
"Ah, mama! Rani kan belum dapat gaji dari kak Radit!" seru Rani seraya menatap wajah Raditya dengan mengerutkan kedua alisnya.
"Rani putriku! walaupun Mama tidak melahirkanmu, Mama ingin membagikan sedikit ilmu dan hadiah berupa kosmetik komplit untuk kamu dan anggaplah itu sebagai hadiah dari mama. Karena kamu anak Mama yang paling cantik." kata nyonya Lani sambil memeluk Rani, dan Rani terharu akan hal itu.
"Ya iyalah cantik, kalau ganteng kan julukanku! he...he...!" kata Raditya yang menggoda dengan senyum khasnya.
"Dasar kau ini...!" nyonya Lani yang gemas sambil menarik hidung Raditya.
"Auw...! Sakit ma!" keluh Raditya yang pura-pura.
Nyonya Lani mengulas senyumnya dan kemudian menarik Raditya dalam pelukannya bersama Rani.
"Anak mama yang ganteng dan cantik." seru nyonya Lani sambil mencium kening kedua anak angkatnya.
Rani memejamkan matanya dan merasakan kehangatan pelukan seorang Mama yang dia rindukan.
"Hangatnya ..." batin Rani.
"Besok Papa kamu pulang." kata nyonya Lani pada saat melepas pelukannya dan menatap ke arah Rani dan Raditya yang secara bergantian.
"Papa pulang Ma? wah, nggak jadi paling ganteng nih! pasti hati mama bercabang dua. Ha...ha...!" seru Radit yang sambil tertawa riang.
Mama Lani tak menjawab, tapi tersenyum dan mengusap secara kasar rambut anak gantengnya itu.
"Radit besok jam delapan jemput Papa kamu di bandara. Tapi bagaimana dengan Rani? arah bandara kan berlawanan dengan arah sekolah Rani?" tanya Mama Lani.
"Rani besok pakai sepeda kayuh Ma, Rani sudah hafal jalan dari rumah ke sekolah." kata Rani.
"Ok, besok kalian jangan ke Gym dulu. Papa mau ajak kita jalan-jalan." kata Mama Lani.
"Asyiiiikk...! kita berempat kan Ma?" tanya Raditya.
"Iya, ini untuk menyambut kedatangan anak perempuan Papa." jawab nyonya Lani sambil tersenyum pada Rani.
Mata Rani berkaca-kaca karenanya, dia sangat terharu dengan keluarga barunya.
"Beginikah rasanya disayang kedua orang tua, Mama dan Papa?" batin Rani.
Tahu anak perempuannya menangis, Mama Lani segera memeluk Rani kembali.
"Sudah jangan menangis lagi, ayo bantuin Mama beres-beres kosmetik ini. Setelah itu kalian bisa pergi tidur, pasti kalian sudah capek!" kata nyonya Lani secara pelan-pelan.
"Iya Ma." jawab Rani.
Mereka segera membereskan kosmetik dan sepatu highheels nyonya Lani, dan dalam waktu sebentar saja mereka telah selesai.
"Selamat malam, Ma!" ucap salam pamit Rani dan Raditya yang secara besamaan.
"Selamat malam juga putra dan putriku." balas Nyonya Rani yang melambaikan tangannya ketika Rani dan Raditya melangkahkan kaki meninggalkannya.
"Aku duluan! yang kalah besok belikan es krim untuk yang menang!" seru Rani sambil berlari ke arah tangga.
"Duluan saja! besok kan yang menraktir kan Papa! wekk....!" seru Raditya yang menggoda adiknya.
"Kalau begitu gajiku bulan ini dobelya!" pinta Rani yang sudah berada dilantai atas, demikian pula dengan Raditya yang nggak mau kalah.
"E..e.. curang nggak boleh diganti!" seru Raditya yang sedikit kesal.
"Biarin wek! yang tua ngalah!" seru Rani yang mengejek kakaknya.
"Awas kamu ya!" seru Raditya dengan geram.
Nyonya Lani yang melihat tingkah kedua putra dan putri angkatnya itu dari bawah pun tersenyum.
"Rumah ini menjadi ramai sejak ada Rani." batin nyonya Lani yang tetap mengulas senyumnya.
"Selamat malam kakakku yang guanteeeng. Semoga mimpi indah!" seru Rani.
"Selamat malam juga adikku yang super duper cuentiillll! Semoga bisa ketemu sama Sersan Saga dalam mimpi,ha...ha...ha...!" goda Raditya.
Tapi sebelum alas kaki mengenainya, Raditya telah masuk ke dalam kamarnya.
"Sersan Saga...oh Sersan Saga!" ejek Radit berulang-ulang dari dalam kamar
Rani mengambil alas kakinya yang tadi dia lemparkan pada kakanya dan menghentakkan kakinya bergantian. Kemudian mengetuk pintu kamar kakaknya.
"Tokk....tokkk....tokkk....!"
"Kak Radit hentikan!" seru Rani yang kini wajahnya memerah karena kesal dan malu.
Karena tak dapat respon dari balik kamar, dan dengan terpaksa Rani melangkahkan kaki menuju ke kamarnya.
Setelah membuka dan menutup pintu kamarnya, Rani mengunci pintu kamarnya lalu melangkahkan kakinya menuju ke tempat tidurnya. Kemudian gadis itu membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidurnya, gadis itu merasakan suasana kamarnya yang nyaman dan adem.
Perlahan-lahan kelopak mata Rani mengatup dan dia pergi ke alam mimpinya.
...***...
Matahari sudah menunjukkan bias indahnya dari ufuk timur. Lalu lalang orang yang mulai mengais rejeki Penjual susu perah, roti tawar, Bubur ayam, Soto dan lain-lainnya.
Sementara itu di kediaman keluarga Wibowo, Nyonya Lani, Raditya, dan Rani sudah menyelesaikan sarapannya. Rani bergegas berpamitan, karena dirinya akan berangkat sekolah dengan naik sepeda kayuh, jadinya dia harus lebih awal berangkat sekolahnya agar tak terlambat berangkat sekolah.
"Mama, kak Radit! Rani berangkat duluan ya. Rani kan naik sepeda kayuh, jadi harus lebih awal biar tidak terlambat." kata Rani sambil mencium punggung tangan kanan mama angkatnya.
"Iya sayang, hati-hati di jalan ya!" jawab nyonya Lani sambil mengusap dengan lembut, rambut putri angkatnya.
"Kak, Rani berangkat dulu ya!" pamit Rani pada Kakaknya,
"Hati-hati ya, Ran." pesan Raditya.
"Iya kak!" balas Rani seraya mengulas senyumnya.
Rani bergegas melangkahkan kakinya menuju ke garasi untuk mengambil sepeda kayuhnya. Dan setelah ketemu, gadis itu menuntun sepeda kayuhnya ke depan pintu garasi kemudian mengayuh sepeda kayuhnya keluar dari pintu gerbang rumah tuan Wibowo dan saat ini Rani sudah meninggalkan kediaman keluarga Wibowo
Setelah Rani hilang dari pandangan mata, Nyonya Lani dan Raditya kembali masuk ke dalam rumah.
"Jangan lupa ya jemput Papa kamu, Mama mau beres-beres rumah. Untuk menyambut Papa yang pulang nanti " pesan nyonya Lani sambil tersenyum.
"Siap bos!" balas Raditya dengan gaya seperti perwira. Yang berhasil membuat nyonya Lani yang tersenyum dan segera masuk ke dalam rumah.
Sementara itu di jalan raya, Rani terus mengayuh sepeda kayuh ya dengan kecepatan sedang si sepanjang jalan yang menuju ke arah sekolahnya.
Jalan ke sekolah biasa ditempuh dengan mobil bila tidak macet cuma 15 menit, sekarang menjadi satu jam ditempuh Rani dengan menggunakan sepeda kayuh.
Tiba-tiba Rani menghentikan perjalanannya, pada saat segerombolan laki-laki pakai jaket bergambar Serigala mengelilingi seorang pemuda yang memakai seragam sekolah sama dengan Rani dan menahan dua orang berjaket ular kobra.
"Dio dan pengawalnya?" batin Rani yang menatap ke arah gerombolan itu.
"Aku tolong apa tidak ya? ah., dia kan anak Baskoro? ngapain nolong? biarin aja deh, nanti akan bbjs go Jun jadi panjang urusannya" pikir Rani.
"Kan memang tujuanku mengadu domba mereka, biar Baskoro keluar" batin Rani. Dan dia pun terus mengayuh sepedanya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
.