Gadis Tiga Karakter

Gadis Tiga Karakter
Laporan Daily Newsmonger


Itu kepandaianmu bercerita atau laporan Daily Newsmonger?" tanya Poirot.


"Daily Newsmonger kan dicetak buru-buru dan puas dengan fakta-fakta belaka. Tapi, kemungkinan-kemungkinan dramatis kejadian itu langsung menarik perhatianku." Poirot mengangguk serius.


"Di mana saja ada hakikat manusia, di situ terjadi drama. Tetapi - tidak selalu hanya di tempat yang engkau duga. Ingatlah ini. Bagaimanapun juga, aku juga tertarik karena besar kemungkinannya aku harus berhubungan dengan kasus ini."


"Sungguh?"


"Ya. Seorang laki-laki meneleponku pagi tadi dan mengadakan perjanjian denganku atas nama Pangeran Paul dari Maurania."


"Tapi, apa hubungannya dengan kasus ini?"


"Engkau tidak membaca koran-koran gosip, harian yang memuat cerita-cerita jenaka dan ungkapan-ungkapan 'ada yang mendengar....' atau 'ada yang ingin tahu apakah....'. Lihatlah ini." Kuikuti jari-jarinya yang pendek dan gemuk itu bergerak di sepanjang paragraf - 'apakah pangeran asing dan penari kenamaan itu benar-benar terikat dalam tali pernikahan! Dan apakah si penari menyukai cincin berlian barunya!'


"Nah, untuk meringkas ceritamu yang begitu dramatis tadi, Mademoiselle Saintclair pingsan di atas karpet ruang duduk di Daisymead. Engkau ingat?" Aku mengangkat bahu.


"Akibat kata-kata yang pertama kali digumamkan oleh Mademoiselle ketika dia terhuyung-huyung masuk, dua laki-laki keluarga Oglander segera bertindak. Yang seorang menjemput dokter untuk menolong wanita yang jelas-jelas terguncang batinnya itu, dan yang lain menuju kantor polisi - yang setelah menceritakan peristiwa itu, menemani polisi ke Mon D?sir, vila Tuan Reedburn yang luar biasa indahnya, tidak jauh dari Daisymead. Di sana mereka mendapatkan orang besar itu, yang reputasinya buruk, terbaring di perpustakaan dengan bagian belakang kepalanya menganga seperti kulit telur yang pecah!" "Aku telah memotong ceritamu," kata Poirot ramah.


"Kuminta engkau memaafkanku.... Ah, ini dia M. le Prince!" Tamu kami yang terkemuka ini disebut dengan gelar Count Feodor. Ia seorang pemuda berwajah aneh, bertubuh tinggi, penuh semangat, dengan dagu yang tidak kokoh, mulut seperti Mauranberg yang terkenal itu, dan bola mata yang gelap berapi-api seperti mata seorang fanatik.


"M. Poirot?" Sahabatku membungkukkan badan.


"Monsieur, saya dalam kesulitan besar. Lebih besar dari yang dapat saya ungkapkan." Poirot melambaikan tangannya. "Saya memahami kecemasan Anda. Mademoiselle Saintclair adalah sahabat Anda yang sangat tersayang, bukankah begitu?" Pangeran menjawab singkat,


"Saya berharap dapat memperistri dia." Poirot duduk tegak-tegak di kursinya. Kedua matanya terbuka lebar. Pangeran melanjutkan bicaranya.


"Saya bukanlah orang pertama dalam keluarga yang menikah dengan orang biasa dan anak-anak saya akan kehilangan hak-hak istimewa sebagai anak pangeran. Saudara laki-laki saya, Alexander, juga menentang kaisar. Sekarang kita hidup dalam dunia yang lebih luas, bebas dari prasangka kelaskelas sosial. Selain itu, sebenarnya Mademoiselle Saintclair sungguh-sungguh sederajat dengan saya. Anda sudah mendengar tentang riwayatnya?"


"Banyak cerita romantis tentang dia - bukan sesuatu yang aneh dalam kehidupan penari-penari terkenal. Saya dengar dia putri wanita Irlandia yang bekerja di bagian kebersihan di kantor; juga kisah yang menjadikan ibunya seorang bangsawan agung Rusia."


"Cerita pertama tentu saja omong kosong," kata pangeran itu.


"Tetapi, cerita kedua benar. Walaupun menjaga kerahasiaan asal-usulnya, Valerie membiarkan saya menduga sejauh itu. Lagi pula, secara tak sadar dia membuktikannya dalam berbagai cara. Saya percaya pada asal-usul, M Poirot."


"Saya juga demikian," Poirot menimpali dengan sungguh-sungguh.


Saya diperkenankan berbicara bebas atau tidak" Adakah sesuatu yang menghubungkan Mademoiselle Saintclair dengan perbuatan kriminal ini" Tentunya dia mengenal Reedburn?" "Ya, almarhum mengaku mencintai Valerie."


"Dan si wanita?"


"Dia tidak mengatakan apa-apa kepada almarhum." Poirot memandang pangeran itu tajam-tajam. "Adakah alasan bagi Mademoiselle Saintclair untuk takut kepada almarhum?" Pangeran terlihat ragu-ragu.


"Ada insiden. Anda tahu Zara, si ahli tenung?"


"Tidak."


"Dia hebat. Sekali waktu Anda perlu berkonsultasi dengannya. Minggu lalu saya dan Valerie pergi ke sana. Zara membacakan kartu-kartu kepada kami. Kepada Valerie dia berbicara tentang kesulitan - tentang awan yang menumpuk; kemudian dibukanya kartu terakhir - kartu penutup, begitu namanya. Raja klaver. Lalu Zara berkata kepada Valerie, 'Berhati-hatilah. Ada laki-laki yang menguasai Anda. Anda takut kepadanya - Anda dalam bahaya besar, bahaya melalui orang itu. Anda mengerti orang yang saya maksud"' Bibir Valerie pucat-pasi.


Dia mengangguk dan berkata, 'Ya, ya, saya tahu.' Tak lama kemudian kami meninggalkan tempat itu. Kata-kata terakhir Zara kepada Valerie adalah, 'Hati-hati terhadap raja klaver. Bahaya mengancam Anda!' Saya tanyai Valerie, tetapi dia tidak mau mengatakan apa-apa - malah ia meyakinkan saya bahwa semuanya baik-baik saja. Sekarang, setelah peristiwa semalam, saya semakin yakin bahwa dalam kartu raja klaver itu Valerie melihat Reedburn dan dialah orang yang ditakuti Valerie." Mendadak pangeran itu berhenti.


"Sekarang Anda mengerti pergolakan batin saya ketika saya membuka surat kabar pagi tadi. Andaikan saja Valerie, dalam luapan emosi yang tiba-tiba - Oh, tidak mungkin!" Poirot berdiri dan menekan lembut bahu pangeran muda itu.


"Jangan biarkan diri Anda menderita. Serahkanlah perkara ini ke tangan saya." "Anda akan ke Streatham" Saya kira Valerie masih berada di sana, di Daisymead dalam keadaan tidak berdaya karena batinnya guncang."


"Saya akan segera ke sana." Kasus Kasus Perdana Poirot Poirots Early Cases Karya Agatha Christie di http://ceritasilat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo "Saya sudah mengatur semuanya - melalui kedutaan. Anda diizinkan untuk masuk ke mana saja." "Kalau begitu kami akan berangkat - Hastings, maukah kau menemaniku" Selamat tinggal, M. le Prince."


*** Mon Desir adalah vila yang luar biasa indahnya, benar-benar modern dan nyaman. Ada jalan pendek yang menghubungkan jalan raya dengan bangunan itu dan kebun yang indah, yang membentang di belakang rumah seluas beberapa hektar. Begitu kami menyebut nama Pangeran Paul, kepala pelayan yang membukakan pintu segera membawa kami ke tempat tragedi itu terjadi. Perpustakaan itu benar-benar luar biasa, memanjang dari depan hingga belakang bangunan, dengan jendela di setiap ujung, yang satu menghadap jalan di depan dan yang lain menghadap taman. Di ceruk jendela taman itulah tubuh korban terbaring. Jenazah belum lama disingkirkan dan polisi sudah menyimpulkan hasil pemeriksaan mereka. "Menjengkelkan," gerutuku kepada Poirot. "Siapa tahu ada petunjuk yang telah mereka obrak-abrik?" Poirot tersenyum. "Eh - eh! Berapa kali aku harus memberitahumu bahwa petunjukpetunjuk itu berasal dari dalam" Yaitu dari dalam sel-sel kecil otak kita, di situlah terletak jawaban setiap misteri." Poirot menoleh kepada kepala pelayan. "Saya kira ruangan ini belum disentuh, kecuali untuk keperluan memindahkan jenazah. Benar begitu?"


"Benar, Tuan. Keadaan ruangan ini persis sama dengan ketika polisi datang semalam."


"Tirai-tirai ini - saya lihat ditarik tepat melintasi ceruk dinding. Demikian pula di jendela satunya. Semalam, apakah tirai-tirai ditutup?" "Benar, Sir. Saya yang menutupnya setiap malam."


"Kalau begitu, tentunya Reedburn menariknya kembali?" "Saya kira demikian, Sir."


"Tahukah Anda kalau semalam majikan Anda menantikan tamu?" "Tuan tidak mengatakan demikian. Tetapi, Tuan berpesan agar dia tidak diganggu seusai makan malam. Anda tahu, ada pintu keluar dari perpustakaan menuju teras di samping rumah. Tuan dapat menerima tamu lewat pintu itu." "Apakah majikan Anda biasa melakukannya?" Kepala pelayan itu batuk dengan diam-diam. "Saya kira begitu." Poirot melangkah ke pintu yang dibicarakan itu. Tidak terkunci. Ia berjalan menuju teras, yang berhubungan dengan jalan kereta di sebelah kanan; sebelah kiri teras itu menuju dinding bata.


"Kebun buah, Sir. Ada pintu masuknya, tetapi selalu dikunci pada pukul enam sore." Poirot mengangguk dan masuk ke perpustakaan kembali. Kepala pelayan itu mengikuti. "Anda tidak mendengar apa-apa semalam?" "Well, Sir, kami mendengar suara-suara di perpustakaan, beberapa saat sebelum pukul 21.00. Tapi, kejadian ini tidaklah aneh, terutama karena itu suara wanita. Akan tetapi, begitu kami semua berada di ruang pelayan, tepat di sisi sebelah sana, tentu saja kami tidak mendengar apa-apa. Kemudian, kira-kira pukul 23.00 polisi datang." "Berapa suara yang Anda dengar?" "Saya tidak dapat memastikannya, Sir. Yang saya tangkap hanya suara si wanita." "Ah!" "Maaf, Sir. Dr. Ryan masih ada di dalam. Mungkin Anda ingin menjumpainya?" Kami menerima baik saran itu. Dalam beberapa menit saja dokter itu, yang berumur setengah baya dan berwajah riang, bergabung dengan kami dan memberikan semua keterangan yang diperlukan Poirot. Reedburn terbaring di dekat jendela, kepalanya terletak di dekat tempat duduk pualam di bawah jendela. Ada dua luka di tubuhnya; satu di antara kedua mata dan yang lain - yang mematikan - di kepala bagian belakang. "Dia tergeletak dalam posisi terlentang?" "Ya, ada bekasnya." Dr. Ryan menunjuk noda kecil berwarna gelap di lantai. "Tidak mungkinkah pukulan di kepala bagian belakang itu disebabkan oleh benturan dengan lantai?" "Mustahil. Apa pun senjata yang digunakan, benda itu menembus tengkorak sedikit." Poirot nampak berpikir di hadapan Dokter Ryan. Di sudut siku setiap jendela terletak kursi pualam berukir, yang sandarannya dipermodern dalam bentuk kepala singa. Sepercik sinar nampak di mata Poirot. "Andaikan saja dia jatuh terlentang membentur kepala singa yang menonjol ini lalu jatuh ke lantai. Tidakkah kemungkinan ini menimbulkan luka seperti yang Anda jelaskan tadi?" "Memang. Tapi, posisi tergeletaknya menjadikan teori itu tidak mungkin. Selain itu, pasti ada noda darah di atas kursi." "Kalau noda darah itu sudah dicuci?" Dokter Ryan mengangkat bahu. "Nampaknya tidak mungkin. Membuat kecelakaan kelihatan sebagai pembunuhan tidaklah menguntungkan siapa pun juga." "Benar sekali," Poirot mengiyakan tanpa membantah. "Mungkinkah kedua serangan itu dilakukan oleh seorang wanita" Bagaimana pendapat Anda?" "Oh, sangat tidak mungkin saya kira. Anda berpikir tentang Mademoiselle Saintclair?" "Saya tidak memikirkan seseorang secara khusus sampai saya benar-benar yakin," Poirot menjawab lembut. Poirot mengalihkan perhatian pada jendela yang merangkap sebagai pintu yang didapati dalam keadaan terbuka. Dokter Ryan melanjutkan keterangannya. "Melalui jendela inilah Mademoiselle Saintclair melarikan diri. Anda dapat langsung melihat sekilas Daisymead di antara pepohonan. Tentu saja banyak rumah di depannya. Tapi, nyatanya Daisymead adalah satu-satunya rumah yang kelihatan dari sini, biarpun letaknya agak jauh."