
Beberapa menit kemudian, Rani selesai mandi dan mulai berhias seperlunya saja.
"Tokk....tokk....tokk....!"
Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.
"Siapa di luar?" tanya Rani yang penasaran.
"Non Rani, Ini bibi!" sahut suara seorang wanita dari luar pintu kamar.
"Ara apa bi?" tanya Rani yang penasaran.
"Non Rani ditunggu Nyonya dan yang lainnya diruang makan!" seru orang dibalik pintu yang tak lain adalah salah satu pembantu keluarga Wibowo.
"Iya, bi sebentar!" balas Rani yang juga berseru.
Rani bergegas menyelesaikan riasan tipisnya dan melangkahkan kaki menuju keluar dari kamarnya.
Secara perlahan-lahan dia melangkahkan kaki menuruni tangga dan pada akhirnya sampai di ruang makan.
Benar saja nyonya Lani sudah berada di ruang makan dan mereka sedang menunggu Rani dan yang lainnya.
"Selamat pagi, semuanya!" salam dan sapa dari Rani saat sampai di ruang makan.
"Selamat pagi juga, Ran!" balas nyonya Lani yang menoleh ke arah putri angkatnya itu.
"Mama sendirian?" tanya Rani yang menebarkan pandangannya dan tak mendapati kakak dan pamannya yang berada diruang makan itu.
"Iya, mereka belum datang!" balas nyonya Lani.
"Oiya! Bagaimana tidurnya malam tadi? nyenyak, Ran?" tanya Nyonya Lani yang menatap Rani saat gadis itu mengambil tempat duduknya.
"Nyenyak sekali Ma" kata Rani sembari mengulas senyumnya.
"Selamat pagi!" ucap salam salam Paman Sidiq dan Raditya yang bersamaan.
"Pagi juga!" Mama Lani dan Rani bersamaan juga seraya menatap Raditya dan mereka pun sarapan bersama.
Tak berapa lama mereka pun telah selesai sarapan dan Paman Sidiq berpamitan untuk pulang ke lereng gunung, sedangkan Rani dan Radit pamitan pada nyonya Lani untuk mendaftarkan Rani ke Sekolah favorit di kota mereka.
"Rani jaga diri baik-baik ya!" pesan Paman Sidiq.
"Iya paman. Salam buat kakek, bibi dan yang lainnya ya paman!" balas Rani sambil mencium punggung tangan kanan pamannya.
Kemudian dia melangkahkan kaki menuju ke kamarnya untuk mengambil berkas-berkas untuk syarat pendaftaran masuk sekolah.
"Radit jaga adikmu ya, kalau ada apa-apa hubungi paman." pesan Paman Sidiq pada Radit.
"Pasti paman, Radit janji akan menjaga Rani dengan baik." jawab Raditya sambil mencium punggung tangan kanan paman Sidiq.
Tak berapa lama, Rani datang dengan mengganti pakaiannya yang seeeer RT rtr ttfq sebelumnya
"Baguslah, paman percaya itu, selamat tinggal semuanya!' seru paman Sidiq yang berpamitan sambil melangkahkan kaki menuju ke samping mobilnya dan kemudian membuka pintu mobil itu, lalu dia masuk ke dalam mobilnya.
"Selamat jalan dan hati-hati dijalan paman!" balas Rani dan Raditya yang berseru seraya melambaikan tangan mereka.
Paman Sidiq melajukan mobilnya secara perlahan-lahan keluar dari rumah besar dan mewah itu, sementara Raditya dan Rani menuju ke Sepeda motor sport milik Raditya yang terparkir tak jauh dari teras depan rumah, dimana mereka berdiri.
Raditya memberikan helm warna merah pada Rani dan adik Radius itu menerimanya dan kemudian memakai helm tersebut.
Setelah seduanya memakai helm, mereka pun memulai perjalanan mereka menuju ke sekolah favorit dimana Rani akan bersekolah, dengan kecepatan sedang menyusuri jalan raya.
Setelah melewati beberapa kali persimpangan dan tikungan, akhirnya mereka telah sampai didepan pos penjagaan dimana sekolah favorit tujuan mereka
"Ran, kalau kamu bersekolah sebaiknya pakai kacamata!" usul Raditya sambil menuntun sepeda motornya, karena satpamb.
"Memangnya kenapa kak, kok pakai kacamata segala?" tanya Rani yang penasaran.
"Kakak ingin kamu jadi gadis culun waktu di sekolah. Karena menurut kabar yang aku dengar, dua anak Baskoro satu sekolah sama kamu.
Jadi kamu harus tahu yang mana orangnya, karena kak Radit tak tahu secara pastinya. Jadi apakah kamu mengerti dengan maksud kak Radit, Ran?" tanya Raditya.
"Mengerti kak! Jadi kak Raditya itu, Rani pura-pura jadi gadis culun yang biar takbdicurigai gitu?" jawab sekaligus tanya Rani.
Rani menganggukkan kepalanya seraya mengulas senyumnya, kemudian Rani pun segera mengepang rambutnya dan memakai kacamata yang diberikan Raditya.
Rani pun segera melihat dirinya di kaca spion sepeda motor.
"Kayak gadis kutu buku ha..ha...ha....!" seru Rani yang melihat keanehan dari wajahnya.
"Coba lihat, hm...lumayan juga" kata Radit yang melihat wajah adiknya sambil tersenyum.
Kemudian mereka melangkahkan kakinya memasuki bangunan yang besar yang ada didepannya.
Keduanya berjalan di lorong sekolah, menuju ke kantor guru sekolah favorit itu.
Tiba-tiba, pandangan Rani tertuju pada sesosok anak laki-laki yang tampan dan gagah. Dia dikawal dua orang dibelakangnya. Dan semua mata memandang laki-laki tersebut.
"Kak Radit, tunggu sebentar ya Kak!" seru Rani yang penasaran dengan pemuda itu, melangkahkan kaki meninggalkan kakaknya.
"Hei, mau kemana anak itu!" batin Radit yang berdiri menjauhi kerumunan.
Sementara itu Rani berbaur sama gadis-gadis yang ngefans sama anak laki-laki itu.
"Plakk....!"
Sebuah kerikil mengenai lengan anak laki-laki itu.
"Auw....!
Rintih anak laki-laki itu dan dua pengawalnya tersadar jika Tuan mudanya sedang diserang oleh seseorang.
Kemudian mereka berbagi tugas, satu orang menjaga Tuan mudanya dan satunya menerobos kerumunan para gadis-gadis yang sedang histeris melihat ketampanan majikan mereka.
"Hai siapa disana, kalau berani keluar....!" bentak salah satu pengawal itu dan secara otomatis membuat kerumunan gadis-gadis kocar-kacir.
Keadaan seperti itu dimanfaatkan oleh Rani untuk mengambil dompet salah satu pengawal pemuda itu.
"Dapat...!" seru dalam hati Rani dengan mengulas senyumnya, dia kemudian memasukkan dompet pengawal itu ke dalam tas dan segera Rani balik ke tempat Raditya, kakaknya yang masih berdiri di tempat semula.
"Apa yang kamu lakukan Ran?" tanya Raditya yang penasaran.
"He...he....! Hanya memberi salam kenal aja" jawab Rani sambil tersenyum.
Raditya menggelengkan kepala seraya membalas senyum Adiknya itu. Kemudian mereka melanjutkan langkahnya menuju ke kantor yang ditunjukkan salah seorang siswa sekolah tersebut.
Setelah bertemu kepala sekolah dan membayar administrasi di muka, Rani diperbolehkan masuk ke kelas satu di sekolah menengah tingkat atas favorit di kota itu.
"Hari ini Rani bisa langsung masuk ke kelas saya, dan saya yang jadi wali kelasnya." ucap seorang guru wanita yang berusia kurang lebih lima puluh tahun ke atas dan beliau memakai kacamata tebal dengan rambut disanggul.
"Kalau begitu saya titip adik saya ya Bu guru. Saya ada urusan lainnya." ucap pamit Raditya.
"Iya, ini sudah jadi tanggung jawab saya sebagai wali kelas Rani." ucap ibu wali kelas Rani itu yang bernama Mariana.
"Rani, kakak tinggal ya! Kalau kamu sudah pulang nanti segera hubungi kakak!" seru Raditya yang berpesan dan menatap pada adiknya.
"Iya kak, Rani nanti akan hubungi kak Radit!" balas Rani dan Raditya mengulas senyumnya, lalu melambaikan tangannya dan membalikkan badannya.
Pemuda itu melangkahkan kaki meninggalkan Rani yang bersama ibu Mariana.
...~¥~...
...Mohon dukungan dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
.