Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Berangkat Sekolah diantar Sersan Saga


"Malam Tuan" balas si bibi sambil membereskan piring Sersan Saga yang man Sersan Saga telah melangkahkan kakinya menuju ke kamar Raditya.


Pagi harinya, Rani sudah bangun tidur dan mandi. Setelah memakai seragam sekolah dia bergegas keluar kamar hendak sarapan, perutnya minta diisi karena semalam dia tidak makan.


Rani tak sengaja melihat ke arah pintu kamar Kakaknya. Dia merasa ada keanehan.


"Tumben kak Radit belum bangun jam segini. Bangunin ah!" Seru Rani sambil menuju pintu kamar Raditya.


"Tokk....tokk....tokkk...!"


"Kak Radit....! Kak...! Bangun...bangun....bangun.....!"


"Tokk....tokkk....tokk....!"


Berkali-kali dia mengetuk pintu, tapi tak ada jawaban. Rani pun membuka pintu kamar yang ternyata tidak di kunci.


Saat di buka, dia melihat seseorang yang ada ditempat tidur dengan berselimut sampai menutup kepala.


"Kak Radit bangun! kaaak Radit.....! banguuun....! bangun woi....! Sudah siang nih....!" seru Rani yang terus berteriak membangunkan orang yang dikira kakaknya itu.


Gadis itu penasaran karena kakaknya nggak bangun- bangun juga, Rani menarik selimut yang menutupi orang itu.


Betapa terkejutnya Rani, ternyata setelah di tarik selimut itu, dia tidak mendapati kakaknya Raditya.


"Kak Saga...!" teriak Rani yang kemudian mundur beberapa langkah.


Sersan Saga pun kaget dan langsung dia mengangkat tubuhnya ke posisi duduk.


"Ra...rani, ada apa?" tanya Sersan Saga yang baru mengumpulkan nyawanya.


"Kalau disini ada kak Saga, trus kak Radit ada dimana?" tanya Rani.


"Radit sedang menyusul Nyonya Lani dan Tuan Wibowo, Ibunda nyonya Lani meninggal. Aku disuruh Radit menginap dan menjagamu disini" jelas Sersan Saga.


"Kenapa aku nggak diajak?" tanya Rani


"Kamu kan baru saja masuk sekolah, dan katanya ada tes di sekolahmu juga, jadi Raditya tidak mau mengganggu sekolah kamu." jawab Sersan sambil melipat selimutnya.


"Aku mau mandi, kalau kamu mau sarapan, sarapan dulu sana! apa mau nungguin aku mandi disini?" kata Sersan Saga yang menggoda Rani.


"Idih, ogahlah!" balas Rani yang kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamar Raditya dan Sersan Saga tersenyum melihat tingkah Rani.


Rani sedang menuruni tangga, dalam hati bertanya.


"Kalau kak Radit menyusul Mama dan Papa, lantas semalam aku cerita sama siapa? jangan-jangan? Aghh!" Rani bergegas turun dan menuju ruang makan.


Di ruang makan Rani menjumpai Bibi sedang menata makanan untuk sarapan.


"Bi, semalam yang nonton televisi siapa? trus yang memindahkan aku ke kamar siapa bi?" tanya Rani sambil minum susu yang dibuatkan oleh bibi asisten pembantu rumah tangga.


"Tuan Sersan Nona, beliaulah yang membopong Nona juga Tuan Sersan" jawab bibi.


"Hukk...hukk....hukk....!"


Mendengar jawaban Bibi Rani terbatuk- batuk, tersedak susu yang diminumnya.


"Hati-hati non...!"


Bibi pun segera mengambilkan Rani tisu dan menepuk punggung Rani.


"Nona, apa boleh bibi tanya sesuatu pada nona?" tanya bibi.


"Tanya apa Bi?" kata Rani yang balik bertanya.


"Apa Tuan Sersan itu pacar Nona?" tanya bibi asisten pembantu rumah tuan Wibowo itu yang penasaran.


"Oh dia...." jawaban Rani terputus mana kala Sersan Saga masuk ke ruang makan dan menarik kursi untuk duduk.


Pandangan Rani tak lepas dari Sersan Saga yang tidak memakai seragam kepolisian. Aura ketampanannya terpancar, membuat Rani terpaku memandang Sersan Saga.


"Hm, sudah sarapan?" tanya Sersan Saga seraya menatap Rani, dan dua pasang mata itu bertemu dan bergolaklah hati Rani dan juga Sersan Saga.


"Eh, belum. Rani menunggu Kak Saga." jawab Rani yang tersadar dari lamunannya.


Sementara bibi asisten rumah tangga yang tadi melayani Rani, berpindah melayani Sersan Saga.


"I..iya kak..!" balas Rani yang gugup.


"Kenapa sih jadi gugup begini" kata dalam hati Rani yang sedikit kesal.


Keduanya menyantap hidangan yang telah disajikan oleh bibi asisten rumah tangga di rumah itu, dan tak butuh waktu lama mereka telah menyelesaikan sarapan mereka.


Benar saja setelah sarapan, mereka segera berangkat ke sekolah. Dengan naik sepeda motor kesayangan sang Sersan Saga.


"Apa kamu nyenyak tidurnya malam ini?" tanya Sersan Saga seraya memakai helmnya.


"I...iya, kak!" jawab Rani yang takut kalau Sersan Saga akan menanyakan perihal igauannya semalam.


Namun ternyata Sersan Saga tak menanyakan hal itu, beliau langsung tancap gas setelah Rani duduk di belakangnya.


Sepeda motor itu melaju dengan kecepatan sedang menuju ke sekolah Rani, dan segera mengurangi kecepatannya pada saat masku melewati pintu pagar sekolah yang dijaga dua orang satpam itu.


Sesampainya di halaman sekolah, Rani segera turun dan melepaskan helm dan memberikannya pada Sersan Saga,


"Hubungi aku kalau sudah pulang, ya!" kata Sersan Saga saat menerima helm dari Rani.


"Baik Kak Saga. Rani masuk duluan ya..!" balas Rani menganggukkan kepalanya hsambil tersenyum dan dibalas senyuman pula oleh Sersan Saga.


Rani membalikkan badannya dan melangkahkan kaki meninggalkan sersan Saga yang masih memandang Rani yang berjalan semakin menjauh. Setelah Rani hilang dari pandangan mata, Sersan Saga menyalakan motornya dan meninggalkan sekolah Rani.


Sampai dikelas lagi-lagi mengahadapi keusilan Bella


"Hai Cupu, pake ramuan apa sih kamu? sampai-sampai seorang Sersan Saga lengket denganmu hah....!" bentak Bella sambil mendorong Rani sampai terduduk.


"Brukk...!"


"Agh ..!" Rani sedikit terkejut, karena kuat juga dorongan Bella padanya.


"Ramuan apa? Aku tak buat ramuan apa-apa!" balas Rani yang menatap Bella dengan tajam.


"Kurang ajar! Aku rias kamu yang sok cantik! biar tambah cantik! Ha...ha...ha....!" seru Bella yang memegang spidol tertawa dengan riangnya.


"Pagi....!" tiba-tiba ada anak laki-laki masuk kelas.


"Dio...! kamu sudah masuk sayang?" tanya Bella yang melihat ke sumber suara, dan kemudian dia melangkahkan kaki menghampiri pemuda yang bernama Dio itu.


Kesempatan itu digunakan Rani untuk berjalan ke tempat duduknya. Dio melirik ke arah Rani, dan dia tak menghiraukan kehadiran Bella yang sudah payah menghampirinya.


"Pagi....!" suara anak laki-laki berkacamata, Dito.


Dia segera masuk dan menuju tempat duduknya.


Tapi Dio menghalanginya, "Hari ini kamu duduk ditempat ku, aku mau duduk disini dekat Rani." kata Dio.


Semua siswa terkejut, tak terkecuali Bella dan Dito, Mereka tak mengerti, biasanya Dio dan Rani seperti kucing dan tikus. Sekarang mau duduk bareng, pertanyaan itu ada dilubuk hati semuanya.


"Selamat pagi semuanya. Masukan buku dan tas dalam laci,yang ada di atas meja alat tulis." sapaan dan perintah ibu guru.


"Ba...baik Bu!" balas semua murid secara serempak, dan ulangan pun berjalan dengan lancar sampai pada jam berikutnya.


"Teeett.....teeet....teeettt.....!"


Bel Istirahat berbunyi.


"Kita ke taman yuk...! ada yang ingin saya omongin ke kamu." kata Dio.


Rani menatap Dio, dalam hati bertanya.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...