Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Peraturan pertandingan


Macan betina itu berkata lagi, "Jika kau kurangajar akan kukelupaskan mukamu.


Bukankah kau tadi diperintahkan untuk membuntutiku? Mengakulah agar aku tidak menghajarmu."


"Benar-benar aku tidak merasa diperintah tuan putri."


"Kau sudah mulai berkhianat kepada Lurahmu."


"Kau masih ingat semasa kau kemari?Masih ingat!!" Bentak macan betina itu.


Pemuda perkasa itu mana bisa mendapat perlakuan demikian di depan temant-emannya apalagi di hadapan pemuda yang berdada bidang itu. Cepat-cepat ia menghindari persoalan kepada Nyi Singalangu, dan mencari perkara kepada pemuda berdada bidang.


"Aku akan menemui dia tuanku putri, bukan menemuimu."


"Apa perlumu dengan dia?" Tanya macan betina itu


"Dia akan mencuri kuda tamu-tamu kita."


Semula pemuda berdada bidang itu terperanjat. Dari mana pemuda perkasa itu mengerti maksudnya padahal tak pernah ia mengutarakan kehendaknya itu.


"Ia akan melarikan diri karena berbuat curang." Kembali pemuda berdada bidang itu tercekat.


Tetapi ia masih dapat menahan diri, pemuda berdada bidang itu mengerti bahwa pemuda perkasa itu memang suka menjilat dan mencari perkara, bahan tidak segan-segan


memfitnah.


"Benar apa yang dikatakan?" Tanya macan betina.


Pemuda berdada bidang itu menggelengkan kepala dengan pandangan tajam ia mengawasi pemuda perkasa itu mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya.


"Mengapa kau mengawasi aku demikian?"


"Karena kau memfitnah aku."


Pemuda perkasa itu meneguk liurnya, sedang yang berdada bidang masih saja memandang tanpa berkedip. Hatinya terbakar.


"Kau tetap pada tuduhanmu?" Tanya macan betina. Pemuda perkasa


mengangguk.


"Kau tetap membantah tuduhan itu?"


"Aku tidak merasa berbuat."


"Baik." Macan betina itu mengangguk berkali-kali. Tampaknya ia berlega hati, lalu


menyambung, "Yang satu tetap menuduh, sedang yang lain tetap menolak, pertahankan Sebagai seorang jantan apa yang kalian katakan."


"Tentu." Jawab pemuda perkasa merasa tubuhnya lebih besar daripada lawannya.


"Kalian harus mengadu otot."


Pemuda perkasa itu berjingkrakan, merasa berhasil usahanya, sedang pemuda yang berdada bidang tampak ogah-ogahan, bahkan acuh tak acuh.


Macan betina itu memberi isyarat agar kedua pemuda itu mengikutinya. Semua yang sedang beristirahat mengikuti kejadian itu dengan pandangan masing-masing.


Mereka menduga-duga apa yang akan dikerjakan oleh macan betina terhadap kedua pemuda bawahannya.


Bagi pemuda berdada bidang kejadian itu adalah suatu kebetulan. Mereka


melewati ruangan pemujaan. Suatu ruangan yang mengerikan. Di dalam ruangan itu


terdapat beberapa peti dan beberapa tulang kerangka yang bergantungan di atas peti itu.


Mengelilingi tempat itu terdapat tempat duduk dan perdupaan.


Pemuda berdada bidang itu ingin lebih lama memperhatikan ruangan itu, tetapi ia


tidak mau dicurigai oleh orang lain. Karena itu ia cepat-cepat mengikuti langkah macan


betina yang di depannya beberapa langkah mendahului.


Sampailah mereka pada sebuah dataran di belakang gua.,


"Di sinilah jalan itu." Pikir pemuda berdada bidang.


"Nah. Sampailah kita. Ratri pasang batas-batasnya. "Perintah macan betina itu lantang.


"Baik ayunda." Sebenarnya kedua perempuan itu jatuh hati kepada pemuda berdada bidang yang


tidak banyak bicara itu.


"Mengapa kau mengkhawatirkannya?" Tanya macan betina.


"Tidak apa-apa, aku hanya kasihan bukankah tubuhnya kalah besar dengan yang satu." Bantah Ratri dengan menghela napas.


"Aku khawatir kalau kau jatuh cinta."


"Ah." Hanya itu yang terlontar terakhir.


"Berkelahilah kau berdua."


"Apa peraturannya tuanku putri?" Tanya pemuda perkasa.


"Tanpa senjata, Tidak boleh melukai. Berkelahi sampai salah satu menyerah kalah."


Kembali pemuda perkasa itu berjingkrakan tak ubahnya anak kecil yang diberi oleh-oleh ibunya. Sedang pemuda berdada bidang seperti seekor ayam jantan yang lari


dari gelanggang,


"Kau berdiri di sudut sana. Kau di sudut sana. Kau Ratri menjadi saksi siapa diantara mereka yang curang."


Bagaimana kalau tanganku memukul dadanya, atau siku lenganku menyodok ulu hatinya tuanku putri." Tanya pemuda perkasa itu dengan meremehkan lawannya.


"Boleh saja. Asal kau lakukan dengan jujur." Pemuda perkasa itu membungkuk hormat.


"Mulai." Teriak macan betina.


Pemuda perkasa itu menyerang dengan mengirimkan jurus tangan dengan tinju mengarah ulu hati. Pemuda berdada bidang itu memiringkan tubuhnya dan memukul lengan lawannya dengan sisi telapak tangannya sambil meloncat mundur.


Bersamaan dengan itu menghajar punggung, disertai kaitan kaki. Tak dapat lagi pemuda perkasa itu


menahan tubuhnya, ia kehilangan keseimbangan dan tertiarap di tanah.


"Hai, mengapa tubuhmu seringan kapok randu." Bentak macan betina dengan tertawa cekakakan. Sedang Ratri tidak kuat lagi menahan geli, dan meledaklah tawanya yang renyah.


Pemuda perkasa itu cepat berbalik. Tetapi belum lagi dapat berdiri, cepat pemuda berdada bidang itu meloncat dan melekatkan kakinya pada pelipis, pemuda perkasa


mencoba membabat kaki lawannya.


Tetapi belum lagi tangannya dapat meraba pemuda berdada bidang itu meloncat mundur dan dengan kecepatan yang luar biasa kakinya


melayang membabat lengan lawannya.


Keruan saja pemuda bertubuh perkasa itu menjerit setengah mati. Untunglah pemuda berdada bidang hanya menggunakan sepersepuluh tenaganya, dan lengan perkasa itu masih dapat bertahan, tetapi rasa nyeri terasa seluruh tubuhnya.


Sebenarnya pemuda perkasa itu hanya dapat menjaga diri dengan menggulat.


Karena itu bagi pemuda berdada bidang tidak ada pilihan lain, ia harus menghancurkan kaki dan kedua tangan lawannya, setidaknya anggota tubuh utama dalam pergulatan itu sudah dilumpuhkannya.


"Bagaimana, adakah kau masih dapat berdiri?"


"Maafkan aku tuanku putri." Kata pemuda berdada bidang.


"Mengapa tidak kau reotkan sekali,"


"Aku tidak sampai hati."


"Bukankah ia belum menyerah." Kata macan betina. Ia diam sejenak memandang pemuda berdada bidang, kemudian berkata melanjutkan,


"Bukankah ucapan kalah sebagai tanda diakhirinya pertarungan ini? Adakah sudah diucapkannya?"


Pemuda bertubuh perkasa yang tadi merendahkan mana bisa mendapat perlakuan


demikian. Kalau ia mengaku kalah, dimana diletakkan mukanya. Kalau tidak mengaku, bagaimana ia menghindari kalau lawannya menyerang. Tengah ia berfikir demikian, sebuah gerakan yang hampir tidak dapat ditangkap mata biasa, sebuah kaki melekat pada lehernya dan terasa ibu jari kakinya menekan buah lehernya.


Tak dapat digambarkan bagaimana pemuda bertubuh perkasa menggeliat-geliat. Napasnya tersumbat. Akan berbicara tidak dapat. Sebaliknya kedua perempuan yang melihat kejadian itu terlongohlongoh kagum akan kecekatan pemuda yang disangkanya pemalas.


"A......a. . . .aku. . ."


"Katakan yang benar." Bentak macan betina dengan masih heran.


Dengan menggunakan apa maka pemuda itu tidak dapat berbicara seperti biasa. Apabila menggunakan telapak kaki masih dengan mudah berbicara. Tidak terpikir oleh macan betina bahwa pemuda yang tampaknya pemalas itu mempunyai ketrampilan yang luar biasa.


Pemuda berdada bidang menghindari injakannya. Kemudian ia berjongkok dan membimbing lawannya. Mendudukkannya di atas sebuah tempat duduk dari batu.


Tetapi baru saja tubuh perkasa itu diletakkan, tak ubahnya karung yang basah, tubuh itu jatuh dan melingkar di atas tanah, ternyata kakinya tidak kuat berdiri.


Tiada terasa pemuda berdada bidang itu tersentuh hatinya, cepat ia berjongkok dan mengurut kaki lawannya. Urat-urat darah yang melekat karena pukulan dipulihkannya Sehingga darah itu berjalan lancar kembali.