pundak Sersan Saga.


"Baik Om,Tante dan Radit, saya akan jaga amanah ini." kata Sersan Saga


"Hei jangan lupa, biasakan panggil aku kakak ya. Walaupun aku lebih muda, tapi kamu kan mau menikah sama adikku." kata Raditya dan semua pun tertawa.


"Ha ..ha...ha...!"


Beberapa menit kemudian, Sersan Saga dan Rani, akhirnya keluar dari ruangan dimana Raditya dirawat.


Keduanya k3mbali menyusuri lorong rumah sakit, dimana sekarang mereka menuju ke tempat parkir. Keduanya melangkahkan kaki menuju ke tempat dimana sepeda motor Sersan Saga terparkir.


Setelah sampai di samping sepeda motor tersebut, mereka segera memakai helm dan naikbke atas sepeda motor tersebut


Kemudian Sersan Saga melajukan sepeda motornya keluar dari halaman rumah sakit dimana Raditya di rawat.


Mereka menyusuri jalan raya, dan suasana remang-remang dipinggir jalan raya saat ini.


Tiba-tiba Sersan Saga melihat seorang ibu-ibu yang menggendong anaknya sedang mendorong sepeda motornya.


"Ran, kamu lihat ibu-ibu itu!" bisik Sersan Saga yang menepikan sepeda motornya dan menghentikan laju sepeda motornya itu.


"Iya kak, kasihan dia." kata Rani.


"Kita tolong dia!" seru Sersan Saga yang segera turun dari sepeda motornya dan melepaskan helmnya. Rani menganggukan kepalanya dan mengikuti Sersan Saga.


Kemudian Sersan Saga menyapa si ibu tersebut.


"Ibu, kenapa dengan sepeda motornya? ada yang bisa saya bantu?" tanya Sersan Saga yang menatap wajah si ibu itu.


"Kehabisan bensin Tuan." jawab si ibu yang sedikit takut, kalau orang uang menyapanya orang jahat.


Karena Sersan Saga memang sedang tidak memakai seragamnya.


"Jangan takut Bu, saya polisi yang sedang tidak bertugas. SPBU masih satu kilo meter lagi. Biar saya yang mendorongnya, ibu disini sama pacar saya sebentar." kata Sersan Saga yang kemudian menatap ke arah Rani.


"Kamu tidak apa-apa kan Ran, aku tinggal bersama si ibu disini?" tanya Sersan Saga pada Rani


"Oh, tidak apa-apa kak, kasihan juga si ibu sama dedeknya." jawab Rani sambil memandang ibu dan anak itu dengan iba.


Kemudian Sersan Saga segera mendorong sepeda motor si ibu tadi. Namun sebelumnya Ibu tadi mengambil tas belanjaannya.


"Mari Bu kita duduk disana." ajak Rani sambil menunjuk ke arah kursi pada sebuah lapak yang sedang tidak jualan.


"I..iya nona. Terima kasih." kata ibu tadi yang menuruti ajakan Rani.


"Ibu baru belanja ya?" tanya Rani sambil melihat tas belanjaan si ibu.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...