
Kemudian perbincangan bereka berlanjut pada hal-hal yang ringan saja.
"Kakak seperguruan, bolehkah adikmu ini mengajukan permintaan kepadamu?" tanya Nenek Lasmi dengan hati-hati dan menatap ke arah Kakek Darma.
"Ha....ha.....Ha....! sudah aku duga, kamu kesini pasti ada apa-apanya!" seru kakek Darma ya g dibarengi dengan tawanya..
"Tentu saja, rupanya kakak masih perhatian ya sama aku. He...he...he...!." kata Nenek Lasmi sambil terkekeh.
"Kamu 4² di di 11½ seperguruan ku satu-satunya, jadi katakan saja, apa maumu?" tanya Kakek Darma yang penasaran dengan apa yang akan di katakan adik seperguruannya itu.
Tanpa mereka sadari, Rani yang baru saja datang dari perkebunan mendengar percakapan dua orang tua itu.
"Lasmi ingin setelah Turnamen, kakak bantu Lasmi menjodohkan Yuki dan Saga. Bagaimana apakah kak Darma mau membantu Lasmi apa tidak?" tanya nenek Lasmi yang menatap ke arah Kakek Darma.
"Apa? Saga itu sudah punya hidup sendiri. Aku cuma mantan guru bukan orang tuanya." jelas kakek Darma yang menatap nenek Lasmi dengan tajam.
"Kalau begitu, menikahlah dengan Lasmi. Aku masih mencintaimu kak!" seru Nenek Lasmi yang sedikit mengancam.
"Kau ini memberiku pilihan yang sulit!" gerutu Kakek Darma yang geram.
"Kalau tidak seperti itu bukan Lasmi namanya! He....he...he....!" kata nenek Lasmi sambil terkekeh menirukan ucapan kakek Darma perihal Rani tadi.
Rani yang mendengar ucapan nenek Lasmi seolah tak percaya.
"Kemarin memberiku semangat untuk mempertahankan kak Saga, sekarang mau menjodohkan Yuki dengan kak Saga? Dan jika kakek tidak bisa menjodohkan Yuki dengan kak Saga, maka dia akan jadi nenekku? cihh...! tidak Sudi aku punya nenek seperti kamu dasar nenek genit!" gerutu Rani dalam hati.
Rani menjatuhkan mawar putih pemberian Arya. Kemudian dia berlari sekencang-kencangnya keluar halaman perguruan dan menembus gelapnya malam.
"Siapa itu....!" seru Kakek Darma ketika mendengar suara dari balik pintu. Dan saat dia melihatnya tak ada siapapun disana.
Kakek Darma terkejut saat melihat setangkai mawar putih tergeletak di lantai depan pintu rumah.
"Siapa yang berani memetik mawarku....!'' gerutu Kakek Darma dengan geram dan pandangannya tajam menebar ke sekitar halaman perguruannya.
Namun dia tak menangkap sesosok manusia yang mencurigakan.
Sementara itu di tempat latihan, murid-murid tidak sedang latihan. Semuanya sedang sibuk membicarakan kejadian tadi sore.
Perihal Arya yang mengungkapkan cintanya pada Rani.
"Kasihan ya Arya, patah hati dianya!" celetuk salah seorang murid perguruan Darma putih.
"Iya, benar-benar kasihan!"
"Aku kira kalau mereka benar-benar saling cinta! Secara keduanya sangat cocok dan mereka selalu berpasangan dalam setiap kesempatan!"
Kata-kata yang saling sahut menyahut diantara para murid perguruan Darma putih itu.
"Hei kalian coba lihat videonya! padahal view-nya bagus bangeet.. Romantis pakai banget! tapi sayang, di tolak. Ha...ha...ha...!" celetuk salah seorang lainnya yang melihat video kiriman dari Bima.
"Boleh saya lihat videonya?" tanya Sersan Saga pada murid-murid yang sedang bergunjing itu.
"Eh, tapi ini hal pribadi tuan!" jawab salah satu murid perguruan Darma putih yang bertubuh kurus itu.
"Perkenalkan lah aku Saga, kakak seperguruan kalian. Jadi tentunya aku boleh melihat video itu bukan?" jelas Sersan Saga.
"Oh, i...Ini silahkan tuan." jawab salah satu dari mereka yang kemudian menyerahkan ponsel tersebut kepada Sersan Saga, karena dia juga tahu kalau Sersan Saga memang kakak seperguruan mereka.
"Rani...! ternyata banyak yang menyukaimu. Padahal kamu itu tomboy dan sedikit culun...!" gumam Sersan Saga dalam hati.
"Ada yang tahu siapa yang menyebarkan video ini?" tanya Sersan Saga seraya menunjukkan ponsel itu.
"Bi...Bima tuan!" jawab salah satu murid yang sedikit gugup.
"Sekarang ada yang tahu di mana Rani, Bima dan Arya?" tanya Sersan Saga yang menatap para murid satu persatu..
"Rani tadi kembali ke rumah kalau Arya dan Bima masih berada di tanah lapang." jawab salah satu murid perguruan Darma putih yang tadi mengetahui kedatangan Rani dari kejauhan.
"Terima kasih atas informasinya! Saya permisi!" seru Sersan Saga yang setelah mendapat jawaban dan petunjuk itu, Sersan Saga segera kembali ke rumah kakek Darma.
Dan tanpa dia sadari, langkah kakinya dia melewati Yuda dan Nando yang ikut mencari keberadaan Rani.
Yuda dan Nando saling pandang dan mencari tahu dari murid-murid perihal Rani dari para murid perguruan Darma Putih, yang tadi memberi informasi pada Sersan Saga.
Para murid itu pun menceritakan apa yang telah terjadi, karena mereka tahu siapa Nando dan juga Yuda.
Dan mereka berdua saling pandang dan kemudian melangkahkan kaki menuju ke rumah kakek Darma.
Sementara itu Sersan Saga sudah sampai di halaman rumah, Sersan Saga melihat Gurunya sedang memegang setangkai mawar putih dengan muka memerah, dan nenek Lasmi di belakangnya.
Sersan saga jadi ingat kejadian sepuluh tahun yang lalu. Dimana Dia mendapat hukuman dari gurunya gara-gara memetik bunga mawar putih itu.
"Saga!' Apa kamu telah mengulangi kesalahanmu lagi?" tanya Kakek Darma pada saat melihat Sersan Saga yang berjalan menghampirinya.
"Bukan saya guru. Tapi Arya yang melakukannya." kata Sersan Saga sambil memperlihatkan video tersebut.
Kakek Darma melihat dan menyimak apa yang dia lihat di video ponsel sersan Saga.
"Oh Arya! Rupanya dia menyukai Rani!" gumam kakek Darma yang secara b pinten belum
"Masalahnya sekarang Rani dimana guru? menurut teman-temannya Rani berlari menuju rumah dengan membawa mawar putih ini Guru." kata Sersan Saga.
"Adik tua! Rani tidak ada di sekitar rumah!" seru Raditya yang keceplosan saat keluar dari dapur. Di ikuti oleh nyonya Lani dan yang lainnya.
"Radit....! siapa yang kamu maksud adik tua?" kata Kakek Darma yang penasaran.
Sersan Saga dan Raditya saling pandang, Raditya menghela napasnya panjang.
"Eh kakek. Panggilan antar teman kek, pada saat di kota. Bahasa gaul begitu kalau menyebutnya. He...he...he...!" jawab Raditya yang sekenanya saja.
"Paman Sidiq, Apakah paman bisa antarkan saya pergi ke tanah lapang?" tanya Sersan Saga yang menatap wajah Paman Sidiq.
"Oh, tentu sajar, mari saya antarkan. Tapi sebentar kita bawa lampu baterai." kata Paman Sidiq yang kembali masuk ke rumah mengambil dua buah lampu baterai dan menyerahkan salah satunya pada Sersan Saga.
"Terima kasih paman!" seru Sersan Saga dan kemudia dia dan Paman Sidiq segera berpamitan dan keduanya melangkahkan kaki menuju ke tanah lapang.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...