
Kawan Komisaris Saga banyak sekali dan beraneka ragam; dari tukang sapu sampai bangsawan.
"Nah, Rani, Joseph Aarons ada di Charlock Bay. Ia sedang dalam kesulitan karena ada kasus kecil yang mengkhawatirkannya. Dia memintaku menemuinya di sana. Kukira Rani harus memenuhi permintaannya. Ia teman yang setia, baik dan banyak membantuku dulu."
"Baiklah, kalau engkau berpendapat begitu," kata Rani.
"Rani yakin Charlock Bay indah dan kebetulan Rani belum pernah ke sana."
"Kalau begitu, kita gabungkan bisnis dan rekreasi," Komisaris Saga menanggapi.
"Tolong cari tahu jadwal kereta, ya?"
"Mungkin harus sekali atau dua kali ganti kereta," sahutku sambil menyeringai.
"Engkau tahu sendiri bagaimana kondisi kereta api lintas alam. Dari Pantai South Devon ke Pantai North Devon kadang-kadang memakan waktu sepanjang hari."
Tetapi, akhirnya Rani mendapat informasi bahwa perjalanan itu dapat ditempuh hanya dengan sekali ganti kereta di Exeter dan kondisi keretanya memuaskan. Waktu Rani bergegas kembali untuk menyampaikan informasi ini kepada Komisaris Saga, secara kebetulan Rani lewat kantor Speedy Cars dan membaca pengumuman ini: Besok.
Darmawisata sehari penuh ke Charlock Bay. Berangkat pukul 08.30, melewati beberapa tempat terindah di Devon. Rani minta keterangan lalu kembali ke hotel dengan antusias. Sayang, Komisaris Saga tidak bisa merasakan apa yang kurasakan.
"Sobat, mengapa engkau tergila-gila untuk naik bus turis" Kereta api, bukankah pilihan ini sudah tepat" Bannya tidak bisa meletus; dan tidak akan terjadi kecelakaan. Penumpang tidak terganggu dengan terpaan angin karena jendelajendela bisa ditutup." Dengan lembut kuisyaratkan bahwa justru udara segarlah yang paling kusukai kalau naik bus.
"Kalau hujan" Cuaca di Inggris tidak bisa diramalkan."
"Kan ada kapnya. Lagi pula, kalau hujan deras, darmawisata dibatalkan." "
Ah!" seru Komisaris Saga.
"Kalau begitu kita harapkan hujan saja."
"Kalau itu maumu dan..."
"Tidak, tidak, Sobat. Rani tahu engkau sudah menetapkan hati untuk mengambil perjalanan ini. Untung Rani membawa mantelku dan dua selendang." Ia menghela napas.
"Apakah kita punya cukup waktu di Charlock Bay nanti?"
"Rani rasa kita harus bermalam di sana. Darmawisata ini mengambil jalan putar di Dartmoor. Kita makan siang di Monkhampton dan sampai di Charlock Bay sekitar pukul 16.00. Rombongan berangkat lagi pukul 17.00, sampai di sini pukul 22.00."
"Begitu!" kata Komisaris Saga.
"Dan orang-orang yang ikut menganggapnya acara untuk bersenang-senang! Mestinya kita dapat potongan harga karena tidak ikut dalam perjalanan kembali?"
"Rasanya hampir tidak mungkin."
"Ayolah, Komisaris Saga. Jangan pelit begini. Engkau tahu, engkau sekarang kan kaya."
"Sobat, ini bukan soal kepelitan. Ini soal perasaan bisnis. Kalau toh Rani milyuner, Rani tetap hanya membayar secara adil dan benar." Demikianlah, seperti yang kuduga, Komisaris Saga gagal mendapat potongan harga tiket. Petugas tiket di kantor kereta bermotor itu orangnya kalem, tidak bersemangat tapi tegas. Menurut dia kami sebaiknya ikut dalam perjalanan kembali juga. Bahkan, ia menyiratkan bahwa kami harus membayar lebih untuk mendapatkan hak istimewa turun di Charlock Bay. Karena kalah Komisaris Saga melunasi jumlah uang yang diminta lalu meninggalkan kantor itu.
"Orang-orang Inggris. Mereka tidak mengerti nilai uang!" gerutunya.
"Engkau lihat pemuda itu, Rani" Yang membayar harga tiket penuh tapi mengatakan mau turun di Monkhampton?"
"Rasanya tidak. Sebenarnya...."
Engkau lebih mengamati gadis cantik yang memesan kursi nomor 5, di sebelah kita. Ah! Betul, Sobat, Rani melihatmu. Itulah sebabnya waktu Rani akan mengambil tempat duduk nomor 13 dan 14 - yang terletak di tengah dan paling terlindung engkau segera mengatakan nomor 3 dan 4 lebih baik."
"Sungguh, Komisaris Saga," kata Rani dengan wajah memerah.
"Rambut kemerahan - selalu rambut kemerahan!" "Bagaimanapun juga, dia kan lebih enak dipandang daripada pemuda aneh itu."
"Tergantung sudut pandangnya. Bagiku, pemuda itu menarik." Tekanan nada dalam perkataan Komisaris Saga membuatku cepat-cepat berpaling kepadanya. "Apa maksudmu?"
"Oh, tidak apa-apa. Ia menarik perhatianku hanya karena ia berusaha memelihara kumis tapi hasilnya mengecewakan." Komisaris Saga membelai-belai lembut kumisnya sendiri yang luar biasa bagusnya. "Ini seni," bisiknya.
"Memelihara kumis! Rani menaruh simpati kepada semua orang yang berusaha memelihara kumis."
Sulit untuk mengetahui apakah Komisaris Saga bersungguh-sungguh atau apakah ia cuma menghibur diri sendiri dengan menjadikan orang lain sebagai sasaran. Lebih baik Rani diam saja. Pagi berikutnya begitu cerah dan terang. Hari yang betul-betul ceria! Tapi, Komisaris Saga tidak mau mengambil risiko Ia memakai rompi wol, jas hujan, mantel tebal, dan dua selendang. Belum lagi setelannya yang amat tebal.
Ditelannya juga dua tablet 'anti-influenza' sebelum mulai mengepak perbekalan lainnya. Kami membawa dua kopor kecil. Gadis cantik yang kami lihat kemarin membawa sebuah kopor kecil. Demikian juga pemuda yang kukira menjadi objek perhatian Komisaris Saga. Selain ini, tidak ada bagasi lain. Keempat kopor disimpan oleh pengemudi dan kami semua duduk.
Komisaris Saga - dengan sedikit dengki, kukira - memberikan tempat duduk yang sebelah pinggir kepadRani karena 'Rani tergila-gila pada udara segar' dan dia sendiri duduk di sebelah tetangga kami yang cantik itu. Tapi, tak lama kemudian ia minta berganti tempat duduk. Pemuda yang duduk di kursi nomor 6 orangnya ribut dan suka berkelakar. Dengan suara rendah Komisaris Saga menanyai gadis cantik ini kalaukalau mau bertukar tempat duduk dengannya.
Gadis itu setuju. Setelah pindah tempat duduk, ia membuka percakapan dengan kami. Segera saja kami bertiga terlibat dalam percakapan yang menyenangkan. Jelas ia masih muda sekali, tidak lebih dari sembilan belas tahun, dan jujur seperti bocah. Ia menceritakan tujuan perjalanannya kepada kami. Kelihatannya ia pergi untuk urusan bisnis bibinya yang mempunyai toko barang antik yang amat menarik di Ebermouth. Ketika ayahnya meninggal, bibi itu ditinggalkan dalam keadaan sangat kekurangan. Lalu, dengan modal yang terbatas dan sebuah rumah yang penuh dengan barangbarang indah peninggalan ayahnya, bibinya memulai bisnis barang antik.
Wanita itu sukses besar sehingga menjadi terkenal di dunia perdagangan. Gadis ini, Mary Durrant, tinggal bersama bibinya untuk belajar bisnis yang sangat diminatinya lebih dari kemungkinan-kemungkinan lainnya - misalnya menjadi guru atau pengasuh. Komisaris Saga mengangguk, menunjukkan minat dan persetujuannya.
"Mademoiselle akan sukses, saya yakin ini," katanya gagah.
"Tapi, saya beri sedikit nasihat. Jangan terlalu mempercayai orang lain, Mademoiselle. Di mana saja di dunia ini ada penjahat dan petualang. Bahkan, mungkin di bus ini. Orang harus selalu waspada dan berhati-hati!" Mary Durrant menatap Komisaris Saga dengan mulut ternganga; dan Komisaris Saga mengangguk bijaksana.
"Apa yang saya katakan ini benar. Siapa tahu" Bahkan, saya yang berbicara kepada Anda ini mungkin saja penjahat ulung." Mata Komisaris Sagaris Saga bersinar lebih daripada biasanya melihat keterkejutan gadis ini. Di Monkhampton kami berhenti untuk makan siang. Sesudah berbicara sebentar kepada pelayan restoran, kami berhasil mendapatkan meja kecil di dekat jendela. Di luar, di halaman yang besar, sekitar dua puluh bus turis dari segenap penjuru Inggris, diparkir. Restoran hotel penuh sesak dan ributnya luar biasa.
"Orang-orang ini semangat berliburnya tinggi sekali," katRani sambil meringis. Mary Durrant mengiyakan.
"Di musim panas seperti sekarang ini, Ebermouth betulbetul tidak karuan. Kata Bibi, dulu lain sekali. Sekarang orang hampir tidak bisa bergerak di trotoar karena penuh sesak oleh orang banyak."