Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Sarapan di Goa


"Kakek, walaupun kak Saga lebih tua dari kak Radit. Dia pengertian dan rela berkorban buat Rani. Dan satu lagi, dia tampan sekali." kata Rani dalam hati saat memandang dalam jarak dekat wajah kekasihnya itu tak henti-hentinya dia tersenyum.


"Huaaheeem...!" Rani menguap.


"Oh, ternyata aku juga butuh istirahat!" kata Rani setelah menguap karena rasa kantuknya.


Di kecupnya kening Sersan Saga. Dan kemudian dia merebahkan tubuhnya di samping kekasihnya itu.


Digenggamnya tangan sebelah kanan Sersan Saga dengan tangan kirinya. Dan kepalanya di sandarkannya di bahu kanan Sersan Saga.


Perlahan-lahan mata Rani pun terpejam. Dan mereka berdua tenggelam dalam mimpi masing-masing.


Sementara itu di perguruan..


"Rani menghilang lagi, sekarang ada dimana mereka? semoga waktu pertandingan nanti mereka sudah ketemu!" seru Paman Sidiq yang sangat khawatir.


"Kakek terlalu keras pada mereka. Mereka berdua selalu kompak melawan geng Kobra.


Makanya kami merestui mereka pacaran, agar Rani ada yang mendampingi saat melancarkan aksinya!" seru Raditya sedikit membela hubungan adiknya dengan Sersan Saga.


"Hm, apa betul begitu Wo?" tanya Kakek Darma pada tuan Wibowo.


"Benarvpaman Darma." jawab Tuan Wibowo seraya menganggukkan kepalanya


"Bagaimana ini pa, apakah Rani di tempat yang aman? Terus tidurnya bagaimana?" keluh nyonya Lani yang sangat mengkhawatirkan putri angkatnya.


"Papa juga tak tahu! Mana malam sudah larut, pastinya diluar sana semakin gelap gulita!" jawab Tuan Wibowo yang melihat kedua mata istrinya.


"Sudahlah, kalian semua cepat istirahat. Arya pesiapkan stamina kamu, dan Sidiq coba kamu cari dua murid yang mumpuni sebagai cadangan bila Rani dan Saga belum balik ke perguruan!" perintah kakek Darma yang menatap ke arah Arya.


"Dan besok pagi kamu Sidiq dan Raditya! Kalian cari Rani dan Saga sampai ketemu!" lanjut seru Kakek Saga yang menatap ke arah Raditya dan juga Paman Sidiq.


"Gara-gara ayah, semua jadi repot!" keluh paman Sidiq yang menghela napasnya.


"Apa kamu bilang!" hardik kakek Darma.


"Ayah tahu sendiri kan! mana ada murid yang ilmunya setinggi Arya. Dan hanya Rani lah yang mampu melawan musuh dalam jumlah banyak seperti tadi!" jelas Paman Sidiq.


"Sudahlah! kita pikirkan nanti saja, sekarang kalian istirahat saja dulu. Sudah hampir pagi, pekerjaan kita masih banyak!" perintah kakek Darma yang kemudian melangkahkan kaki menuju ke kamarnya.


Demikian pula dengan yang lainnya, mereka masuk ke kamar masing- masing dengan pikiran dan pertanyaan yang hampir sama, yaitu "Kemana Rani dan Saga pergi?"


Sementara itu di dalam kamarnya, Kakek Darma yang terus memikirkan cucunya tidak bisa memejamkan matanya.


"Rani, kamu sekarang ada di mana? sejak kamu menghilang tadi sore, kakek seperti melihat ke anehan dari dirimu. Tongkat panjang dan menghilang? ilmu dari mana itu?"


Pertanyaan demi pertanyaan terus mengganggu pikiran kakek Darma.


Karena kegelisahannya, Kakek Darma keluar dari kamarnya dan dia duduk di balai bambu depan rumahnya. Laki-laki yang berusia kurang lebih tujuh puluh tahun itu terus memikirkan Rani.


Pandangannya menerawang dan perlahan-lahan hembusan angin malam, mampu membuat kakek Darma tertidur di atas balai bambu di teras rumah.


Sementara itu gadis yang sedang di pikirkan banyak orang itu, masih terlelap di samping kekasihnya, hingga matahari muncul di ufuk timur yang sinarnya berkilau di antara embun pagi.


Sersan Saga sudah terbangun, dia mengingat-ingat apa yang terjadi. Setelah ingat apa yang telah terjadi, dia melihat Rani yang masih terbaring pulas di sampingnya, yang seperti menahan hawa dingin.


"Hm....! Kapan lagi momen seperti ini?" kata dalam hati Sersan Saga yang kemudian memiringkan tubuhnya, laki-laki itu perlahan-lahan memeluk gadis pujaannya itu.


Pada akhirnya Sersan Saga tertidur kembali dengan posisi memeluk Rani.


"Huaahaheeeem......!"


Si Kity terbangun dan menguap, .kemudian menggerakkan kaki-kakinya yang kaku karena tidur semalaman.


"Eiits...! adegan delapan belas tahun ke atas!" seru si Kity saat melihat majikannya pada saat ini sedang dipeluk oleh kekasihnya saat tidur.


Beberapa menit kemudian, Rani membuka kedua matanya dengan mengerjap-erjap secara perlahan-lahan dan mendapati tubuhnya yang saat ini dipeluk Sersan Saga.


Kemudian Rani berusaha melepaskan diri dari pelukan Sersan Saga, namun tak ada hasilnya. Rupanya Sersan Saga semakin mempererat pelukannya.


"Kak! Rani lapar, cari makanan yuk!" ajak Rani secara berbisik.


"Cium dulu!" pinta Sersan saga yang masih menutup matanya.


"Kebiasaan, kesempatan dalam kesempitan...!" gerutu Rani dengan cemberut.


"Aha...! Rani punya ide lepas dari pelukan kak Saga!" gumam Rani yang kemudian dia menggigit lengan sebelah kiri Sersan Saga.


"Auwh...kau..!" teriak Sersan Saga yang kemudian bangun dan terduduk disamping Rani.


Kesempatan itu digunakan oleh Rani untuk bangun dan berusaha berdiri untuk menjauh dari Sersan Saga, namun beberapa detik kemudian ditarik oleh Sersan Saga yang membuat Rani terduduk di pangkuan Sersan Saga.


"Kenapa kamu selalu membuatku gemas!" bisi Sersan Saga ditelinga Rani.


"Kak Saga kekasihku, Rani tidak mau kalau kakak setelah mencium Rani, kakak minta lebih. Kita kan belum menikah." kata Rani yang menatap berusaha menenangkan calon suaminya itu.


"Kamu benar, jika kamu sampai hamil bisa jadi kakak di keluarkan dari kepolisian." kata Sersan Saga yang kemudian melepaskan pelukannya.


Rani mengulas senyumnya dan dia mulai merasa lega,


 "Tak kan ada lagi ancaman dari kak Saga dengan ciumannya" pikirnya dalam hati.


"Kita cari makanan yuk!" ajak Rani untuk mengalihkan pembicaraan.


"Apa yang akan kita makan buat sarapan nanti Ran?" tanya Sersan Saga yang menebarkan pandangannya ke sekitar goa.


"Apa saja, yang terpenting bisa mengenyangkan perut kita." jawab Rani yang kemudian berdiri dan diikuti oleh Sersan Saga.


"Sebaiknya kita cari ikan di sekitar sini dulu, sepertinya cukup untuk sarapan kita berdua!" seru Sersan Saga.


"Hm, bolehlah!" balas Rani.


Kemudian dengan sedikit candaan mereka menangkap beberapa ikan dan setelah membersihkannya, mereka membakarnya untuk sarapan mereka.


"Aduh baunya bikin lapar!" seru si Kity yang sudah keluar dan berubah wujud menjadi seekor kucing berbulu putih nan lembut.


"Eh kamu lapar ya Kity? ini ada bagian untuk kamu!" seru Rani sambil menyodorkan ikan yang masih mentah.


"Aah aku maunya yang matang nona, kalau mentah hampir tiap hari makan. Makanan ku di sini kan cuma ikan mentah!" jawab si Kity.


"Dasar kamu ya!" celetuk Rani seraya mengulas senyumnya.


"Eh kamu ngomong sama siapa Ran?" tanya Sersan Saga bingung melihat tingkah Rani.


"Sama kucing!" jawab Rani yang menatap Sersan Saga dengan sedikit ragu-ragu.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...