Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Kemarahan Kakek Darma


Sedangkan Rani sudah berada di atas tempat tidur, dan gadis itu menutup seluruh tubuhnya dengan selimutnya yang lembut dan nyaman untuknya.


"Pendekar cengeng, apa tidak kasihan sama Kakek? kakek rindu sekali sama kamu? apa kamu juga nggak rindu sama Kakek?" bujuk Raditya


"Rani ngantuk mau istirahat!" seru Rani yang tak bergeming dari dalam selimutnya.


"Adikku sayang, kakek sudah merawatmu sejak kecil. Mana bakti kamu!" bujuk Raditya lagi.


"Ah, kakakku yang cerewet! Adikmu mau bobok dulu. Rani capek kak!" seru Rani yang kekeh pada pendiriannya.


"Dasar kepala batu!' bentak Raditya yang kemudian keluar dari kamar Rani.


"Bagaimana?" tanya Kakek Darma.


"Nihil kek!" jawab Raditya sambil mengangkat kedua bahunya.


"Rani itu keras kepalanya seperti kak Satya Yah!" sahut Paman Sidiq.


"Iya...!" jawab kakek Darma dengan sedikit kecewa


"Aghh! adik tua kamu pasti bisa bujuk Rani kesini, kamu mau kan bujuk Rani?" pinta Raditya sambil tersenyum yakin bila Sersan Saga bisa membujuk Rani.


"A....aku?" tanya Sersan Saga seraya jari telunjuk tangan sebelah kanannya menunjuk ke arah dadanya.


"Ya siapa lagi adik tua? kamu kan pa..." jawab Raditya yang belum selesai di potong oleh Sersan Saga.


"Okey akan saya coba!" seru Sersan Saga yang kemudian berdiri dan melangkahkan kaki ke kamar Rani.


Kakek Darma mengernyitkan kedua alisnya dan menatap langkah Sersan Saga yang menuju ke kamar Rani.


"Tok...tok..tok....!"


Sersan Saga mengetuk pintu kamar Rani, dan tidak ada respon dari pemilik kamar.


"Tok...tok...tokk...! orangnya sudah tidur apa belum ya?" seru Sersan Saga yang mencoba mengetuk lagi.


"Sudah tidur jangan ganggu!" sahut Rani yang tetap tidak bergeming dati posisi tidurnya.


"Buka saja adik tua! Pintu ya tidak dikunci!" seru Raditya.


Kemudian Sersan Saga membuka pintu kamar Rani, dan melihat kekasihnya itu yang sedang berbaring diatas tempat tidurnya.


Sersan Saga melangkahkan kaki masuk dan duduk di pinggir tempat tidur Rani. Dia membuka selimut yang menutupi kepala Rani.


Rani terkejut dibuatnya, ketika tahu Sersan Saga di sampingnya. Kemudian gadis itu memposisikan dirinya untuk duduk.


"Aah, mengapa kakak masuk sih? ini kamarku, privasiku!" seru Rani yang dengan wajah cemberut.


"Temui kakek, atau aku menghukum kamu!" ancam Sersan Saga sambil menatap dalam-dalam mata kekasihnya.


"Kakak mau hukum Rani apa? Tadi aku sudah dihukum sama kakek, sekarang kak Saga mau ikut-ikutan menghukum Rani?" tanya Rani yang mengernyitkan kedua alisnya.


"Dalam hitungan ketiga, kalau kamu tidak segera temui kakek, aku akan mencium kamu!" bisik Sersan Saga yang tentu saja membuat Rani membelalakkan kedua matanya lebar-lebar.


"Hah...!"


"Satu....!" aba-aba dari Sersan Saga.


"I...iya kak!" seru Rani yang begitu tahu maksud dari Sersan Saga, dia segera turun dari tempat tidurnya.


"Dua ...!" seru Sersan Saga.


"I...iya Rani keluar..!" seru Rani yang ketakutan, karena Rani tahu bila Sersan Saga bilang seperti itu, pastinya dia akan mencium Rani.


Rani pun bergegas keluar kamar dan menuju ke arah kakeknya dan langsung memeluk kakek yang telah merawatnya sejak kecil itu. Sementara Sersan Saga melangkahkan kakinya dibelakang Rani dan menghampiri Raditya.


"Kamu memang jagonya adik tua, pakai jurus apa tadi?" bisik Raditya saat Sersan Saga mendekatinya.


"Jurus cinta kakak muda! He....he....he....!" balas Sersan Saga yang juga berbisik sambil tersenyum.


"Ceritakanlah kenapa kamu tadi menghilang?' tanya Kakek Darma. Yang sekarang posisi duduk Rani di sebelah kakek Darma, Paman Sidiq disamping Raditya.


"Kakek, setelah Rani tadi sore pulang dari perkebunan, Rani mendengar nenek Lasmi meminta kakek untuk membantu menjodohkan Yuki dengan kak Saga. Dan jika tak mau, kakek menikah sama nenek Lasmi. Rani tidak mau dua-duanya kakek!" cerita Rani seraya menggelengkan kepalanya.


"Apa-apaan kamu ini? kalau kakek menikah sama nenek Lasmi kamu nggak setuju, kakek maklumi. Sedangkan untuk menjodohkan Yuki dan Saga kan bukan urusanmu Rani? " tanya Kakek Darma.


"I...itu kare....na..." jawab Rani gugup, dan belum sempat selesai menjawab, Sersan Saga menimpali.


"Itu karena Saga sudah punya calon istri pilihan Saga guru!" sahut Sersan saga yang tak ingin Rani kesulitan menjawabnya.


"Ho...ho...ho....! siapakah gadis yang beruntung itu?" tanya Kakek Darma dan Paman Sidiq dan Arya ikut menyimak, sedangkan Raditya sibuk dengan makan camilan di atas meja dengan santainya. Karena Raditya sudah tahu pasti jawabannya.


"Guru saya masih harus bertugas di kota Sebrang selama tiga tahun. Dan juga saya menunggu dia lulus sekolah sebagai syarat menjadi istri polisi...." jawab Sersan saga hati-hati.


"Calon istrimu masih sekolah? boleh tahu siapa gadis itu?" tanya Paman Sidiq yang penasaran demikian pula dengan kakek Darma.


"Cu...cu Guru. Rani guru.!" jawab Sersan Saga yang sedikit gugup.


"Apaaaa....!" seru Kakek Darma, Paman Sidiq dan Arya yang bersamaan, dan membuat semua orang di ruang tamu itu terkejut seketika itu juga.


"Bocah tengil kemarilah! Coba kamu katakan sekali lagi, aku belum dengar!" seru kakek Darma yang kemudian berdiri.


Sersan Saga pun berdiri dan berjalan menghampiri gurunya.


"Coba katakan sekali lagi!" seru kakek Darma dengan lantang.


"Murid mencintai Cucu guru, dan kami berjanji akan menikah tiga tahun ke depan!" jawab Sersan Saga dengan tegas.


"Plakk...!"


Tamparan keras dilayangkan kakek Darma ke pipi kanan Sersan Saga. Darah segar mengalir di sudut bibir Sersan Saga.


"Kakeeeekk...!"


Sontak saja semua terkejut, terlebih Rani yang langsung berdiri dari posisinya duduk.


Raditya pun menghentikan makannya. Arya dan paman Sidiq berdiri berjaga-jaga.


Tuan Wibowo dan Istrinya yang semula sudah tidur di kamarnya, tiba-tiba terbangun dan keluar dari kamar.


"Rani masih sekolah tak kan ku ijinkan pacaran apalagi menikah..! seru kakek Darma dan


"Plaaakk...!!"


Kembali tamparan mendarat kali ini di pipi kiri sang Sersan yang membuat dia terhuyun mundur dua langkah. Kali ini darah segar menetes di hidung Sersan itu.


"Kakek jangan...! kakek...!" jerit Rani yang memeluk kakeknya yang menatap tajam ke arah Sersan saga. Air mata gadis itu menetes di pipinya dan meracau untuk menghentikan kemarahan kakeknya.


"Minggir akan aku buat perhitungan dengannya!" seru Kakek Darma dengan wajah yang memerah.


"Kak Radit, Paman Sidiq bantu Rani!" rengek Rani yang terus memeluk tangan kakeknya.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...


.