Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Rencana Sania


Sebelum menuju ke Apartemen, Rani berniat membeli kebutuhan sehari-hari di supermarket yang di lewatinya.


Tanpa sengaja, Rani melihat Sania, Dio, dan Dito di gerai ayam Kentucky.


Rani melihat mereka sedang ngobrol serius.


"Mereka sedang ngomongin apa ya??" tanya Rani dalam hati.


"Butuh bantuan Nona? aku bisa sebagai pendengar mereka...!!" seru Kity yang menawarkan diri.


"Wah..iya kucing pintar...! Tolong dengarkan obrolan mereka ya...!itu yang satu gadis berbaju merah dan dua anak kembar yang tidak begitu mirip yang pakai kaos T-shirt biru garis-garis putih" pinta Rani.


Tanpa menjawab si Kity pun melompat dan berlari menuju meja dimana ketiga anak Baskoro sedang makan dan ngobrol.


Kucing putih itu duduk tepat di atas meja di depan ketiga orang tersebut.


"Kak, kenapa kami di ajak kesini sih? kita kan bisa ketemuan di rumah." kata Dito.


"Ah, nggak apa-apa, lumayan kita bisa cuci mata...! banyak gadis-gadis cantik disini..!!" seru Dio sambil melihat-lihat sekelilingnya dan sekali-kali menyapa gadis-gadis yang lewat di depannya.


"Kalian itu ya..! si kembar yang punya watak berbeda...!" gumam Sania.


"Kakak ini kayak baru tahu saja..!!" gerutu Dio.


"Kakak mau bicara apa??" tanya Dito yang ingin to the point saja.


"Kakak ingin balas dendam...!" kata Sania dengan geramnya.


"Balas dendam..?!" kata Dio dan Dito tumben kompak.


Si Kity pun memiringkan kepalanya mencoba mendengar kata yang menarik perhatiannya.


"Iya...! Kakak mau balas dendam kepada semua keluarga Wibowo tanpa kecuali. Mereka telah membunuh mamaku..!! Aku tidak terima..!!" gerutu Sania sambil mengepalkan tangannya.


"Hai nona..! mamamu itu pantas mati..!! lagi pula yang membunuh mamamu, sekarang ini ada di hadapanmu..! he..he...!! gumam si Kity yang tak mungkin di dengar ketiga anak Baskoro itu.


"Terus apa rencana kakak..?" tanya Dio sambil minum, minuman soda yang sepaket dengan ayam Kentucky nya.


"Kakak akan buat Raditya patah hati...!!" seru Sania sambil melihat kedua adik tirinya bergantian.


"Raditya itu kan pacar kakak...?! seru Dito seolah mengingatkan.


"Bekaaaaas....! sejak Adikknya membunuh mama ku..!! mereka harus mempertanggung jawabkan semuanya" seru Sania.


"Hai nona, kamu kehilangan seorang mama saja bingung minta ya pertanggung jawaban, sedangkan Raditya dan Rani sampai sekarang minta pertanggung jawaban papa kalian saja, harus bertarung nyawa" seru Kity.


"Terus tugas kami apa?" tanya Dito. yang sudah menghabiskan nasi dan ayam Kentucky-nya.


"Aku dengar, Rani anak pembantu mereka teman sekolah kalian, korek informasi dari dia. Dimana saja anggota keluarga Wibowo sembunyi." kata Sania.


"Ohw.. beres itu..!" kata Dio. Tapi Dito hanya diam saja.


"Dio, ini uang untuk bayar makanan kita. Aku mau ke toilet sebentar...!" seru Sania yang terus berdiri dan berjalan menuju toilet.


Dan Dio mengantri ke kasir untuk membayar makanan mereka.


Dito yang dari tadi diam, tiba-tiba mengepalkan tangannya.


Si Kity yang sedari tadi di depan Dito, mencoba membaca pikiran Dito.


"Untuk apa balas dendam ke keluarga Wibowo, aku bersyukur Annet mati...!! Wanita iblis pembunuh ibuku telah tewas, sayang sekali tidak lewat tanganku..! tapi aku sudah cukup senang..!! Akut tidak suka kalau Rani jadi korban balas dendam kalian...!!" gerutu Dito dalam hati.


"Hmm..! sepertinya anak ini anak yang baik dari pada yang dua orang tadi." gumam Kity.


"Dito..! kamu pulang sama Dio ya..!! Aku masih ada acara gladi resik di sini. Nggak apa-apa kan?" tanya Sania pada Dito.


"Nggak apa-apa kak...! Ayo Dio kita pulang..!" ajak Dito saat Dio sudah mendekat.


"Ah.. sebetulnya aku masih mau di sini..!! Apa boleh buat, besok awal masuk sekolah sehabis liburan...!" seru Dio yang kemudian bersama Dito berpamitan pada Sania.


Kedua pemuda itu berjalan melewati Rani yang mengintip mereka sedari tadi, namun gadis itu membalikkan badannya agar kedua pemuda itu tak melihatnya.


"Kity.. ayo kita pergi dari sini..!" ajak Rani pada kucing langit.


Kucing langit itu kembali masuk ke dalam liontin kalung pusaka.


Rani pun berjalan menjauhi tempat dimana Sania berada, dia menuju ke market guna membeli kebutuhannya selama tinggal di Apartemen.


Setelah dirasa cukup, Rani pun bergegas pulang ke Apartemen. Karena hari sudah mulai petang.


...~¥~...


Terima kasih untuk yang masih setia membaca dan mendukung novel Gadis Tiga Karakter.


Semoga kita selalu sehat dan selalu dalam Lindungan-Nya.


Aamiin ya Robbal alaamiin.


...Bersambung...