Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Sari, Siapakah dia?


"Baskoro? ketua geng Kobra?" tanya Sersan Saga yang mencoba mengingat dan menebaknya.


"Iya Sersan. Waktu itu Baskoro sedang mengantar istrinya ke Rumah sakit. Dan waktu itu ada kesepakatan dengan Paman Sidiq dan Kakek Darma." jelas Rani.


"Istri Baskoto adalah bibi ku. Beliau meninggal karena overdosis. Kami sekeluarga masih belum menerima kematian Bibi. Karena sepengetahuan kami, Bibi tidak sakit dan tidak mengkonsumsi obat-obat terlarang." jelas Sersan Saga.


"Kok aneh ya, kenapa bisa overdosis?" tanya Rani yang penasaran.


"Aneh memang, apa lagi selang seminggu kematian Bibi Dina, Baskoro menikah lagi." jawab Sersan Saga dengan geram.


"Menikah lagi? apakah istri barunya Baskoro punya anak namanya Sania?" tanya Rani.


"Kok kamu tahu?" tanya Sersan Saga yang menatap Rani.


"Sania pacar Kak Radit, Sersan" jawab Rani.


"Kok bisa kebetulan ya?" tanya Sersan Saga.


"Entahlah...sudah jalannya mungkin!" balas Rani seraya menghela napasnya.


"Sersan, apakah Sersan Saga sudah tidak marah pada Rani?" tanya Rani dengan hati-hati.


"Hm.....!" sersan Saga hanya menggumam.


"Rani takut kalau Sersan marah, kayak monster!" celoteh Rani yang membuat Sersan Saga gemas.


"Apa iya aku kayak monster?" tanya Sersan Saga yang kemudian mengulas senyumnya karena geli mendengar ucapan Rani.


"He...em" jawab Rani sambil mengangguk sambil tersenyum.


Melihat tingkah Rani seperti itu, membuat Sersan Saga gemes jadinya. Dia pun menarik hidung Rani.


"Dasar kau ya!" seru Sersan Saga.


"Aduh sakit Sersan!" balas seru Rani yang memegang hidungnya dan mengusapnya karena Rani merasakan sedikit kesakitan.


"Hm...! Yang berduaan, ayo makan dulu!" seru seseorang laki-laki yang habis turun dari tukang ojek dengan membawa bungkusan makanan.


"Nah yang ditunggu-tunggu, kenapa lama sekali Lex?" tanya Sersan Saga yang menatap laki-laki itu yang tak lain adalah rekan kerja Sersan Saga.


"Ah kayak nggak tahu aja, ini kan gado-gado yang baru viral itu, ya jadi antrinya polll...!" jawab Sersan Alex seraya menunjukkan kantong plastik yang berisi bungkusan makanan yang dibawanya itu.


"Iya, terima kasih ya Sersan Alex!" seru Sersan Saga yang menerima Katong plastik yang berisi bungkusan makanan itu.


Kemudian Sersan Saga membagikan makanan kepada Rani, sersan Alex dan dirinya.


"Ayo Ran, makan saja! Mumpung sersan Saga baru baik hati, mau mentraktir kita! He...he...he...!' celetuk Sersan Alex seraya terkekeh.


"Kau kira aku orang pelit, sersan Alex!" seru Sersan Saga yang tahu kalau rekannya itu sedang bercanda.


"He...he...he....! Kali saja!" balas Sersan Alex dengan candaan.


"Sudah, sekarang lekas dimakan!" seru Sersan Saga.


"Iya Sersan!" balas Rani dan Sersan Saga yang bersamaan.


Kemudian mereka bertiga makan siang menu gado-gado yang lagi viral di pos polisi. Dan dalam beberapa menit saja.


"Sersan Alex, kok tumben pakai jasa ojek." tanya Rani saat makanan mereka habis.


"Oh, tadi sekalian mengantar sepeda kamu" jawab Sersan Alex.


Rani pun menatap Sersan Saga, yang ditatap hanya tersenyum simpul.


"Dasar Nyebeliiiin!" gerutu Rani.


"Rani, ikut aku sebentar ya! Alex nanti habis ke tempat Sari, aku antar Rani. Kalau ada yang cari, suruh nunggu atau lain waktu saja." kata Sersan Saga pada Sersan Alex yang selesai membuang sampah makanan mereka.


"Baik Sersan!" jawab Sersan Alex.


"Sari? siapakah Sari? Apakah dia pacar Sersan Saga?" batin Rani yang sedikit sesak di dadanya.


"Ayo Ran!" ajak Sersan Saga dan Rani mengikutinya begitu saja.


"Kita akan kemana Sersan?" tanya Rani pada saat sepeda motor itu melaju. Namun Sersan Saga takbsegera menjawabnya.


"Sari? siapa Sari itu Sersan?" tanya Rani yang semakin penasaran.


"Nanti kamu juga tahu." jawab Sersan Saga dengan tetap menatap ke arah depan.


Sepeda motor itu terus menyusuri jalan raya dan sudah melewati beberapa persimpangan jalan lampu lalu lintas.


Tak berapa lama Sersan Saga menepikan sepeda motor ya dan kemudian menghentikan sepeda motornya itu.


Ternyata Sersan Saga membawa Rani ke pemakaman. Rani menebarkan pandanganya dan melihat di sekitar pemakaman banyak pedagang bunga tabur.


Setelah memarkirkan motornya, Sersan Saga dan Rani membeli sekeranjang bunga tabur, kemudian mereka berjalan masuk ke pemakaman.


Rani hanya diam, dan dalam hatinya terus bertanya-tanya karena penasaran, kenapa sersan Saga membawanya ke pemakaman.


Tibalah mereka di sebuah makam, yang batu nisannya bertuliskan nama Sari.


"Makam Sari berarti Sari sudah meninggal? Siapakah Sari ini?" pertanyaan demi pertanyaan dibenak Rani.


"Dek, Kakak bawa teman.dia mirip kamu. Dia juga sering dibulli teman-temannya, juga cengeng sepertimu. Gadis ini buat orang disekitarnya berubah-ubah, dia cantik sepertimu." kata Sersan Saga saat disamping makam Sari yang kelihatan sangat terawat itu.


"Sersan kenapa kamu ngomongin aku seperti itu?" batin Rani yang penasaran.


"Rani ini adikku, dia meninggal karena jadi korban bullian teman-temannya disekolah dulu.


Teman-teman Sari meninggalkan Sari sendirian dihutan, karena ketakutan Sari jatuh ke jurang. Waktu itu aku masih di Akademi kepolisian..." cerita Sersan Saga dengan suara parau tak bisa melanjutkan ceritanya.


Rani kemudian jongkok disamping Sersan Saga,dan mengusap punggung Sersan itu. Berharap bisa mengurangi kesedihan yang dirasakan Sersan Saga pada saat ini.


Mereka pun menabur bunga dan berdoa untuk Almarhumah Sari, adik Sersan Saga agar tenang disisi-Nya.


"Kita ke makam Bibi Dina ya, itu dekat pohon Kamboja sebelah sana. " kata Sersan Saga seraya menatap ke arah sebuah makam.


Rani pun melihat ke arah tersebut, dan alangkah terkejutnya dia, karena dia melihat sesosok pemuda yang sangat dia kenal.


"Tunggu Sersan, bukankah itu Dito?" tanya Rani.


"Oh iya, ayo kita sapa!" ajak Sersan Saga.


Namun Rani menggelengkan kepalanya tanda tak mau.


"Lebih baik jangan dulu Sersan, tadi di sekolah aku juga tidak sebangku dengannya. Bahkan tidak menyapa sama sekali. Rani masih terbawa perasaan kejadian kemarin Sersan." pinta Rani dengan suara lirih.


"Baiklah kita tunggu disini sebentar, mungkin sebentar lagi dia pulang." kata Sersan Saga yang menuruti keinginan Rani.


"Sersan Saga!" panggil Rani.


"Iya, ada apa?" jawab sekaligus tanya Sersan Saga.


"Rani mau tanya. Kayaknya Dito kembarannya Dio, tapi kok nggak sama ya?" tanya Rani yang menatap laki-laki yang ada dihadapannya itu.


"Kalau itu aku tidak tahu! yang aku tahu setelah kematian Bibi Dina, mereka mengasuh kedua anak itu secara pilih kasih. Dio dibelikan barang branded sedangkan Dito hanya pasar tradisional. Kalau makanan, Dio segala seafood dan daging sedangkan Dito masih mending tahu tempe, kadang cuma kecap sama garam." jelas Sersan Saga.


"Kok seperti itu ya? Padahal Dito juga darah dagingnya sama dengan Dio?" tanya Rani yang penasaran.


"Entahlah!" Sersan Saga menghela nafasnya.


"Dito sudah pergi, ayo ke makam bibi Dina." ajak Sersan Saga yang melihat Dito bangkit dari jongkoknya dan meninggalkan makan ibunya.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...