Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Kasus Pembunuhan Ill


"Dengan ruangan di balik tirai yang cukup luas untuk menyembunyikan seseorang." kata Rani.


"Ya, memang ada ceruk kecil di dinding. Tetapi, bagaimana kamu bisa tahu? kamu kan belum pernah mengunjungi tempat itu kan, Ran?" tanya Inspektur Alex yang penasaran.


"Belum, Inspektur. Saya memastikan adanya tirai itu berdasarkan pemikiran. Tanpa adanya tirai, drama itu tidak masuk akal. Orang kan harus berpikir secara logis. Apakah mereka tidak memanggil dokter?" tanya Rani.


"Segera, tentu saja. Akan tetapi tidak ada yang dapat dilakukan oleh dokter. Kematian Cronshaw pasti terjadi seketika itu juga." jawab Inspektur Alex.


"Ya, ya, saya tahu. Apakah dokter memberikan bukti-bukti pada waktu memeriksa mayat?" tanya Komisaris Saga yang menganggukkan kepala dengan tak sabar.


"Tentu." jawab Inspektur Alex.


"Tidakkah ia menyebutkan adanya gejala aneh - tidak adakah sesuatu yang tidak wajar pada jenazah yang menarik perhatiannya?" tanya Rani.


"Memang begitu Rani. Saya tidak mengerti apa maksud Anda, tetapi dokter memang mengatakan bahwa kaki dan tangan korban tegang dan kaku. Sesuatu yang tidak dapat ia jelaskan sebabnya." jawab Inspektur Alex menatap perempuan berbadan kecil itu dan kemudian memandang suami Rani yang juga sahabatnya.


"Aha!" seru Komisaris Saga yang mengagetkan sahabat dan istrinya.


"Inspektur Alex, keterangan ini memberi bahan pemikiran, iya kan?" tanya Komisaris Saga.


"Kalau komisaris berpikir tentang keracunan, siapa gerangan yang akan meracun seseorang lebih dulu lalu baru menikamnya? Tentu saja perbuatan demikian itu menggelikan!" seru Inspektur Alex


"Nah, ada yang ingin aku lihat, Inspektur! Aku ingin memeriksa ruangan tempat jasad korban ditemukan!" seru Komisaris Saga menggoyangkan tangannya dengan tenang komisaris Saga menyatakan persetujuannya.


"Aku sudah menceritakan satu-satunya hal yang menarik perhatian saya, pandangan Lord Cronshaw tentang pemakaian obat bius." kata Inspektur Alex.


"Jadi, tidak ada yang ingin Anda lihat?" tanya komisaris Saga yang penasaran.


"Cuma satu." jawab Inspektur Alex singkat.


"Apa itu?" tanya Rani dan komisaris Saga yang serempak.


"Perangkat patung keramik yang ditiru kostumnya." jawab Inspektur Alex yang membelalakkan kedua matanya.


"Ha...ha...! Kamu lucu. Kamu dapat mengusahakan supaya saya dapat melihat patung-patung itu?" tanya komisaris Saga yang penasaran.


"Ayolah, kita pergi ke Barkeley Square sekarang kalau Anda mau. Beltane atau Lord Beltane, begitu saya harus memanggilnya sekarang pasti tidak akan menolak.!" seru Inspektur Alex yang sudah yakin.


"Baiklah, kita pergi sekarang juga!" seru Rani yang sudah sangat penasaran.


Mereka segera berangkat dengan naik taksi online. Lord Cronshaw yang baru sedang keluar, tetapi atas permintaan Inspektur Alex, mereka diantar masuk ke 'ruang keramik', tempat koleksi berharga itu disimpan.


Mereka memandang sekelilingnya dengan sikap agak pasrah.


"Saya tidak tahu bagaimana kita akan akan mendapatkan bukti-bukti yang kita inginkan, kak Saga!" seru Rani.


Komisaris Saga menarik kursi ke depan papan di atas tungku perapian dan meloncat ke atas papan itu bagaikan seekor burung yang gesit. Di atas cermin yang diletakkan di atas rak khusus, berdirilah enam patung keramik.


Suami Rani itu memeriksa patung-patung itu dengan saksama.


"Ini dia! Harlequin dan Columbine. Pierrot dan Pierrette! cantik sekali dalam kostum hijau dan putih. Lalu Punchinello dan Pulcinella dalam pakaian warna kuning dan lembayung muda. Rumit sekali kostum Punchinello ini - kerut-kerut, jumbai-jumbai, punuk, topi tinggi. Seperti yang saya bayangkan. Sangat rumit!" seru Komisaris Saga yang dengan hati-hati mengembalikan patung-patung itu ke tempatnya, lalu melompat turun.


Inspektur Alex merasa tidak puas. Namun, karena komisaris Saga tidak ingin menjelaskan apa-apa, detektif itu berusaha sedapat mungkin menunjukkan wajah puas dengan apa yang telah terjadi.


Pada waktu kami bersiap-siap untuk meninggalkan ruangan, tuan rumah masuk. Inspektur Alex memperkenalkan para sahabatnya.


Viscount berumur kira-kira lima puluh tahun, tampan dan berpembawaan halus tetapi kelihatan agak nakal. Jelas ia nampak lebih tua karena penampilannya mengesankan keletihan.


Seketika itu juga Rani tidak menyukainya. Dengan cukup sopan dia menyapa Rani dan yang lainnya lalu menyatakan bahwa dia sudah mendengar banyak sekali cerita tentang kepiawaian komisaris Saga.


Dia juga mengatakan kesiapannya untuk melakukan apa saja guna membantu para polisi.


"Tetapi, saya sangat kuatir misteri kematian keponakan saya tidak akan pernah terungkap. Semuanya benar-benar misterius." kata Viscount yang mengernyitkan kedua alisnya.


"Keponakan Anda tidak mempunyai musuh sejauh yang Anda ketahui?" tanya komisaris Saga yang memandang Viscount dengan tajam.


"Sama sekali tidak. Saya yakin akan hal ini!" seru Viscount, Paman korban ini berhenti sejenak. kemudian melanjutkan,


"Kalau ada yang ingin kalian tanyakan?" sambung tanya Viscount.


"Ada, satu saja!" seru Komisaris Saga yang terdengar serius.


"Kostum-kostum itu ditiru persis dari patung Anda hingga detil terkecil." kata komisaris Saga.


"Hal itu memang benar komisaris." kata Viscount dengan menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih, tuan. Kepastian inilah yang ingin saya dapatkan. Selamat siang." kata Komisaris Saga yang kemudian mengajak Rani dan inspektur Alex untuk meninggalkan tempat itu.


"Lalu, bagaimana selanjutnya?" tanya tanya inspektur Alex yang sangat bingung, pada waktu kami bergegas menuju ke tempat parkir.


"Saya harus melapor ke pusat. Kamu mengerti Ran!" seru Komisaris Saga pa


"Baik! Rani tidak akan menahan kak Saga. Masih ada persoalan kecil yang harus saya urus." jawab Rani.


"Ya! Kasus ini akan beres." kata komisaris Saga.


"Apa? Komisaris main-main! Anda tahu siapa pembunuh Lord Cronshaw?" tanya Inspektur Alex yang penasaran.


"Memang benar!" jawab Komisaris Saga dengan berseru.


"Siapa orangnya? Apakah Beltane?" tanya Inspekur Alex yang penasaran.


"Ah, Sobatku Alex! kamu tahu kelemahan kecil aku. Selalu ingin menyimpan sendiri jalinan cerita hingga menit terakhir. He...he...!" kata Komisaris Saga yang terkekeh. Namun hal itu sungguh tak disukai oleh inspektur Alex.


"Jangan khawatir. Kalau waktunya tiba, akan kami akan beberkan semuanya. Saya dan kak Saga tidak menginginkan penghargaan apa pun ,perkara ini akan menjadi milik kamu, dengan syarat kalau kamu mengizinkan aku melakukan penyelesaian masalah itu menurut cara ku sendiri." kata Rani.


"Cukup adil," kata Inspektur Alex yang menanggapi,


"Mudah-mudahan penyelidikan kita berhasil. Saya akui, kita seperti para detektif saja, ya kan?" ucap Komisaris Saga dengan tersenyum.


"Ya,kalau begitu saya percayakan kasus ini pada kalian berdua!" seru Inspektur Alex yang menatap komisaris Saga dan Rani dengan penuh harap.


"Nah, selamat tinggal, saya berangkat ke pusat!." ucap pamit Komisaris Saga dan Rani mengikutinya.


"Iya, selamat jalan komisaris dan Rani!" balas Inspektur Alex yang kemudian melajukan kendaraannya dengan cepat menyusuri jalan raya.


Sementara itu Komisaris Saga dan juga Rani kembali ke kantor kepolisian.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...¹...


...Terima kasih...


...Bersambung...