Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Kasmaran


"Iya benar, walaupun itu jaraknya sangat jauh. Dan lagi harus menyebut namanya sebanyak tiga kali." jelas si Kity.


"Oh, jadi seperti itu ya!" gumam Rani seraya menganggukkan kepalanya.


"Ok, kalau begitu sebaiknya kita kembali lagi ke perguruan. Kita diskusikan apa yang akan kita lakukan selanjutnya bersama guru dan yang lainnya." kata Sersan Saga yang mana Rani dan si Kity menyetujuinya.


Kucing langit itu kemudian masuk ke dalam liontin bambu kalung pusaka yang dikenakan oleh Rani. Kemudian Rani bangkit dari duduknya dan demikian pula dengan Sersan Saga.


Keduanya melangkahkan kaki menuju ke mulut goa dan keluar dari goa tersebut.


Rani dan Sersan Saga, pada kali ini mereka tidak memakai liontin pusaka untuk sampai ke perguruan Darma Putih.


Mereka menuruni gunung dengan bergandeng tangan seakan tak mau lepas, karena keduanya memang memanfaatkan momen mereka bersama.


"Rani sayang!" panggil Sersan Saga untuk memulai percakapan mereka.


"Iya, ada apa kak Saga?" tanya Rani yang penasaran.


"Kalau dipikir-pikir, tak terasa kita akan berpisah. Besok kita akan kembali ke kota." kata Sersan Saga sambil melangkah kan kaki menuruni gunung.


"Iya kak! padahal baru sebentar. Tapi yang kita alami begitu banyaknya. Mulai aku di tembak Arya, bertemu Kity, kita tunangan sampai turnamen bela diri yang kemarin." sahut Rani.


"Huft...! Begitu banyaknya anggota keluarga kita yang hilang." lanjut Rani yang mengeluh.


"Yang kakak pikirkan, kenapa kejadian demi kejadian disaat kakak mau bertugas ke luar kota. Kakak tak bisa mendampingimu sayang!" kata Sersan Saga yang kemudian berhenti melangkah dan menatap ke arah tunangannya, tatapannya begitu dalam, seolah Rani terhipnotis oleh tatapannya itu.


"Rani tak apa-apa kak! Kak Saga jangan khawatir, bukankah Rani ini seorang pendekar. Pastilah Rani kuat!" seru Rani yang berusaha menenangkan dan meyakinkan tunangannya, si Sersan Saga itu. Walaupun dalam hatinya sendiri juga merasa sedih.


"Iya pendekar, pendekar cengeng!" seru Sersan Saga yang mengulas senyumnya.


"Kak Saga!" seru seraya mencubit pinggang sersan Saga.


"Auw, saya kan cuma ikut-ikutan sama kakak muda! He...he...he....!" balas Sersan Saga yang pura-pura sakit sambil terkekeh.


"Memang sih! Rani memang cengeng, karena itu Kaka Radit menjuluki aku seperti itu. Kak Saga cepat selesaikan tugas kakak, Rani pasti rindu kehadiran kak Saga di samping Rani!" kata Rani dengan kedua matanya yang berkaca-kaca, dan seketika tangisnya pecah.


"Hei...! kenapa menangis, sudahlah jangan nangis lagi ya! Ma'af kalau kak Saga ikutan menyebut kamu pendekar cengeng. Kamu-kan pendekar, jadi janganlah cengeng ya! Ayo buktikan kalau kamu itu kuat!" seru Sersan saga berusaha menenangkan tunangannya.


Posisi mereka saling berhadapan, dan tiba-tiba telapak tangan Sersan Saga menempel ke wajah Rani dan saat ini mengusap wajah mungil yang cantik dan manis itu dengan kedua ibu jarinya.


Tapi tangisan Rani semakin menjadi, Sersan Saga akhirnya menarik tubuh gadis mungil itu kedalam pelukannya dan dia membiarkan tunangannya menangis untuk menumpahkan perasaannya dipelukannya.


Walaupun Rani berilmu tinggi, tapi dia masih gadis berusia tujuh belas tahun, karena itulah emosinya masih labil.


Setelah beberapa menit berlalu, tangisan Rani sudah mereda. Kemudian mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju ke perguruan Darma Putih.


"Kak Saga!" panggil Rani.


"Iya, ada apa Ran?" jawab sekaligus tanya Sersan Saga.


"Rani sudah capek, kita menghilang yuk...!" pinta Rani.


"Jangan! nanti hangus dong kesempatan kita berdua. Kak Saga ingin habiskan malam ini berdua saja dengan kamu!" kata Sersan Saga, dan kembali keduanya saling tatap mata.


"Tapi Rani capek, gendong ya!" pinta Rani yang mengulas senyumnya dengan manja.


"Baik kakak mau gendong, tapi nanti kak Saga Saga minta satu ciuman boleh tidak?" tanya Sersan Saga sambil mengulas senyumnya.


"Ihh...! kak Saga mesuuuum!" seru Rani sambil melanjutkan langkahnya.


Sersan Saga pun tersenyum, karena merasa senang sekali kalau dia sedang menggoda tunangannya itu.


"Katanya capek? nggak jadi minta gendong ya?" tanya Sersan Saga yang mengimbangi langkah Rani.


"Iya deh kakak kalah, nggak tega lihat tunganganku capek. Ciumannya kakak tahan sampai tiga tahun yang akan datang!" seru Sersan Saga dengan posisi kan diri berhadapan dengan Rani.


"Jadi mau gendong tanpa ciuman,iya kak?" tanya Rani untuk memastikan.


"Iya sayang, ayo naik!" kata Sersan saga sambil memposisikan dirinya jongkok, agar Rani bisa memeluknya dari belakang.


Rani pun melakukannya dan Sersan Saga menggendong Rani dipunggungnya. Kemudian Sersan Saga melanjutkan langkahnya menuju ke arah Perguruan Darma Putih.


"Capek tidak kak?" tanya Rani saat beberapa menit di punggung Sersan Saga.


"Nggak capek kok! kak Saga sudah biasa lakukan olah raga angkat beban saat masa pendidikan dulu!" seru Sersan Saga yang sebenarnya napasnya sudah mulai terengah-engah.


Rani tak tega melihatnya, diam-diam Rani memegang liontin pusakanya. Dan berbisik...


"Halaman perguruan Darma putih!"


"Cling..!"


Dan pada saat ini mereka berdua telah tiba di halaman perguruan Darma putih.


Sersan saga pun seketika menjatuhkan Rani ke belakang.


"Auw....! sakit kak!" Rani mengaduh.


"Sudah kakak bilang jangan pakai cara itu? masih bandel juga!" seru Sersan Saga dengan geram.


"Maaf kak, Rani nggak tega lihat kak Saga yang capek karena gendong Rani!" balas Rani sambil berusaha berdiri.


"Kalau begitu kak Saga mau Rani mencium kakak!" goda Sersan Saga


"A..apa! Rani nggak mau!" seru Rani yang sudah dalam posisi berlari.


"Kalau begitu kakak yang mencium kamu ya!" goda Sersan Saga sambil mengejar Rani.


"Nggak mau....ya nggak mau..dasar mesuuuum!" seru Rani yang terus berlari.


Mereka berdua saling kejar-kejaran, tanpa mereka sadari ada dua pasang mata melihat aksi kejar-kejaran dua sejoli itu.


Sersan Saga berhasil menangkap tangan Rani, yang tak sengaja Rani mendorong Sersan Saga dan mereka jatuh bersamaan.


Posisi jatuh mereka Sersan Saga di bawa dan Rani di atas Sersan Saga. Mata mereka saling beradu, posisi itu berlangsung hingga beberapa menit kemudian.


"Hm...hm...! apa yang kalian lakukan...! cepat masuk..!" seru seseorang dari teras rumah.


"Kakek...Nenek...!" seru Rani dan Sersan Saga kompak saat menoleh mencari sumber suara.


Rani pun berusaha bangkit, namun kemudian ditarik oleh Sersan Saga dan kedua bibir sejoli itu beradu. Mereka pun merasakan kelembutan dan kehangatan saat bibir mereka beradu.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...