Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Kembali ke Stadion Turnamen Bela Diri


"Cincin langit?" tanya Rani yang sangat terkejut sekaligus penasaran.


"Papa, Bima, Bi Inah dan lainnya hilang saat Baskoro menggunakan cincin langit?" lanjut gumam Rani.


"A...apa yang kamu bilang, Ran?" tanya seorang murid Perguruan Darma putih yang bernama Hari yang mengerutkan kedua alisnya.


"Oh, Hari! tolong kamu periksa semua yang terkapar ini. Kemungkinan ada saudara-saudara kita yang masih hidup. Jika ada lawan kita yang masih hidup, ikat dia. Tunggu perintah kakek dan Paman Sidiq nanti." kata Rani yang beranjak pergi.


"I...iya!" jawab Hari yang kemudian melakukan apa yang di katakan oleh Rani.


Kemudian Rani melangkah kakinya menghampiri kakek Darma, yang sudah berdiri di halaman dan sedang memeriksa orang-orang yang telah terkapar tak berdaya itu.


"Kakek!" panggil Rani dengan berseru.


"Oh, kau Rani! Apa sudah bertemu dengan mama kamu dan yang lainnya?" tanya kakek Darma seraya menoleh ke arah Rani.


"Sudah Kek!" ja2wb Rani yang berjalan menghampiri kakek Darma.


"Apa yang kakek lakukan?" tanya Rani yang memperhatikan apa yang dilakukan kakek Darma sejak keluar dari rumah.


"Ada kemungkinan dari pihak kita banyak murid yang masih hidup." jawab Kakek Darma.


"Syukurlah kalau masih banyak orang dari kita yang masih hidup!" seru Rani.


"Oiya Kakek! Rani mau pamit, sudah lama Rani meninggalkan Turnamen bela diri. Rani takut semua akan merasa khawatir akan keadaan Rani. Secara Rani kemarinya tadi tanpa sepengetahuan mereka." ucap Rani.


"Iya kamu harus hati-hati, kemungkinan geng Kobra juga telah menyerang ke Arena Turnamen bela diri!" pesan Kakek Darma.


"Rani, paham kek! Rani mau ganti pakaian dulu dan langsung ke sana. Karena pakaian Rani penuh noda darah, takutnya malah jadi pusat perhatian nanti di sana." jelas Rani sambil mencium punggung tangan kanan kakeknya.


"Iya." jawab kakek Darma seraya menganggukkan kepalanya.


"Oiya kek, tolong nanti kakek jelaskan ke mama dan bibi Dewi. Papa Wibowo, Bima dan Bi Inah telah diculik oleh Baskoro." kata Rani.


"Diculik!" seru kakek Darma dengan penasaran.


"Benar kek! Baskoro punya cincin langit, Dia menghilangkan korbannya pakai cincin langit. Sudah ya kek Rani pamit!" jawwb Rani sambil berlari menuju rumah dan kemudian menuju ke kamarnya.


"Aku tak mengerti dengan apa yang kamu maksudkan, Rani!" gumam kakek Darma seraya mengerutkan kedua alisnya.


Rani yang telah masuk ke dalam kamarnya, dengan segera mengganti pakaiannya. Setelah itu dia memegang liontin bambu pusakanya dan berseru,


"Menuju ke stadion!"


"Cling....!"


Gadis itu lenyap seketika dari posisinya semula.


Sementara itu di depan pintu toilet tempat terselenggaranya Turnamen Bela diri, Sersan Saga tampak mondar-mandir dengan perasaan gelisah mencari tunangannya.


"Kak Saga...!" panggil seseorang perempuan yang tak lain adalah Yuki cucu nenek Lasmi yang juga teman masa kecil Sersan Saga yang keluar dari kamar mandi..


"Eh Yuki...! Kamu juga berada di toilet wanita, apakah tadi kamu melihat keberadaan Rani di toilet?" tanya Sersan Saga yang penasaran.


"Rani? Tidak....! di toilet hanya tinggal aku saja tadi!" jawab Yuki yang merasa heran.


"Ah, Rani....! kemana kamu? Padahal sebentar lagi kita mau tampil!" gerutu Sersan Saga yang cemas.


"Kalau begitu, ayo kita cari di luar!" seru Yuki sambil menarik tangan Sersan Saga.


"Hm....Hemm....!"


Tiba-tiba ada suara dehem di belakang mereka, seketika keduanya menoleh ke belakang.


Gadis itu yang telah keluar dari toilet wanita.


"Rani...! Yuki bilang di toilet nggak ada siapa-siapa. kemudian kami akan mencarimu di luar!" jelas Sersan Saga yang apa adanya,karena tak mau kalau Rani berpikiran yang macam juga.


"Ohw, begitu ya? Sekarang aku sudah ada di sini, lantas kenapa kamu masih di sini Yuki sayang? Cepat pergi sana..!" seru Rani yang setengah mengusir Daan menatap tajam pada gadis yang bernama Yuki.


"Aku ingin di sini saja!" seru Yuki sambil memeluk tangan Sersan Saga dengan manja.


Namun dengan cepat laki-laki itu melepaskan diri dari cengkraman Yuki, dia tak mau ada kesalah pahaman dan membuat Rani bertambah cemburu.


"Kau mau berada disini ya!" seru Rani dan Yuki menganggukkan kepalanya.


"Baik kalau begitu, kami yang akan pergi!" seru Rani yang kemudian menarik tangan tunangannya, Sersan Saga.


Untuk berjalan meninggalkan Yuki yang masih saja berdiri di depan toilet wanita itu.


"Eh, Lha kok aku malah yang ditinggal sih...!" seru Yuki yang mana sedang menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, dengan terpaksa dia mengikuti Rani dan Sersan Saga.


Rani Sersan Saga dan juga Yuki yang berjalan dibelakang mereka, tak butuh waktu lama sudah sampai di acara Turnamen bela diri, tiba-tiba saja Rani merasakan aura membunuh yang pekat di sejumlah deretan ratusan penonton.


Mereka bertiga menebarkan pandangannya dan ketiganya sangatlah terkejut.


"Aapa...! Geng Kobra...! Rupanya mereka mengepung kita...!" seru Rani yang tak percaya dengan apa yang dia lihat pada saat ini.


"Kurang ajar...! itu Annet dan Jarot mengambil piala turnamen...!" seru Sersan Saga dengan geram.


"Annet istri Baskoro?" tanya Rani.


"Iya, dia istri Baskoro! Penjegal Bibi Dina!" jawab Sersan Saga dengan geram.


"Aku tadi melawan suaminya di perguruan!" seru Rani yang menatap Anett dengan tajam.


"Apaaa...! Baskoro ke perguruan?" tanya Sersan Saga yang sangat terkejut.


"Jangan banyak bicara nona, cepat rebut piala itu...! Aku melihat kalau di dalam piala ada mustika biru, bila mustika biru itu jatuh ke tangan orang jahat bisa sangat berbahaya!" seru Kity dari dalam liontin bambu dari kalung pusaka ya g dipakai Rani.


"Baiklah aku akan rebut piala itu....!" jawab Rani yang bergumam dalam hati dan dia memasang topengnya kembali.


"Kak Saga....! ayo kita rebut piala itu!" seru Rani yang menatap Sersan Saga.


Laki-laki itu menganggukkan kepalanya dan kemudian mereka pun melompat turun ke tengah Arena Turnamen bela diri dimana ada Jarot dan Annet disana.q


"Hei tunggu...! Yah, di tinggal lagi...!" seru Yuki dengan kecewa yang mana dia sedari tadi ada dibelakang Rani dan Sersan Saga, dia hanya bisa memandang dari kejauhan saja. Karena Rani dan Sersan Saga sudah jauh dari posisinya berdiri.


Sementara itu dalam posisinya yang berlari menuju ke tengah turnamen Bela diri itu, pandangan Rani tak lepas dari para penonton dan para peserta yang lainnya.


"Aneh...! kenapa tak ada perlawanan dari para pendekar? Paman Sidiq, kak Radit, kemana mereka!"' gerutu Rani yang tak melihat kedua keluarganya itu.


"Kak Radit, Paman Sidiq!" panggil Rani pada saat mendapati kedua keluarganya itu sedang terduduk dengan lemas.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...