Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Highheels dan Buku Tebal


Barulah terdengar balasan dari dalam ruang tamu dan terdengar pintu yang dibuka.


"Iya, tunggu sebentar!"


"Klek...klek....ceklek...!"


Muncullah seorang asisten rumah tangga keluarga Wibowo.


"Tuan muda Radit dan nona Rani, anda berdua di tunggu nyonya di ruang keluarga." kata asisten rumah tangga itu pada saat melihat Raditya dan juga Rani.


"Oh iya bi, terima kasih!'' balas Raditya yang bergegas melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah dan diikuti oleh Rani.


Radit dan Rani sampai di ruang keluarga dan disambut oleh nyonya Lani.


"Radit dan Rani,sepeda kalian sudah ada di garasi, apa tidak kalian lihat-lihat dulu sepeda kayuh itu?" tanya nyonya Lani.


"Oya ma,Radit mau lihat dulu" jawab Raditya yang bergegas melangkahkan kaki menuju ke garasi yang ada disamping rumah.


"Rani, ayo bantuin mama menyiapkan makan malam?" pinta nyonya Lani sambil menarik tangan Rani.


"Baik ma?" jawab Rani yang menurut begitu saja saat tangannya ditarik oleh nyonya Lani.


Rani dan nyonya Lani pun menyiapkan makan malam mereka dibantu mbak dan bibi pembantu keluarga Wibowo.


Setelah selesai mereka pun makan malam bersama, dengan Raditya yang juga ikut menyusul ke ruang makan.


"Ayo Dit kita makan bersama-sama!" ajak nyonya Lani.


"Iya ma!" jawab Raditya yang mengambil tempat duduknya.


Satu persatu mereka mengambil nasi beserta sayur dan lauk-pauknya.


Tak berapa lama mereka telah selesai makan, dan kemudian mereka melangkahkan kaki menuju ke ruang keluarga dan bercengkrama bersama-sama.


"Ma, Mama bisa bantu Rani jalan dipanggung seperti peragawati. Maksud Rani, Rani mau jadi peragawati. Apakah mama bisa bantu Rani?" tanya Rani pada saat duduk disamping nyonya Lani.


"Jadi peragawati? Mama bisa sih bantuin, tapi buat apa?" jawab nyonya Lani dan balik bertanya.


"Begini Ma, tadi kami tahu salah satu teman sekolah Rani ada salah satu anak dari Baskoro. Karena tadi ada sedikit masalah sama Rani yang berpenampilan cupu, maka Rani berkeinginan mendekati anaknya Baskoro dengan penampilan berbeda. Ya maunya Rani jadi Peragawati, ya sekalian mengenal calon kakak ipar..he..he..!" jelas Radit sambil terkekeh.


"Kak Radit bisa saja!" kata Rani sambil tersenyum.


"Tapi benar juga, sekalian bisa kenalan sama kak Sania." imbuh Rani yang masih tersenyum.


Mama Lani pun mengerti dan tersenyum.


"Baiklah, mama mau bantu.Tapi selain belajar jalan di catwalk, kamu juga belajar dandan. Kan nggak lucu, peragawati nggak bisa dandan!" kata nyonya Lani yang menatap raut wajah Rani.


"Dandan? kan cuma pakai bedak sama lipstik saja, Rani juga bisa Ma?" tanya Rani.


bb Lani dan Radit, saling pandang dan mengulas senyum mereka.


"Dasar anak tomboy, bukan hanya itu saja! masih banyak tuh ritualnya. Mama yang tahu. Ha...ha....ha...!" kata Radit sambil tertawa.


"Putriku yang manis, ritual dandan itu banyak sekali. Tapi kalau mau simpel yang kayak mau tadi, he...he.. tapi hasilnya nggak maksimal" jelas Mama Lani sambil tersenyum.


"Oke ma, Rani mengerti. Sekarang mulai latihannya kapan?" tanya Rani yang penasaran.


"Sekarang juga boleh!" seru nyonya Lani yang menatap Rani.v


."Begini ma, rencananya pulang sekolah. Rani ke Gym bantuin Kak Radit, sekalian olah raga. Trus latihan make upnya pulang dari Gym. Bagaimana baru Ma?" usul Rani.


"Padat sekali jadwal kamu, Ran? apa nanti tidak mengganggu sekolah kamu?" tanya nyonya Lani yang khawatir.


"Rani usahakan untuk tidak ganggu sekolah Rani ma. Demi mengungkapkan keadilan." jawab Rani semangat dengan mengepalkan tangannya.


"Baiklah kalau begitu, sekarang mulai latihan jalan dulu ya." kata nyonya Lani.


"Iya Ma!" balas Rani dengan bersemangat.


"Radit tolong ,ambilkan mama buku yang tebal sama sepatu highheels punya Mama yang tingginya 13 centi ya!" pinta nyonya Lani.


"Iya Ma!" balas Raditya yang kemudian melangkahkan kakinya menuju ke kamar mamanya , untuk mengambil sepatu dan beberapa buah buku yang tebal.


"Kaki serong dan kaki kanan lurus. Kalau sudah siap,jalan dengan arah kaki lurus pandangan kedepan, berhenti lalu putar dan balik lagi ke tempat semula." jelas nyonya Lani dan Rani vs


"Bisa?" tanya mama Lani.


"Coba dulu." kata nyonya Lani sambil menerima buku dan sepatu dari Raditya yang baru datang.


"Iya Ma, Rani akan mampu coba" kata Rani mencoba ilmu-


ilmu yang bukan ilmu bela diri dari Mama Leni.


Sekali dua kali,walaupun sering goyang kayak perahu diterjang ombak. Akhirnya bisa lancar juga dalam berjalan.


"Nah sekarang coba pakai sepatu ini dan letakkan buku diatas kepala. Lalu jalan seperti tadi." pinta nyonya Lani.


Rani pun segera memakai sepatu dan menaruh buku diatas kepala, sesuai petunjuk nyonya Lani.


"Wo..ow..ini lebih ngeri dari meniti bambu" gumam Rani.


Rani pun beberapa kali hilang keseimbangan-nya dan berkali-kali terjatuh lalu bangun lagi.


"Ha....ha....ha...!"


Raditya yang sedang duduk di sofa sambil membalas beberapa chat, melihat tingkah adiknya tertawa.


"Ah Kak Radit jangan ditertawakan dong. Susah nih! sumpah mending menghajar tiga preman!" celetuk Rani.


"Ha ...ha.. dasar Badung!" seru Raditya yangg tertawa terpingkal-pingkal.


"Hih....!" keluh Rani kesal karena dia sudah jatuh untuk ke sekian kalinya.


"Harus sabar, tenang dan tetap bekonsentrasi." nasehat nyonya Lani.


"Iya Ma!" jawab Rani yang terus mencobanya, walaupun beberapa kali dia sempat terjatuh.


Tak terasa malam semakin larut. Nyonya Lani menghentikan latihan mereka.


"Sudah malam, sebaiknya besok dilanjutkan lagi. Rani dan Radit,lekas istirahat.bBesok kalian mulai aktifitas pagi" pinta Mama Lani.


"Iya.. Selamat malam ma" kata Radit sambil mencium punggung tangan sebelah kanan nyonya Lani.


"Selamat malam ma!’ balas Rani pamit Rani.Raditya bergegas naik tangga, disusul dengan Rani.


"Yang kalah push up lima puluh kali!" seru Raditya dengan mengulas senyumnya.


"Ah..kak Radit curang, kakiku kan baru sakit!" seru Rani, karena tadi sempat terjatuh saat latihan jalan Lani.


"Bodo amat yang penting kamu kalah!" kata Radit saat sudah sampai depan pintu kamarnya


"Ah! nggak mau push up, maunya sit up!" tawar Rani.


"Terserah yang penting lima puluh kali. He..he..!" jawab Radit sambil terkekeh.


Mama Lani yang melihat polah-tingkah anak-anaknya, menggelengkan kepala sambil tersenyum yang masihb diposisinya.


"Sini kakak pegangin kakinya, kapan lagi lihat kamu kena hukuman. Biasanya juga kakak terus .ha..ha...!" celoteh Radit


."Andai kaki ku nggak sakit, pasti kak Radit diposisiku!" gerutu Rani.


"Sudah mulai hitung nih..! ..satu..satu setengah..dua...dua setengah...!" hitung Radit.


"Ap!aan...nanti jadi 100 kali. Yang benar dong kak, Rani dah ngantuk nih!" protes Rani.


"Ya..iya deh adikku manis...ini sudah empat, masih kurang empat puluh enam lagi. Ayo cepetan, bukan kamu saja kakak juga ngantuk nih...!" seru Raditya.


Setelah menyelesaikan hukumannya, mereka segera ke kamar masing-masing. Dan mereka pun terlelap di pulau kapuk yang sudah tersedia di dalam kamar tidur itu.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih⅞...


...Bersambung...