Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Saat Latihan di halaman Belakang Sekolah


"Apa katamu? Kakak Saga? kakakmu itu hanya aku!" sahut Raditya seperti nggak mau Rani punya kakak lagi selain Dia.


"Saya Murid Kakek Darma" Sahut Sersan Saga.


"Apa! "seru Raditya tak percaya.


"Maaf sebelumnya, aku tahu Rani gadis bertopeng Ran dan Rana adalah satu orang. Itu karena senyum ketiganya sama.Dan aku kemarin penasaran karena jurus-jurus yang dipakai Ran sama dengan jurus-jurus yang diajarkan Kakek Darma padaku." balas Sersan Saga.


"Jadi aku punya dua kakak sekarang, seorang Sersandan seorang kakak yang cerewet!" seru Rani sambil menatap Raditya.


Radit pun melempari Rani dengan bantal sofa di ruang tamu yang ada disampingnya.


Sersan Saga memperhatikan Rani dan Saga, terbesit rasa rindunya pada adiknya Sari yang telah tiada. Dimanda dia dulu sering menggoda dan digodain Sari adikknya itu. Dia menunduk menahan air matanya mengingat kematian tragis adiknya itu.


Rani dan Raditya melihat hal itu menghentikan candaannya dan saling pandang.


"Kak, kak Saga tidak apa-apa?" tanya Rani yang khawatir


"Tidak apa-apa, melihat kalian seperti ini mengingatkanku pada adikku Sari." jawab Sersan Saga.


"Oya kak Saga, ayo kita latihan di halaman belakang. Katanya ingin menjajal ilmu aku!" seru Rani agar Sersan Saga tidak larut dalam kesedihan.


Sersan Saga menoleh ke arah Raditya yang seolah minta persetujuan. Raditya pun menganggukkan kepalanya, karena sebenarnya dia juga ingin tahu sejauh mana kemampuan ilmu Sersan Saga dan adiknya Rani.


Karena dia sendiri mengakui bahwa dirinya tak sehebat Sersan Saga dan Rani.


Kemudian mereka bertiga melangkahkan kaki menuju halaman belakang. Rani dan Sersan Saga bersiap-siap, setelah itu mereka saling memberi penghormatan dan pasang kuda-kuda.


Beberapa jurus telah di tunjukan,kadang Rani terdesak dan tak jarang Sersanharus mundur beberapa langkah. Akhirnya mereka bisa saling mengimbangi,dan hasilnya seri.


"Aku sebenarnya penasaran dengan lemparan kerikil kamu.Bisa melumpuhkan lawan dari jarak jauh. Seperti senapan, tapi ini tidak mematikan, semacam menotok jalan darah seseorang" kata SersanbSaga.


"Ilmu itu sejak kecil aku melatihnya. Butuh konsentrasi." balas Rani.


"Kapan-kapan Rani ajari, jangan sekarang. Mungkin kak Radit atau kak Saga bisa ajari bertarung pakai senjata? Soalnya belum begitu fasih dengan senjata baruku ini." kata Rani.


"Coba kamu tunjukan dulu sebisa kamu. Biar kami lihat, mana yang perlu diperbaiki" kata Raditya.


"Benar kata kakak kamu, Ran. Aku juga ingin tahu, sejauh mana kemampuan kamu dalam mengolah ilmu silat." kata Sersan Saga menyetujui perkataan Raditya.


Rani menganggukkan kepalanya dan kemudian Rani menunjukan beberapa jurus yang dia kuasai.


Ada seorang Bibi pembantu yang bekerja di rumah tuan Wibowo menghampiri Raditya.


"Mas Radit ada tamu, Tuan dan Nyonya sedang keluar." kata Bibi itu.


"Iya bi, suruh tunggu di ruang tamu. Saya akan menemuinya." kata Raditya.


Raditya pun menghampiri Sersan Saga.


"Sersan, saya ke dalam dulu. Ada tamu, karena Papa mama tidak ada dirumah." pamit Raditya.


Sersan Saga mengangguk dan memberi kode jempolnya. Karena dia masih harus memperhatikan Rani yang sedang berlatih.


Saat istirahat, Rani melihat tak ada sosok kakaknya diposisinya.


"Kak Radit mana kak?" tanya Rani pada Sersan Saga.


"Masuk ke rumah, kayanya ada tamu." jawab Sersan Saga.


"Oh...! Oiya, bagaimana gerakanku tadi kak Saga?" tanya Rani yang ingin mendapat saran atau kritikan.


"Coba pinjam tongkatnya." pinta Sersan Saga seraya menunjuk pada tongkat bambu yang dibawa oleh Rani


Gadis itu dengan senang hati menyerahkannya pada laki-laki yang ternyata kakak seperguruannya di perguruan Darma Putih.


"Tongkat bambu ini kelihatannya saja ringan, tapi ternyata berat juga ya! untuk ukuran bambu kurang lebih satu meter." Kata Sersan Saga pada saat menerima dan memperhatikan senjata itu yang kemudian kakak seperguruan Rani itu mengeluarkan beberapa jurusnya.


Rani memperhatikannya dengan seksama di setiap gerakannya.


"Stop...! cara pegang tongkatnya seperti ini ya!" seru Sersan Saga saat melihat gerakan Rani ada yang tidak sesuai.


Sersan Saga mengarahkan tongkat Rani, dan tak sengaja Sersan Saga posisinya memeluk Rani dari belakang dan tangannya memegang tangan Rani


"Anak ini,walaupun berkeringat ,tapi tetap wangi" batin Sersan Saga yang tak sadar akan kekagumannya pada Rani.


Jantung Rani dan Sersan Saga berdebar-debar tak menentu.


"Hm...hm...!"


Terdengar suara deheman seseorang yang tak lain adalah Raditya yang habis menemui tamunya.


"Rupanya ada yang mencari kesempatan nih!" seru Raditya sambil tangannya bersedekap yang berisi tegak dihadapan Rani dan Sersan Saga.


Sersan Saga langsung melepaskan pelukannya.


"Maaf, aku tidak sengaja aku hanya membenarkan posisi tangan Rani." kata Sersan Saga.


"Alaaah alasan!" teriak Raditya.


"Tak perduli kau Sersan atau kau kakak seperguruan Rani, yang jelas aku tak suka kau mesum pada adikku!" Bentak Raditya dengan tatapan tajam.


"Maafkan bila saya salah, tapi saya murni mengajari Rani. Tak ada maksud lainnya!" seru Sersan Saga yang membela diri.


"Lagi pula aku sudah menganggapnya adik, karena adikku juga seumuran Rani." lanjut Sersan Saga.


"Kak Radit, Rani bisa jaga diri kok! Sudah jangan diperpanjang lagi!" seru Rani agar tak ada perselisihan diantara dua laki-laki tampan itu.


"Baiklah kali ini aku maafkan." kata Raditya yang melunak.


"Tapi sekali lagi aku lihat hal sepeti tadi, siap-siap terima pukulanku!" lanjut ancam Raditya.


"Okey....!" jawab Sersan Saga yang menunjukkan ibu jari tangannya yang sebelah kanan.


"Okey, kamu menang karena kamu kakak Kandung Rani" batin Sersan Saga yang sedikit menggerutu.


"He...he...! Baru kali ini ada polisi yang tunduk sama pemilik Gym." gumam Rani sambil terkekeh.


"Rani...!" seru Raditya dan Sersan Saga yang menatap Rani dengan tajam.


Gadis itu hanya mengulas senyumnya yang manis.


"Hanya sebatas adik, Sersan Saga! Tapi kenapa aku sangat menyukaimu, Sersan?" batin Rani yang bergumam dengan pedih.


Kedua matanya berkaca-kaca saat melihat Sersan Saga. Rani tak kuasa menahan emosinya, Rani yang masih memegang tongkatnya berlari masuk rumah.


"Aku mau mandi, sudah gerah!" Pamit Rani sambil terus berlari.


Raditya dan Sersan Saga pun saling berpandangan. Mereka juga bergegas masuk ke dalam rumah.


"Sersan, kamu ada tugas apa tidak hari ini?" tanya Raditya saat mereka berjalan masuk kerumah.


"Hari ini aku libur, karena besok mengamankan rumah Walikota. Beliau akan mengadakan pesta ulang tahun putrinya." jawab Sersan Saga.


"Kalau begitu menginap lah disini. Aku mau pergi keluar kota, Nenek ibu dari Mama meninggal. Aku mau ajak Rani, tapi masih baru di sekolah. Jadi Rani aku tinggal sehari saja. Besok sore aku pulang, menghadiri undangan Walikota juga untuk mewakili Papa dan Mama," jelas Raditya.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...