
"Eh, nggak kena!" seru Raditya seraya menangkap bantal sofa itu.
"Awas ya!" seru Rani yang"Awas ya!" seru Rani geram.
"Sudah ah! Kakak mau mandi dulu, setelah itu kita pulang." kata Raditya yang melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.
Sementara itu Rani melihat-lihat foto yang ada di meja kerja dan juga di dinding ruangan itu.
"Kak Radit diapit Papa Wibowo dan Mama Lani, Kak Radit sama gadis cantik pasti Kak Sania, eh...ada pigura kecil? a..aku waktu umur lima tahun sama ibu dan ayah....!" gumam Rani yang kini air mata Rani jatuh ke pipinya.
"Ayah, Ibu...Rani kangeeeeen!" Isak Rani yang air matanya seolah tak mau berhenti.
Rani mengambil tissu untuk menyeka air matanya, dan berharap kalau air matanya bisa berhenti. Namun kenyataannya malah semakin deras air matanya itu.
Radit yang sudah selesai mandi dan berganti pakaian segera keluar kamar dengan membawa dua jaket.
Dia melihat adiknya Rani menangis sambil memeluk pigura foto, Radit tahu itu foto Ayah, ibu dan Rani waktu umur lima tahun.bRadit pun memeluk adiknya, karena perasaannya juga demikian sama halnya dengan Rani.
"Kangen ayah dan ibu ya? Kak Radit juga kangen sama Ayah dan Ibu. Semoga Ayah dan Ibu diterima disisi-Nya disana." kata Radit yang masih memeluk dan kemudian mencium kening adiknya.
"Aamiin" jawab Rani yang kembali menyeka air matanya.
"Kakak punya dua jaket baru, buat kamu satu ya.Yang ini cocok buat kamu, penunjang penyamaran kamu. He....he....he...!" kata Raditya sambil menunjukan jaketnya pada Rani.
"Ini jaket luar dalam bisa, tak suka warna merah bisa dibalik bagian dalamnya ada warna biru." kata Radit sambil tersenyum.
"Apaan sih jaket luar dalam bisa?" celetuk Rani saat menerima jaket itu.
"Ah, cuma istilah saja! Cobalah!" balas Raditya.
"Iya, iya! Makasih ya kakakku yang gantengnya sedunia....!" seru Rani yang mulai bisa tersenyum setelah tadi terus meneteskan air matanya.
"Sama-sama adikku yang cengeng! Ayo pulang Mama Lani sudah nunggu kita." Kata Raditya yang sempat membuat ponselnya dan membaca chat dari nyonya Lani.
"Iya kak!" jawab Rani yang bergegas memakai jaket pemberian kakaknya itu, dan mereka segera melangkahkan kaki untuk turun dari lantai dua dan menuju ke tempat parkir.
"Kita pulang pakai mobil Ran! sepeda motornya biar ada disini, untuk dipakai pak Satpam kalau sedang darurat." kata Raditya yang menyerahkan kunci sepeda motornya pada salah seorang satpam yang bertugas berjaga di Gym Wibowo itu.
"Oh, ya nggak apa-apalah kalau hal itu penting." ucap Rani dan keduanya sudah sampai disamping mobil sport mewah berwarna merah itu.
Mereka masuk ke dalam mobil, dan memakai sabuk pengaman masing-masing. Raditya melajukan mobilnya perlahan-lahan keluar dari halaman Gym Wibowo.
Setelah keluar dari halaman Gym Wibowo, dengan kecepatan sedang Raditya mengemudi menyusuri jalan raya yang menuju ke arah kediaman keluarga Wibowo.
"Apa kamu sudah hafal jalan dari rumah ke sekolah, Ran? trus dari sekolah ke Gym dan dari Gym ke rumah?" tanya Raditya yang tetap mengemudi.
"Belum sih kak, soalnya kita tadikan sempat mampir-mampir." jawab Rani yang apa adanya.
"Oh, ok besok masih kakak antar kamu! tapi nanti kalau kamu pulang sekolah telpon Kakak ya! Nggak mungkin kan kakak nungguin kamu terus?" timpal Radit.
"Ok, kakak" kata Rani sambil tersenyum.
"Adik pintar" kata Radit sambil mengelus rambut adiknya.
"Oya Kak! Bagaimana cara Rani mendekati Dio ya? kata paman Sidiq, putra dari Baskoro memegang kunci kalung bambuku ini." kata Rani sambil menunjukan kalung bambunya. Raditya sempat melirik ke arah kalung itu.
"Melihat sifat Dio seperti tadi pagi, pasti sulit mendekatinya." jawab Radit yang juga sedang berpikir.
"Oiya kak! kalau aku jadi peragawati bisa nggak? Maksud aku, aku akan mendekati Dio dengan identitas lain, apa kak Raditya mengerti maksud dari Rani?" tanya Rani yang menatap Kakaknya.
"Identitas lain? kakak jadi bingung, apa maksud kamu Ran?" kata Raditya yang ganti bertanya.
"Aku kalau sekolah kan penampilan cupu, kalau pakai topeng penampilanku sesungguhnya yang tomboybdan kalau mau masuk ke keluarga Baskoro apa bisa lewat kak Sania. Aku harus jadi peragawati. Kalau sekolah kan aku tidak masuk keluarga Wibowo.Jadi Rani itu anggap saja anak pembantu keluarga Wibowo yang disekolahkan keluarga Wibowo. Dan kalau jadi peragawati, agar cepat masuk kekeluarga Baskoro, Kakak kenalkan aku pada Kak Sania sebagai adik kakak. Pasti kak Sania senang kan dekat dengan adik pacarnya?" jelas Rani.
"Tapi selama kamu bisa mengatasinya, nggak masalah sih!" imbuh Radit.
"Kak kalau penampilan cupu namaku Rani nama asli, kalau pakai topeng aku kan juga perlu untuk mencari informasi, enaknya nama apa ya?" tanya Rani.
"Ran...ya Ran saja biar cepat pengucapannya" jawab Radit
"Kalau jadi peragawati, Rana cocok tidak?" tanya Rani.
"Bagus juga, biar nggak keliru kalau memanggil" jawab Raditya yang sedikit mengerutkan alisnya.
"Jadi Rani,Ran dan Rana. Bagaimana menurut kak Raditya?" tanya Rani yang penasaran.
"Bagus sekali ide kamu..! Jadi Rani,Ran,Rana adalah satu orang dengan tiga karakter. Wow...bisa jadi artis kamu dek!" kata Radit dengan senyum khasnya.
"Adiknya siapa dulu donk!" seru Rani yang ikut tersenyum.
"Tapi kalau mau jadi Rana, aku belajar sama siapa?" tanya Rani yang sedikit bingung.
"Mama Lani!" jawab Raditya yang bwrseru.
'Mama Lani?" tanya Rani yang mengulang ucapan Raditya.
"Iya Mama Lani! Karena kata Mama dulu pernah sempat jadi model sebelum menikah dengan papa Wibowo." jawab Raditya.
"Wah, kebetulan sekali!" seru Rani dengan suka cita.
"Ok nanti kita bicarakan lebih lanjut sama Mama Lani saat di rumah nanti" jawab Raditya."
"Iya, iya!" jawab Rani menganggukkan kepala tanda mengerti dengan ucapan kakaknya itu.
Mobil itu terus melaju ke jalanan beraspal dan mengarah ke tujuan mereka ke rumah kediaman tuan Wibowo.
Akhirnya mereka sampai ke ke diaman tuan Wibowo, Raditya mengurangi kecepatannya dan perlahan-lahan memasuki pintu gerbang kekediaman Wibowo.
Mobil itu berhenti di tempat sementinya, Rani dan Raditya setelah melepaskan sabuk pengaman dan dengan segera mereka turun dari mobil lalu bergegas melangkahkan kaki menuju ke teras rumah besar dan mewah itu.
"Tokk...tokk...tokk....!"
Raditya mengetuk pintu, dan tak kunjung mendapat jawaban.
"Tokk...tokk...tokk....!"
Kembali Raditya mengetuk pintu utama rumah itu.
"Ya sebentar!"
Barulah terdengar balasan dari dalam ruang tamu dan terdengar pintu yang dibuka.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...