
Bibi Dewi dan bibi Asisiten rumah tangga Keluarga Wibowo sibuk menghidangkan makanan dan minuman untuk mereka yang ada di ruang tamu.
Mereka melanjutkan perbincangan, seraya makan dan minum. Sementara itu Rani melangkahkan kaki menuju ke kamar mandi, untuk membersihkan dirinya serta mengganti pakaiannya.
Setelah membersihkan diri, Rani membantu bibi Dewi memilah-milah sayur di dapur. Sayuran di pilah-pilah sebagian untuk di jual di pasar dan sebagian di konsumsi sendiri.
"Rani ayo ikut kami jalan-jalan!'' ajak Arya yang melangkahkan kaki menghampiri Rani.
"Kemana?" tanya Rani yang menatap Arya dengan rasa penasarannya..
"Ikut saja, pasti kamu suka!" sahut Bima seraya mengulas senyumnya.
"Baiklah asal jangan mengerjaiku ya! Kalau sampai mengerjaiku, lihat saja aku tak akan mengampuni kalian!" seru Rani seraya mengulas senyumnya.
"Bibi Dewi, saya mau main dulu. Tolong nanti sampaikan pada mama dan semuanya ya." kata Rani yang berpamitan.
"Iya, kamu yang hati-hati ya! Sudah sore, lekas balik. Soalnya waktunya kita makan malam bersama!" seru Bibi Dewi yang merupakan istri dari Paman Sidiq.
"Bibi jangan khawatir, bukankah Rani tidak sendirian? Ada Arya dan juga Bima!" balas Rani.
Sementara itu Arya dan Bima menganggukkan kepala mereka secara bersamaan.
"Baiklah! Aku percaya sama kalian!" seru Bibi Dewi seraya menghela napasnya.
Setelah mendapat ijin dari Bibi Dewi, mereka bertiga melangkah kaki menuju ke arah perkebunan.
"Siapa yang sampai duluan dialah yang jadi pemenangnya!" seru Bima.
"Eh, tujuan kita kemana dulu!" seru Rani dalam langkah lari mereka.
"Tujuannya ke kebun mawar ya...!" seru Bima sambil berlari meninggalkan Rani dan Arya.
"Ayo Rani beberapa bulan di kota tidak mengurang kemampuanmu kan!" seru Arya yang mengajak Rani untuk berlari mengikuti Bima.
"Mau balapan nih ceritanya!" seru Rani yang sadar akan posisinya saat ini.
"Iya begitulah! He...he...he...!" seru Arya seraya terkekeh.
Mereka bertiga terus berlari ke arah perkebunan bunga mawar, saling susul menyusul.
Dari kejauhan sudah tercium semerbak wangi bunga mawar. Bulan ini musim panen bunga mawar.
"Wah musim panen bunga mawar. Hm... harumnya!" seru Rani ketika masuk ke kebun mawar menghentikan larinya dan tak henti-hentinya memandang dan mencium aroma bunga mawar.
"Kalau disini capek karena habis bekerja maupun latihan, akan hilang!" Seru Arya yang sedang menutup matanya sambil menghirup dalam-dalam wangi bunga mawar.
"Aduhh!" suara Rani sedang mengaduh.
Mendengar itu, Arya menoleh ke arah Rani dan bergegas menghampiri gadis itu.
"Kenapa Ran?" tanya Arya yang khawatir.
"Jariku kena duri mawar!" jawab Rani.
"Coba lihat!" seru Arya yang kemudian memegang tangan Rani yang terkena duri mawar itu.
Saat melihat jari Rani yang terkena duri mawar itu berdarah, Arya berniat menghisap darah dari jari Rani agar tidak keluar lagi.
Namun dengan cepat Rani menariknya.
"Eh kamu mau ngapain? maaf permisi!" seru Rani yang melangkahkan kaki menjauh dari Arya.
"Eh, aku cuma ingin mengobati luka kamu!" seru Arya jadi salah tingkah, pemuda itu menggaruk-garuk kepalannya yang sebenarnya tidak gatal.
Sementara itu Rani bergegas ke pinggir kebun bunga, dia seperti mencari sesuatu. Di temuinya pohon singkong dan diambilnya satu l3mbar lembar daun singkong itu yang masih muda.
Setelah daun singkong itu lembut, lalu Rani menempelkannya pada jarinya yang terluka karena terkena duri tadi. Rani segera berkumur guna menghilangkan rasa pahit daun singkong yang tadi di kunyahnya.
"Kalau cuma di tempel seperti itu, mana mungkin bisa berhenti darahnya? sini aku ikat dengan kain ini" kata Arya yang ternyata sebelumnya sudah merobek bajunya.
"Arya! kenapa repot-repot? kau, merobek bajumu!" seru Rani merasa tidak enak pada Arya.
"Nggak apa-apa, bajuku masih banyak kok. yang penting lukamu sembuh dulu. Apa lagi tadi kamu juga kena luka pada saat dalam perjalanan!" jawab Arya yang memperhatikan luka dilengan Rani.
"Oh, terima kasih ya Arya." kata Rani yang terus memandang Arya yang mengikat lukanya sambil melemparkan senyumnya.
"Dah selesai." kata Arya yang kemudian memandang Rani yang sedang tersenyum padanya dan Arya pun membalas senyumannya.
Ada getaran yang hebat yang dirasakan Arya manakala pemuda itu beradu pandang dengan Rani.
"Hai kalian! ayo ke tanah lapang!" seru Bima secara tiba-tiba mengganggu, Arya dan Rani yang sedang beradu pandang.
"Eh kemana tadi? tanah lapang? apa mau lihat matahari terbenam ya?" tanya Rani yang langsung berdiri dan berjalan mengikuti Bima.
"Iya, masak kamu lupa akan kebiasaan kita!" seru Arya yang kemudian melangkahkan kaki dan diikuti oleh Rani.
"Lupa sih enggak ya! Namanya juga tempat favorit!" seru Rani dan mereka kali ini berjalan secara beriringan.
Ke tanah lapang di sore hari, sewaktu masih di perguruan adalah agenda rutin yang di lakukan Rani dan murid-murid yang lain selain ke kebun mawar, pada saat mereka selesai latihan bela diri.
Sesampainya di tujuan mereka, ketiga anak muda itu melihat matahari yang tenggelam secara bersamaan.
Dan ternyata tidak mereka saja, ada beberapa murid Perguruan Darma mutih yang lainnya, mereka ikut melihat matahari yang beranjak ke peraduan.
"Wah, indahnya! lihat sinar jingga yang menerobos awan-awan itu!" seru Rani yang sangat senang sekali.
Ketika mereka sedang asyik memandang langit yang berlukiskan sinar jingga dari matahari yang akan ke peraduan, tiba-tiba Arya memecah keheningan itu.
"Rani..!" panggil Arya yang kemudian berjongkok didepan Rani dengan memegang setangkai mawar putih di tangannya.
"Eh, Arya! Kamu mau apa?" tanya Rani yang penasaran.
"Rani maukah kamu menjadi kekasihku? aku mencintaimu sejak dulu, hari ini aku beranikan diri menyatakannya padamu. Sekali lagi, bersediakah kami menjadi kekasihku?" ungkapan hati Arya.
"Arya kamu, kamu bisa di marahi kakek bila tahu kamu memetik mawar ini? ini mawar kesayangan kakek!" seru Rani yang khawatir jika nanti Arya akan kena hukuman dari kakeknya.
"Aku tidak perduli, yang aku inginkan jawaban darimu! terima aku apa tidak?" tanya Arya penuh harap Rani menerimanya.
"Tapi Arya...!" seru Rani yang menebarkan pandangannya, dan terlihat banyak yeman-temannya yang mendukung aksi Arya.
Bunga mawar putih memang terkenal mempunyai bentuk fisik yang cantik dan aroma yang memanjakan indra penciuman, sehingga kerap dijadikan simbol romantisme bagi pasangan atau orang-orang yang kita sayangi.
Aroma bunga mawar putih yang harum juga sering dijadikan bahan baku parfum atau minyak wangi yang sangat dicari dan disukai oleh banyak orang.
Akan tetapi, bunga mawar putih juga kerap dihubungkan dengan perlambang kehormatan terakhir untuk sosok terkasih yang sudah tiada.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...