Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Donovan


Tiba-tiba ia menyadari apa yang baru saja dilihat kawannya yang lebih cerdas ini.


"Masya Allah!" serunya.


"Pasti darah ini berasal dari flat tadi." Dia berhenti sambil memikirkan kemungkinan yang tersirat dalam katakatanya.


"Engkau yakin ini - eh - darah?" tanyanya.


"Bukan cat?" Donovan menggeleng.


"Darah. Betul," jawabnya gemetar.


Mereka saling memandang. Pemikiran yang sama jelas memenuhi otak mereka masingmasing. Jimmy-lah yang lebih dulu bersuara.


"Kukira," suaranya aneh.


"Menurutmu apakah kita harus - well - turun lagi - dan - hhmmm melihat-lihat" Melihat betulkah tidak ada apa-apa di sana, engkau mengerti?"


"Bagaimana gadis-gadis itu?"


"Jangan kita katakan apa-apa kepada mereka. Pat akan segera sibuk membuat telur dadar untuk kita. Dan waktu mereka bertanya-tanya di mana kita, kita sudah kembali."


"Oh, well, ayolah," Donovan menanggapi.


"Kita harus turun. Aku yakin tidak ada apa-apa di sana."


Tapi, nada suaranya kurang meyakinkan. Keduanya masuk ke dalam lift dan turun ke lantai di bawahnya. Tanpa banyak kesulitan mereka melintasi dapur dan sekali lagi menghidupkan lampu kamar duduk.


"Pasti di dalam sini," kata Donovan,


"tempat - tempat aku terkena darah. Di dapur aku tidak menyentuh apa-apa." Ia memandang sekelilingnya.


Jimmy melakukan hal yang sama. Dan mereka berdua mengerutkan dahi. Semua kelihatan rapi dan biasa, jauh dari kesan apa pun yang menyangkut kekejaman dan darah.


Tiba-tiba Jimmy menangkap lengan kawannya dengan keras.


"Lihat!"


Pandangan Donovan mengikuti jari yang menunjuk itu lalu berteriaklah ia. Dari bawah tirai menyembul sebuah kaki - kaki seorang wanita mengenakan sepatu kulit.


Jimmy menghampiri tirai dan menariknya cepat-cepat. Di ceruk jendela meringkuk tubuh seorang perempuan; di sampingnya terdapat genangan pekat berwarna gelap. Ia sudah meninggal, ini pasti.


Jimmy berusaha mengangkat jenazah itu ketika Donovan menghentikannya.


"Sebaiknya jangan. Ia tidak boleh disentuh sampai polisi datang."


"Polisi. Oh, tentu saja. Donovan, mengerikan sekali urusan ini. Siapa perempuan ini menurutmu" Nyonya Ernestine Grant?"


"Kelihatannya. Seandainya ada orang lain dalam flat ini, kok mereka tetap saja tenang."


"Apa yang akan kita perbuat?" Jimmy bertanya.


"Berlari ke luar dan memanggil polisi atau menelepon saja dari flat Pat?"


"Kukira lebih baik menelepon. Ayo, kita bisa keluar dari pintu depan. Kita lebih baik tidak naik-turun lift berbau busuk itu." Jimmy setuju.


Persis pada waktu mereka melewati pintu, ia ragu-ragu.


"Sebentar. Menurutmu, tidakkah salah satu dari kita harus tetap di sini - untuk mengawasi sampai polisi datang?"


"Betul, engkau benar. Kalau begitu engkau tinggal, aku akan segera ke atas dan menelepon polisi." Donovan berlari cepat menaiki tangga dan membunyikan bel. Pat membuka pintu, Pat yang begitu cantik dengan wajah memerah dan memakai celemek masak. Kedua matanya melebar karena terkejut.


"Engkau" Bagaimana - Donovan, apa ini" Ada persoalan?" Donovan menggenggam tangan Pat.


"Tidak apa-apa, Pat - hanya saja kami menemukan sesuatu yang tidak menyenangkan di flat bawah. Seorang perempuan - mati."


"Oh!" mulut Pat menganga sedikit. "Mengerikan sekali. Apakah ia mendapat serangan penyakit yang mendadak atau sebab lain?"


"Oh, Donovan!"


"Aku tahu. Biadab sekali!" Kedua tangan Pat masih ada dalam genggaman Donovan. Pat membiarkannya - bahkan kini dia bersandar pada laki-laki itu. Pat sayang - betapa Donovan mencintai gadis ini. Apakah gadis ini mempedulikan dirinya" Kadang-kadang Donovan berpikir Pat menaruh perhatian kepadanya. Kadang-kadang ia khawatir Jimmy Faulkener - ingatan akan Jimmy yang tengah menunggu di bawah membuatnya melakukan gerakan dengan rasa bersalah.


"Pat sayang, kita harus menelepon polisi."


"Monsieur benar," celetuk sebuah suara di belakangnya.


"Sementara itu, sementara kita menunggu polisi datang, mungkin saya bisa membantu sedikit." Pat dan Donovan sedang berdiri di pintu flat. Keduanya melirik ke seberang. Sesosok tubuh berdiri di tangga, sedikit di atas mereka. Bayangan itu turun, mendekati mereka. Mereka menatap seorang pria bertubuh kecil dengan kumis yang luar biasa lebat, kepala bulat telur. Ia memakai pakaian tidur yang berkilat-kilat, sandal bersulam. Dengan gagah dibungkukkannya badannya kepada Patricia.


"Mademoiselle," sapanya, "saya - mungkin Anda tahu - penghuni flat di atas. Saya senang berada di tempat yang tinggi - di angkasa - menikmati pemandangan kota London. Saya menyewa flat itu dengan nama O'Connor. Tapi, saya bukan orang Irlandia. Saya punya nama lain. Itulah sebabnya saya menawarkan diri untuk membantu Anda. Maaf."


Dengan satu lambaian ia mengeluarkan sebuah kartu serta memberikannya kepada Pat. Gadis itu membacanya.


" Komisaris Saga. Oh!" Pat menarik napas dengan kagum.


"Komisaris Saga! hebat itu" Dan Anda sungguh-sungguh bersedia menolong?"


"Itu keinginan saya, Mademoiselle. Saya hampir saja menawarkan bantuan saya sebelum ini." Pat kelihatan bingung.


"Saya mendengar kalian bingung bagaimana caranya masuk ke flat Anda. Dalam hal membuka kunci, saya sangat ahli. Sebenarnya, saya bisa membuka pintu Anda itu, tapi saya ragu-ragu untuk mengajukan diri. Anda pasti akan mencurigai saya." Pat tertawa.


"Nah, Monsieur," kata Komisaris Saga kepada Donovan.


"Masuklah, saya mohon, dan teleponlah polisi. Saya akan turun ke flat di bawah." Pat menuruni anak tangga bersama Komisaris Saga. Mereka menjumpai Jimmy tengah berjagajaga, kemudian Pat menjelaskan kehadiran Komisaris Saga. Kini giliran Jimmy menceritakan petualangannya bersama Donovan kepada Komisaris Saga. Detektif itu mendengarkan dengan penuh perhatian.


"Pintu tidak dipalang, begitu kata Anda" Anda masuk ke dapur, tapi lampunya mati." Sambil berbicara Komisaris Saga melangkah ke dapur. Jari-jarinya menekan tombol lampu.


"Tiens! Voil? ce qui est curieux!" serunya bersamaan dengan nyala lampu.


"Lampu ini berfungsi sekarang. Saya heran - " Ia meminta mereka diam dan mendengarkan baik-baik. Samar-samar sebuah suara memecah kesunyian - tidak salah lagi dengkur seseorang.


"Ah!" ujar Komisaris Saga.


"La chambre de domestique." Berjingkat-jingkat Komisaris Saga melintasi dapur menuju kamar sepen yang kecil, yang sebelah luarnya menuju pintu. Dibukanya pintu itu dan dinyalakannya lampu.


Ruang itu semacam kandang anjing yang didisain oleh pembangun flat untuk ditempati manusia. Seluruh lantai tertutup tempat tidur. Di atasnya seorang gadis berpipi merah jambu telentang dengan mulut terbuka lebar, mendengkur dengan tenangnya. Komisaris Saga mematikan lampu dan mundur.


"Ia masih tidur," jelasnya.


"Biarkan ia tidur sampai polisi datang." Komisaris Saga kembali ke ruang duduk. Donovan sudah ada di sana.


"Polisi akan segera kemari," katanya tanpa bernapas.


"Kita tidak boleh menyentuh apa-apa." Detektif itu mengangguk.


"Kita tidak menyentuh, hanya melihat. Itu saja." Ia masuk ke dalam ruangan. Mildred sudah turun bersama Donovan. Keempat muda-mudi itu berdiri di pintu dan mengawasi Komisaris Saga dengan penuh minat.


"Sir," kata Donovan,


"saya tidak mengerti. Saya tidak pernah mendekat jendela bagaimana tangan saya bisa kena darah?"


"Anak muda, jawabnya ada di depan Anda. Apa warna taplak meja itu. Merah, ya kan" Pasti Anda meletakkan tangan Anda di atas meja."


"Benar. Apakah itu - ?" Donovan berhenti. Komisaris Saga mengangguk. Ia tengah membungkuk di atas meja. Ditunjuknya bidang yang gelap di atas warna merah.


"Di sinilah kejahatan itu dilakukan," katanya serius.


"Kemudian jenazah dipindah." Komisaris Saga berdiri tegak, perlahan-lahan mengamati sekeliling ruangan tanpa memindahkan dan memegang apa-apa. Walaupun begitu, keempat orang ini merasa seakan-akan setiap benda di tempat yang agak pengap dan panas itu membuka rahasia kepada kedua mata Komisaris Saga yang tajam itu. Hercule Komisaris Saga mengangguk, seakan-akan puas. Sambil menghela napas dia berkata, "Saya tahu." "Anda tahu apa?" tanya Donovan ingin tahu. "Saya yakin Anda juga merasakannya. Ruangan ini kelewat penuh dengan perabotan." Dengan menyesal Donovan tersenyum.


"Saya memang menyerobot masuk tadi," ia mengakui.


"Memang rasanya serba lain dari ruangan Pat dan saya tidak menyadarinya."


"Tidak semua," potong Komisaris Sagaris Saga. Donovan melihatnya dengan pandangan minta penjelasan.