
Rani tak menggubrisnya, dia sibuk memunguti buku-bukunya yang tadi di jatuhkan Bella ke lantai.
Sedangkan Bella kembali berdiri dan kemudian menarik rambut Rani.
"Auw sakit...!"
Erangan Rani saat rambut kepangnya di tarik oleh Bella.
"Lepaskan Bella...! apa yang kau lakukan!" teriak Dio.
"Di..dia..tadi mendorongku!" jawab Bella yang beralasan.
"Iya dia, karena kamu menjatuhkan buku-buku dia. Pantaslah dia marah!" seru Dio.
"Ka...kau lebih membela dia dari pada aku?" tanya Bella yang menatap Dio dengan nanar. Sekali lagi Bella menarik rambut kepang Rani.
"Aauuh...!"
Kembali Rani mengerang kesakitan, kemudian Bella melepaskannya dan berlari keluar kelas dengan emosi di hatinya.
"Bella!" teriak Dio kesal.
"Rani kamu tak apa-apa?" lanjut tanya Dio. Rani hanya tersenyum getir.
"Tak apa- apa? sakit tauuu..!" gerutu Rani yang mengusap-usap kepalanya yang terasa panas.
"Sudahlah! aku mau belajar lagi. Sebentar lagi bel masuk pelajaran." kata Rani yang kemudian melanjutkan belajarnya.
Dio menghela napasnya, dan dia duduk di bangku dia yang seharusnya.
Sementara itu Dito yang baru saja masuk, melangkahkan kaki menghampiri bangku Rani dan duduk di sebelah Rani.
"Teeett...teeet....teeet....!"
Bel masuk pelajaran pun berbunyi. Dan murid-murid yang tadinya ramai, tiba-tiba hening. Karena mereka di hadapkan secarik kertas ulangan yang membuat mereka sibuk dalam beberapa menit ke depan di setiap mata pelajarannya.
Ibu guru Mariana masuk dan menyapa murid-muridnya, beliau memberikan lembaran ulangan pada murid-muridnya itu.
Ulangan demi ulangan telah dilalui dengan lancar, walau terkadang ada keluh-kesah para murid.
"Teeet....teeet....teeeeett....!"
Bel pulang sekolah pun berbunyi. Dan para siswa pun kembali riuh ramai.
"Tumben tidak dijemput?" tanya Dito saat mensejajarkan sepeda motornya dengan sepeda kayuh Rani.
"Kak Radit sedang di rumah sakit, lagi pula aku nggak mau tergantung dengan tuan muda terus" jawab Rani sambil terus mengayuh.
"Yang aku maksud si Saga..!" seru Dito.
"Ohw, mungkin Sersan Saga sedang ada tugas." jawab Rani yang tanpa menoleh pada Dito.
"Oh iya-ya? tumben Kak Saga tidak chat atau telpon?" gumam Rani dalam hati.
Mereka berpisah di pintu gerbang, dan saling berpamitan.
"Daaa Rani..!" seru Dito seraya melambaikan tangannya, dan Rani pun membalas lambaian tangan pemuda berkacamata itu.
"Daa Dito..!"
Rani pun melanjutkan perjalanan pulangnya, dengan terus mengayuh sepedanya.
Saat melewati pos polisi dimana Sersan Alex dan Sersan Saga biasa bertugas, Rani tak melihat sepeda motor Sersan Saga. Rani pun terus mengayuh sepedanya.
Tiba-tiba ada suara orang memanggil namanya.
"Rani...Rani...!" teriak seorang laki-laki, itu yang tak lain adalah Sersan Alex.
"Eh Sersan Alex! ada apa?" tanya Rani yang penasaran.
"Apa benar kamu jadian ya sama Sersan Saga?" tanya Sersan Alex yang menatap Rani dengan mengrenyitkan kedua alisnya.
"E...bisa dibilang begitu sih? memang kenapa?" tanya Rani yang membalas menatap Sersan Alex dengan tajam.
"Cuma ikut senang aja, sekarang temanku sudah melepas gelar jomblo akutnya. Ha....ha....ha....!" seru Sesan Alex yang nampak sangat senang.
"Kalau Sersan Alex sendiri, statusnya apa?" tanya Rani penasaran.
"He...he...! aku masih menyandang jomblo akut juga." jawab Sersan Alex sambil terkekeh.
"Semoga cepat ketemu jodohnya, atau mau aku mak comblangin?" tanya Rani sambil tersenyum.
"Biar cepat terbebas dari gelar jomblo akut ya? Ha ..ha...ha...!" seru Rani sambil tertawa riang.
"Ah, bisa saja kamu Ran!' seru Sersan Alex dan kemudian keduanya saling tawa.
Beberapa saat kemudian Rani akhirnya pamit untuk melanjutkan perjalanan pulangnya.
"Ma'af sersan Alex, saya harus pulang, sekarang!' seru Rani yang berpamitan pada Sersan Alex seraya melambaikan tangan sebelah kananya.
"Oh, iya! Hati-hati ya!" balas Sersan Alex yang membalas lambaian tangan Rani.
Gadis berkacamata itu terus mengayuhkan sepeda kayuhnya, dengan kecepatan sedang menyusuri jalan raya.
Sesampainya dirumah, dilihat rumah masih sepi. Setelah menyapa satpam penjaga rumah, Rani segera memarkirkan sepedanya di garasi, diantara deretan sepeda kayuh Raditya dan sepeda motor Raditya.
Kemudian Rani melangkahkan kaki menuju ke dapur, dia mencari si bibi Asisten rumah tangga keluarga Wibowo.
"Bi, apa mama dan papa belum pulang?" tanya Rani saat langkah kakinya menghampiri si bibi di dapur.
"Eh Non Rani, Tuan dan Nyonya baru saja berangkat ke rumah sakit Non." jawab si bibi.
"Ohw! aku juga mau ke rumah sakit, tapi nggak ada temannya" keluh Rani.
"Non minta Tuan Polisi saja yang antar? pasti beliau mau mengantar Nona!" bujuk wanita setengah baya itu.
"Oiya-ya, tapi Rani makan dulu Bi! sudah lapar nih!" seru Rani.
"Baik Non bibi siapkan sebentar." jawab si bibi yang kemudian melangkahkan kaki menuju ke kompor dan memanasi sayuran untuk Rani.
Sambil menunggu makanannya siap, Rani mencoba mengirim pesan pada Sersan Saga.
"Huh! centang satu..!" gerutu Rani.
"Kemana sih kamu saat-saat aku butuhkan seperti saat-saat seperti ini?" gumam Rani dalam hati.
"Ini Non sudah siap, kalau ini menunya sayur sop. Semoga Non Rani suka." kata si bibi seraya menghidangkan makanan untuk Rani.
"Iya nggak apa-apa Bi. Terima kasih! belum juga ada jawaban Bi dari kak Saga?" kata Rani.
"Yang sabar Non. Mungkin Tuan Sersan baru ada tugas, jadi ponsel dimatikan." hibur si bibi.
"Semoga aja ya Bi." kata Rani sambil melahap makanan di depannya.
Selesai makan siang, Rani bergegas melangkahkan kaki menuju ke tangga, dan dia naik tangga kemudian melangkahkan kaki ke arah kamarnya
Saat membuka pintu kamarnya, Rani melihat di ponselnya ada chat masuk. Ternyata dari ibu wali kelas yang mengatakan sekolah libur satu Minggu.
"Ah..libur seminggu, kak Radit sakit. Aku nggak bisa kemana-mana!" gumam Rani dalam hati.
Rani membiarkan jendela terbuka, dan dia membaringkan tubuhnya dalam kasurnya yang sebelumnya telah melepas kedua sepatunya.
Angin sepoi-sepoi menerpa wajah Rani, yang akhirnya Rani terlelap dalam tidur siangnya.
Selang beberapa saat, Rani merasakan ada yang mengusap kepalanya. Rani membuka matanya perlahan-lahan.
"Kak Saga...!" seru Rani yang secara reflek dia bangun dan memposisikan dirinya duduk di ranjang tempat tidurnya.
"Cepat mandi, aku antar kamu ke Rumah sakit!' seru Sersan Saga tanpa menatap Rani, karena pandangannya ke arah jendela.
"Kak! kak Saga kenapa?" tanya Rani sambil memegang bahu Sersan Saga.
"Cepat mandi, atau aku akan berbuat mesum padamu!" ancam Inspektur Saga.
"Eh...i..iya..iya..!" Rani kaget dan segera beranjak dari tempat tidur menuju lemari pakaiannya.
Diambilnya baju gantinya sekalian agar tidak ganti baju di hadapan Inspektur Saga.
Sebelum menutup pintu kamar mandi, Rani menyempatkan melihat kekasihnya sekali lagi yang terasa aneh baginya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...