
"Sial...! susah juga aku mendengarkan pergerakan mereka karena helm ini." gerutu Rani dalam hati, namun tetap berusaha untuk selalu waspada.
Sekarang ini posisi Rani sedang dikepung anggota geng Kobra yang tersisa.
Karena mengetahui siapa lawannya, para anggota geng Kobra itu mengeluarkan penutup kepala yang membungkus kepala sampai leher mereka, dengan ada dua lubang buat mata mereka
"Kurang ajar! mereka sudah mengantisipasi serangan kerikilku rupanya!" gerutu Rani. Karena gadis itu tahu lemparan kerikilnya tidak akan bisa menembus kain penutup kepala mereka.
Hal itu di karenakan tenaga dalam yang di milikinya belum begitu tinggi.
"Oh! Baiklah kalau itu mau kalian!" seru Rani dan kemudian dia melempar kerikil-kerikil itu kearah jari tangan mereka.
"Takk...takk...takk...takk...!'
"Aaaarghh....!"
Para anggota geng Kobra yang memegang senjata, seketika itu juga melepaskan senjata mereka karena kesakitan.
Dengan cepat Rani menyerang mereka dengan tangan kosong. Beberapa jurus pukulan dan tendangan telah Rani keluarkan.
"Hopp hiaaat....!"
"Bagh ....bugh....bagh....bugh....!"
"Bagh ....bugh....bagh....bugh....!"
Rani kewalahan dan dia tersudut, dengan lengan sebelah kanannya terkena sabetan celurit oleh salah satu anggota geng Kobra.
"Auh, sial...!'' umpat Rani yang meringis kesakitan memegang lukanya.
"Raniii....!" teriak semua orang yang ada di dalam mobil.
"Nak Saga...!" panggil Mama Lani setelah membuka kaca mobilnya.
"Rani terluka...!" seru nyonya Wibowo yang sudah keluar mobil. Dan semuanya panik memikirkan Rani.
"Iya, sedang saya usahakan mencari bantuan!'' seru Sersan Saga.
Sersan Saga yang sebelumnya mengotak- atik benda pipihnya, yang menghubungi kantor polisi terdekat, pada saat ini sadar apa yang dikatakan oleh Tuan Wibowo dan Sersan Saga meihat ke arah perkelahian.
Dia lihat kekasihnya yang sedang memegang lukanya dan dalam keadaan dikepung kawanan geng Kobra.
"Rani...!" seru Sersan Saga yang kemudian memberikan ponselnya pada Tuan Wibowo.
"Om tolong hubungi Sersan Devan, Saya akan menolong Rani!" pinta Sersan Saga yang bergegas berlari dan menghajar kawanan geng itu.
"Kamu tak apa-apa?" tanya Sersan Saga saat sudah dekat dengan posisi Rani yang juga masih melawan kawanan Geng Kobra itu.
"Hanya luka kecil saja kok kak!" balas Rani sambil tersenyum, supaya kekasihnya itu tak terlalu mengkhawatirkan keadaannya.
Lawan dari geng Kobra yang semula diam melihat perkelahian itu, tiba-tiba kembali menyerang geng Kobra. Dan perkelahian kembali terjadi dengan segitnya.
Sersan Saga segera mengeluarkan sapu tangannya, lalu dia membalutkan sapu tangannya itu pada lengan Rani yang terluka dan masih mengeluarkan darah segar.
Selesai membalut luka kekasihnya, Sersan Saga melihat beberapa kawanan geng Kobra yang mendekati mereka.
"Aku angkat tubuhmu, lalu tendang mereka yang ada di arah dibelakangmu" bisik Sersan Saga pada Rani.
Gadis itu menganggukkan kepalanya sebagai tanda kalau dia mengerti.
Benar saja, Sersan Saga mengangkat tubuh Rani. Dan Rani dengan sekuat tenaga menggunakan tendangan terbaiknya menendang beberapa orang dari geng Kobra.
"Dugh....dugh...dughh....!"
"Aaaarghh....!"
Mereka berdua melakukan gerakan seperti menari tapi pukulan dan tendangan terarah pada lawan mereka.
"Bugh...bugh....!"
"Aaaarghh...!"
"Dugh....dugh...!"
"Aaaarghh...!"
Kamudian Sersan Saga menurunkan Rani dan keduanya menghampiri beberapa orang yang tadi menjadi lawan geng kobra.
"Boleh kami tahu, siapa kalian dan kenapa bisa bermusuhan dengan geng Kobra?" tanya Sersan Saga pada lawan geng Kobra saat melihat kawanan geng Kobra benar-benar sudah lumpuh.
"Kami dari geng Musang hitam. Akhir-akhir ini geng Kobra sering merekrut geng-geng kecil seperti kami. Kami nggak mau terikat pada geng manapun. Kami punya aturan sendiri. Jadi kami melawan mereka." jawab salah satu anggota geng Musang Hitam itu.
"Oh begitu ya." kata Sersan Saga yang menganggukkan kepalanya.
Selang berapa lama, anggota kepolisian datang.
"Maaf Sersan Saga, kami terlambat!" seru salah seorang polisi sambil mengangkat telapak tangannya ke dahinya, tanda hormat pada Sersan Saga.
"Urus mereka Sersan Devan!" seru Sersan Saga sambil menunjuk ke arah kawanan geng Kobra yang telah terkapar.
"Baik Sersan!" jawab polisi yang ternyata polisi yang berkali-kali di hubungi Sersan Saga tadi sebelum membantu Rani.
Setelah memberi hormat pada Sersan Saga, Sersan Devan menyuruh anggota tim nya memasukan kawanan geng Kobra ke truk yang sudah disiapkan.
"A...anda seorang polisi?" tanya anggota geng Musang hitam yang tadi diajak bicara oleh Sersan Saga yang sangat kaget.
"Iya saya Sersan Saga, anggota kepolisian dari kota. Yang saat ini sedang cuti, karena mau plang kampung." Jawab Sersan Saga sambil menyalami anggota geng Musang hitam tersebut.
"Saya Irawan, anak sulung ketua geng Musang hitam." balas anggota geng Musang hitam itu yang memperkenalkan diri.
"Bolehkah saya tahu, geng mana saja yang tak mau bergabung dengan geng Kobra?" tanya Sersan Saga yang menyelidik.
"Selain musang hitam yang saya tahu geng Srigala, Harimau putih, dan mata Elang." jawab Irawan.
"Baiklah saya minta nanti anda memberi informasi yang sebenarnya kepada teman saya, guna menyelesaikan kasus ini." kata Sersan Saga.
"Baik Sersan!" balas Irawan
Kemudian Sersan Saga berjalan mendekati Sersan Devan.
"Sersan Devan! kamu urus kasus ini. Minggu depan saya ada tugas ke kota sebrang, untuk kawanan geng Musang hitam adalah sebagai korban." kata Sersan Saga sambil menunjuk ke arah kawanan geng Musang hitam.
"Baik Sersan!" sahut Sersan Devan sambil menganggukkan kepalanya sebagai tanda kalau dia mengerti.
Kedua Sersan itu pun berjalan mendekati Rani dan kawanan Musang hitam.
"Sersan Devan, ini Irawan dari anggota geng Musang Hitam, dan saudara Irawan ini Sersan Devan yang akan menangani kasus ini." kata Sersan Saga yang memperkenalkan mereka satu persatu.
Sersan Devan dan Irawan saling berjabat tangan seraya memperkenalkan dirinya.
Setelah Sersan Saga memperkenalkan Irawan pada Sersan Devan, Sersan Saga dan Rani undur diri.
"Sersan Devan dan Saudara Irawan, ma'af saya harus mengundurkan diri untuk melanjutkan perjalanan kami!" seru Sersan Saga yang berpamitan.
"Iya Sersan, selamat jalan dan hati-hati.'' kata Sersan Devan seraya menyalami Sersan Saga dan juga Rani, demikian pula dengan Irawan.
Kemudian Sersan Saga menggandeng Rani melangkahkan kaki meninggalkan Sersan Devan dan Irawan.
Keadaan Rani yang pada saat ini lengannya terluka karena sabetan celurit anggota geng Kobra, mensejajarkan langkahnya dengan Sersan Saga.
Mereka berjalan menuju mobil mewah yang semua penumpangnya menanti mereka dengan rasa cemas.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...