
"Tapi, itu menguntungkan untuk bisnis, Mademoiselle."
"Tidak untuk kami khususnya. Kami hanya menjual barang-barang yang langka dan berharga. Kami tidak menyediakan cenderamata murahan. Langganan Bibi tersebar di seluruh Inggris. Kalau mereka menginginkan kursi, meja, atau keramik dari zaman tertentu, mereka menulis surat kepada Bibi. Dan cepat atau lambat Bibi akan mengusahakan benda-benda itu untuk mereka. Dalam kasus ini pun demikian." Kami kelihatan tertarik, sehingga ia melanjutkan penjelasannya. Ada seorang pria Amerika, J. Baker Wood. Dia adalah kolektor miniatur yang berselera tinggi. Baru-baru ini satu set miniatur muncul di pasaran dan Nona Elizabeth Penn - bibi Mary Durrant - membelinya. Bibi Mary menulis surat kepada Tuan Wood, menggambarkan miniatur itu dan menyebutkan harganya. Segera tiba jawaban yang menjelaskan bahwa Wood bersedia membeli miniatur itu jika barangnya seperti yang digambarkan dan minta agar seseorang dikirim bersama barang itu ke tempat tinggalnya di Charlock Bay. Jadinya Nona Durrant diutus selaku wakil perusahaan. "Miniatur-miniatur itu indah sekali, tentu saja," ujar Mary.
"Tapi, saya tidak bisa membayangkan ada orang mau membayar begitu mahalnya untuk barang itu. Lima ratus pound! Bayangkan saja! Buatan Cosway. Apakah benar Cosway yang saya maksudkan" Dalam hal-hal begini, saya sangat bingung." komisaris Saga tersenyum.
"Anda belum berpengalaman, Mademoiselle?"
"Saya tidak mendapat latihan," sahut Mary sedih.
"Kami tidak dididik untuk mengetahui barang-barang kuno. Saya harus banyak belajar." Ia menghela napas.
Tiba-tiba, kulihat matanya melebar karena terkejut. Ia duduk menghadap jendela dan kini pandangannya diarahkan ke luar jendela. Dengan tergesa-gesa ia bangkit dari duduknya dan berlari ke luar Beberapa menit kemudian ia kembali dengan terengah-engah dan minta maaf.
"Maaf, saya berlari seperti itu. Saya kira saya melihat seorang laki-laki mengambil kopor saya. Saya kejar dia dan kopor yang diambilnya ternyata kepunyaannya. Hampir persis dengan kopor saya. Rasanya seperti orang tolol karena telah menuduhnya mencuri kopor." Ia tertawa. Tetapi, komisaris Saga tidak tertawa.
"Bagaimana gambaran laki-laki itu, Mademoiselle?"
"Setelannya coklat. Orangnya kurus, tinggi, dan lemah. Kumisnya sama sekali tidak teratur."
"Aha!" seru komisaris Saga.
"Kawan kita kemarin, Rani. Anda mengenalnya, Mademoiselle" Atau pernah melihatnya?"
"Tidak. Mengapa?"
"Tidak apa-apa. Agak mencurigakan - cuma itu." komisaris Saga berdiam diri dan tidak ambil bagian lagi dalam pembicaraan kami sampai sesuatu yang dikatakan Mary Durrant menarik perhatiannya.
"Eh, Mademoiselle, apa yang Anda katakan tadi?"
"Dalam perjalanan pulang saya harus berhati-hati terhadap 'penjahat', seperti Anda katakan tadi. Saya yakin Tuan Wood akan membayar kontan. Kalau saya membawa uang lima ratus pound, penjahat pasti memperhatikan saya." Mary Durrant tertawa. Lagi-lagi komisaris Saga tidak menanggapi. Sebaliknya, komisaris Saga menanyakan hotel tempat gadis itu bermalam di Charlock Bay. "Hotel Anchor. Kecil dan tidak mahal, tapi baik sekali."
"Jadi!" seru komisaris Saga. "Hotel Anchor! Persis tempat Rani memutuskan kami akan menginap. Aneh sekali!" komisaris Saga mengedipkan mata kepadRani. "Anda lama menginap di Charlock Bay?" tanya Mary.
"Cuma semalam. Saya ada urusan di sana. Saya yakin Anda tidak bisa menebak profesi saya, Mademoiselle."
Rani melihat Mary mempertimbangkan beberapa kemungkinan, tapi tidak mengungkapkannya mungkin karena ingin berhati-hati. Akhirnya ia mengatakan komisaris Saga adalah tukang sulap. Mendengar ini komisaris Saga sangat geli.
"Ah! Ide menarik! Anda kira saya mengeluarkan kelinci dari topi" Tidak, Mademoiselle. Justru kebalikannya. Tukang sulap membuat benda-benda hilang. Saya mengembalikan benda-benda yang lenyap."
Secara dramatis dicondongkannya badannya ke depan agar kata-katanya terdengar sepenuhnya.
"Ini rahasia, Mademoiselle. Tapi saya beritahu Anda. Saya detektif!" komisaris Saga bersandar kembali, puas akan efek yang ditimbulkannya. Mary Durrant menatapnya terpesona. Akan tetapi pembicaraan terhenti karena klakson-klakson di luar, yang menandakan para raja jalanan itu siap melanjutkan perjalanan mereka. Waktu Rani dan komisaris Saga keluar, Rani mengomentari daya tarik kawan makan siang kami tadi. komisaris Saga mengiyakan.
"Memang, dia menarik. Tapi, agak tolol juga."
"Tolol?"
"Jangan marah. Seorang gadis mungkin saja cantik dan berambut kemerahan, tapi tolol. Alangkah tololnya kalau ia mempercayai dua orang asing seperti yang dilakukannya."
"Well, dia bisa melihat bahwa kita orang baik-baik."
"Itu pandir. Siapa saja yang tahu pekerjaannya - biasanya akan bersikap baik-baik. Gadis itu mau berhati-hati kalau nanti ia membawa uang tunai lima ratus pound. Padahal dia sekarang ini membawa uang lima ratus pound."
"Dalam bentuk miniatur."
"Persis. Dalam wujud miniatur. Keduanya tidak berbeda jauh, Sobat."
"Bagaimana dengan pelayan restoran serta orang-orang di meja sebelah. Dan tidak diragukan lagi beberapa orang di Ebermouth! Mademoiselle Durrant memang menarik. Tapi, kalau Rani jadi Nona Elizabeth Penn, pertama-tama akan kuinstruksikan asisten baruku itu untuk menggunakan akal sehat." komisaris Saga berhenti sejenak lalu berbicara dengan suara yang berlainan,
"Engkau tahu, Sobat, memindahkan kopor dari satu bus ke bus yang lain selama jam makan siang adalah pekerjaan yang gampang sekali."
"Oh, pasti ada yang melihat, komisaris Saga."
"Apa yang mereka lihat" Seseorang memindahkan bagasinya. Bisa dilakukannya secara blak-blakan. Lagi pula, bukan urusan siapa pun untuk ikut campur."
"Maksudmu - komisaris Saga, engkau mengisyaratkan - tapi pemuda bersetelan coklat itu bukankah itu kopornya sendiri?" komisaris Saga mengerutkan dahi.
"Kelihatannya begitu. Tapi, perbuatannya itu mencurigakan, Rani. Mengapa ia tidak memindahkan kopornya sebelum jam makan siang, sewaktu bus baru saja berhenti" Dia kan tidak makan siang di sini, engkau tahu itu?"
"Andaikata Nona Durrant tidak duduk menghadap jendela, ia tidak akan melihat perbuatan pemuda itu," katRani lambat-lambat.
"Karena yang diambil kopornya sendiri, ya tidak ada persoalan," komisaris Saga menanggapi. "Maka, ayo kita hilangkan persoalan ini dari pikiran kita, Sobat."
Meskipun demikian, sesudah kami duduk kembali di bus dan melanjutkan perjalanan, komisaris Saga mengambil kesempatan untuk memberi ceramah mengenai bahayanya perbuatan yang tidak bijaksana kepada Mary Durrant.
Gadis itu mendengarkan dengan patuh, tapi nampaknya menganggap nasihat komisaris Saga ini sebagai gurauan belaka. Kami tiba di Charlock Bay pukul 16.00 dan cukup beruntung karena dapat memperoleh kamar di Hotel Anchor - penginapan kuno yang menarik yang terletak di jalan kecil.
komisaris Saga baru saja selesai mengepak beberapa barang dan tengah mengolesi kumisnya dengan kosmetik, sebagai persiapan untuk menemui Joseph Aarons, ketika terdengar ketukan yang keras di pintu. Rani berseru,
"Silakan masuk."
Di luar dugaanku, Mary Durrant muncul. Wajahnya pucat-pasi, air mata mengembang di kedua matanya.
"Maafkan saya - tapi - tapi - sesuatu yang sangat mengerikan telah terjadi. Tadi Anda mengatakan Anda detektif?" Kalimat terakhir ini ditujukan kepada komisaris Saga.
"Apa yang terjadi, Mademoiselle?"
"Saya membuka kopor. Miniatur itu seharusnya ada di dalam kotak pengiriman dari kulit buaya - terkunci, tentu saja. Sekarang, lihatlah!"
Diangsurkannya kotak kecil berlapis kulit buaya itu. Tutup kotak menggantung lepas. komisaris Saga mengambilnya dari tangan Mary Durrant. Jelas kotak itu dibuka dengan paksa; pasti dengan kekuatan besar. Bekasnya jelas sekali. komisaris Saga memeriksa barang itu lalu mengangguk.
"Miniatur itu?" tanyanya, meski kami tahu persis jawabnya.
"Hilang. Dicuri. Oh, apa yang harus saya lakukan?"
"Jangan khawatir," hiburku.
"Kawanku ini Hercule komisaris Saga. Anda pasti pernah mendengar tentang dia. Dia akan mengembalikan miniatur itu kepada Anda, kalau mungkin."
"Monsieur komisaris Saga - Monsieur komisaris Saga yang hebat." komisaris Saga senang sekali atas pujian gadis itu.
"Ya, Anakku," katanya.
"Inilah Rani. Dan serahkan saja kasusmu kepadRani. Saya akan menyelesaikannya sebaik mungkin. Tapi saya khawatir, benar-benar khawatir, semuanya sudah terlambat. Apakah kopor Anda dibuka dengan paksa pula?" Gadis itu menggeleng.
"Izinkan saya melihatnya." Bersama kami pergi ke kamarnya. komisaris Saga memeriksa kopor itu dengan cermat. Jelas sekali, kopor itu dibuka dengan kunci palsu.
"Cukup sederhana. Semua kopor jenis ini mempunyai pola kunci yang sama. Kita harus menghubungi polisi dan juga menelepon Baker Wood secepatnya. Saya sendiri akan melakukannya." Rani pergi bersama komisaris Saga sambil menanyakan apa yang ia maksudkan sewaktu mengatakan mungkin sudah terlambat.
"Mon cher, tadi Rani bilang, Rani kebalikan tukang sulap - Rani menjadikan barang-barang yang hilang muncul lagi - tapi andaikata ada yang mendahuluiku" Engkau belum mengerti. Tapi, sebentar lagi engkau akan mengerti." komisaris Saga menghilang ke dalam bilik telepon.
Lima menit berikutnya ia keluar dengan wajah muram. "Seperti yang kukhawatirkan. Seorang perempuan telah menemui Tuan Wood setengah jam yang lalu dengan membawa miniatur-miniatur itu. Dia memperkenalkan diri sebagai utusan Nona Elizabeth Penn. Wood sangat menyukai miniatur-miniatur itu dan segera membayar lunas harganya."