
Dan mereka pun segera masuk ke halaman rumah, setelah melewati pintu pagar yang dibukakan oleh satpam yang menjaga rumah tuan Wibowo.
"Sersan, Anda lewat depan ya! saya mau istirahat, nanti malam mau belajar. Besok ada ulangan di sekolah." jawab Rani yang berbohong pada saat sepeda motor berhenti dan dia turun dari sepeda motor seraya melepaskan helmnya.
"Baiklah! istirahatlah yang cukup ya." pesan Sersan Saga yang tersenyum sambil mengusap rambut Rani.
Kenangan tentang adiknya Sari teringat kembali, mana kala gadis yang ada dihadapannya itu membalas dengan senyuman pula.
karena sejatinya dia bingung kalau dia harus berakting menjadi Rana dan Rani secara hampir bersamaan.
Secara Rani anak pembantu yang selalu ada di bawah dan Rana itu adik Raditya yang jelas saja kamarnya ada di lantai atas, sedangkan dia tak bisa naik ke atas jika berada dihadapan Sersan Saga.
"Bagaimana aku istirahat, padahal aku harus jadi Rana. Ahh! chat kak Radit atau mama aja. Bilang Rana baru pergi." pikir Rani, yang hendak mengambil ponselnya.
"Boleh aku lihat kamar kamu?" tanya Sersan Saga yang tiba-tiba saja dan membuat Rani sangat terkejut.
Wajah Rani menjadi pucat pasi, bingung mau jawab apa. Karena kamarnya kan diatas, sedangkan Rani kan anak pembantu kamarnya sama dengan pembantu lainnya.
"He..he..Anda Laki-laki Tuan Sersan, saya kan perempuan. Mohon jaga privasi saya!" jawab Rani sekenanya.
"Ok! kalau begitu aku mau ketemu Rana saja. Mau aku ajak ke pesta besok" kata Sersan sambil melirik Rani. Gadis itu pun segera berpamitan.
"Semoga berhasil Sersan Saga, sampai ketemu besok!" seru Rani yang setengah berlari menuju halaman belakang, dan dia segera mengambil ponselnya untuk dapat menghubungi orang yang di dalam rumah.
Setelah itu berhasil menghubungi mereka, Rani melangkahkan kakinya menuju ke tembok yang ada dibelakang kamar dia dan Radit.
"Sial! aku harus memanjat hanya untuk ke kamar" gerutu Rani. Karena tembok kamarnya nggak ada tempat pijakan, Rani memutuskan memanjat dinding yang menuju ke kamar Raditya terlebih dulu.
"Hupp...!"
Rani merayap bak atlet panjat tebing, perlahan-lahan dan akhirnya sampai di balkon kamar Raditya.
"Eh, kak..kak Radit!" panggil Rani pada saat sampai di teras kamar Raditya.
Yang di panggil menebarkan pandangannya, mencari sumber suara dan segera melangkahkan kaki menghampiri Rani pada saat mengetahui kalau yang memanggilnya.
"Rani? Kenapa kamu lewat balkon?" tanya Raditya yang penasaran.
"Lihat apa yang Rani dapatkan...!" kata Rani yang melangkahkan kakinya menghampiri kakaknya itu, dengan semangat menunjukan kalung berliontin kunci yang tadi dia dapatkan dari Dito.
"Kamu berhasil, ya Ran!" seru Radit saat memegang kalung yang berliontin kunci yang ditunjukan Rani, kemudian Raditya memegang kalung berliontin kunci itu.
"Coba kak Radit buka liontin pada kalung Rani ini, kak!" seru Rani sambil melepaskan kalung bambu yang melingkar di lehernya, lalu memberikannya pada kakaknya bersamaan dengan kalung yang berliontin kunci yang didapat dari Dito itu.
Raditya menerima dan kemudian memasukkan kunci pada liontin bambu kalung Rani, benar saja di dalam Liontin bambu itu terdapat Surat pernyataan Baskoro dan juga flashdisk rekaman Cctv pada saat kedua orang tua Rani dan Raditya yang mengalami kecelakaan..
"Coba cek flashdisknya di laptop kak Radit!" saran Rani seraya menatap kakaknya. Raditya yang mengerti maksud Rani, dia menganggukkan kepalanya.
Setelah menerima flashdisk itu, Raditya pun segera melangkahkan kaki menuju ke Laptopnya yang berada di meja di depan sofa yang ada dikamarnya, sementara Rani melangkahkan kakinya kembali ke balkon dan mencoba mengotak-atik liontin itu, yang kata Paman Sidiq bisa buat senjata.
Tiba-tiba Rani melihat sekelebat bayangan, yang rupanya baru saja mengawasi mereka. Bayangan itu menuju sebuah sepeda motor yang sudah dinyalakan, dan kemudian meninggalkan rumah kediaman Wibowo itu.
Rani memperhatikan dengan seksama, dan dia mengetahui siapa bayangan itu.
"Celaka dua belas...! Sersan Saga!" seru Rani yang khawatir.
"Ada apa Ran?" tanya Raditya yang penasaran.
"Nanti Rani ceritakan, Rani mau mencari mama!" seru Rani, Gadis itu bergegas lari keluar dari kamar Raditya untuk mencari mamanya.
"Mama...mamaa...!" panggil Rani pada saat menuruni tangga.
"Ma...! tadi ada tamu tidak? Sersan Saga, apakah menemui mama?" tanya Rani yang gemetar pada angkat-nya
"Tidak ada sama sekali, dari tadi mama disini sama mbak dan bibi, ada apa memangnya?" jawab nyonya Lani heran dengan heran.
"Ma'af ma! Nanti Rani akan ceritakan!" seru Rani yang terus membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya menuju ke tangga, dan setelah itu menuju kamar Radit.
"Kak...kak Radit celaka beneran!Bodoh...bodoh...Rani...kamu sungguh bodoooohhh..!" seru Rani yang telah memaki dirinya sendiri.
"Apa sih Ran,.kamu kenapa?" tanya Raditya yang kebingungan.
"Rani...Rani...! kamu kenapa nak?" tanya nyonya Lani yang merasa khawatir dengan keadaan Rani dan menyusul Rani ke kamar Radit!" seru nyonya Lani yang ternyata sudah berada di dalam kamar Raditya..
"Mama....! kak Radit, tadi Rani pikir kalau Sersan Saga akan bertamu dan mau bertemu Rana. Dan Rani pikir lebih baik kalau Rani lewat belakang, dan Rani naik ke kamar ini dengan memanjat dan menunjukan kalung berliontin kunci pada Kak Raditya. Ternyata Sersan Sagatidak bertamu, tapi melihat apa yang Rani lakukan tadi. Semuanya, iya semuanya mama dan kak!" jelas Rani.
"Apaa...!" Nyonya Lani dan Raditya bersaman kaget.
"Tapi sepertinya Sersan Saga. orangnya baik." kata nyonya Lani yang mencoba menengkan Rani.
"Iya sih Ma, tapi misi kita belum sepenuhnya berhasil" kata Raditya.
Kakak Rani itu pun mengusap mukanya.Dia berpikir bagaimana keluar dari masalah ini.
"Lebih baik,jangan temui dia dulu." kata Raditya.
"Biar menguap dulu..! Ayo kita lihat rekaman nya dulu" lanjut kata Raditya dan mereka melihat secara sama-sama,saat sepeda yang ditabrak sebuah mobil.
Rani memegang layar laptop. Dan terlihatlah video masa sepuluh tahun yang lalu.
."Ayah..Ibu.." Rani pun menangis. nyonya Lani memeluk Rani dan mencium kening Rani penuh kasih sayang.
"Kita serahkan pada Papa, biar pengacara Papa yang menyelesaikannya." jelas nyonya Lani.
"Iya Ma." jawab Rani dan Raditya.
"Mama kak Radit, tahu tidak perjuanganku medapatkan kalung kunci ini penuh derai air mata." cerita Rani.
"Apa maksud kamu dengan derai air mata?" kata Raditya dan saling memandang dengan nyonya Lani.
Kemudian Rani pun menceritakan tentang kejadian dikamar Dito.
"Ya Tuhan..! tapi kamu nggak apa-apa kan?" tanya nyonya Lani.
"Nggak apa-apa ma, tadi sebetulnya Rani sedikit shock,tapi Sersan saga mengubah suasana hati Rani" Jawab Rani sambil tersenyum simpul.
.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...