
Sepuluh, dua puluh dan tiga puluh anggota geng Kobra terkapar.
Begitu banyaknya korban yang berjatuhan di pihak anggota geng Kobra yang menyerang Rani. Sebagian dari mereka memilih untuk kabur, karena kalau tidak kabur pada saat itu juga, maka tubuh mereka akan mendapatkan luka dari pecutan cambuk sakti milik Rani, yang tak main-main dalam melukai lawannya.
"Katanya lawan kita hanya anak-anak, tapi nyatanya ilmunya lebih tinggi dari kita." gumam salah seorang anggota geng Kobra yang berusaha untuk lari.
"Iya, ternyata lawan kita punya senjata sakti! lebih baik kalau kita menyelamatkan diri! aku tak mau tubuhku hancur karena pusaka itu!" balas seru anggota lainnya dan kemudian mereka lari dengan terpontang-panting untuk menjauh dari perguruan Darma putih.
Rani memang sengaja membiarkan mereka pergi, karena untuk memancing supaya Baskoro yang merupakan ketua geng Kobra, mau keluar dan menemui dirinya.
Sekarang ini tujuannya adalah membantu kakeknya yang nampak sedang kewalahan menghadapi lawannya.
Yang sebenarnya, Kakek Darma telah berkali-kali menyerang dan melukainya. Namun dengan sekejap keadaan lawannya pulih kembali, seperti tak terjadi apa-apa.
Hal itulah yang membuat Kakek Darma kehabisan tenaga, dan akhirnya dia menerima beberapa pukulan dari lawannya.
"Bruggh...!"
"Aaargh....!"
Kakek Darma mengerang kesakitan, dia tersungkur dan mengalami luka yang cukup parah.
"Kakeeeek...!" teriak Rani yang sangat mencemaskan keadaan kakeknya.
Gadis itu bergegas menghampiri tubuh renta itu dan memeluk kakeknya yang terbaring lemah.
"Di...di...a... Bas...ko...rooo...!" kata Kakek Darma dengan suara terputus-putus yang kemudian tak sadarkan diri.
"Apa yang kakek bilang? Laki- laki itu bernama Baskoro?" tanya Rani yang meyakinkan pendengarannya.
"Baskoro....!" geram Rani yang mengepalkan kedua tangannya.
Setelah meletakkan kakeknya di posisi nyaman, gadis itu bergegas mencari sesosok yang disebutkan oleh kakeknya, yaitu laki-laki yang bernama Baskoro itu.
"Oh...! jadi kau yang bernama Baskoro...!'' seru Rani yang menatap sesosok laki-laki setengah baya, dengan tajam.
"Heh....! kau sudah tahu, jadi tak repot-repot aku memperkenalkan diri. Ha.. ha.. ha..!" ucap Baskoro dengan tawa yang menggelegar.
"Rrrrrr....!" suara erangan Kity yang keluar dari liontin kalung pusaka milik Rani.
"Nona....! lawanmu memakai cincin pusaka langit, kamu harus hati-hati...!" seru si Kity dengan kewaspadaannya.
"Ho..ho..ho... kucing langit! ternyata kau bersama gadis bertopeng itu...! gadis yang membuat pasukan ku kacau balau...!" seru Baskoro dengan geram.
"Dia bisa melihatmu Kity?" tanya Rani yang merasa heran.
"Nona....! Bukan kah sudah saya bilang, orang yang punya pusaka langitlah yang bisa melihat dan mendengarkan suara saya!" seru Kity yang tetap menatap Baskoro dengan tajam.
"Ohw, ya ma'af kalau aku lupa." jawab Rani dengan entengnya.
"Aih....!" umpat si Kity.
"Hai...! jangan ngrumpi saja! jadi melawan aku tidak? aku mau ada urusan lain! ha..ha..ha.....!";seru Baskoro dengan sombongnya.
"Cihh.....! dasar pengecut...! bilang saja kalau mau kabur....!" seru Rani yang mukanya memerah dengan emosinya yang memuncak.
"Apa kau bilang! Aku pengecut!" seru Baskoro yang memastikan pendengarannya.
"Iya, memang kau ini pengecut! Beraninya dengan pasukan yang banyak! Dan tak mau bertanggung jawab akan kesalahan kamu!" seru Rani dengan geram.
"Kurang ajar! Anak kemarin sore tahu apa kau!" seru Baskoro yang mulai pasang kuda-kuda.
Perkelahian Rani dan Baskoro dengan tangan kosong pun tak bisa di hindari lagi.
"Terimalah seranganku! Dan kau akan mati!" seru Baskoro dan siap menyerang Rani. Gadis itu tak gentar dan melayani setiap serangan dari Baskoro.
"Bagh.....bugh...bagh....bugh....!"
"Bagh.....bugh...bagh....bugh....!"
"Bagh.....bugh...bagh....bugh....!"
"Bagh.....bugh...bagh....bugh....!"
Berkali-kali Baskoro menyerang Rani, namun berkali-kali pula Rani bisa menghindari dan membalikkan serangan lawannya.
"Itu karena cincin yang ada di jarinya. Setiap dia memutar cincin itu, maka kekuatannya kembali ke semula." kata si Kity.
"Jadi karena cincin itu ya.. kenapa nggak bilang dari tadi!" seru Rani dan kemudian memutar otak untuk menghadapi Baskoro dengan Cincin langit itu.
"Maaf, terlalu cepat kejadian ini!" balas Kity dengan entengnya tanpa menatap Rani.
"Ah, aku tahu!" seru Rani sambil melepas kalung pusakanya dan kemudian berseru
" Pedang...!"
Maka jadilah pedang yang mengkilap siap menghunus lawannya.a
"Wo..o..o... anak gadis..! seharusnya kamu main pakai pisau dapur bukan main pedang!" ejek Baskoro.
"Bedebah...! aku cincang kau buat makanan Penghuni hutan!" seru Rani yang kemudian menggunakan pedang dari kalung langit itu di gabungkan dengan jurus Tarian Dewi Cintanya.
Seperti layaknya orang yang sedang menari di setiap gerakannya, namun gerakan itu sangatlah mematikan.
Baskoro pun tak mau kalah laki-laki itu mengambil pedangnya yang semula tergeletak di atas tanah.
Dia pasang kuda-kuda dan siap melawan serangan dari gadis bertopeng.
"Trang..! trang.. ! trang..! trang...!"
bunyi kedua belah pedang yang sedang beradu. Untuk kali ini mereka seri. Tak ada yang terluka.
Namun tenaga mereka terkuras.
Rani segera menelan pil langit, dan kemudian bersiap kembali menyerang Baskoro. Sementara itu Baskoro memutar cincinnya untuk memulihhkan tenaganya.
Dalam serangan kali ini, Rani menggunakan sedikit tipu daya. Yang membuat Baskoro lengah, dan akhirnya pedang Baskoro bisa terlepas dari genggamannya.
Dengan cepat Rani menyerang Baskoro dan mengarahkan pedangnya ke tangan kanan Baskoro. Yang mana cincin langit di sematkan di jari Baskoro.
"Sreettt...!"
Lengan kanan Baskoro tergores pedang Rani yang cukup panjang.
"Siaal...! awas kau bocah...!" seru Baskoro yang kemudian dia memutar cincinnya dan mengeluarkan sinar merah dan hitam membuat sebuah lubang.
"Nona...! dia mau kabuur...!" seru Kity yang panik.
"A...apa...!" seru Rani yang kemudian berseru untuk liontin pusakanya.
"Belati...!"
Pedang Rani pun berubah menjadi belati. Yang kemudian di lemparkan ke arah Baskoro.
"Wuuuut...!"
Namun sayang, dengan cepat Baskoro sudah masuk ke dalam lubang merah itu dan menghilang.
"Jleb...!"
Dan lagi-lagi sayang sekali belati Rani mengarah ke ruang hampa dan akhirnya menancap ke pohon di dekat kejadian.
"Hei Pengecuuut...!"
"Dasar laki-laki sialaaaan... !" umpat Rani dengan parau memaki-maki orang yang Telang menghilang begitu saja dari hadapannya.
"Sial...! Dia hanya terluka! Padahal aku ingin membuat jarinya putus, dan cincin itu tak dapat dia gunakan!" seru Rani yang sangat kecewa.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...