Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Minta Pertolongan Sersan Saga


"Kan memang tujuanku mengadu domba mereka, biar Baskoro keluar" batin Rani. Dan dia pun terus mengayuh sepedanya.


"Lepaskan dua cecunguk itu, biar dia yang memberi laporan pada ketuanya kalau kita menyandera anak ketuanya!" seru salah seorang dari mereka yang tampaknya dia adalah pimpinan mereka dan hal itu terdengar oleh Rani saat mengayuh sepedanya.


"Hm, jadi Dio mereka sandera!" batin Rani yang terus mengayuh.


Sebetulnya hati Rani tidak tega melihat Dio dibuat sandera, Rani pun menguatkan hatinya untuk tetap mengayuh tanpa melihat gerombolan itu. Gadis itu berusaha untuk pura-pura tak melihat.


Tiba-tiba kedua mata Rani melihat seseorang yang dia kenal.


"Sersan Saga...!" seru dalam ghati Rani dan gadis itu mengayuh sepedanya lebih kencang.


Memang Sersan Saga ada di sebuah pertokoan yang sepertinya baru saja mengalami musibah kerampokan.


"Pak Polisi! tolong teman saya, teman saya dipukuli orang-orang!" seru Rani sambil terengah-engah dan dia berhenti mengayuh tepat berada di depan toko yang kerampokan itu.


Sersan Saga dan rekannya terkejut, mereka menoleh ke sumber suara.Setelah bicara dengan rekannya, Sersan Saga dengan setengah berlari menghampiri Rani.


"Bisa kau tunjukan lokasinya?" tanya Sersan Saga dengan sikap gagahnya.


"Iya Sersan, tapi saya bawa sepeda kayuh?" jawab sekaligus tanya Rani.


"Saudara Alex, anda lanjutkan penyelidikannya. Dan saya titip sepeda kayu Nona ini, tolong dijaga ya! Saya ada keperluan sebentar!" perintah Saga pada rekannya.


"Baik Sersan Saga." jawab rekan polisi Sersan sambil mengangkat tangannya ke dahinya.


Kemudian Sersan Saga mengajak Rani menuju ke sepeda motornya, dan Rani menurut begitu saja.


"Mimpi apa aku semalam, pagi ini dibonceng sama Sersan Saga." gumam dalam hati Rani.


Ingin rasanya Rani memeluk Sersan yang tampan dan gagah itu dari belakang mengingat akan posisinya saat ini yang dibonceng Sersan Saga. Tapi dia harus jaga sikap, karena baru saja mengenalnya, lagi pula Sersan Saga tak akan mengenalnya yang pada saat ini dia menyamar sebagai Rani si gadis Cupu.


Setelah Rani naik ke atas sepeda motor, Sersan Saga segera menyalakan dan melajukan sepeda motornya. Tak berapa lama mereka telah sampai di lokasi yang dituju.


"Itu Sersan ..!" seru Rani sambil menunjuk ke arah gerombolan yang sedang mengeroyok Dio.


"Kamu disini, jaga motorku!" pinta Sersan Saga sambil tersenyum.


"Aduh tampannya, aku jadi klepek-klepek nih!" batin Rani


"i..iya Ser...san." balas Rani yang gugup.


Setelah turun dari sepeda motornya, Sersan Saga langsung menghampiri gerombolan tersebut.


"Huh! Jaga motor, yang benar saja Sersan? aku bukan tukang parkir?lagi pula, anda akan melawan begitu banyak orang. He...he...! tanganku jadi gatal nih mau membantu menghajar mereka!" gerutu Rani yang tiba-tiba timbul ide dan dia mengulas senyumnya.


Kemudian Rani mencari kerikil di sekitar tempatnya sembunyi. Setelah dirasa cukup, Rani mengendap-endap mendekati gerombolan itu.


"Berhenti...! apa yang kalian lakukan!" seru Sersan Saga saat mendekati gerombolan tersebut.


"Polisi...!" seru mereka yang nampak sangat twrkejut.


"Kalian! sebagian cepat bawa sandera, sebagian ikut aku hadapi polisi itu. Dia hanya seorang diri, tak ada yang perlu ditakuti!" seru salah seorang dari gerombolan itu dan nampaknya dia adalah pimpinan dari aksi itu..


Benar saja mereka membagi diri menjadi dua,sebagian mengahadapi Inspektur Saga dan sebagian membawa Dio menjauh dari tempat semula.


"Apa yang kalian lakukan pada anak itu!" seru Sersan Saga.


"Bukan urusan anda pak polisi!" jawab salah seorang dari mereka.


"Kurang ajar! Apa yang kalian lakukan ini sudah termasuk kriminal!" seru Sersan Saga saat dilihat dari kejauhan nampak Dio yang pingsan dan diseret empat anggota dari mereka yang lain.


"Menyerahkan kalian, sebelum hukuman lebih berat menjatuhi kalian!" lanjut seru Sersan Saga yang mengancam mereka.


"Ha...ha...! Kami tak perduli Sersan!" seru anggota geng Musang Hitam yang ada dihadapan Sersan Saga, yang sudah bersiap melawan polisi itu.


"Kau berani melawan polisi!" seru Sersan Saga.


"Apa boleh buat!" seru laki-laki itu yang mulai menyerang Sersan Saga, dan beberapa kali sersan Saga mengelak untuk menghindari perkelahian.


Namun perkelahian tangan kosong pun tak terelakkan, Sersan Saga melawan empat orang yang saat ini ada dihadapannya.


"Bagh...bugh...bagh...bugh...!"


"Bagh...bugh...bagh...bugh...!"


"Ayo cepat, kita bawa anak ini ke mobil!" seru seseorang dari mereka.


Tiba-tiba saja terjadi sesuatu pada mereka.


 "Plakk....Plakk...Plakk...plakk...!"


Empat kerikil telah mengenai leher belakang mereka.


"Aghh...!"


Dan secara refleks mereka memegang leher belakang yang sakit karena benda kecil yang mengenainya.


"Siapa itu,beraninya main belakang!" bentak salah seorang dari mereka dan menoleh kebelakang. Dan dilihatnya seorang gadis bertopeng yang bersandar di sebuah pohon, dengan santainya melambaikan tangannya.


"Hai, kalian mencari aku?" tanya gadis bertopeng itu yang tak lain adalah Ran atau Rani yang mengulas senyumnya.


"Apa kau yang menyerang kami dari belakang!" tanya salah satu dari mereka dengan geram.


"Menurutmu siapa lagi? adakah orang lain selain aku?" tanya balik gadis bertopeng itu yang masih tetap mengulas senyumnya.


"Kurang ajar bocah ingusan, mau mati kau!" bentak mereka dengan geram.


"Bukan aku yang mau mati, tapi kaliaaaan!'' seru Rani sambil menegakkan tubuhnya dan melangkah maju berhadapan dengan empat orang didepannya.


Dan perkelahian kembali tak terelakkan.


"Hop hiaaat...!"


"Bagh...bugh...bagh...bugh...!"


"Bagh...bugh...bagh...bugh...!"


Satu persatu mereka melawan Ran, tapi tak ada satupun jurus mereka mengenai gadis itu. Karena dengan cepatnya gadis bertopeng itu bisa menghindar dan membalikkan serangan mereka. Akhirnya mereka berempat menghadapi Rani secara bersamaan.


"Aduh apa kalian tidak malu, karena mengeroyok seorang gadis? apa kata dunia? jika aku kalah akan ada yang menertawakan kalian dan jika aku menang, semakin banyak yang menertawakan kalian! Atau jangan-jangan kalian nggak punya malu ya?" ejek gadis bertopeng itu sambil tertawa lebar.


"Bedebah! jangan pedulikan ocehan dia. Seraaaaaang...!" seru salah satu diantara mereka. Dan mereka pun maju secara bersamaan.


"Hop hiaaat...!"


"Bagh...bugh...bagh...bugh...!"


"Bagh...bugh...bagh...bugh...!"


Rani pun bersiap dengan jurus andalannya, mulai dari pukulan hingga tendangan berputar.


"Aaargghh.....!"


Dua orang terpental dan tak bangun lagi, tapi Rani sempat kecolongan. Salah satu pukulan dari mereka mengenai ulu hatinya.


"Aghh, sial.....!" umpat Rani yang kemudian dia mundur beberapa langkah dan mengatur pernapasannya.


"Menyerahlah nona manis? atau jangan-jangan yang kami tangkap itu pacar kamu ya? sampai mati-matian kamu membelanya! Ha...ha..ha...!" ejek salah satu dari dua orang yang tersisa.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...


.