
"C'est ?vident!" Dokter itu mengangkat bahu.
"Bukankah M. de Saint Alard adalah pejabat yang menjaga nama baiknya?"
Persahabatan keduanya rusak karena adanya pertentangan pemahaman. Tidak sehari pun berlalu tanpa diskusi. Bagi M. de Saint Alard, D?roulard bagaikan seorang anti pejabat.
Keadaan ini di luar dugaan dan memberi Rani bahan pemikiran.
"Satu pertanyaan lagi, Dokter. Mungkinkah racun dalam dosis yang mematikan dimasukkan ke dalam sebutir permen coklat?"
"Bisa saja," jawabnya lambat-lambat.
"Asam perusi murni mungkin saja terlibat dalam kasus ini, kalau tidak ada penguapan mungkin saja tertelan tanpa terlihat tapi, rasanya dugaan ini tidak mungkin. Kalau coklat yang penuh dengan morfin atau strychnine - " Dipandangnya Rani dengan muka masam.
"Anda tahu, Komisaris Saga - satu gigitan saja sudah cukup! Yang tidak berhati-hati akan langsung kena."
"Terima kasih, M. le Docteur." Rani pergi. Selanjutnya Rani mendatangi toko-toko obat, terutama yang terletak di daerah Avenue Louise.
Beruntung Rani dari kepolisian. Ranidapatkan informasi yang Raniinginkan tanpa banyak kesulitan. Hanya sekali Rani mendengar tentang racun yang telah dijual ke rumah korban.
Beberapa tetes atropin sulfat untuk Madame D?roulard. Atropin termasuk racun yang ganas, sehingga sejenak Rani berbesar hati.
Namun, gejala-gejala keracunan atropin berkaitan erat dengan keracunan zat lemas, yang gejalanya lain sekali dengan kasus yang tengah Rani pelajari. Selain itu, resep itu sudah kadaluwarsa.
Sudah bertahun-tahun kedua mata Madame D?roulard menderita katarak. Rani membalikkan badan dengan hati kecut ketika ahli kimia itu memanggil Rani lagi.
"Sebentar, Komisaris Saga. Saya ingat, perempuan yang membawa resep itu mengatakan sesuatu mengenai niatnya pergi ke toko obat Inggris. Anda bisa mencoba pergi ke sana." Rani menuruti sarannya.
Sekali lagi, dengan menjelaskan status resmi Rani, Rani dapatkan informasi yang Raniinginkan. Sehari sebelum kematian M. D?roulard mereka membuat resep untuk John Wilson.
Cuma tablet-tablet kecil trinitrin biasa. Rani bertanya kalau-kalau Rani boleh melihat tablet itu. Dia menunjukkannya dan jantung Rani berdetak lebih keras - tablet itu terbuat dari coklat.
"Apakah ini racun?" tanya Rani.
"Bukan, Monsieur."
"Dapatkah Anda menjelaskan efeknya?"
"Untuk menurunkan tekanan darah. Dan diberikan untuk beberapa jenis gangguan jantung - kejang jantung, misalnya. Mengendurkan ketegangan urat nadi juga. Dalam hal penyempitan pembuluh nadi - " Ranisela dia.
"Ma foi! Penjelasan panjang tidak Raniperlukan. Apakah obat ini menyebabkan wajah menjadi merah?"
"Pasti."
"Andaikata saya menelan sepuluh sampai dua puluh tablet kecil ini, apa yang terjadi?"
"Lebih baik jangan mencobanya," jawabnya datar.
"Banyak obat yang namanya bukan racun, tapi dapat membunuh seseorang," katanya dengan nada biasa.
Rani meninggalkan toko obat itu dengan berbesar hati. Akhirnya, mulai ada kemajuan. Sekarang kau tahu bahwa John Wilson mempunyai alat yang dipakai untuk membunuh masalahnya, apa motifnya" Dia datang ke Belgia untuk urusan bisnis dan meminta M. D?roulard, yang tidak terlalu akrab dengannya, untuk memberikan tumpangan.
Rasanya tidak mungkin kalau kematian M. D?roulard akan menguntungkan dia. Lagi pula, setelah mencari informasi dari Inggris, Rani mendapati bahwa sudah beberapa tahun ini ia mengidap penyakit jantung yang menyakitkan itu, yang dikenal sebagai kejang jantung.
Oleh karena itu ia berhak menyimpan tablet-tablet kecil itu. Meskipun begitu, Rani yakin ada yang membuka kotak coklat - mula-mula dia keliru membuka kotak yang masih penuh itu - mengambil coklat terakhir dan mengeluarkan isinya, lalu menggantikannya dengan sebanyak mungkin trinitrin.
Coklat itu besar-besar. Rani yakin dua puluh sampai tiga puluh tablet dapat dimasukkan. Persoalannya, siapa yang melakukannya? Ada dua tamu di rumah itu. John Wilson mempunyai alatnya. M. de Saint Alard motifnya. Dan pejabat itu bisa jadi keterlaluan. Mungkinkah ia mendapatkan trinitrin dari John Wilson, bagaimanapun caranya?
Pemikiran lain muncul di benakRani. Ah, engkau pasti tersenyum mendengar gagasan gagasan kecil Rani. Mengapa Wilson kekurangan trinitrin?
Mestinya dia membawa persediaan cukip banyak dari Inggris. Sekali lagi Rani mampir ke rumah di Avenue Louise itu. Wilson sedang keluar. Rani menemui pelayan yang membersihkan kamarnya, F?licie.
Tanpa membuang waktu Rani menanyakan kalau-kalau beberapa waktu yang lalu Wilson kehilangan sebotol obat dari meja cuci mukanya. Gadis itu menanggapi dengan penuh semangat.
Kekhawatiran Rani benar. Ia, F?licie, yang disalahkan Jelas laki-laki Inggris itu mengira si pelayan telah memecahkan botol obatnya dan tidak ingin mengakui keteledorannya.
Padahal pelayan itu tidak pernah menyentuhnya. Tidak diragukan lagi, orang itu pasti Jeannette - yang selalu mencampuri urusan orang lain Rani redakan aliran kata-katanya, lalu minta diri.
Sekarang Rani tahu semua hal yang ingin Raniketahui. Tinggal membuktikannya. Dan ini tidak gampang. Rani boleh yakin bahwa M. de Saint Alard telah mengambil botol obat itu dari meja cuci muka John Wilson, tapi untuk meyakinkan orang-orang lain Rani harus menunjukkan buktibukti.
Padahal tidak ada apa-apa yang bisa Rani jadikan sebagai buku! Tidak apa-apa. Rani sudah tahu - ini yang penting. kau ingat kesulitan kita dalam kasus Styles, Ran!
Dalam perkara itu lagi-lagi Rani sudah tahu - tapi kita perlu waktu lama untuk menemukan rangkaian bukti-bukti untuk membeRanik si pembunuh.
Rani minta berbicara dengan Mademoiselle Mesnard. Ia segera muncul. Raniminta alamat M. de Saint Alard darinya. Kecemasan merayapi wajahnya.
"Mengapa Anda menginginkannya, Monsieur?"
"Mademoiselle, alamat ini perlu sekali." Dia kelihatan ragu-ragu - gelisah.
"Dia tidak dapat memberi informasi apa-apa. Dia seorang yang pikirannya tidak berada di dunia ini. Hampir tidak diperhatikannya apa yang terjadi di sekelilingnya."
"Mungkin, Mademoiselle. Tapi, ia sahabat lama M. D?roulard. Mungkin ada sesuatu yang dapat diceritakannya kepada saya - peristiwa-peristiwa masa lampau, dendamdendam lama - kisah-kisah cinta lama." Gadis itu menggigit bibirnya; wajahnya memerah.
"Kalau begitu, baiklah - tapi - tapi - sekarang saya yakin saya keliru. Anda baik sekali, mau memenuhi permintaan saya, namun waktu itu saya sedang gelisah - hampir-hampir putus asa. Sekarang saya mengerti tidak ada misteri yang harus dipecahkan. Saya minta tinggalkanlah perkara ini, Monsieur." Rani menatap dia lekat-lekat.
"Mademoiselle," kata Rani,
"kadang-kadang anjing menjumpai kesulitan untuk mencium bau tertentu, tapi sekali dia sudah membauinya, tak ada yang dapat membuatnya meninggalkan penemuannya itu! Tentu saja kalau dia anjing yang baik! Saya, Mademoiselle, Komisaris Saga, adalah seperti seekor anjing yang baik." Tanpa berkata sepatah pun ia berlalu. Beberapa menit kemudian ia kembali dengan alamat yang ditulis pada sehelai kertas. Ranitinggalkan rumah itu. Fran?ois menungguRani di pintu. Dipandangnya Rani dengan wajah was-was.
"Tidak ada kabar apa-apa, Monsieur?"