
"Iya, apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya Rani yang menatap orang yang menghentikan langkahnya itu.
"Saya Perwira Andata, bersediakah Anda menjadi saksi atas kejahatan mereka pada ibu Kumala?" tanya perwira polisi itu yang sekaligus memperkenalkan dirinya.
"Tapi saya ada urusan lain bung! Jadi mohon ma'af saja." balas Rani dengan ramah.
"Ma'af, jika anda mempersulit pekerjaan kami, anda bisa termasuk dalam kategori penjahat!" ancam perwira Andata yang tak mengetahui siapa Rani.
"Oh, begitu ya?" tanya Rani yang pura-pura tak tahu dan pura-pura sedikit takut.
"Iya, jadi tolong kerja samanya ya! E...saudari siapa ya?" tanya Perwira Andata yang menatap Rani dengan tajam.
Rani menghela napasnya dengan tajam, dia menatap perwira yang nampaknya baru saja dia masuk ke kepolisian.
"Hm, lumayan tampan juga! Ups, apa'an sih aku ini? bukankah lebih tampan kak Saga?" gumam dalam hati Rani yang menilai laki-laki dihadapannya seorang laki-laki muda dan tampan.
Ketampanan perwira Andata bisa dibilang melebihi inspektur Alex maupun suaminya Komisaris Saga.
"Mau saja ya dik! Biar masalahnya bisa selesai!" seru wanita yang tadi ditolong Rani dan Rani memainkan bibirnya, tanda kalau dia sedang ragu-ragu.
"Hm, baiklah! Saya akan ikut ke kantor polisi dan menjadi saksi kalian." kata Rani yang menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, mari kita ke kantor polisi sekarang juga!" seru perwira Andata itu dengan semangat, dan mereka segera berangkat bersama menuju ke kantor polisi.
Sesampainya di kantor polisi, Rani dan ibu Kumala selalu bersama perwira Andata. Kemudian mereka harus menjawab ketika diberi pertanyaan-pertanyaan seputar kejadian, karena Rani dan Bu Kumala berada di tempat kejadian perkara.
Tanpa mereka sadari, ada sesosok laki-laki yang memperhatikan mereka dari balik jendela ruangannya. Laki-laki itu tak lain adalah komisaris Saga.
Yang secara kebetulan melihat Rani bejalan bersama seorang wanita dan perwira bawahannya.
"Bukankah itu Rani, istriku? Ada masalah apa sebenarnya? Eh kenapa dia tidak ke ruanganku? Bukannya menemuimu lebih dulu?" gumam Komisaris Saga yang sedikit penasaran dan galau.
Setelah memberikan keterangan pada petugas polisi, Rani bangun dari tempat duduk nya dan dia melirik ke arah ruangan dimana suaminya bekerja.
"Eh, rupanya ada yang mengintai rupanya!" gumam dalam hati Rani yang mengulas senyumnya.
Kemudian Rani melangkahkan kakinya menuju ke ruangan suaminya, komisaris Saga.
Semenjak menjadi komisaris dalam kepolisian, Komisaris Saga selalu berurusan dengan kasus kejahatan geng Cobra. Keberhasilannya membawa kemasyhuran baginya, dan dia memutuskan untuk mengabdikan diri untuk menangani masalah-masalah kriminal.
Setelah menikah dengan Rani, akhirnya komisaris Saga dan istrinya Rani tinggal di Apartemen Komisaris Saga.
Sebagai orang pertama yang mengetahui tentang sebagian besar kasus-kasus yang ditanganinya, disarankan agar memilih beberapa perkara yang paling menarik untuk ditulis dalam sebuah buku, untuk pembelajaran para juniornya.
Dalam melaksanakan tugas ini, komisaris Saga merasa bahwa langkah terbaik adalah mulai dengan menuliskan peristiwa aneh yang menimbulkan minat masyarakat luas pada saat itu.
Kali inindia menerima sebuah kasus dimana kasus di pesta dansa yang diadakan untuk memperingati suatu kemenangan. Meskipun kasus ini terlihat begitu midah, tapi pada kenyataannya seperti dalam beberapa kasus yang lebih tidak dikenal, namun segi sensasionalnya.
Adanya orang-orang ternama yang terlibat, dan pemberitaan pers yang besar-besaran menjadikannya dijuluki kasus terkenal.
Selain itu, komisaris Saga sudah lama merasa bahwa sangkut-paut para pejabat dan public figur yang menjadi runyamnya kasus ini.
Kepalanya yang bulat telur itu dimiringkan. Ia tengah mengoleskan krim rambut baru pada kumisnya. Suatu sikap sombong yang tidak berlebihan merupakan ciri khasnya dan cocok dengan aturan seorang polisi.
Komisaris saga kembali ke mejanya dan dia tenggelam dalam laptop dan berkas-berkas guna menyelesaikan kasus yang sedang dia tangani.
"Tokk....tokk....tokk....!"
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruang kerja komisaris Saga.
"Masuk!" jawab komisaris saga tanpa menoleh ke daun pintu.
"Selamat pagi menjelang siang komisaris!" seru Rani dengan sikap tegap, yang mana menggoda suaminya.
"Oh, mau apa kamu kemari?"tanya komisaris Saga yang pura-pura marah.
"Hm, menjenguk suamiku, komisaris? Apakah tidak boleh? Kalau begitu saya pergi saja!" seru Rani yang hendak membalikkan badannya.
"Eh, tunggu! Apakah kamu marah?" tanya komisaris Saga yang terkejut dengan sikap istrinya.
"Tidak komisaris, saya tahu kalau suami aku itu sedang sibuk!" balas Rani yang mengulas senyumnya.
"Kemarilah dan beri aku ciuman, biar aku semangat lagi!" seru Komisaris Saga yang menatap Rani dengan sendu.
Rani menuruti apa yang diinginkan suaminya, karena dia tahu raut wajah suaminya yang nampak tak biasa.
Sesampainya Rani disamping suaminya, dia lekas menundukkan kepala dan memberikan ciuman yang diminta oleh suaminya itu.
"Sebenarnya apa yang kaupikirkan kak Saga?" tanya Ira yang merasakan ada keanehan pada suaminya.
"Bagaimana menurut kamu dengan perwira Andata?" tanya komisaris Saga tanpa melihat istrinya.
"Perwira Andata? Hm, diatampan dan lumayan gagah sih! Sepertinya dia baru masuk ke kepolisian ya?" jawab sekaligus tanya Rani yang menebak-nebak.
"Bagaimana kamu bisa tahu kalau dia anak baru di kepolisian ini?" tanya komisaris Saga yang penasaran dan kali ini dia menatap istrinya dengan tajam.
"Jelas saja Rani tahu kalau dia itu anak baru, kak Saga! Karena dia tak mengenal Rani dan tidak segan bicara sama Rani seperti anak buah Kak Saga lainnya!" jawab Rani yang mengulas senyumnya.
Sebaliknya dengan komisaris Saga yang terlihat wajahnya yang memerah dan jari-jari tangannya yang mengetuk-ketuk meja, sehingga terlihatlah kerisauannya.
"Terus terang, kak Saga tidak suka kalau kamu dekat dengan perwira itu!" seru Komisaris Saga dengan geram.
"Eh, tapi aku sama dia kan tidak ada apa-apa kak?" tanya Rani yang mengerutkan kedua alisnya.
"Pokoknya aku tidak suka! Jelas...!" seru Komisaris Saga dengan membentak dan Rani sangat terkejut melihat sikap suaminya.
"Ba...baik suamiku, Saya akan jaga jarak dengan perwira Andata." kata Rani yang berusaha menenangkan suaminya.
Komisaris Saga menarik napas dan mengeluarkannya secara pelan-pelan.
"Selain masarah perwira Andata, apa yang sedang kak Saga pikirkan?" tanya Rani yang penasaran.
"Aku sedang memikirkan beberapa kasus pembunuhan di pesta dansa yang masih waktu malam Semua surat kabar penuh dengan berita mengenai kasus ini." jawab komisaris Saga.
"Semakin banyak orang membaca tentang perkara ini, semakin terselubung misterilah semuanya!" sambung yang berbicara mengenai pokok permasalahan dengan menghalau perasaan yang masih ada rasa jengkel pada istrinya.
.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Gadis Tiga Karakter ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana Wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin.c gg...
...¹...
...Terima kasih...
...Bersambung...