
"Apakah dia yang mengajar anak-anak memanjat tanaman menjalar itu?"
"Mungkin saja. Cukup sering Roger mendorong anak-anak berbuat usil."
"Madame, maafkan perkataan saya tadi. Ternyata ada bahaya dan saya yakin saya dapat membantu. Saya minta Anda mengundang kami berdua tinggal bersama Anda. Keberatankah suami Anda?"
"Oh, tidak. Tapi dia yakin usaha ini akan sia-sia. Sikapnya yang cuma dudukduduk dan mengharapkan Ronald mati membuat saya marah sekali."
"Tenanglah, Madame. Mari kita atur rencana kita secara metodik."
***
Rencana kami susun sebagaimana mestinya. Keesokan harinya kami terbang ke utara. komisaris Saga tenggelam dalam lamunan. Dia tersentak dari lamunannya lalu berkata cepat-cepat,
"Bukankah Vincent Lemesurier jatuh dari kereta api seperti ini?" Ditekankannya ucapan kata "jatuh".
"Engkau tidak curiga ada permainan kotor, kan?"
"Pernahkah engkau berpikir, Hastings, kematian beberapa anggota keluarga Lemesurier itu diatur" Misalnya, kematian Vincent. Lalu anak laki-laki di Eton itu - kecelakaan akibat senapan selalu membingungkan. Andaikan Ronald jatuh dari jendela kamar anak-anak dan terempas sampai mati - kan tidak mencurigakan" Mengapa cuma seorang anak saja, Hastings" Siapa yang mendapat keuntungan dari kematian anak pertama" Adiknya anak ketujuh! Tidak masuk akal!"
"Mereka bermaksud melenyapkan yang lain setelah itu," Rani mengemukakan gagasan, walaupun hanya secara samar-samar menyebut siapa "mereka" itu. komisaris Saga menggeleng, seakan-akan tidak puas.
"Keracunan zat lemas," gumamnya.
"Atropine menimbulkan gejala yang sama. Betul, kehadiran kita diperlukan." Nyonya Lemesurier menyambut kami dengan antusias. Dibawanya kami ke ruang kerja suaminya dan ditinggalkannya kami di sana. Hugo banyak berubah dibandingkan terakhir kali Rani melihatnya. Sekarang bahunya jauh lebih bungkuk dan wajahnya pucat secara aneh. Ia mendengarkan saja ketika komisaris Saga menjelaskan maksud kedatangan kami ke rumahnya.
"Persis seperti pemikiran Sadie yang praktis!" akhirnya ia bersuara.
"Tapi, tentu saja, M. komisaris Saga - terima kasih atas kehadiran kalian; tapi - yang sudah tertulis tidak dapat dihapus. Jalan orang berdosa itu berat. Kami, keluarga Lemesurier tahu - tak seorang pun dari kami dapat menyelamatkan diri dari kutukan itu." komisaris Saga menyebut tanaman menjalar yang digergaji, namun Hugo nampaknya tidak terlalu terkesan. "Jelas kecerobohan tukang kebun - memang, memang, itu bisa menjadi sarana, tapi tujuannya jelas. Saya beritahu Anda, M. komisaris Saga, waktunya tidak dapat ditunda lama-lama." komisaris Saga memandangnya dengan penuh perhatian.
"Mengapa Anda berkata begitu?" "Karena saya sendiri terkutuk. Tahun lalu saya ke dokter. Penyakit yang saya idap tidak dapat diobati - akhir hidup saya tidak lama lagi. Tapi, sebelum saya meninggal, Ronald akan diambil lebih dulu. Gerald yang akan mendapatkan warisan." "Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya?"
"Tidak akan terjadi apa pun pada Gerald. Dia tidak kena kutukan." "Umpama itu terjadi?" komisaris Saga bersikeras.
"Sepupu saya, Roger, adalah ahli waris berikutnya.
" Pembicaraan kami disela. Seorang laki-laki dengan postur tubuh yang bagus serta rambut ikal berwarna merah masuk membawa berkas-berkas.
"Biarkan saja dulu berkas-berkas itu, Gardiner," kata Hugo Lemesurier. Lalu ia menambahkan,
"Ya, ya, Hastings, engkau benar. Rani tidak menyukainya. Orangnya terlalu tampan. Dia lebih cocok untuk pekerjaan ringan yang dibayar mahal. Ah, itu dia anakanak." Nyonya Lemesurier menghampiri kami, kedua anaknya berada di sampingnya. Anakanak itu tampan, yang kecil berkulit gelap seperti ibunya, sedangkan kakaknya berambut ikal kemerah-merahan. Mereka berjabat tangan dengan kami dengan sikap yang cukup mengesankan. Segera saja mereka menunjukkan rasa sayang yang tulus kepada komisaris Saga. Kemudian kami diperkenalkan kepada Nona Saunders, seorang wanita yang biasa-biasa saja.
***
Beberapa hari kami melewati saat-saat yang menyenangkan, tanpa kesulitan - tetap waspada, namun tanpa hasil. Anak-anak itu menjalani kehidupan normal yang bahagia dan kelihatannya semua beres. Pada hari keempat kehadiran kami, Mayor Roger Lemesurier datang untuk menginap. Dia tidak banyak berubah, masih riang gembira dan sopan seperti dulu dan menganggap enteng semua masalah. Jelas sekali dia amat disukai oleh kedua bocah itu. Keduanya menyambut kedatangannya dengan seruan kegembiraan dan segera menyeretnya ke kebun untuk bermain Indian liar. Kulihat komisaris Saga mengikuti mereka dengan diam-diam!
***
Hari berikutnya kami semua diundang minum teh oleh Lady Claygate, tetangga sebelah keluarga Lemesurier. Nyonya rumah menyarankan agar kami datang juga, tapi ia kelihatan sedikit lega ketika komisaris Saga menolak dan mengatakan lebih suka tinggal di rumah. Begitu mereka berangkat, komisaris Saga bekerja.
Gerak-geriknya mengingatkanku pada anjing terier yang cerdas. Rani percaya tidak ada sudut rumah itu yang luput dari penyelidikannya. Walaupun begitu, semua ini dilRanikannya secara diam-diam dan metodik sehingga gerak-geriknya sama sekali tidak menarik perhatian. Akhirnya, komisaris Saga tetap tidak puas. Kemudian kami minum teh bersama Nona Saunders, yang juga tidak ikut ke jamuan minum teh.
"Anak-anak pasti menikmati jamuan minum teh itu," katanya lirih.
"Saya harap mereka bersikap manis dan tidak merusakkan tempat persemaian bunga atau bermainmain di dekat lebah - " komisaris Saga berhenti mereguk minumannya. Wajahnya seperti orang melihat hantu. "Lebah?" tanyanya dalam suara yang menggeledek
. "Betul, M. komisaris Saga. Lebah. Tiga sarangnya. Lady Claygate bangga sekali dengan lebah-lebahnya - "
"Lebah?" seru komisaris Saga lagi. Kemudian ia meninggalkan meja dan mondar-mandir di teras sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.
Rani tidak dapat menebak mengapa laki-laki bertubuh kecil ini begitu gelisah hanya karena mendengar kata "lebah". Waktu itulah kami mendengar suara mobil. komisaris Saga berdiri di pintu masuk ketika rombongan itu turun.
"Ronald disengat lebah!" teriak Gerald penuh semangat.
"Tidak apa-apa," kata Nyonya Lemesurier.
"Lukanya juga belum membengkak. Kami bubuhkan amonia di lukanya." "Boleh saya melihatnya, sayang?" pinta komisaris Saga.
"Mana yang luka?"
"Di sini, di leher bagian samping," Ronald menjawab dengan gaya orang penting.
"Tapi, sengatan itu tidak melukai. Ayah mengatakan, 'Jangan bergerak - ada lebah di badanmu.' Saya tidak bergerak dan Ayah mengambilnya. Binatang itu sudah menyengat saya dulu, walaupun tidak melukai. Cuma seperti ditusuk peniti. Saya juga tidak menangis karena sudah besar. Lagi pula, tahun depan saya masuk sekolah." komisaris Saga memeriksa leher Ronald, dan berlalu.
Digamitnya lenganku, lalu ia berbisik. "Malam nanti, Sobat. Malam nanti akan ada peristiwa kecil! Jangan katakan ini kepada siapa pun." komisaris Saga tidak mau berbicara lebih jauh. Kulewati petang itu dengan penuh rasa ingin tahu.