
"Kita tahu perintah dan sanksi Walikota tadi, intinya menjauhkan kalian berdua. Apa kamu punya ide calon adik ipar?" tanya Raditya pada Sersan Saga.
"Saya akan memilih sanksi yang diberikan Walikota. Sekolah yang rajin dan gapai cita-citamu Rani ,aku menunggu sampai Rani siap untuk aku nikahi." jawab Sersan Saga sambil memegang tangan Rani
"Kak Saga." panggil Rani dengan pelan.
"Rani, kamu siap dengan jawaban calon suami kamu?" tanya Raditya sambil memandang Rani
Rani tak bisa menjawab, antara bingung dan takut kehilangan. Tanpa sadar kedua mata Rani berkaca-kaca.
Sersan Saga tak bisa melihat Rani yang menangis. Dia memeluk Rani, seolah ingin menghapus semua air mata gadis pujaannya.
"Kita tidak boleh ketemu di sini tapi kita kan bisa ketemuan di lereng gunung." bisik Sersan Saga pada Rani.
Seketika Rani yang tadinya kusut karena menangis, tiba-tiba kembali cerah.
"Cepat ke toilet sana, benerin make up kamu. Nanti ada yang tahu kalau kamu Rani." bisik Sersan Saga saat mengusap air mata Rani.
"Iya, Rani ke toilet dulu ya." pamit Rani yang menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, dan kemudian melangkahkan kakinya ke arah toilet.
"Hai bro! pakai jurus rayuan apa kamu? nampaknya aku perlu belajar banyak padamu. Ha....ha....ha...!" canda Raditya.
"Kamu lah yang lebih jago calon kakak ipar. Ha....ha...ha...!" sahut Sersan Saga. Tawa mereka hanya untuk mengendurkan sementara dipikiran dan hati mereka.
Sementara itu Rani yang masih berada di toilet, setelah mencuci mukanya, dia mengatur ulang make upnya.
"Untung saja aku bawa make up." kata dalam hati Rani.
"Nggak apa-apalah hubunganku dengan kak Saga LDR, yang penting aku sudah tahu kak Saga juga cinta aku." pikir Rani dalam hati sambil senyum sendiri karena dia sekarang lega bisa ungkapkan isi hatinya dan dia tahu isi hati pujaan hatinya.
Setelah selesai make up, Rani bergegas keluar dari toilet.Rani melangkahkan kakinya menuju ruangan pesta.
Tapi sebelumnya Rani melihat banyak tanaman di sepanjang lorong hotel. Saat Dia mendekati salah satu pot bunga,terdapat banyak kerikil di dalamnya. Timbul niat jahil Rani.
"He...he...! akan ku beri pelajaran si Walikota gila itu!'' kata Rani dalam hati sambil terkekeh. Saat dilihatnya tidak ada orang, Rani memasukan beberapa kerikil dalam tasnya.
Kemudian Rani melangkahkan kaki menuju ke tempat semula, dimana Raditya, sersan Saga dan yang lainnya berada.
Acara demi acara telah berjalan dengan lancar, sampai di penghujung acara. Para tamu undangan dan semua pengisi acara telah meninggalkan tempat itu.
Dan saat ini tinggal karyawan-karyawati hotel yang sibuk membersihkan sisa-sisa pesta.
Terlihat masih ada beberapa orang yang masih berdiri membentuk lingkaran di sudut ruangan. Nampak wajah serius terpasang diantara mereka.
Mereka adalah Walikota, Lilian, Sersan Saga, Raditya, Rana, Sania dan Dio.
"Ha...ha....! aku tak sabar mendengar keputusan kamu Sersan!" seru Walikota yang penasaran.
"Bolehkah saya tahu apa maksud perintah anda tuan Walikota yang terhormat?" tanya Rani saat maju selangkah menghadap Walikota.
"Anak yang dipungut dari sampah, aku tak butuh ocehanmu! Sersan Saga cepat jawab apa keputusanmu atau..."
"Hakk...!"
Tiba-tiba suara Walikota terhenti. Dan saat itu Rani sudah mundur beberapa langkah dengan senyum puasnya.
Raditya dan Sersan Saga, saling tatap dan mereka tahu siapa pelakunya.Tapi mereka tidak menoleh pada Rani, khawatir Walikota tahu gerak-gerik Rani. Kalau Rani yang telah melempar kerikil ke leher Walikota.
"Papa....! papa....! Papa kenapa?" tanya Lilian yang mana air matanya mulai membasahi kedua pipinya.
Pada saat mendekati Walikota yang wajahnya pucat memegang lehernya.
"Siapa yang berani curang..!" bentak Lilian. Seketika itu juga pengawal pribadi Walikota kurang lebih berjumlah tiga puluh orang yang telah mengepung mereka.
"Wah! tahu begini, tadi aku ke mobil bukan ke toilet." bisik Rani pada Raditya.
"Aku kok nggak kepikiran rencana ini ya?" bisik Raditya.
"Rencana apa?" tanya Rani yang penasaran.
"Gadis bertopeng!" jawab Raditya yang masih dengan berbisik.
"Trus sekarang bagaimana?" tanya Rani.
"Menunggu? Apa lagi kalau harus LDR. Maaf Kak Radit aku punya cara sendiri!" gumam Rani dalam hati.
"Kak kunci mobil mana?" tanya Rani dan Raditya memberikan kunci mobilnya pada Rani.
"Nanti usir aku ya kak!" pinta Rani.
Setelah mendapatkan kunci mobil, Rani melangkah ke depan. Semua mata memandang gadis itu.
"Nona Lilian yang tersayang, anda baru saja bertambah umur. Seharusnyalah bertambah kedewasaan anda." kata Rani saat berhadapan dengan Lilian.
"Umur saya lebih muda dari anda, tapi saya menantang anda untuk mendapatkan cinta Sersan Saga. Tentunya dengan cara yang sehat!" seru Rani.
"Kau...!" seru Lilian.
"Kenapa? Takut? kalah cantik ya sama aku?" kata Rani yang terus menggoda Lilian.
Emosi gadis yang berulangtahun itu memuncak, dia mengangkat tangannya hendak menampar Rani. Namun dengan sigap Rani menangkap tangan Lilian dan menariknya kebelakang punggung Lilian.
"Auw sakiiiiit..!" teriak Lilian.
Raditya dan Saga pun menahan tawa.'
"Papa...!" teriak Lilian meminta bantuan pada Papanya.
"Kau...!" dengan suara serak karena tenggorokannya masih sakit.
"Apa pak tua? Anda marah aku panggil tua? Anda kan memang sudah tua. Maaf ya saya kurang sopan ya?bLagian anda yang bilang saya dari sampah. Orang Sampah kan nggak punya sopan santun ya? bentak sana perintah sini!" seru Rani yang tak secara langsung menyindir Walikota.
Walikota semakin geram, dia memberi aba-aba pada pengawalnya. Untuk menangkap Rani.
"Pengawal! Tangkap gadis kurang ajar ini!" seru Walikota, yang mempunyai kedudukan paling tinggi di kota itu. Dan Satuan kepolisian tunduk akan kuasanya.
Raditya yang sedari tadi menahan tawa, sadar bahwa saat inilah aksinya.
"Mohon maafkan adik saya Walikota, Dia belum pernah didik Papa Wibowo. Dia baru saja dari desa, belum tahu siapa anda. Mohon di maafkan." kata Raditya dengan sopan.
"Rana cepat pergi ke mobil, pergi...!" seru Raditya.
"Tapi kak..!" seru Rani yang dengan akting seolah tak terima.
"Pergi ke mobil, atau pulang jalan kaki!" ancam Raditya yang tentunya dengan pura-pura.
"Eh, tidak! Aku tak mau jalan kaki! Pasti akan lecet kakiku nanti!" seru Rani dengan akting yang memelas.
"Sudah ayo cepat pergi sana!" seru Raditya.
"Ba...baiklah kak Raditya." ucap Rani yang menundukkan kepala dan berjalan meninggalkan ruangan, berlagak menjadi anak baik dan penurut.
"Maafkan Adik saya Nona Lilian, Silahkan melanjutkan acara anda" kata Raditya berusaha sopan.
Walikota dan Lilian yang tadinya geram, mulai tenang kembali.
"Bagaimana Sersan?" tanya Walikota pada Sersan Saga dengan suara yang dipaksakan
"Saya ingin bertanya pada Nona Lilian. Apakah Nona mau tunangan dengan orang yang tidak mencintai nona?" tanya Sersan Saga.
"Sa..saya..." Lilian menatap kearah Papanya, Sania dan Dio seolah meminta bantuan untuk memberikan jawaban.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...