Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Season 3 ; Rani, Sadarlah..!


Dan mata Rani pun tak bisa berpaling dari liontin jam itu. Seakan berputar dan terus berputar. Dan tiba-tiba...


"Brukkk...!!"


"Sungguh merepotkan..!!" gerutu Simon yang kemudian mengangkat tubuh Rani kembali ke atas batu.


"Saatnya menikmati tubuh indahmu..!!" kata Simon dengan genitnya.


***


Sementara itu, komisaris Saga dan Kity telah sampai di gurun pasir.


"Sudah ku duga...! ada badai pasir..!!" seru komisaris Saga.


"Wo..uoooo....oooo..!!!"


"Kity...!! happ...!" seru Komisaris Saga yang seketika menangkap tubuh mungil Kity, yang hampir terbang terbawa angin badai gurun pasir.


"Hampir saja kau terbang terbawa angin..!!" seru Komisaris Saga.


"Terima kasih Tuan Saga, dan sekarang saya tahu kekonyolan anda memberiku plastik ada benarnya juga..! he..he..!" kata Kity dengan mengulas senyum, yang kini ada di dekapan komisaris Saga.


Dengan melangkah berlawanan dengan arah angin, komisaris Saga berusaha mendekati bukit di tengah gurun pasir itu.


"Wuuuzzzz....wuuuzzzzz.....!!"


Suara angin menderu-deru. Seperti alunan musik.


"Hosst...hossst...!!"


"Aku harus kuat..! Demi Rani...! aku harus ku..aat..!!" ucap Komisaris saga dengan terengah-engah.


Setelah perjuangan yang begitu lama, akhirnya mereka sudah berada di bawah bukit itu dan perlahan Komisaris menuju ke atas dan masuk ke dalam goa itu.


Pada saat mereka masuk ke Goa, betapa terkejutnya komisaris melihat seorang laki-laki yang hendak mencium tunangannya yang berada di atas batu.


Dan Rani kekasihnya itu hanya diam saja.


Tanpa bicara panjang lebar, komisaris Saga menarik kerah baju bagian belakang orang itu dan dia memukulnya.


"Baghh...!!"


"Bughh...!!"


"Bughh...!!"


"Aauuhhh...Hukk..huukkk...!!"


Komisaris memukul muka sekali dan memukul perut laki-laki itu dua kali, laki-laki itu terbatuk-batuk.


Ketika hendak menyerang laki-laki itu yang tak lain adalah Simon, Rani berdiri dengan merentangkan tangannya seolah menghalangi komisaris Saga yang akan menyerang Simon kembali.


"Rani...! apa yang kau lakukan..?? menepilah...! aku akan memberi pelajaran pada orang itu..!!" seru komisaris Saga yang heran kenapa Rani menghalanginya.


"Yang aku lakukan, melindungi kekasihku...! jangan coba-coba melawannya, atau berhadapan denganku...!" seru Rani dengan sikap siap melawan.


"A..apa kekasih..!! aku kekasihmu..! akulah calon suaminu..! kita akan menikah sebentar lagi..!!" Seru komisaris Saga yang sangat terkejut yang di katakan oleh Rani, berbanding terbalik dengan kata hatinya.


"Cihh...! aku tak mengenalmu, enak saja kau mengaku-aku calon tunanganmu..!" gerutu Rani yang emosi dan dia menyerang komisaris Saga itu dengan tangan kosong.


Berkali-kali Rani menyerang komisaris Saga, berkali-kali pula Komisaris Saga menghindar dan menghindar.


"Kurang Ajaar..! jangan jadi pengecut...! ayo serang aku..!!" teriak Rani kesal.


"Sudah aku bilang kau lah tunanganku...! kita kan saling mencintai Rani..!!" seru Komisaris Saga yang berharap Rani mengingatnya.


Namun usahanya sia-sia, Rani tetap menyerangnya dan terus menyerangnya.


Karena kesal, Rani berkali-kali meminta pedang Azuya keluar.


"Pedang Azuya..! pedang Azuya ..!!"


Namun pedang itu sama sekali tidak mau keluar dari dalam tubuh Rani.


"Hei apa-apa'an ini..! kenapa tidak mau keluar..kau pedang sialan..!!" gerutu Rani yang semakin emosi.


Pedang Azuya seolah tahu, yang terjadi pada pemiliknya.


Dia tidak mau keluar, karena yang memanggilnya bukan Rani yang sebenarnya.


"Pedang Azuya..? apa kau bertekat akan membunuhku..!!" seru Komisaris Saga yang sangat dilema dengan keadaannya saat ini.


Bila dia menghindar terus, tenaganya akan terkuras habis. Dan bisa saja dia menyerang dan melawan Rani, namun dia tak ingin tunangannya itu terluka.


Dan saat ini tunangannya itu menyerang dia dengan membabi buta.


Sementara itu Kity yang tadi turun dari dekapan komisaris Saga, melepas plastik yang membungkus kepalanya.


Dan dia melihat perubahan yang berbanding terbalik dengan kenyataannya pada diri Rani.


"Apa Simon telah menggunakan kalung pusaka berliontin jam itu..?" batin Kity yang kemudian berjalan mengendap-endap mencari sesuatu.


"Akhirnya aku temukan juga..!!" kata dalam hati Kity yang begitu senang, melihat kalung yang di maksud ada di samping batu besar tampat Rani berbaring dan juga terdapat guci penarik Sukma disana.


Kity menggigit dan kemudian membawa kalung itu menjauh dari Simon dan kucing itu menghampiri komisaris Saga yang masih terus menghindari serangan dari Rani.


Sedangkan Simon tak menyadari kalau dia telah kehilangan kalung pusaka liontin jam itu.


Dewa badai itu terlalu asyik melihat Rani yang menyerang Tunangannya sendiri itu.


"Tuan Sagaa..! cepat keluarkan belati dari kalung pusaka berliontin bambu..!" seru Kity saat berada dekat dengan Komisaris Saga.


"Baik..!!" balas Komisaris Saga yang menyadari akan apa yang terjadi.


"Jadi itu bukan Rani yang sesungguhnya, dia di pengaruhi oleh kalung pusaka berliontin jam itu..?" kata dalam hati komisaris Saga yang kemudian mengeluarkan kalung pusaka berliontin bambu dan merubahnya menjadi belati.


"Belati..!!"


Seketika liontin itu berubah menjadi belati, dan tanpa menuggu lama komisaris Saga langsung memecah mustika yang berada di dalam liontin jam pada kalung pusaka yang di bawa Kity.


"Pyaaaaarr...!!"


Mustika itu pecah berping-keping.


"Brukk....!!"


Dan Rani seketika itu juga ambruk tak sadarkan diri.


"Hei..apa yang terjadi..? ah.gawaaat..!!" umpat Simon yang baru menyadari apa yang terjadi, namun sudah terlambat.


Simon kemudian menyerang Komisaris Saga dengan kekuatan anginnya.


Tangannya berputar-putar dan membentuk angin, lalu Simon mendorongnya mengarah ke Komisaris Saga.


"Uaagghh...!! bruughh...!!"


Dan Komisaris Saga terlempar beberapa meter ke belakang.


"Sial..!! dia menggunakan kekuatannya..! Bagaimana mungkin aku melawannya..?" batin Komisaris Saga yang terus berpikir.


Kemudian Inspektur Saga mengeluarkan senjata apinya.


"Dorr...!! dorr..!! doorr..!!"


Simon dengan cepat bisa menghindarinya dan berhasil merebut senjata api komisaris Saga, dan berbalik menembak pemilik senjata api itu.


"Dor..!! dorr...!! dooor..!!"


"Auhh...!!"


Satu peluru bersarang di lengan kiri Komisaris Saga, dan darah pun mulai mengalir.


"Aaaaghh.. sial..!!" umpat komisaris yang masih terus menghindari tembakan demi tembakan dari senjata api itu.


Komisaris Saga berhasil menghindari dan akhirnya peluru di dalam senjata api itu pun habis.


Simon melempar senjata itu ke arah komisaris Saga dengan kesalnya.


Dengan cepat komisaris Saga menghindarinya.


Sementara itu Kity berusaha membangunkan Rani.


"Nona...nona Rani, cepat bangun...!!" seru Kitty sambil menggoyang- goyangkan bahu Rani dengan kaki depannya, dan dia beberapa kali mengusap tubuhnya di pipi gadis yang terbaring tak sadarkan diri itu.


Tak berapa lama gadis itu bergerak dan perlahan membuka matanya.


...~¥~...


...Terima kasih untuk para semuanya, terutama yang telah memberikan dukungan berupa like/komen/favorite/rate 5/gift maupun votenya pada novel GADIS TIGA KARAKTER ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...BERSAMBUNG...