
"Komisaris Saga dan Rani saling pandang, dan kemudian pelayan itu melanjutkan kembali ceritanya, dan kembali keduanya menyimak cerita pelayan itu.
"Dengan mata kepala sendiri saya melihat Tuan menurunkan obat pembasmi serangga dari rak petang tadi. Dan bukankah Tuan melompat ketika ia melihat saya tengah mengawasinya. Bubur Nyonya terletak di atas meja, siap untuk diantarkan kepadanya. Tidak ada makanan yang akan saya makan selama saya berada di rumah ini! Tidak walaupun saya sangat menginginkannya!" kembali pelayan itu menjelaskan.
"Di mana rumah dokter yang merawat nyonya Anda?" tanya Rani.
"Dr. Adams. Di seputar ujung High Street. Rumah pada urutan yang kedua." jawab pelayan itu.
"Baiklah, terima kasih atas informasinya. Kami permisi!" seru Komisaris Saga yang mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan pelayan itu dan diikuti oleh Rani.
Komisaris Saga melangkahkan kaki meninggalkan pelayan itu dan diikuti oleh istrinya, mereka dengan bergegas pergi.
"Dia bilang tidak ingin mengatakan apa-apa, tapi kok ngomong terlalu banyak!" gerutu Rani.
Komisaris Saga memukulkan kepalan tangannya di telapak tangannya yang lain, menandakan kekesalannya.
"Jadi seperti inilah aku selama ini, Ran, aku menyombongkan otakku dan sekarang aku kehilangan satu nyawa. Nyawa orang yang datang kepadaku untuk diselamatkan. Aku tidak pernah bermimpi semuanya akan terjadi secepat ini. Semoga Tuhan mengampuni aku. Tetapi, aku sama sekali tidak menduga bahwa sesuatu akan terjadi. Bagiku, ceritanya kedengaran seperti dibuat-buat." keluh komisaris Saga dan mereka sudah sampai di tempat parkir dimana sepeda mereka terparkir.
Kemudian keduanya naik ke sepeda motor itu dan melaju menuju ke alamat yang ditunjukkan oleh pelayan tadi.
Dan beberapa menit kemudian mereka telah sampai di tempat yang mereka tuju.
"Kita sudah sampai di rumah dokter. Mari kita lihat apa yang dapat dia katakan kepada kita." kata komisaris Saga pada saat mereka berhenti di depan rumah yang menjadi tujuan mereka.
Dr. Adams adalah dokter desa yang cerdas, wajahnya merah, persis seperti yang digambarkan dalam cerita-cerita fiksi. Ia menerima komisaris Saga dan Rani dengan cukup sopan, tetapi begitu ia mengetahui maksud kedatangan kami, wajahnya yang merah berubah menjadi merah padam.
"Persetan! Omong kosong! Setiap kata dari cerita itu adalah omong kosong! Bukankah saya menyaksikan sendiri kejadian itu! Radang perut - cuma radang perut. Sederhana saja. Kota ini merupakan tempat yang subur bagi gosip - banyak penyebar skandal; wanita-wanita tua berkumpul dan mereka-reka semau mereka. Mereka membaca berbagai surat kabar brengsek. Mereka senang sekali kalau ada lagi warga yang mati karena diracuni. Mereka membayangkan sebotol cairan pembasmi rumput liar di rak - dan tiba-tiba! - melayanglah daya khayal mereka tanpa terkendali. Saya kenal Edward Pengelley - dia tidak akan meracuni anjing neneknya. Lalu, mengapa ia harus meracuni istrinya? Katakan kepada saya, kenapa!":seru dokter itu geram.
"Ada satu hal, Dokter, yang mungkin belum Anda ketahui." kata dengan ringkas komisaris Saga yang kemudian menceritakan garis besar kunjungan Nyonya Pengelley kepadanya.
Tak seorang pun yang lebih terheran-heran daripada Dokter Adams. Kedua biji matanya hampir keluar dari tempatnya.
"Semoga Tuhan memberkatiku," serunya tiba-tiba.
"Perempuan malang itu pasti sudah gila. Mengapa dia tidak mengatakannya kepada saya. Hal itu yang seharusnya ia lakukan." sambung dokter itu
"Apakah kekhawatiran almarhumah dapat ditertawakan?" tanya komisaris Saga.
"Tidak. Sama sekali tidak. Moga-moga saya mulai mengerti." jawab dr. Adams.
Komisaris Saga memandangnya dan tersenyum. Dokter itu jelas-jelas sangat gelisah walaupun dia berusaha menutupinya. Ketika Komisaris Saga dan Rani meninggalkan rumah itu, tawa komisaris Saga pecah.
"Ha...ha ...! Dia keras kepala seperti babi. Dokter itu. Dia sudah mengatakan radang perut, karena itu tetap radang perut. Padahal pikirannya resah." kata komisaris Saga yang menertawakan sikap dokter yang baru dia temui itu.
"Apa langkah kita berikutnya?"tanya Rani yang penasaran.
"Kembali ke penginapan dan menghabiskan malam yang mengerikan di atas tempat tidur." jawab komisaris Saga.
"Dan besok?" tanya Rani.
"Kita harus kembali ke kota dan menunggu perkembangan yang terjadi." jawab komisaris Saga.
"Hm, Pasif sekali," gumam Rani yang kecewa.
"Pasti ada, aku berani menjanjikannya. Dokter kita yang sudah tua itu boleh memberikan surat keterangan sebanyak yang dia inginkan. Tetapi, dia tidak dapat menghentikan gunjingan ratusan lidah. Dan orang-orang itu bergunjing karena ada alasannya. Aku yakin ini." jelas Komisaris Saga.
Kereta yang mwreka naiki menuju kota berangkat pukul 11.00 keesokan harinya. Sebelum berangkat ke stasiun, Poirot mengemukakan keinginannya untuk bertemu dengan Freda Stanton, keponakan yang disebut-sebut oleh almarhumah. Cukup mudah kami menemukan rumah yang disewanya.
Dengan kebingungan, diperkenalkannya pemuda berpostur tubuh tinggi dan berkulit gelap yang tengah bersamanya, Jacob Radnor. Freda Stanton adalah seorang gadis yang luar biasa cantiknya, dengan kecantikan khas Cornish - rambut dan matanya berwarna gelap dan pipinya merah jambu. Kilatan kedua matanya menunjukkan tidaklah bijaksana untuk membangkitkan amarahnya.
"Bibi yang malang," kata gadis itu ketika komisaris Saga yang memperkenalkan diri serta menjelaskan maksud kedatangannya.
"Menyedihkan sekali. Sepanjang pagi ini saya berpikir kalau saja dulu saya bersikap lebih baik dan sabar." kata Freda.
"Engkau sudah banyak menahan diri, Freda," Radnor yang menyela.
"Memang kakak dan aku tahu ini. Lagi pula semua itu hanyalah ketololan Bibi. Seharusnya saya tertawakan saja dan tidak ambil pusing. Tentu saja tidak masuk akal kalau Bibi berpendapat bahwa Paman tengah meracuninya. Keadaan Bibi memang memburuk sesudah makan apa saja yang dihidangkan Paman. Tapi saya kira itu hanya karena Bibi mempunyai pikiran seperti itu. Bibi membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya, lalu ia benar-benar mengalaminya." jelas Freda.
"Apa alasan ketidaksetujuan Anda yang sebenarnya, nona Ferda?" tanya Rani yang penasaran.
Freda yang ragu-ragu, kemudian memandang Radnor. Pemuda itu dengan cepat menangkap isyarat.
"Aku harus pergi, Freda. Sampai malam nanti. Selamat tinggal, Tuan-l dan nyonya. Saya kira kalau kalian dalam perjalanan menuju stasiun." ucap Radnor yang menebak.
Komisaris Saga mengiyakan dan Radnor berlalu.
"Kalian bertunangan, kan?" tanya Rani.
Wajah Nona Freda memerah dan ia mengakui pertunangannya dengan Radnor.
"Inilah sebenarnya seluruh persoalan Bibi," tambahnya.
"Dia tidak setuju pemuda itu menjadi pasangan Anda?" tanya komisaris Saga yang mencoba menebak
"Oh, tidak sejauh itu. Tetapi Anda tahu, Bibi... " kata gadis itu yang kemudian berhenti.
"Ya, bisa anda lanjutkan?" tanya Rani yang penasaran dan mendorong Freda untuk melanjutkan dengan lembut.
"Kedengarannya agak mengerikan untuk membicarakan Bibi. Sekarang Bibi sudah tiada. Namun, Anda tidak pernah akan mengerti kecuali saya jelaskan bahwa Bibi tergila-gila kepada Radnor." jawab Freda.
"Sungguh?"tanya komisaris Saga yang penasaran.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...